DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Keputusan Mehmet


__ADS_3

Setelah melewati sidang pertama yang melelahkan, malam ini Hazal pulang ke rumahnya bersama Yafet. Pria itu membawa Hazal ke sebuah tempat yang sudah lama tidak mereka kunjungi.


"Aku ingin makan kokorec," ajak Yafet yang memarkir mobilnya di food street. Kokorec merupakan kuliner khas Turki yang terbuat dari usus domba yang dipadatkan.


"Aku mau kokorec dan roti lapis!" seru Hazal bersemangat. "Aku akan makan di mobil."


"Oke!" seru Yafet yang segera keluar dari mobil dan memesan tiga porsi kokorec dan tiga roti lapis.


Selang beberapa menit kemudian, pria itu membawa makanannya ke dalam mobil. "Tiga porsi kokorec dan roti lapis!"


"Wow!" Manik mata Hazal bersinar melihat tiga kertas pembungkus roti itu di tangan Yafet. Pria itu memberikan satu porsi kepada Hazal, dan satu porsi ia makan sendiri. Sisanya mereka bagi dua, meskipun Yafet menikmati lebih banyak.


Yafet memberikan satu botol minuman dingin kepada Hazal. Wanita itu segera meneguk minumannya dengan cepat.


"Kurasa aku tidak akan makan malam di rumah," ucap Hazal sambil memegangi perutnya.


"Oh ya? Bagaimana jika ibu memasak pasta?" goda Yafet sambil mengusap puncak kepala Hazal.


Wajah Hazal tampak cemberut begitu mendengar perkataan Yafet. Ia memang tidak tahan jika ada pasta di meja makan. Pria itu semakin menggoda Hazal dengan menyebutkan semua makanan kesukaan Hazal.


"Kurasa kau lebih mengenal diriku daripada aku sendiri," celetuk Hazal dengan senyumannya.


"Kau baru menyadarinya?" goda Yafet kembali. Sepasang mata elang menatap wajah Hazal penuh arti. Manik mata Hazal tampak melotot.


Rasanya Hazal ingin sekali memasukkan kertas pembungkus kokorec itu ke mulut Yafet. Menyumpalnya untuk beberapa menit.


"Akhirnya aku bisa membuatmu wajah mu berekspresi. Tertawa dan tampak kesal," ucap Yafet sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kemudi.


"Apakah sebelumnya aku seperti mayat? Zombi? Vampir? Yang hanya bisa berjalan tanpa ekspresi?" tanya Hazal sambil menatap wajah Yafet dengan serius.


"Bukan aku yang mengatakannya," jawab Yafet yang memalingkan wajahnya ke arah jendela.


"Yafet...!" teriak Hazal sambil memukuli lengan dan dada pria itu.


Yafet menangkis tangan Hazal tetapi kemudian dia menangkap tangan wanita itu, membuat mereka berdua tertawa bersama-sama di dalam mobil. Mereka teringat kembali setiap kenangan yang telah mereka lakukan bersama.


Satu jam telah berlalu, mereka telah berada di rumah keluarga Aksal. Beruntung malam ini, Meral tidak memasak pasta kesukaan Hazal. Nyonya rumah itu memasak ayam panggang, makanan kesukaan Yafet dan Emir. Kali ini Yafet tidak bisa menahan perutnya, begitu ia mencium aroma ayam panggang buatan ibunya.


"Hazal, ada surat untukmu." Meral memberikan sebuah amplop kepada putranya ketika mereka sedang berada di meja makan.


"Terimakasih, ibu," jawab Hazal yang langsung membuka amplop tersebut dan membaca isinya.


Hazal hanya menghela napasnya dan meletakkan surat itu ke atas meja.

__ADS_1


"Apa isinya?" tanya Yafet yang duduk di samping Hazal. Mulutnya masih mengunyah daging ayam berbumbu itu.


"Pemanggilan rapat pemegang saham perusahaan Fallay," jawab Hazal yang memegang surat itu kembali.


"Kurasa mereka akan memilih pengganti Kenan," timpal Emir yang baru saja masuk ke dalam ruang makan.


"Itu yang aku khawatir kan." Hazal menatap wajah ayah angkatnya yang sudah duduk di depannya.


"Bukankah perusahaan itu hak mu, sayang? Perusahaan itu sebenarnya milk ayahmu. Kau adalah ahli waris sesungguhnya, bukan keluarga Fallay!" seru Emir menatap serius wajah putrinya.


"Masalahnya aku tidak ingin menjadi Presiden Direktur, Ayah. Aku masih ingin menyelesaikan masalahku dengan Harun," timpal Hazal yang memainkan ujung kertas surat itu dengan jarinya.


"Kau bisa menunjuk seseorang untuk mewakili mu di perusahaan itu," kata Emir sambil menopang dagunya di kedua tangannya.


"Siapa?" tanya Hazal sambil melirik ke arah Yafet. Hanya pria itu yang bisa membantunya sekarang, karena dirinya tidak terlalu mengerti soal bisnis.


Yafet yang menyadari sudut mata Hazal mengarah kepadanya, ia segera menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tapi...," protes Hazal yang masih di sambut oleh gelengan kepala Yafet.


"Bagaimana kalau teman Kenan? Siapa namanya?" Emir berusaha mengingat pria berkulit gelap itu.


"Mehmet?" tanya Hazal. "Baiklah, besok aku akan bicara padanya."


🔥❤️🔥


"Apa yang terjadi dengan kakimu, Hazal?" tanya Mehmet yang baru saja tiba di lobi perusahaan. Ia melihat perban yang terpasang di kaki kiri Hazal dan sepasang alat bantu berjalan.


"Aku mengalami sebuah kecelakaan, tepatnya korban pembunuhan. Sebuah truk besar menabrak mobilku dari arah belakang, sebelum tabrakan itu terjadi aku melompat keluar dari mobil. Dan hasilnya kau lihat sendiri," ucap Hazal sambil tersenyum.


"Apa ayah Kenan telah menyuruh orang-orangnya untuk mencelakaimu?" tanya Mehmet yang masih memperhatikan kaki Hazal.


Hazal menganggukkan kepalanya. Ia kemudian mengajak Mehmet untuk naik ke lantai delapan ketika pria itu bergumam tentang kejahatan Harun.


Beberapa karyawan tampak sedang berbisik-bisik ketika mereka melihat Hazal dan Mehmet berada di perusahaan itu. Ada yang menyapa Hazal dengan sebutan Nyonya, dan ada yang sampai membungkukkan badannya ketika bertemu dengan wanita itu.


"Kau jangan terkejut. Beritamu ada di mana-mana. Mungkin mereka sudah siap menerimamu sebagai Presiden Direktur Perusahaan Fallay berikutnya," ujar Mehmet ketika mereka berdua berada di lift.


"Itu yang ingin aku bicarakan denganmu sekarang," ucap Hazal ketika pintu lift itu terbuka di lantai delapan.


Mehmet harus berjalan lambat untuk mengimbangi langkah kaki Hazal yang menggunakan kruk. Hazal menghentikan langkahnya ketika mereka sudah berada di depan pintu ruangan Kenan.


"Ayo masuk!" ajak Mehmet sambil membuka handle pintu itu. "Bukankah kau ingin berbicara dengan ku?"

__ADS_1


Sosok Kenan yang duduk di meja kerjanya dengan secangkir kopi dan tiga keping biskuit buatannya membayangi pikiran Hazal. Ia melihat dirinya yang sedang berbicara dengan Kenan, menikmati keindahan langit bersama Kenan dan membicarakan liburan mereka ke pulau Bali. Memori itu mulai muncul satu persatu seperti rol film.


"Kau baik-baik saja, Hazal?" tanya Mehmet yang melihat Hazal memegang pelipisnya. Ia masih melihat wanita itu masih berdiri di luar.


"Aku tidak apa-apa. Ruangan ini mengingatkanku pada Kenan," ucap Hazal dengan manik matanya yang mulai berkaca-kaca. Ia mulai melangkahkan kruknya mendekati Mehmet yang ada di tengah ruangan.


"Mungkin lebih baik jika kita membicarakan hal ini di tempat lain?" Mehmet sedang mencari tempat yang cocok untuk Hazal melalui ponselnya.


Hazal menggelengkan kepalanya, "Lebih baik kita bicara di sini. Lagipula kita sudah sampai di tempat ini."


Akhirnya Mehmet menyetujui permintaan Hazal. Mereka berdua duduk di dua sofa panjang saling berhadapan.


"Apa yang ingin kau bicarakan, Hazal?" Mehmet mulai menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Ia selalu bersikap santai dalam keadaan apapun.


"Mehmet, setelah kematian Kenan apa kau akan berpihak kepada ku atau kepada Harun? Mengingat bahwa Harun telah membiayai semua kebutuhan mu dan keluarga mu," ucap Hazal yang langsung ke intinya.


Hazal memasukkan kedua tangannya di lekukan siku dalamnya. Mehmet tampak terdiam beberapa saat mendengar perkataan Hazal.


"Aku tidak akan memaksamu? Tapi aku ingin tahu, kau berada di pihak siapa saat ini?" Manik mata Hazal menatap tajam wajah pria berkulit gelap itu.


"Aku tidak ingin berpihak pada siapapun, karena aku tidak mau terlibat," jawab Mehmet sambil mengangkat salah satu kakinya dan meletakkannya di atas kakinya yang lain.


"Terlambat kau mengatakan hal itu!" seru Hazal dengan tajam. "Dari awal kau sudah terlibat, kau yang mengirim video tentang terbunuhnya anak buah Harun!"


Mehmet mengusap wajahnya dengan kasar dan memandangi langit-langit ruangan itu.


"Itu semua demi Kenan. Aku tahu dari awal, ayahnya telah berbuat kesalahan. Aku hanya ingin membuka mata Kenan untuk melihat siapa sebenarnya ayahnya itu."


"Lalu? Apa kau tak ingin membantu Kenan lagi?" Hazal menatap wajah Mehmet, seakan wanita ini akan memberikan sebuah penawaran atau tugas selanjutnya.


"Apa yang kau inginkan? Apa kau perlu bantuan ku?" Mehmet memajukan posisi tubuhnya.


Hazal meletakkan sebuah dokumen di atas meja yang berada di tengah-tengah antara dirinya dan Mehmet. Pria berkulit gelap itu mengambil dokumen tersebut dan membukanya.


"Jadilah perwakilan ku untuk mengurus perusahaan ini, karena aku masih harus menghukum Harun saat ini," ucap Hazal yang memajukan posisi tubuhnya dan menatap tajam dokumen yang di pegang oleh Mehmet.


Mehmet meletakkan dokumen itu kembali ke atas meja. "Kau tahu, aku bukan Kenan yang suka duduk di belakang meja sambil menatap layar laptop. Aku lebih suka berada di lapangan. Kurasa aku tidak bisa menolong mu."


"Bahkan jika itu demi Kenan dan hasil kerja kerasnya?" tanya Hazal sedikit memohon. "Aku tidak ingin perusahaan ini jatuh ke tangan orang lain atau kembali ke tangan Harun."


Mehmet terdiam untuk beberapa saat, ia sedang memikirkan perkataan Hazal. Mereka berdua saling memalingkan wajah mereka, tatapan kedua manik mata itu saling menghindar.


"Baiklah!" seru Mehmet. "Tapi ini hanya sementara, sampai kasus Harun selesai!"

__ADS_1


Hazal menganggukkan kepalanya dan mengulurkan tangannya kepada Mehmet. "Oke. Aku harap kau tidak merubah keputusanmu. Semua ini bukan untukku, tapi demi sahabatmu."


Mehmet membalas uluran tangan Hazal dan menandatangani surat kuasa yang diberikan oleh Hazal.


__ADS_2