
Yafet menaikkan kembali kecepatan mobilnya. Ia melihat dari spionnya, mobil Hazal sudah jauh tertinggal.
Kini mobil sport hitam itu telah berhenti di depan rumahnya, Yafet segera masuk ke dalam rumah dengan langkah kaki melebar. Tanpa menyapa ayah dan ibunya yang ada di dalam rumah, ia langsung masuk ke dalam ruang kerja ayahnya dan mengambil sesuatu yang ada di dalam brankas ayahnya.
Sepasang mata elang itu bersinar penuh kilatan. Bola api itu menyala di manik matanya yang tajam ketika ia memegang benda hitam yang di ambilnya dari brankas ayahnya. Ia memeriksa bagian dalamnya dan segera pergi meninggalkan rumahnya.
Hazal yang sudah kehilangan jejak Yafet, mencoba menghubungi ponsel kakak angkatnya. Tetapi laki-laki itu tidak menjawab panggilannya.
Yafet, kau di mana? Jangan membuatku cemas! Jangan lakukan hal yang berbahaya. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
Hazal mencoba untuk pulang ke rumah, ia berharap bisa menemukan Yafet di rumah keluarga Aksal.
"Ibu, apa tadi Yafet pulang ke rumah?" tanya Hazal kepada Meral ketika ia sudah masuk ke dalam rumah.
Meral mendongakkan kepalanya melihat kedatangan Hazal.
"Ya. Yafet tadi pulang kemudian masuk ke ruang kerja ayahmu, setelah itu ia pergi lagi. Ibu tidak tahu ia akan pergi kemana," jawab Meral sambil mengupas buah-buahan di meja makan.
Hazal segera berlari masuk ke ruang kerja ayah angkatnya, dilihatnya pintu brankas milik Emir sudah terbuka.
Pasti Yafet mengambil sesuatu dari brankas itu.
"Ayah... Ayah...!" teriak Hazal ketika ia keluar dari ruang kerja Emir.
"Ibu, dimana ayah?" tanya Hazal dengan wajah tidak sabar. Ia memang sedang di kejar oleh waktu saat ini.
"Ayahmu ada di halaman belakang," jawab Meral yang masih menikmati aktivitas mengupas kulit buah. "Ada apa, sayang? Kenapa kau terburu-buru?"
Hazal tidak menjawab pertanyaan ibu angkatnya. Ia segera mencari ayahnya di halaman belakang.
"Ada apa, sayang? Kenapa napasmu terdengar sampai ke telinga Ayah?" tanya Emir yang sedang memberi makan burung peliharaannya. Ia melihat Hazal tampak sedang mengatur napasnya kembali.
"Apa isi brankas Ayah?" tanya Hazal setelah ia berhasil menenangkan dirinya.
"Hanya berkas-berkas kepemilikan rumah dan sebuah...," jawab Emir yang tidak melanjutkan perkataannya. Pria paruh baya itu tersadar ada sesuatu yang tidak beres.
"Sebuah apa, Ayah? Katakan sebuah apa?" tanya Hazal dengan nada mendesak.
"Sebuah pistol," ucap Emir dengan singkat. Ia menatap wajah Hazal yang mendadak pucat.
"Pis... pistol?" Wajah Hazal terkejut mendengar perkataan ayah angkatnya. Manik mata coklat itu mendadak melebar karena terkejut.
"Ya. Ada apa ini?" tanya Emir yang tidak mendapatkan jawaban dari Hazal, karena putri angkatnya itu langsung lari menuju mobilnya.
"Hazal..., tunggu nak!" teriak Emir yang masuk ke dalam rumah.
"Dia sudah pergi. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Meral setelah ia membersihkan pisau buahnya.
"Sesuatu pasti akan terjadi, Meral. Yafet mengambil senjata apiku. Hazal sedang mencari anak itu!" seru Emir yang terduduk perlahan di kursi makan.
"A...apa maksudmu? A...apa Yafet hendak membunuh orang?" Meral menjatuh pisau buahnya ke lantai, dengan spontan ia menutup mulutnya yang mendadak terbuka lebar.
Yafet menghentikan mobilnya di depan gedung perusahaan Fallay. Ia sedang mencari Harun dan Kenan. Petugas resepsionis mengatakan bahwa kedua pemilik perusahaan itu tidak ada di tempat.
__ADS_1
Yafet segera melajukan kendaraannya menuju ke apartemen Kenan. Dengan tekad bulat ia ingin membuat perhitungan dengan putra Harun itu.
Sementara itu di apartemen, Kenan yang sejak tadi bekerja memeriksa laporan perusahaannya di atas ranjang mendadak merasa bosan. Ia sangat merindukan Hazal saat ini.
Ia mematikan laptopnya dan meraih kunci mobilnya yang ada di atas meja. Berkat obat dari dokter, ia bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Kenan melajukan kendaraannya menuju ke rumah Hazal.
Di tengah perjalanan terjadi sesuatu yang tidak di duga. Yafet segera memutar balik arah mobilnya ketika ia melihat plat nomor mobil kekasih Hazal itu berpapasan dengannya. Ia mengejar mobil Kenan.
Sementara putra Harun melihat dari kaca spionnya, ada sebuah mobil sport yang selalu mengikutinya.
Siapa dia? Sepertinya aku pernah melihat mobilnya. Tapi dimana?
Yafet menyalakan lampu sorotnya di siang hari untuk memberi tanda pada Kenan, agar putra Harun itu menghentikan mobilnya. Tetapi Kenan tidak peduli dengan isyarat Yafet. Putra Harun itu ingin segera sampai di rumah Hazal.
Tepat di tikungan jalan raya, keadaan jalan terlihat sepi. Yafet segera menaikkan kecepatan mobilnya mendahului mobil Kenan, dan ia berhasil memotong laju mobil keluaran Eropa itu.
Kenan menginjak rem mobilnya dengan mendadak ketika mobil sport hitam itu menghalangi jalannya.
Putra Harun itu segera keluar dari mobilnya, begitu juga dengan pengemudi mobil sport. Kedua pria itu berdiri di samping mobilnya dengan kacamata hitamnya.
"Siapa kau?" tanya Kenan yang belum mengetahui pria yang telah memotong laju kendaraannya.
"Kau tidak tahu siapa aku? Apa ingatanmu sudah setua ayahmu yang pembunuh itu?" sindir Yafet yang membuka kacamata hitamnya dan melemparkannya di atas mobilnya.
"Yafet Aksal!" seru Kenan yang juga melepaskan kacamata hitamnya dan berjalan mendekati Yafet.
Kedua pria muda itu sekarang saling berhadapan, tinggi mereka hampir sama. Tubuh dan perawakan mereka sama-sama kekar dan proporsional.
"Mau apa kau?" tanya Kenan sambil mencengkram kerah kemeja Yafet. Raut wajah putra Harun itu mulai menegang dan hendak memukul wajah Yafet.
"Aku ingin membunuhmu!" Suara Yafet seperti sebuah bisikan maut di telinga Kenan. Sepasang mata elang itu menatap tajam penuh intimidasi.
Kenan tertawa terbahak-bahak. "Kau ingin membunuhku? Jangan mimpi!"
Kenan segera melayangkan tinjunya ke wajah Yafet. Tetapi putra Emir itu berhasil menghindari pukulan Kenan. Kakak angkat Hazal itu melepas dan melempar jas serta dasinya ke atas mobil. Ia membuka kancing lengan kemejanya dan menggulungnya ke atas siku, memperlihatkan sedikit otot-otot lengannya.
Begitu juga dengan Kenan, ia membuang jaket hitamnya ke atas mobilnya. Hanya tersisa kaos polos putih bodyfit dan celana jeans-nya yang menempel apda tubuhnya. Terlihat dengan jelas otot tangan dan otot perutnya yang terbentuk dengan sempurna.
Kedua pejantan itu telah menyiapkan kuda-kuda nya. Manik mata mereka saling menyorot tajam. Jalan raya yang sepi itu bagaikan sebuah arena tinju bagi kedua putra pengusaha itu.
Yafet maju terlebih dahulu dengan melayangkan pukulannya. Kenan mencoba bertahan dan menghindari pukulan Yafet yang gesit. Ketika ada kesempatan, putra Harun itu melayangkan tinjunya di tulang rusuk Yafet. Membuat putra Emir itu memundurkan langkahnya menjauhi Kenan.
Rasa nyeri seketika menjalar di lingkaran dada Yafet. Kenan segera menendang wajah Yafet, membuat putra Emir itu jatuh tersungkur ke aspal jalan raya.
Yafet mencoba bangkit berdiri. Melihat lawannya bangkit kembali, Kenan segera melayangkan tendangan ke perut Yafet. Tetapi tendangan itu dengan cepat di tangkap oleh Yafet, putra Emir itu memutar kaki Kenan dan menjatuhkan pria itu.
Kakak angkat Hazal itu segera menarik kaos Kenan dan membuatnya berdiri. Yafet memukul brutal perut Kenan hingga pria itu terdesak ke belakang. Terhimpit di antara Yafet dan mobilnya.
Kenan membalas Yafet dengan memukul tengkuk leher pria itu. Putra Emir itu terhuyung ke belakang. Putra Harun itu segera menendang dagu lawannya, membuat Yafet jatuh terjungkal ke belakang.
Semetara pertarungan dua pejantan itu masih terjadi, Hazal sedang sibuk mencari Yafet. Ia mencoba menyusuri daerah rumah Harun, tetapi ia tidak melihat mobil Yafet ada di sana.
Putri angkat Emir itu mengalihkan pencariannya ke gedung perusahaan Fallay. Selama perjalanan ia mencoba menghubungi Yafet dan Kenan secara bergantian. Di perusahaan Fallay, ia tidak melihat mobil Kenan dan mobil Yafet di sana. Ia kemudian melajukan mobilnya ke apartemen kekasihnya.
__ADS_1
Di saat Hazal sedang sibuk mencari dua pria itu, Kenan hendak menginjak dada Yafet yang jatuh terlentang di aspal. Tetapi Yafet menahan sepatu Kenan yang akan menyentuh dadanya. Dengan geram, Yafet memukul tulang kering Kenan.
Perkelahian kedua pejantan ini berlangsung imbang. Peluh dan darah di wajah bercampur jadi satu. Yafet ingin segera mengakhiri pertarungan itu, ia segera mengeluarkan pistol ayahnya dari balik bajunya dan menodongkannya di depan Kenan.
"Sudah kubilang, aku ingin membunuhmu! Jika kau tidak ingin kehilangan nyawamu, tinggalkan Hazal! Batalkan rencana pernikahan kalian!" teriak Yafet dengan lantang.
"Kau ingin menembakku? Tembak aku! Sampai matipun takkan ku lepaskan Hazal! Kau tahu kenapa Hazal memilihku?" teriak Kenan dengan raut wajah garangnya.
"Tutup mulutmu, brengsek!" teriak Yafet sambil menendang perut Kenan, tepat di bekas luka tembak yang dialaminya. Putra Harun itu terduduk berlutut di hadapan Yafet.
"Kau tidak bisa memberikan apa yang Hazal inginkan, k**arat!" umpat Kenan. Manik mata abu-abu gelap itu melotot sambil mengepalkan telapak tangannya.
"Apa yang tidak bisa aku berikan kepada Hazal, hah?" teriak Yafet yang mulai membidikkan senjatanya di kepala Kenan.
"Ayahku! Hanya aku yang bisa menyerahkan ayahku kepada Hazal!" teriak Kenan yang menahan rasa sakit di bekas luka tembaknya. Ia terbatuk-batuk.
Yafet terkejut mendengar perkataan Kenan. Dia sempat berpikir saat itu.
Apa Hazal melakukan perjanjian dengan anak pembunuh ini?
Jari telunjuk Yafet hendak menarik pelatuk pistol berwarna hitam itu, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di dekat mereka. Hazal segera turun dari mobilnya dan berlari ke arah dua pejantan itu.
"Jangan tembak!" teriak Hazal berdiri menghadap Yafet dan membelakangi Kenan.
Kenan dan Yafet terkejut dengan kehadiran Hazal di antara mereka.
"Kumohon, jangan tembak Kenan," isak Hazal sambil merentangkan kedua tangannya di hadapan Yafet.
"Apa yang kau lakukan? Kau membela anak pembunuh orang tua mu?" Yafet memicingkan kedua matanya, seakan tak percaya dengan permohonan Hazal.
"Minggir, Hazal! Biar ku selesaikan semua untukmu! Setelah aku membunuh anaknya, aku akan membunuh ayahnya!" teriak Yafet.
"Tembak aku lebih dulu, sebelum kau membunuh Kenan!" seru Hazal yang masih merentangkan kedua tangannya. Air matanya mengalir menatap Yafet.
Kenan berusaha bangkit berdiri. Ia hendak menarik tangan Hazal, tetapi wanita itu berjalan mendekati Yafet.
"Ku mohon jangan lakukan hal ini," isak Hazal sambil menurunkan tangan Yafet yang memegang senjata api. Tangan kekar itupun melemah.
Hazal memegang kedua pipi Yafet, menatap sepasang mata elang itu dengan lembut, "Ku mohon, jangan menjadi seperti Harun Fallay. Aku tidak ingin Yafet yang ku kenal menjadi seorang pembunuh.
Putri angkat Emir itu menempelkan keningnya di kening Yafet, ia tak melepaskan kedua tangannya dari pipi pria itu, "Ingatlah masih ada ayah dan ibu yang menunggumu di rumah. Kumohon pulanglah."
Air mata Hazal mengalir deras membasahi wajah cantiknya. Mendengar perkataan dan melihat cucuran air mata Hazal, emosi Yafet mulai menurun. Pria itu sudah kembali ke batas kesadarannya. Tangan kekar itu mengusap air mata Hazal dengan lembut.
Putra Emir itu hendak memeluk Hazal dan ingin membawanya pergi. Tetapi Hazal memundurkan langkahnya beberapa langkah.
"Maafkan aku. Maafkan aku," ucap Hazal tanpa mengeluarkan suaranya. Hanya berupa gerakan bibir yang terlihat oleh Yafet. Air matanya masih mengalir di wajahnya.
Hazal segera memapah Kenan dan membawanya masuk ke dalam mobil pria itu dan pergi meninggalkan Yafet. Sedangkan ia meninggalkan mobilnya sendiri di jalan raya.
Yafet tampak syok melihat kejadian itu. Ia benar-benar tak menyangka, wanita yang dicintainya itu rela memberikan nyawanya untuk anak pembunuh orang tuanya. Ia terduduk di atas aspal sambil berlutut.
"Hazal...!" teriak Yafet dengan keras. Air matanya menetes membasahi aspal yang terasa panas terkena terik matahari.
__ADS_1
🔥 Bersambung ❤️
Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏