
Aku rela melepaskanmu dari hidupku, asal aku masih bisa melihatmu tersenyum. Meskipun senyuman mu itu bukan lagi untukku - Oei Monica
Yafet berdiri dari tempat dia meratapi kepergian Hazal. Ia berjalan di sepanjang jalan itu untuk mencari cincin Hazal. Sampailah ia di sebuah taman yang mengitari danau buatan. Tempat yang sama ketika Hazal meratapi perpisahannya dengan Yafet.
"Kurasa cincin itu jatuh di daerah sini," gumamnya.
Ia berjalan menyusuri taman itu. Taman yang berbentuk lingkaran yang di penuhi oleh pohon pinus dengan sebuah danau buatan yang sebagian permukaannya telah mencair. Sekitar satu jam Yafet mencari cincin itu di seluruh taman, tapi hasilnya nihil.
"Apa cincin itu jatuh ke danau?" pikirnya. "Tapi...aku tadi mendengarnya menggelinding di suatu tempat."
Yafet menuruni lima buah anak tangga untuk sampai ke danau buatan itu. Ia menyusuri tepi danau yang masih membeku untuk mencari keberadaan cincin Hazal. Hasilnya juga nihil. Dia duduk di hamparan salju yang sebagian menutupi permukaan danau, menatap dalam air yang berwarna kebiruan. Tiupan angin yang berhembus dari arah barat laut menerpa beberapa helai rambut hitamnya.
Sebuah balok es mengapung di atas permukaan danau, ada sesuatu yang bersinar di dalam balok es tersebut. Balok es itu berada di depan Yafet, mengalir mengitari danau, dan mengikuti pergerakan angin yang membawanya entah ke mana.
Yafet memperhatikan balok es itu dari tempat ia menyilakan kedua kakinya. Sekitar sepuluh langkah kaki orang dewasa jaraknya jika berjalan di darat. "Apa itu yang berkilau di dalamnya? Sesuatu yang kecil berwarna kuning."
Semakin lama, balok es itu semakin menjauh karena hembusan angin. Yafet bergumam sendiri di tepi danau, "Benda kecil, berkilau, berwarna kuning. Jangan-jangan...!"
Yafet segera melepas sepatu bot, jaket dan barang-barang pribadinya seperti dompet dan ponselnya. Kemudian ia segera menceburkan dirinya ke dalam danau. Ia berenang mengejar balok es tersebut. Semakin ia berenang mengejar balok es itu, maka benda itu semakin menjauh. Hawa dingin yang menusuk tulang-tulangnya tidak ia hiraukan. Ia masih saja terus berenang berusaha menggapai balok es tersebut.
Ketika salah satu tangannya berhasil menyentuh balok es tersebut, balok dingin itu lepas dari tangannya. Berulang kali ia kehilangan balok dingin itu. Hingga ia berenang mengelilingi danau buatan itu sebanyak lima kali, barulah ia berhasil memeluk balok es tersebut, mendekapnya di depan dadanya.
Yafet berenang dengan menggunakan satu tangannya, sedangkan tangan yang lain ia gunakan untuk mendekap balok es. Dibawanya balok es itu ke tepi danau. Ia mencari suatu benda yang berat untuk memecahkan balok es tersebut. Dilihatnya sebuah sekop yang tergeletak di dekat sebuah pohon pinus. Diambilnya sekop itu dan dipukulkannya ke atas balok es itu berulang kali hingga balok es itu pecah menjadi beberapa bagian. Tetapi karena tenaganya yang terlalu keras ketika memukul balok es tersebut, membuat cincin itu terlempar ke dalam danau dan tenggelam hingga ke dasar.
"Oh shitt!" pekik Yafet yang menyayangkan keteledorannya. Ia harus berusaha lagi mendapatkan cincin itu kembali.
Yafet menceburkan dirinya kembali ke danau dan berenang menuju ke dasar. Karena minimnya cahaya matahari, membuat Yafet mengalami kesulitan untuk mencari benda kecil itu.
Putra Emir itu kembali berenang ke atas dan keluar dari danau tersebut. Ia melihat seorang petugas kebersihan yang sedang mengangkut sampah. Dalam keadaan yang basah kuyup, Yafet mendatangi petugas kebersihan itu.
"Permisi Tuan, apa aku boleh meminjam senter kepalamu?" tanya Yafet yang melihat sebuah senter yang melingkar di kepala petugas kebersihan.
"Apa kau ingin mencari sesuatu di danau itu?" tanya petugas kebersihan tersebut sambil menunjuk ke arah danau.
"Ya, aku sedang mencari sebuah cincin, cincin milik kekasihku," jawab Yafet.
Kali ini takdir sedang berpihak kepadanya, petugas kebersihan itu bersedia menolongnya dengan meminjamkan senter kepalanya kepada Yafet.
"Cepat cari cincin itu..., aku akan menunggumu di sini," seru laki-laki tua sang petugas kebersihan.
"Terimakasih Tuan, aku akan mengembalikan senter ini secepatnya," ujar Yafet yang langsung mengenakan senter itu di atas kepalanya. Ia berjalan menuju ke danau dan kembali menceburkan dirinya ke dalam air.
Petugas kebersihan itu menggelengkan kepalanya melihat tekad Yafet yang demikian kuat hanya untuk mencari sebuah cincin. Laki-laki tua itu duduk di bawah pohon pinus sambil menunggu Yafet kembali.
Yafet berenang menuju ke dasar danau, dengan bantuan senter yang melingkar di atas kepalanya, memudahkan pencariannya mencari cincin Hazal. Sesekali ia berenang ke atas untuk menghirup oksigen di udara dan masuk kembali ke dasar danau untuk mencari cincin tersebut.
Sepuluh menit berlalu, Yafet belum berhasil menemukan cincin Hazal. Ia berenang ke sisi danau yang lain, tiba-tiba pandangannya tertuju pada dua buah batu yang ada di dasar danau, kedua batu itu saling berhimpitan dan di tengah batu itu ada sebuah lubang kecil. Ada sesuatu yang berkilau yang memancar dari dalam lubang tersebut. "Itu pasti cincinnya!" serunya. Yafet berenang menuju ke dasar danau, ia berusaha mengambil benda kecil itu, tetapi sayang jarinya terlalu besar untuk masuk ke dalam lubang tersebut.
Napasnya sudah hampir habis, kembali Yafet berenang ke permukaan dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Putra Emir itu kembali mencari cincin Hazal di tempat yang tadi. Kali ini ia mencoba cara yang lain, digulingkannya kedua batu itu dengan perlahan, agar arus air tidak membawa pergi cincin tersebut. Ya... kali ini dia berhasil mengambil cincin Hazal. Hatinya terlalu gembira melihat cincin itu sudah ada di genggaman tangannya.
Dengan cepat Yafet kembali berenang ke atas, ia menyembulkan kepalanya di permukaan danau. Ia melihat petugas kebersihan itu masih menunggunya sambil tertidur di bawah pohon. Segera ia bergegas berenang menuju ke darat.
"Wohoooo!" serunya ketika telapak kakinya telah menyentuh hamparan salju yang sudah membeku. Yafet mencium cincin Hazal dan memasukkannya ke dalam saku celananya yang masih basah.
Yafet melepas senter yang melingkar di kepalanya, memakai kembali sepatu bot dan jaketnya. Kemudian ia menghampiri petugas kebersihan yang sedang tertidur. Karena tidak ingin membangunkan laki-laki tua yang telah menolongnya, maka Yafet meletakkan senter kepala itu di samping tubuh laki-laki tua tersebut. Kemudian ia berjalan menuju ke rumah sakit, tak di hiraukan nya telapak tangannya yang mulai kaku karena kedinginan.
Langkah kakinya membawa dirinya kembali berada di depan pintu lobi rumah sakit. Mendadak Yafet mengurungkan niatnya untuk melihat keadaan ayahnya, ia berbalik arah menuju ke tempat parkir mobil. Dilihatnya sekelilingnya, tidak ada mobil Hazal di sana.
__ADS_1
"Mungkin ia sudah kembali ke rumah," gumamnya sambil menutup pintu mobil dan meregangkan kedua kaki dan tangannya. "Aku harus menyelesaikan masalahku dengan Selina secepatnya."
Di dalam mobil, Yafet menghubungi Jason yang saat ini berada di Inggris. Dalam hitungan detik, pria Inggris itu sudah menjawab panggilan Yafet.
"Halo," sapa Jason yang tengah duduk di ruang kerjanya. Pria itu sedang sibuk dengan kalkulator dan laptop yang ada di atas meja kerjanya.
"Apa kau sibuk?" tanya Yafet yang membuka kaca jendela mobilnya.
"Tidak juga, hanya pekerjaan kantor biasa," jelas Jason yang mengambil penanya dan menulis sesuatu di kertas. "Ada apa kau menghubungiku di jam kerja?"
"Apa kau punya nomor ponsel Selina?"
"Kurasa aku ada, tapi sepertinya itu nomor Inggris. Kau coba saja, mungkin ia telah mengubahnya menjadi nomor Turki," jawab Jason yang segera mengirim nomor ponsel Selina melalui pesan singkat. Tit...tit... terdengar suara notifikasi pesan masuk ke ponsel Yafet.
"Kenapa kau mencari Selina, bukankah kau tidak ingin bertemu dengan wanita itu lagi?" tanya Jason yang belum mengetahui kabar terbaru tentang sahabatnya.
"Aku dan Selina akan menikah."
"Apa?" Jason segera berdiri begitu mendengar perkataan Yafet. "Apa aku tidak salah dengar? Kau dan Selina? Menikah?"
"Ya... wanita gila itu sedang mengandung anakku."
"Apa? Bagaimana mungkin?" Jason memegang dahinya yang tidak mengalami kenaikan suhu badan. "Kapan kalian akan menikah?"
"Ceritanya panjang dan aku tidak ingin membahasnya. Setelah aku bertemu dengan Selina, aku akan memberitahumu kapan aku akan menikah," jelas Yafet yang menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kemudinya.
"Oh shitt! Aku tak percaya ini. Aku akan segera memesan tiket penerbangan ke Turki," ucap Jason yang segera menutup laptopnya dan merapikan meja kerjanya. Yafet pun mengakhiri pembicaraannya.
Jason termenung di depan meja kerjanya yang sudah terlihat rapi. Pria itu mengusap wajahnya berkali-kali dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kerja yang berwarna hitam. Ia merasa bersalah pada Yafet, karena informasi darinya, Selina berhasil mengejar Yafet hingga ke Turki. Sekarang wanita gila itu berhasil mendapatkan apa yang dia mau.
Segera Jason mengambil ponselnya dan memberi kabar kepada kedua temannya yang lain, Lee dan David. Ia tak peduli saat ini di Melbourne hendak mendekati tengah malam.
"Ini benar-benar gila...! Tak bisa ku percaya!" Reaksi David yang juga tak percaya dengan keputusan yang diambil Yafet.
"Aku serius. Selina benar-benar sudah gila. Mungkin sebentar lagi dia akan berpesta merayakan kemenangannya. Aku sudah memesan tiket penerbangan ke Turki. Jika kalian ingin datang ke pernikahan mereka, kita akan bertemu lagi di Turki," ucap Jason di depan layar ponselnya.
"Aku juga akan ke Turki," kata David yang segera menutup ponselnya.
"Bagaimana denganmu, pria Jepang?" tanya Jason yang sekarang hanya melihat wajah Lee di layar ponselnya.
"Aku akan membicarakan hal ini dengan Carina, aku akan mengabari mu lagi," jawab Lee yang yang segera mengakhiri pembicaraan panggilan videonya.
Sementara itu di Turki...
Setelah Yafet mendapat nomor ponsel Selina, segera ia menghubungi wanita itu. Ternyata apa yang di katakan Jason benar. Selina masih tetap menggunakan nomor yang sama meskipun saat ini ia berada di Turki.
"Halo," sahut Selina yang sedang merebahkan dirinya di atas ranjangnya.
"Ini aku Yafet. Temui aku di kafe Galatta sekarang. Ada yang ingin aku bicarakan," ucap Yafet dengan perkataan singkat, padat dan jelas.
Selina terbangun dari ranjangnya, "Sekarang? Aku masih ada di apartemen, aku belum berdandan dan aku...." Perkataan Selina terhenti ketika Yafet tiba-tiba memotong kata-katanya.
"Temui aku sekarang atau tidak sama sekali! Jangan buat aku menunggu!" ancam Yafet dengan nada penuh penekanan.
"Oke-oke, baik...aku akan menemuimu sekarang," ucap Selina yang mengakhiri pembicaraannya dan langsung melempar ponselnya di atas ranjang.
"Kira-kira apa yang ingin dia bicarakan? Apa dia akan menyetujui permintaanku?" gumam Selina yang tersenyum di depan cermin.
__ADS_1
Yafet melajukan kendaraannya menuju ke kafe Galatta. Di tengah padatnya lalu lintas kota Istanbul, ia menyalakan CD player yang ada di dalam mobil, terdengarlah sebuah lagu romantis yang mengingatkannya pada kencan pertamanya dengan Hazal di New York. Ia bukanlah pria melankolis, tapi terlalu banyak kenangan yang ia lakukan bersama wanita itu. Membuat dirinya tidak bisa melupakan rasa cinta itu dalam waktu beberapa jam.
Di tengah senja yang telah menantinya di ufuk barat, Yafet menghembuskan napasnya seakan ia ingin menahan cairan bening itu untuk tidak tumpah membasahi wajahnya. Tiga puluh menit berlalu, Yafet menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk kafe Galatta.
Sebuah kafe yang berada di pusat kota Istanbul, dengan interiornya yang banyak menggunakan bahan kayu yang berwarna coklat. Sebuah dinding partisi yang menyerupai sebuah lemari buku berada di sayap kiri kafe tersebut. Yafet memilih tempat duduk single chair yang terbuat dari kayu dengan sandaran dan alasnya berbahan rotan yang dijalin. Sebuah meja kayu berbentuk persegi dengan lapisan kaca di atasnya, berada tepat di depan Yafet.
Lima menit kemudian, sebuah mobil sedan berwarna merah memasuki halaman kafe Galatta. Mobil itu berhenti di samping mobil Yafet. Turunlah seorang wanita muda dengan jaket panjangnya yang berwarna hitam, dan rambutnya yang di ikat ke atas. Penampilannya tidak seperti biasanya, kali ini wanita itu berdandan asal-asalan. Hanya memakai bedak tanpa lipstik dan tanpa riasan mata. Wanita itu adalah Selina Howard.
Selina mendorong pintu kafe Galatta dengan tangan kanannya. Terdengar tuk...tuk...tuk... dari sepatu heels nya yang menyentuh lantai keramik bermotif marmer. Dia mencari sosok lelaki yang dikenalnya beberapa tahun silam. Di bawah cahaya lampu yang temaram, dia menemukan laki-laki itu.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Selina yang menarik sebuah kursi kayu yang ada di depan Yafet, kemudian ia duduk di atasnya.
Yafet memberi tanda kepada pelayan, agar menyiapkan minumannya.
"Coffee Latte," ujar Selina kepada pelayan tersebut ketika pelayan itu meletakkan secangkir kopi Turki di meja Yafet.
Setahuku kopi tidak baik untuk wanita hamil.
Yafet berdeham setelah pelayan itu mencatat pesanan Selina dan meninggalkan mereka berdua.
"Aku akan menikahi mu!" seru Yafet tanpa basa-basi terlebih dahulu. Ia menyeruput kopi Turkinya.
"Apa kau tidak bercanda?" Kedua mata Selina terbelalak mendengar perkataan Yafet.
"Apa aku pernah bercanda, jika aku berbicara padamu?" tanya Yafet sambil melipat kedua tangannya di siku dalamnya.
Selina yang merasa gembira mendengar perkataan Yafet, segera berdiri dari tempat duduknya dan ingin memeluk Yafet. Tapi pria itu dengan cepat menyingkirkan tangan Selina.
"Aku tak butuh pelukan atau ciuman mu! Duduklah!" seru Yafet.
Selina pun kembali ke tempat duduknya dengan wajahnya yang memerah menahan malu.
"Aku menikahimu hanya di atas kertas. Tidak ada pesta untuk perayaan pernikahan kita, karena ayahku sedang sakit. Urus sendiri segala keperluanmu, aku yang akan membayar tagihannya. Jika kau tidak setuju, aku akan menarik kembali kata-kata ku!" Tatapan mata elang itu mengintimidasi Selina.
Manik mata Selina berputar-putar, mencerna perkataan Yafet.
Bukankah setiap pengantin wanita selalu menginginkan pernikahan yang mewah bagaikan sebuah pernikahan ala kerajaan? Sebentar lagi aku akan menikah dengan pewaris tunggal pemilik hotel terbesar di Turki dan pernikahan itu tanpa pesta? Oh yang benar saja....
"Kenapa kau diam? Apa kau tidak setuju dengan permintaanku?"tanya Yafet.
"Oke...tak masalah jika kau tidak memberiku sebuah pesta pernikahan. Tapi aku ingin kita menikah tiga hari lagi," ujar Selina yang menatap wajah Yafet.
Yafet segera mengambil sebuah buku cek dari dalam dompetnya dan menuliskan sejumlah uang di lembar cek tersebut. Kemudian ia menyobek lembaran cek itu dan memberikannya kepada Selina.
"Kurasa itu cukup untuk biaya pernikahan kita, sampai bertemu tiga hari lagi di catatan sipil," kata Yafet yang kemudian berdiri dan meninggalkan Selina.
❤️ Bersambung ❤️
Terimakasih buat kalian yang sudah membaca novelku. Jangan lupa kasih...
🤗 Like
🤗 Rate bintang lima
🤗 Komentar atau
🤗 Vote kalian yah...
__ADS_1
Terimakasih 🙏😊