
"Ayah...?" Suara Kenan yang terkejut karena kedatangan Ayahnya yang mendadak, membuat Hazal menoleh ke arah sosok laki-laki yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.
Harun Fallay...
Hazal menyorot tajam wajah pria paruh baya yang berdiri di depannya dan di samping Kenan. Rahangnya mengeras. Ia mengepalkan kedua tangannya di belakang pakaian kerjanya. Tetapi dia harus menguasai dirinya, jika tidak maka semua rencananya akan hancur. Beruntung Harun tidak terlalu memperhatikannya, pria paruh baya itu hanya menatap wajah putranya.
"Kenapa Ayah mendadak ke kantor?" tanya Kenan dengan menaikkan salah satu alisnya.
"Ayah hanya merasa bosan di rumah, dan ingin melihat-lihat kantor ini lagi," jawab Harun sambil menepuk pundak putranya.
Tepukan Harun itu bukanlah rasa kasih sayang ayah kepada anaknya. Kenan merasa pasti ada sesuatu yang membuat Harun mendadak menginjakkan kakinya di kantor. Sejak rencana pembatalan pembelian vila itu, ada sesuatu yang mengganjal di hati Kenan tentang ayahnya.
Harun menoleh ke belakang, menyadari bahwa ada sosok lain yang sedang memperhatikan kehadirannya.
"Siapa dia?" tanya Harun kepada Kenan. Harun menatap penampilan Hazal yang elegan dan menarik. Tidak seperti karyawan pada umumnya. Wanita di depannya ini seperti dari keluarga kelas atas yang berkelas.
"Dia sekretaris ku yang baru," ucap Kenan yang berdiri di antara Harun dan Hazal.
"Sekertaris mu?" tanya Harun yang keheranan. Ia memandang Kenan dan Hazal secara bergantian.
"Ya."
"Ayah pikir dia adalah kekasihmu."
Kenan hanya tersenyum simpul mendengar perkataan ayahnya. Berbeda dengan Hazal yang hanya memasang wajah dingin mendengar perkataan Harun.
Harun mengulurkan tangannya, Hazal segera menyambut uluran tangan Harun. "Senang bertemu dengan anda, Tuan," sapa Hazal sambil tersenyum tipis. Ia ingin terlihat bersikap seramah mungkin di depan Harun, padahal hatinya saat ini sedang mendidih melihat senyum pembunuh orang tuanya itu.
Deg....!
Senyum dan manik mata itu...
Jantung Harun seakan berhenti satu detik, melihat senyum dan sorot mata Hazal. Mengingatkannya pada seseorang di masa lalunya.
Kenan berdeham melihat Harun yang terkesima memandang Hazal. Ia segera mengajak Harun untuk masuk ke dalam ruangannya. Ia meminta Hazal untuk membuatkan secangkir kopi untuk ayahnya.
"Tanpa gula!" seru Kenan setengah berbisik di depan Hazal.
Hazal segera berjalan menuju ke pantri. Di sana ia menyeduh kopi buatannya di atas kompor listrik. Melihat wajah Harun yang masih bebas tersenyum, membuat api kemarahan di hati Hazal memuncak. Dengan panik ia membuka setiap laci yang ada di pantri itu, mencari sesuatu yang bisa ia campurkan ke dalam kopi Harun. Barang-barang di pantri berjatuhan dan berserakan di mana-mana.
Hazal menemukan sebuah botol pembersih lantai yang di letakkan di belakang lemari. Ia mengambil botol tersebut, secara bergantian manik matanya menatap botol berwarna hijau itu dan menatap sebuah cangkir yang ada di atas meja pantri.
Bayangan kejadian kecelakaan ayahnya dan pembunuhan ibunya terlintas di dalam pikirannya. Air mukanya penuh dengan kebencian dan amarah yang tak tertahankan. Pikirannya saat ini sedang kacau, entah iblis mana yang tengah merasukinya.
Hazal membuka penutup botol yang berbentuk lingkaran. Air matanya jatuh membasahi wajahnya, mengingat bagaimana di malam itu ia harus kehilangan kedua orang tuanya secara bersamaan. Bayangan gelap itu menguasai seluruh pikirannya. Tangannya bergetar hebat ketika ia akan menuangkan cairan berwarna putih kental itu ke dalam cangkir. Botol plastik hijau itu terlepas dari tangannya, cairan itu tumpah dan tercecer di atas meja dan menetes di lantai.
Kau bukan pembunuh Hazal... Kau bukan pembunuh... Jangan samakan dirimu dengan nya...
Suara di hati Hazal mencoba mengingatkan dirinya. "Akkhh......!" suara teriakannya memenuhi ruang pantri itu. Kedua tangannya menyapu bersih barang-barang yang ada di atas meja hingga dirinya ikut terjatuh ke lantai bersama semua barang yang ia hempaskan. Ia merasa kesal pada dirinya sendiri, "Kenapa....kenapa aku tidak bisa membunuhnya?" jeritnya di tengah kesunyian.
__ADS_1
Ia berdiri sambil menggenggam erat penutup botol yang masih ada di dalam genggaman tangannya. Meremat benda plastik kecil itu hingga penyok. Rahangnya bergetar hebat, air matanya mengalir deras.
Seorang petugas kebersihan yang kebetulan berada di lantai delapan, mendengar keributan yang terjadi di pantri. Petugas wanita itu datang menghampiri Hazal, petugas itu terkejut melihat keadaan pantri yang kacau balau. Ia melihat Hazal yang sedang menangis di depan meja pantri.
"Nona Hazal, apa anda baik-baik saja?" tanya petugas wanita itu menyentuh pundak Hazal dengan lembut.
Sentuhan itu membuah Hazal terkejut dan segera mengusap air matanya. Ia melihat keadaan di sekelilingnya yang kacau dan berantakan. Banyak pecahan beling yang berserakan. Aroma pembersih lantai itu menguap memenuhi ruangan tersebut.
"Aku baik-baik saja, maaf... aku telah membuat kekacauan di sini. Aku akan membersihkannya."
Dengan langkah gontai, Hazal mengambil kain pel yang ada di belakang pintu. Tetapi petugas kebersihan itu segera mengambil alat pembersih itu lebih dulu. "Jangan Nona, biar saya saja yang membersihkan semua ini."
Pemanas air itu berbunyi, kopi buatan Hazal sudah matang. "Jangan biarkan Tuan Kenan menunggu kopinya, Nona."
Hazal teringat dengan permintaan Kenan untuk membuatkan kopi untuk ayahnya. Segera Hazal menuangkan kopi panas itu ke dalam sebuah cangkir yang baru.
"Maaf, aku pergi dulu. Sekali lagi terimakasih kau mau membantuku," ucap Hazal kepada petugas kebersihan itu. Wanita itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya kepada Hazal.
Di dalam ruang kerja Kenan, ayah dan anak itu sedang duduk saling berhadapan di sofa. Hubungan mereka tidak terlalu dekat sejak kematian ibu Kenan, mendiang istri Harun.
"Katakan saja, apa tujuan Ayah datang ke kantor?"
"Apa begini sikapmu menyambut Ayahmu sendiri?"
Kenan membuang mukanya ke arah pintu. Ia merasa kesal dengan sikap ayahnya yang selalu meremehkannya.
"Ayah ingin kau melakukan kerja sama dengan Perusahaan Aksal."
"Kenapa Ayah menginginkan bekerja sama dengan perusahaan itu?"
Harun berdiri membelakangi Kenan, "Perusahaan Aksal adalah perusahaan terbesar di dunia perhotelan, bahkan Ayah dengar perusahaan itu telah mengembangkan bisnisnya hingga keluar Turki."
"Lalu?"
Harun memasukkan kedua telapak tangannya di dalam saku celananya, "Jika perusahaan kita bisa bekerjasama dengan Perusahaan Aksal, bukankah itu sangat menguntungkan perusahaan kita. Perusahaan kita akan semakin kuat!"
Kenan bangkit berdiri dari tempat duduknya, "Aku tidak setuju!"
Harun membalikkan badannya menghadap Kenan, "Kenapa kau selalu berseberangan dengan Ayah?"
"Karena aku ingin berdiri dengan kedua kakiku sendiri dalam membangun bisnis ini. Bukan karena komando dari Ayah!"
Harun mendengus kesal melihat sikap putranya itu. Sejak dulu, ia selalu berbeda pendapat dengan putranya dalam hal apapun. Terkadang ada suatu penyesalan dalam diri Harun, kenapa Kenan tidak mempunyai sifat seperti dirinya. Putranya itu lebih mirip mendiang istrinya, yang lemah.
Tiba-tiba suara ketukan pintu, menengahi perdebatan ayah dan anak itu. Setelah Hazal mengetuk pintu, ia masuk ke dalam ruangan. Terasa aura ketegangan di antara ayah dan anak yang mempengaruhi atmosfer ruangan di sana.
Hazal meletakkan kopi Harun di depan laki-laki itu. "Silahkan, Tuan," ucap Hazal yang hendak pergi meninggalkan ruangan Kenan.
"Tunggu...!" suara Harun menghentikan langkah kaki Hazal. Hazal memeluk erat nampan dalam pelukannya, kemudian ia membalikkan dirinya menghadap Harun dan Kenan.
__ADS_1
"Pergilah...!" seru Kenan yang memberi perintah tanpa menoleh kepada Hazal.
Hazal yang masih berdiri di ruangan itu, melihat ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua. Ia bingung bagaimana harus bersikap.
"Apa kau tuli, hah? Keluar!" teriak Kenan kepada Hazal. Wanita itu segera membalikkan badannya dan hendak melangkah keluar
Harun hanya mendengus kesal melihat wajah Kenan, pria itu segera melangkah pergi meninggalkan ruangan Kenan. Sesaat ia melihat Hazal yang berdiri di balik mejanya, kemudian melangkah pergi.
Dari luar, Hazal melihat Kenan yang terduduk di sofa nya. Pria itu menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka?
Dengan perlahan Hazal masuk ke dalam ruangan Kenan, ia hendak membereskan sisa cangkir kopi yang ada di atas meja. Ketika dirinya membungkuk untuk mengambil cangkir tersebut, ia tersentak merasakan tangan Kenan menyentuh pergelangan tangannya.
"Kenapa kau bekerja di perusahaan ini? Kenapa kau tidak bekerja di perusahaan ayahmu?" Kenan menatap tajam wajah Hazal.
Hazal menegakkan tubuhnya membuat tangan Kenan terlepas dari pergelangan tangannya. Ia berbalik membelakangi Kenan. "Alasan yang sama kenapa kau menerimaku di perusahaan ini."
Hazal segera melangkah keluar meninggalkan Kenan yang sedang memandangi punggungnya. Pintu ruangan itu akhirnya tertutup. Menyisakan tanda tanya di dalam hati mereka berdua.
Setelah keluar dari ruang kerja putranya, Harun segera berjalan masuk ke dalam lift. Terbersit dalam pikirannya, wajah dan penampilan Hazal yang cantik, menarik dan elegan. Harun menilai, bahwa Hazal pasti berasal dari keluarga kaya dan terpandang.
Ia bermaksud menjodohkan Kenan dengan Hazal. Dilihat dari segi manapun, Hazal terlihat sangat cocok dengan Kenan. Jika Kenan berhasil menikah dengan sekretarisnya itu, maka perusahaannya akan semakin kuat berkat dukungan keluarga Hazal.
Harun mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah, ia menekan angka lima pada tombol lift. Ia merasa penasaran dengan latar belakang Hazal. Pintu lift pun terbuka, Harun segera berjalan menuju ke ruang personalia.
Harun membuka pintu ruangan itu, dilihatnya Omer sedang sibuk dengan komputernya. Ayah Kenan itu berdeham sambil mendekati meja Omer. Manager Personalia itu mendongakkan kepalanya, melihat kehadiran pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
"Tuan Harun," sapa Omer yang langsung berdiri dari kursi kerjanya.
"Omer, apa kau tahu tentang sekretaris baru Kenan?"
"Saya hanya tahu informasi yang di tulis di surat lamarannya, Tuan. Dia seorang lulusan terbaik dari Universitas Columbia, New York." Omer keluar dari mejanya, bermaksud membuka lemari arsipnya. Ia mencari arsip Hazal.
"Oh ya? Lulusan terbaik melamar menjadi sekretaris?" Harun menaikkan salah satu alisnya.
Omer menceritakan awal mula Kenan memilih Hazal tanpa seleksi hingga menjadikannya sekretarisnya. Harun terperanjat mendengar cerita Omer, tetapi kemudian ia tersenyum. Pria paruh baya itu sepertinya mengerti ada sesuatu dalam diri Kenan yang membuat putranya itu meminta Hazal ada di dekatnya.
"Nah ini dia!" seru Omer yang berhasil menemukan arsip Hazal.
Omer menyerahkan arsip Hazal kepada Harun. Mata Harun terbelalak, setelah ia membaca data pribadi Hazal. Ia segera menutup kembali arsip Hazal.
"Jadi dia adalah putri Emir Aksal. Pemilik Perusahaan Aksal!"
Omer membenarkan perkataan Harun. Manik mata Harun menatap tajam arsip Hazal yang ada di tangannya. Kali ini ia mengubah rencananya untuk menghancurkan Yafet Aksal dan perusahaan Aksal.
Kini putri mereka ada dalam genggaman tanganku...
❤️ Bersambung ❤️
__ADS_1
Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya... Terimakasih 🙏🤗😊