DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Senyuman Licik Selina dan Alfred


__ADS_3

Keesokkan harinya Selina pergi ke rumah sakit yang sudah di pilih oleh Hazal. Wanita muda itu keluar dari mobil merahnya. Mobil itu adalah pinjaman dari seorang temannya. Make up tebal yang lengkap selalu menutupi wajahnya. Sebuah mantel musim dingin berwarna merah terang melekat di tubuhnya yang tinggi semampai. Ia berjalan masuk melalui pintu depan rumah sakit. Pintu kaca itu terbuka dengan sendirinya begitu Selina sudah berdiri di depan.


Di lobi rumah sakit sudah menunggu Yafet dan Hazal. Selina menghampiri kedua anak Aksal yang sedang duduk di ruang tunggu dan tersenyum kepada mereka.


"Apa aku terlambat?" tanya Selina yang melihat ke arah jam tangannya.


Tetapi Yafet dan Hazal hanya membuang wajah mereka ke segala arah, asal tidak melihat wanita itu.


"Dokter sudah menunggumu !!" seru Hazal kepada Selina, kemudian putri Aksal itu melangkahkan kakinya menuju ke ruang dokter. Yafet berjalan di samping Hazal dan memeluk pundak Hazal dengan satu tangannya. Selina mendengus kesal melihat Yafet yang tidak menganggapnya sama sekali, malah lebih memperhatikan adiknya itu.


Ketiga orang itu berjalan menyusuri beberapa koridor di rumah sakit, sampailah mereka di depan sebuah pintu yang bertuliskan Spesialis Dokter Kandungan. Selina berusaha menenangkan dirinya dan berusaha menutupi kegelisahannya dengan mengunyah sebuah permen karet. Mereka bertiga masuk ke ruang dokter tersebut.


"Apa kau... yang sedang hamil, Nyonya?" tanya dokter itu kepada Hazal, karena melihat Hazal dan Yafet yang sedang duduk di depannya.


"Bukan, dok. Dia yang ingin memeriksakan dirinya," jawab Hazal sambil menunjuk Selina yang sedang berdiri di dekat pintu.


Yafet segera berjalan dan berdiri di samping tempat duduk Hazal. Dokter mempersilahkan Selina untuk duduk di samping Hazal.


"Aku ingin dokter memeriksa wanita ini. Apakah dia hamil atau tidak? Dan... lakukan tes DNA pada kandungannya, agar kami tahu siapa ayah dari janin yang di kandungnya," pinta Hazal kepada Dokter tersebut.


"Baiklah...," jawab Dokter tersebut yang kemudian memerintahkan susternya untuk menyiapkan keperluan pemeriksaan.


Suster itu memberikan sebuah gelas kosong yang tertutup kepada Selina.


"Untuk apa ini?" tanya Selina setelah ia menerima gelas pemberian suster. Hazal menahan tawanya melihat tingkah laku Selina yang kikuk.


"Tampung air seni Nyonya ke dalam gelas ini," jawab suster tersebut yang kemudian meninggalkan ruangan dokter kandungan.


Selina hanya menatap gelas kosong itu sambil memainkan mulutnya membentuk gelembung balon dari permen karet.


"Tunggu apa lagi !! Segera pergilah ke toilet !!" seru Yafet yang mengejutkan Selina.


"Bukankah kau sebelumnya sudah pernah melakukan tes kehamilan? Seharusnya kau tahu bagaimana cara mengecek apakah dirimu hamil atau tidak !!" sindir Hazal.


"Tentu saja aku tahu !! Jangan ajari aku !!" bentak Selina kepada Hazal. Dengan gugup Selina membawa gelas kosong itu ke toilet wanita yang jaraknya tidak jauh dari ruang dokter.


Sekitar sepuluh menit sudah berlalu, Selina baru saja keluar dari salah satu toilet wanita. Ia menatap gelas yang sudah berisi cairan kuning muda.


Sekalipun kau membawaku ke seribu dokter kandungan, hasilnya akan tetap sama... sekarang tinggal menghadapi Tes DNA itu...


Selina kembali ke ruang dokter dengan membawa gelas yang sudah berisi air seninya. Di ruangannya, Dokter juga mengambil cairan dari inti Selina dan mengambil darah Yafet untuk melakukan tes DNA, guna mengetahui siapa ayah dari bayi yang di kandung oleh Selina. Suster membawa bahan-bahan penelitian itu ke laboratorium.

__ADS_1


"Kapan kami bisa mengetahui hasilnya, Dokter?" tanya Yafet yang menempelkan selembar plester di lengannya, setelah darahnya diambil.


"Sekitar 5-7 hari hasilnya akan keluar," jawab Dokter.


Setelah mereka selesai melakukan pemeriksaan, ketiga orang itu keluar dari ruangan dokter. Selina yang sejak tadi hanya mengekor di belakang Yafet dan Hazal, berusaha masuk ke tengah-tengah mereka. Wanita itu mengapit lengan Yafet, tetapi Yafet lebih dulu menghindarinya dan mempercepat langkah kakinya.


"Yafet, kau bisa mengantarku pulang? Perutku sedikit mual," rengek Selina ketika mereka sudah sampai di halaman depan rumah sakit.


"Kau tadi bisa datang sendiri dan sekarang kenapa kau tidak bisa pulang sendiri? Aku ada urusan !!" seru Yafet yang segera mengajak Hazal masuk ke dalam mobilnya, dan segera pergi meninggalkan Selina yang masih berdiri di depan pintu masuk rumah sakit.


Selina masuk ke dalam mobilnya dan membanting pintu mobilnya dengan keras. Ia benar-benar kesal melihat sikap Yafet dan Hazal.


Kita lihat saja... keadaan akan berubah setelah hasil tes itu keluar... kau akan berlutut di hadapanku, Yafet Aksal !!


Sementara itu di waktu yang sama, Pengacara Alfred mendatangi Kantor Polisi Pusat. Ia sedang mengikuti perkembangan kasus Ted Baxter. Tanpa sengaja pandangannya tertuju pada sebuah kertas yang di tempel di papan pengumuman yang ada di sudut koridor. Matanya membulat dengan sempurna begitu melihat jadwal tanggal persidangan pertama Ted Baxter.


Telapak tangannya terasa dingin. "Tamatlah riwayatku di tangan ******** tua itu !!" gumamnya sambil merutuki dirinya sendiri.


Harun Fallay tidak akan pernah melepaskan dirinya, jika ******** tua itu mengetahui bahwa kasus Ted Baxter tidak ditutup, melainkan sudah sampai di ambang pintu pengadilan.


Seorang petugas polisi sedang berjalan di depannya, pengacara Alfred memanggil petugas tersebut dan bertanya padanya.


"Aku ingin tahu, bagaimana kasus Ted Baxter ini bisa sampai ke pengadilan?" Pengacara paruh baya itu mendongak ke atas, melihat tingginya yang kalah jauh dari petugas polisi itu.


Petugas polisi segera meninggalkan Pengacara Alfred yang masih berdiri di depan papan pengumuman. Pengacara paruh baya itu mengambil ponsel nya yang ada di dalam saku celananya dan hendak menghubungi seseorang.


"Halo... apa kau pengacara yang menangani kasus Ted Baxter?" tanya Pengacara Alfred langsung ke intinya.


"Ya, apa ada yang bisa aku bantu?" tanya seorang laki-laki dengan suara soprannya.


"Aku Pengacara Alfred. Bagaimana bisa berkas kasus Ted Baxter bisa lengkap dan sampai ke pengadilan?" Pengacara paruh baya itu memperkenalkan dirinya sambil mengorek keterangan dari pengacara muda tersebut.


"Klienku itu telah mengakui semua perbuatannya di tambah lagi sudah ada keterangan dari saksi mata," jawab pengacara Ted Baxter yang sedang duduk di ruang kerjanya.


"Apa? Ted... Ted mengakui perbuatannya?" Pengacara Alfred setengah tak percaya, ia merutuki penjahat itu. Ternyata laki-laki gundul itu sungguh bodoh.


"Kau juga seorang pengacara, Tuan Alfred. Kau pasti tahu tentang hal ini... Jika klien sudah mengakui perbuatannya, tunggu apa lagi...," ucap pengacara Ted Baxter sambil memainkan penanya di sela-sela jari jemarinya


"Kau bilang tadi, ada saksi mata? Siapa dia?" tanya Pengacara Alfred yang mengambil sapu tangannya yang berwarna biru tua dari saku celananya.


"Aku tidak tahu pasti, kami belum bertemu. Kemarin saksi mata itu sudah memberikan kesaksiannya pada Kapten Polisi," jawab pengacara muda itu sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya.

__ADS_1


Pengacara Alfred segera mengakhiri pembicaraannya. Ia mengusap keringat dinginnya yang membasahi kening dan lehernya.


Ternyata ada seseorang yang memperhatikan dan mendengarkan percakapan Pengacara Alfred. Orang itu menghampiri pengacara tersebut.


"Bukankah sekarang sedang musim dingin, Tuan Alfred? Kenapa kau bisa sampai berkeringat seperti itu?" tanya Kapten Polisi yang berdiri di samping Pengacara Alfred dan melihat pengacara itu sedang mengusap keringatnya.


"Ya... sekarang memang musim dingin di Turki. Mungkin aku sedikit kurang sehat," jawab sang pengacara yang terkejut mendengar suara dan keberadaan sang Kapten.


"Kalau begitu, segeralah pulang. Sepertinya sebentar lagi salju akan turun hari ini," saran sang Kapten, segera ia melangkah hendak meninggalkan pengacara tersebut. Tetapi Pengacara Alfred mencoba menghalangi langkahnya.


"Tunggu sebentar, Kapten. Apa boleh aku bertanya sesuatu hal yang penting kepadamu?" pinta Pengacara Alfred yang sudah berdiri di depan sang Kapten.


"Ya, ada apa? Apa ada yang bisa ku bantu, Tuan pengacara?" tanya sang Kapten dengan sopan.


"Siapa yang menjadi saksi mata dalam kasus Ted Baxter ini?" tanya pengacara itu tanpa malu-malu.


"Oh soal itu. Dia hanyalah seorang wanita asing, yang aku datangkan dari Swiss," jawab sang Kapten dengan tenang. Ia memang telah berjanji untuk menjaga rahasia kesaksian Hazal.


"Swiss?" Salah satu alis pengacara itu terangkat ke atas. Seakan ia meragukan perkataan sang Kapten.


"Ya, pendengaran mu tidak salah Tuan pengacara. Aku masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, aku pergi dulu," ucap sang Kapten yang segera meninggalkan pengacara Alfred.


Pengacara Alfred bukanlah pengacara bodoh, yang bisa ditipu hanya dengan satu jawaban saja. Pikirannya mulai bekerja, mencoba menghubungkan kejadian demi kejadian yang ia temui. Sampailah ia pada suatu kesimpulan....


Pasti saksi mata itu adalah Hazal. Kemarin sore, aku melihat dia dan Yafet keluar dari Kantor Polisi. Apa putri Danner itu akan memberikan kesaksiannya di pengadilan? Tidak...itu tidak boleh terjadi... aku harus melakukan sesuatu...


Segera Pengacara Alfred melajukan mobilnya menuju ke rumahnya. Begitu ia sampai di rumahnya, ia segera membuka setiap laci dan lemari yang ada di sana. Pengacara itu tengah mencari buku passport dan buku tabungannya. Ia hendak melarikan diri dari hadapan Harun Fallay. Tetapi keberuntungan tidak berada di pihaknya, passport miliknya sudah kadaluarsa dan tabungannya juga tidak banyak.


"Sial...!!" umpat nya sambil membuang buku *passpor*t itu ke lantai.


Pengacara paruh baya itu terduduk di sofa ruang tamunya, ia sedang memutar otaknya untuk mendapatkan uang banyak dengan cepat. Sebuah senyuman penuh kelicikan, tergaris di wajah tuanya.


❤️ Bersambung ❤️


Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan novelku ini 😊 Jangan lupa kasih tip ya buat Author berupa....


🤗 Like


🤗 Rate bintang lima


🤗 Komentar atau

__ADS_1


🤗 Vote kalian yah...


Biar Author semakin halu untuk menulis novel ini 🤭 Terimakasih 🙏🥰


__ADS_2