
Cinta adalah penyerahan hati. Kedatangan dan kepergian cinta seakan tidak bisa di tebak. Demikian juga kasih dan juga rindu. Cinta sebentuk rasa sayang kepada siapa pun. Yang sering membuat pemilik nya menangis karena kepergiannya. Ikat lah cinta dengan doa. Maka kepergiannya suatu saat tak kan menyesakkan dada. Cinta itu memberi bukan meminta, maka waktu ia pergi, kita tak kan berat melepaskannya...(Air Mata Perpisahan)
Hazal menatap pesawat terbang yang ada di atas kepalanya membumbung tinggi di langit biru. Mata nya berkaca-kaca menahan tangis perpisahan nya kali ini. Pesawat besar itu makin lama, makin tampak kecil dari pandangannya. Di hati nya dia merasa bahagia, karena di detik terakhir Yafet akan pergi, dia masih bisa mengucapkan kata-kata perpisahan nya. Tanpa Yafet sadari, Hazal telah memasukkan sebuah kotak kecil yang berisi syal biru tua buatan tangannya ke tas ransel Yafet.
Biarlah syal itu menjadi kenangan tentang diriku, dan syal itu akan terus menjagamu sampai suatu hari kita akan bertemu lagi.
Meral memeluk Hazal yang masih berdiri di ruang keberangkatan. Gadis muda itu menangis di pelukan ibu angkatnya.
"Mari kita pulang ke rumah." ajak ibunya kepada Hazal sambil mengusap air mata anak angkatnya itu.
Ibu dan anak itu pergi meninggalkan bandara dengan menggunakan mobil Hazal. Sementara Emir melanjutkan perjalanan nya ke Hotel nya untuk melanjutkan pekerjaannya.
Di dalam mobil, Meral bertanya kepada anak angkatnya itu tentang perasaan nya kepada Yafet. Tetapi karena Hazal takut apa yang akan terjadi, jika ia berbicara jujur tentang perasaan nya kepada Yafet. Maka gadis itu hanya mengatakan kalau dia sedih hanya karena merasa kehilangan saudara laki-laki nya yang sudah mulai dekat dengan nya.
Meral menatap wajah Hazal lekat-lekat, dan berkata dalam hatinya.
Jika Hazal hanya menganggap Yafet sebagai kakaknya saja, maka aku dan Emir tidak perlu mengkhawatirkan tentang hubungan mereka. Nanti aku akan memberitahu Emir tentang hal ini, sehingga dia tidak perlu bertindak gegabah. Andai saja, mereka bisa saling jatuh cinta....aku akan mendukung mereka.
"Ada apa, ibu ? Kenapa kau menatapku seperti itu ?" tanya Hazal yang salah tingkah ketika ibunya menatapnya.
"Ah....tak apa, Hazal. Ibu hanya berpikir hari ini Yafet yang pergi meninggalkan kita. Entah mungkin besok atau kapan, kau akan pergi juga untuk meninggalkan kami. Oh iya, apakah kau sudah menentukan akan kuliah di mana?"
"Aku akan mendaftar di Columbia University, New York, Bu."
"Apakah kau ingin satu kampus dengan Yafet?"
Tebakanmu tepat, ibu. Tapi ada hal lain yang membuatku memilih Columbia University.
"Karena di sana ada fakultas hukum yang terkenal. Aku ingin menjadi pengacara atau jaksa. Aku ingin menjebloskan penjahat yang membunuh orang tua ku ke dalam penjara."
"Semoga impian mu terwujud, nak." ucap Meral sambil mengusap puncak rambut kepala Hazal.
*******
Pukul 1 dini hari, Yafet sudah tiba di Bandara International John F. Kennedy, New York. Dengan memakai tas ransel nya, pria itu memesan taksi untuk membawanya ke apartemen pribadi nya yang berada di pusat kota di New York.
New York adalah salah satu kota yang selalu hidup dua puluh empat jam. Tak ada kata malam di tempat ini. Hampir semua toko menyala dua puluh empat jam. Merupakan kota dengan penduduk terpadat di Amerika Serikat.
Ketika taksi yang ia tumpangi sudah berhenti di depan apartemen nya, Yafet memberikan uang dua puluh dollar kepada pengemudi taksi itu. Yafet menapaki tangga apartemen dan membuka pintu depan apartemen yang memiliki tujuh lantai itu. Yafet berjalan dan masuk ke sebuah lift yang membawanya ke lantai tujuh.
__ADS_1
Meskipun sudah hampir pukul 2 dini hari, masih banyak penghuni apartemen yang kebanyakan mahasiswa itu belum tertidur.
Yafet membuka pintu ruang apartemen nya, membuka sepatunya, meletakkan tas ransel nya dan merebahkan dirinya di ranjang tempat tidur yang sudah lama ia tinggalkan.
Akhirnya aku kembali ke tempat ini lagi.
Yafet memejamkan matanya, diri nya sangat lelah dengan penerbangan 11 jam yang di tempuhnya. Tapi bayangan senyuman Hazal memenuhi mata nya. Dia membolak-balik kan tubuhnya, tapi pikiran nya kali ini tidak sejalan dengan tubuhnya. Tubuhnya ingin istirahat dan menikmati malam menjelang subuh ini. Tapi pikiran nya masih melayang kepada kejadian tadi siang di Bandara.
Di Istanbul saat ini pukul 10 pagi. Hari ini hari Minggu. Hazal pasti sudah bangun. Apa aku menelepon nya saja?
Ketika Yafet hendak mengambil ponsel nya di atas meja, tak sengaja tangannya mendorong tas ransel nya sehingga tas itu jatuh ke lantai dan sebagian isinya keluar.
Dilihatnya sebuah kotak berbentuk persegi dengan lapisan kain bludru berwarna merah. Yafet merasa asing dengan kotak tersebut.
Kotak siapa ini ? aku belum pernah melihatnya. Tapi kenapa ada di tas ku? Kurasa ada seseorang yang telah memasukkan kotak ini ke tas ku.
Kemudian di buka nya kotak itu dan dilihatnya syal biru tua yang dibuangnya beberap akan yang lalu di kamar Hazal. Senyum nya mengembang melihat syal itu.
Aku tak menyangka kau melakukan ini semua tanpa sepengetahuan ku, Hazal.
Yafet mengambil ponsel miliknya, dicarilah nama Hazal. Seakan dia tidak sabar ingin melihat wajah gadis itu.
Hazal mengambil ponsel nya dan melihat ada panggilan video dengan nomer asing yang tidak ia kenal.
Apa ini nomer Yafet ? Coba aku terima saja.
"Halo...kau sudah sampai di New York? " Sapa Hazal ketika melihat wajah Yafet di layar panggilannya.
"Ya....sekarang aku ada di apartemen. Kau sudah bangun?" tanya Yafet.
"Dan kau belum tidur ? Bukankah di sana masih jam dua dini hari?"
"Jangan suruh aku tidur sekarang, Hazal."
"Ada apa? Apa ada yang tertinggal di sini?"
*Ya....syal yang kau berikan padaku kemarin tertinggal di kamar mu."
"Itu tidak mungkin, Yafet. Tadi siang aku sudah...." Hazal tidak meneruskan kata-katanya, karena dia ingin membuat kejutan buat Yafet.
__ADS_1
"Tadi siang kau sudah apa ? Apa kau tadi membawanya ke bandara?"
"Ya....tadi aku membawa syal itu dan menyimpannya di kotak merah. Apa mungkin kotak itu terjatuh di lantai bandara? Aku rasa itu tidak mungkin, karena aku telah memasukan kotak berisi syal itu ke dalam tas mu. Jangan-jangan kotak dan syal nya hilang, Yafet. Nanti aku akan ke bandara dan menanyakan nya pada petugas bandara."
"Hahahahhaha....." Yafet tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata Hazal.
"Bisa-bisanya kau tertawa seperti itu? Bagaimana kalau syal itu diambil oleh orang lain?"
Yafet kemudian menunjukkan syal itu, dan melanjutkan obrolannya...
"Apa ini syal yang kau maksud?"
"Kau....!!! Kenapa kau selalu menggodaku seperti ini !!!"
"Tapi aku sangat menyukai dirimu yang pemarah. Hahahaha...." seru dan tawa Yafet yang tidak berhenti.
"Jika kau tertawa terus, aku akan menutup ponsel ku." ancam Hazal.
"Baiklah, Nona Hazal. Kau sangat ahli melakukan hal ini, sampai aku tak menyadari bahwa kau telah memasukkan sesuatu ke tas ku. Thank you darling. Aku akan sangat merindukan gadis yang membuat syal ini."
Mendengar perkataan Yafet yang terkahir, Hazal langsung memutuskan sambungan ponsel nya.
Tut.....Tut....Tut....
"Semakin kau marah, semakin aku jatuh cinta padamu, nona kecil." ujar Yafet yang tersenyum di depan ponsel nya yang berlayar hitam.
❤️ Bersambung ❤️
Terimakasih sudah setia membaca novel pertama ku ini 🤗 Semoga kalian menyukai nya...
Jangan lupa berikan
🤗 Like
🤗 Rate
🤗 Komen dan
🤗 Vote kalian yah...
__ADS_1
Dengan dukungan kalian, jadi membuatku lebih semangat untuk menyelesaikan novel ini. Sampai jumpa di episode selanjutnya 😘😘