
Wajah Emir Aksal yang semula hangat menerima kedatangan Kenan, mendadak berubah merah padam dan menegang.
"Siapa nama ayahmu?" tanya Emir Aksal kepada Kenan.
"Harun Fallay," jawab Kenan yang tampak kikuk di hadapan ayah Hazal. Ia tidak mengerti di mana letak kesalahannya melihat ekspresi wajah Emir yang mendadak berubah.
Mendengar nama Harun Fallay di sebut di dalam rumahnya, Emir hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dan mengatupkan rahangnya dengan kuat. Sebelum putra Harun itu berlama-lama di dalam rumahnya, Emir sudah berancang-ancang untuk membuat pemuda itu angkat kaki dari rumahnya.
"Sekarang Hazal sudah pulang dengan selamat, sekali lagi terimakasih kau sudah mengantarkan putriku," ucap Emir yang segera membuka pintu rumahnya lebar-lebar.
"Aku juga minta maaf padamu, Kapten Ismail. Sudah merepotkan mu untuk datang kemari," ucap Emir kepada Kapten Polisi itu.
Kenan dan Ismail yang mengerti maksud Emir, segera berpamitan untuk meninggalkan rumah keluarga Aksal.
Hazal yang hendak mengantar Kenan dan Ismail sampai di pintu gerbang, segera di cegah oleh Emir.
"Biarkan mereka pulang dengan kaki mereka sendiri! Ayah ingin bicara denganmu!" seru Emir kepada Hazal. Putri angkatnya itu segera mengikuti langkah Emir yang masuk ke dalam kamar.
Tidak ada percakapan apapun di antara Ismail dan Kenan, ketika mereka berdua berjalan bersama di halaman depan hingga pintu gerbang rumah keluarga Aksal.
"Apa hubungan mu dengan Hazal?" Ismail tiba-tiba bertanya pada Kenan yang hendak masuk ke dalam mobilnya.
Kenan menghampiri Ismail. Tatapan mata mereka saling beradu, sangat dingin. Kedua pejantan itu sama-sama mengatupkan rahangnya.
"Apa kau kekasih Hazal?" Kenan balik bertanya dengan sikap menantang.
Ismail mendengus kesal karena Kenan tidak menjawab pertanyaannya. Ia merasa cemburu ketika mengetahui Hazal semalam bersama dengan Kenan.
"Jika kau tidak menjawab pertanyaan ku, aku juga tidak akan menjawab ada hubungan apa aku dengan Hazal!" seru Kenan kemudian berjalan meninggalkan Ismail untuk masuk ke dalam mobilnya.
Ismail menatap tajam mobil Kenan yang telah menjauh darinya, ia pun segera pergi meninggalkan rumah keluarga Aksal.
Di dalam rumah....
Hazal menutup pintu kamar Emir, ketika mereka berdua sudah berada di dalam. Wajah Emir masih terlihat tegang dan menatap tajam manik mata putri angkatnya itu.
"Kenapa kau bawa anak Harun ke rumah ini?" tanya Emir dengan tatapan matanya beralih ke tirai jendela kamarnya yang masih tertutup.
"Karena aku ingin mengenalkannya pada Ayah dan Ibu." Hazal berjalan menghampiri Emir, dan berdiri di samping ayah angkatnya itu.
"Untuk apa? Agar Ayah berterima kasih padanya seperti yang telah Ayah lakukan tadi? Aku Emir Aksal merendahkan diriku sendiri di hadapan anak pembunuh itu!" Nada suara Emir mulai meninggi.
"Aku... aku tidak bermaksud seperti itu, Ayah. Aku hanya ingin dia berpikir, bahwa keluarga kita menerimanya dengan hangat." Hazal menggigit bibir bawahnya sendiri.
"Apa maksudmu? Apa kau merencanakan sesuatu yang tidak Ayah ketahui?" Emir menoleh ke arah Hazal. Kini ayah dan anak angkat itu berdiri saling berhadapan.
Hazal menganggukkan kepalanya di hadapan Emir. "Aku ingin mendekatinya dan membuatnya jatuh cinta padaku, dengan begitu aku bisa mendekati ayahnya dan menghancurkannya!"
__ADS_1
Emir sangat terkejut mendengar perkataan Hazal. Kedua tangan tangannya memegang kedua pundak Hazal, "Rencana mu ini hanya akan menjadi bumerang buatmu! Bagaimana jika kau terjebak dalam perasaan mu sendiri pada anak Harun itu?"
"Aku tidak akan menggunakan perasaanku untuk mendekati nya." Hazal mengangkat wajahnya dan menatap tajam manik mata Emir.
Emir melepaskan kedua tangannya dari pundak Hazal, ia berjalan pelan sambil mengelilingi Hazal. Pandangan matanya ke bawah mengitari lantai kamarnya.
"Sekarang kau bisa berkata seperti itu, jika kalian semakin dekat, bukan tidak mungkin kau yang akan jatuh cinta pada anak pembunuh itu!" Langkah Emir berhenti tepat di samping kiri Hazal. Ia mengambil jeda sebentar untuk memberi kesempatan Hazal mencerna perkataannya.
"Sampai akhirnya kau tidak tega menghancurkan mereka semua!" Emir melanjutkan perkataannya.
"Itu tidak akan pernah terjadi, Ayah!" seru Hazal dengan spontan. "Karena aku masih mencintai Yafet!" Manik mata coklat itu menatap tajam tirai jendela.
Sebuah alasan yang membuat Emir tersentak.
"Hazal...," ucap Emir pelan dan memegang lengan putri angkatnya itu.
"Ayah jangan khawatir, aku tidak akan merusak pernikahan Yafet dan Selina. Setelah semua ini berakhir, aku akan pergi jauh dari kehiduoan kalian. Aku akan memulai kehidupan baruku!" seru Hazal dengan tegas tanpa melihat wajah Emir. Seolah dirinya sedang berbicara dengan tirai jendela yang ada di depannya.
"Setelah semua ini berakhir, tetaplah tinggal disini, ini rumahmu juga," ujar Emir. Sikap dan cara bicaranya sudah mulai melunak.
Dengan wajah yang dingin, Hazal memandang wajah Emir, "Apa Ayah ingin aku merasakan sakit hati seumur hidupku? Melihat orang yang aku cintai hidup bersama dengan wanita lain di rumah ini? Melihat anak mereka yang akan lahir? Impianku sudah hancur, Ayah!"
Emir hanya bisa mengusap wajahnya melihat reaksi Hazal. Ada rasa bersalah di hatinya karena tidak bisa membahagiakan putri sahabatnya ini.
"Maaf atas kata-kata ku ini, Ayah. Aku tidak bermaksud menyalahkan Ayah." Hazal mengusap kelopak matanya yang mulai basah.
Hazal mengangkat wajahnya ke atas, manik matanya menatap langit-langit kamar ayahnya. Sesekali ia menghela napasnya untuk menahan agar air matanya itu tidak tumpah.
"Ayah, mungkin ini sudah menjadi jalan hidupku. Dengan perpisahan ini, membuatku lebih fokus untuk merencanakan balas dendam kepada Harun Fallay!"
Emir memeluk Hazal dengan erat. Entah apalagi yang bisa ia katakan kepada putri angkatnya ini. Menghiburnya atau memarahinya semuanya justru akan memberikan luka yang semakin dalam di hati Hazal.
"Pergilah..., temui Yafet di kamar tamu. Saat ini dia sedang sakit." Emir melepaskan tangannya dari tubuh Hazal.
Hazal segera mengusap air matanya dari wajahnya, sesaat ia melihat wajah ayah angkatnya kemudian pergi meninggalkan Emir seorang diri.
Hazal membuka perlahan pintu kamar tamu tersebut, di lihatnya ibu angkatnya dan Selina ada di dalam kamar. Ia juga melihat Yafet yang sedang berbaring sambil memejamkan matanya di atas ranjang.
Selina yang melihat Hazal masuk ke dalam kamar, segera bangkit berdiri menyambut kepulangan Hazal.
"Wah... wah sang Tuan Putri sudah pulang rupanya? Apa semalam kau sedang bersenang-senang dengan kekasihmu? Sehingga kau lupa waktu?" sindir Selina dengan perkataannya yang tajam.
Hazal hanya terdiam mendengar perkataan Selina. Manik matanya saat itu hanya memandang tubuh Yafet yang tertutup dengan selimut berwarna coklat tua. Sepasang mata elang itu juga terpejam.
Meral langsung melihat ke arah pintu. Dilihatnya Hazal sudah berdiri di sana. Ia kemudian menghampiri putri angkatnya itu dan memeluknya. Pelukan yang sangat hangat.
"Kemana saja kau semalam? Kenapa kau tidak memberi kabar pada ibu?" Meral melepaskan pelukannya dan memegang wajah Hazal. Ia ingin memastikan apakah putrinya itu pulang dalam keadaan selamat. Ditatapnya wajah putri angkatnya itu dengan lembut.
__ADS_1
"Kemana lagi jika seorang wanita tidak pulang semalam? Pasti dia sudah menghangatkan tubuh kekasihnya itu di atas ranjang!" seru Selina. Mulutnya benar-benar tidak terkontrol.
Sebuah tamparan keras di layangkan Hazal ke pipi kanan Selina. "Jaga bicaramu Selina! Apa kau pikir aku seperti dirimu!" pekik Hazal sambil menatap tajam istri Yafet.
Kali ini Selina sudah sangat keterlaluan. Meral sangat terkejut melihat pertengkaran dua wanita yang ada di depannya ini.
"Kau...!" seru Selina yang masih memegang pipi nya yang terasa panas.
Meral segera memisahkan mereka. "Sudahlah, jangan buat keributan di sini."
"Selina, ayo kita keluar dari kamar ini!" ajak Meral yang segera menarik tangan menantunya. Tapi Selina menolak untuk pergi, ia menepis tangan ibu mertuanya itu.
"Apa ibu tidak menyalahkan Hazal? Gara-gara mencarinya, sekarang Yafet sakit!" teriak Selina yang langsung di tarik paksa oleh Meral.
Meral menutup pintu kamar itu, dan melepaskan tangannya dari tangan Selina. "Lain kali jangan pernah menghina putriku! Aku tahu seperti apa putri ku itu!" seru Meral dengan penuh penekanan.
"Naiklah ke kamar mu! Kau itu sedang hamil malah membuat keributan!" perintah Meral kepada menantunya itu.
Selina segera beranjak meninggalkan Meral dan naik ke kamar Yafet dengan perasaan marah dan dengki. Ia membanting pintu kamarnya dengan sangat keras hingga terdengar sampai ke lantai bawah. Matanya penuh kebencian terhadap Hazal.
Ia mendekati meja kecil yang ada di depan ranjangnya dan menyapu bersih peralatan kosmetik yang ada di meja dengan tangannya. Benda-benda itu berjatuhan di lantai.
"Brengsek kau Hazal...! Kau dan kakak mu sama saja! Kalian telah berani menamparku!"
Selina terjatuh dan terduduk di lantai, ia menyibakkan ke belakang rambut panjangnya yang menutupi wajahnya. Wanita itu menangis menahan amarahnya.
Semetara itu di kamar tamu....
Hazal duduk di tepi ranjang. Ia memegang tangan Yafet yang ada di atas dada laki-laki itu. Ketika dirinya menggenggam telapak tangan Yafet, ia merasakan suatu benda ada di balik piyama laki-laki itu.
Ia melihat Yafet yang masih tertidur, dengan perlahan memindahkan tangan laki-laki itu ke atas ranjang.
Perlahan Hazal membuka kancing piyama Yafet bagian atas, tampak sebuah rantai kalung berwarna putih melingkar di leher Yafet.
Sejak kapan dia memakai kalung? Selama ini aku belum pernah melihatnya.
Kemudian di bukanya kancing piyama yang ada di depan dada, tampak sebuah cincin yang tergantung di kalung tersebut. Hazal memegang cincin itu dan mengamatinya.
Cincin ini? Ini cincin yang aku buang di taman itu, ketika aku memutuskan hubungan ku dengan mu. Kenapa cincin ini bisa tergantung di lehermu?
Hazal mencoba mengingat dan menyimpulkan kejadian waktu itu. Seingat dirinya, ia memang membuang cincin itu di taman dan di tengah taman itu terdapat sebuah danau buatan. Tapi ia juga tidak bisa memastikan cincin itu jatuh di mana. Tanpa sadar kelima jarinya menutupi mulutnya yang terbuka.
Jangan-jangan cincin itu jatuh ke dalam danau dan kau mempertaruhkan nyawamu untuk mencari benda kecil ini di dasar danau? Apa sebegitu berartinya cincin ini buatmu, Yafet? Apa kau masih mengharapkan cinta kita bersatu kembali?
❤️ Bersambung ❤️
Jangan lupa setelah baca novelku, kasih tip ya buat Author 😊 Tip nya gak mahal kok... hehehehe cuma kasih Like, Komentar, Rate bintang lima atau Vote kalian 😆 Terimakasih 🙏🤗
__ADS_1