
Suara mobil polisi berbunyi di depan halaman Rumah Sakit New York. Petugas polisi membantu Hazal memindahkan tubuh Yafet yang bersimbah darah ke brankar rumah sakit. Malam ini keadaan rumah sakit tersebut sangat ramai, banyak orang yang berkumpul dan berlalu lalang di area lobby rumah sakit.
"Cepat bawa ke ruang operasi....pasien ini gawat darurat !!" seru salah satu dokter jaga di sana.
"Minggir....minggir...permisi." seru salah satu perawat yang mendorong brankar Yafet.
Hazal masih terus berada di samping Yafet. Dia menggenggam erat tangan Yafet dan tidak ingin melepaskan genggaman tangannya pada pria itu.
"Bertahanlah Yafet...kau pasti sembuh...bertahanlah demi aku." ucap Hazal membisikkan kata-kata nya.Tak ada ucapan atau sebuah senyuman balasan dari Yafet. Wajah nya saat ini terlihat sangat pucat karena kehilangan banyak darah.
Ruang operasi sudah nampak di depan mata, genggaman tangan mereka terlepas di ruangan yang dingin itu. Mereka memindahkan tubuh Yafet ke ranjang operasi, dokter dan perawat mengganti pakaian mereka dengan pakaian operasi. Lampu operasi sudah di nyalakan. Hazal hanya melihat tubuh pria yang dicintainya tergeletak tak berdaya.
"Maaf, Nona....kau harus menunggu di luar." pinta salah satu perawat kepada Hazal.
Hazal pun menunggu di luar ruang operasi. Dia sedang duduk di bangku kayu yang panjang seorang diri dan meratapi kesalahan nya. Andaikan dia tidak keras kepala untuk keluar dari apartemen, Yafet tidak akan mengalami hal ini.
Air matanya mengalir deras. Perasaan nya berkecamuk, memikirkan nasib Yafet yang ada di meja operasi. Hazal berjalan mendekati pintu ruang operasi. Kedua tangan nya menyentuh pintu yang terbuat dari kaca, pandangan nya terhalang oleh sebuah kelambu yang berwarna hijau.
"Apakah operasi nya akan berhasil? Bagaimana jika Yafet meninggal setelah operasi? Apa yang harus aku katakan pada ayah dan ibu?"
Tubuh gadis itu tiba-tiba tersungkur dan terduduk di lantai, membayangkan Yafet yang meninggalkan nya untuk selama-lamanya sama seperti kedua orang tuanya.
"Kumohon selamatkan Yafet....." relung hati Hazal memohon kepada Tuhan.
Tiga puluh menit kemudian, lampu operasi di padamkan. Hazal segera berdiri dengan sekuat tenaganya. Seorang dokter senior keluar dari ruang operasi, Hazal segera menghampiri dokter itu.
"Dokter, bagaimana keadaan Yafet?"
"Apakah kau kerabatnya?"
Hazal kebingungan menjawabnya, "Dia teman ku, anak dari teman ayahku." ucap Hazal.
"Operasi nya berhasil, tetapi saat ini kondisi pasien masih tidak sadarkan diri, karena dia telah kehilangan banyak darah, kami akan memindahkan nya ke ruang inap."
"Boleh aku menemuinya?"
"Silahkan nona, kau bisa menemuinya di ruang inap."
"Terimakasih, dokter." ucap Hazal yang memegang tangan dokter senior tersebut.
Hazal segera berlari menuju ruang inap dimana Yafet sekarang berada. Secercah harapan timbul di dalam hati gadis itu. Senyum nya mulai mengembang ke atas. Hazal membuka pintu kamar nomor 2115.
Dilihatnya Yafet terbaring di atas ranjang, dengan kelopak mata tertutup, dan perban putih yang membalut perut pria itu. Seorang perawat memeriksa selang infus yang terpasang di tangan kiri Yafet, perawat itu mengijinkan Hazal untuk menemani Yafet di samping ranjang nya. Kemudian perawat tersebut meninggalkan Hazal seorang diri.
Hazal duduk di samping ranjang Yafet. Sebuah kursi yang terbuat dari kayu yang menumpu tubuhnya. Gadis itu menggenggam erat tangan kanan Yafet, dicium nya tangan pria yang telah memberikan pelukan kepadanya.
"Apakah kau mendengar ku, Yafet?" isak Hazal yang sedang berbicara dengan seseorang yang tidak sadarkan diri.
"Aku tidak membencimu, Yafet. Aku tidak bisa membencimu, karena saat ini aku telah jatuh cinta padamu. Aku mencintaimu Yafet."
"Semua ini salah ku, andai saja...aku mendengarkan perkataan mu waktu itu, kau tidak akan berada di tempat ini sekarang."
"Bangunlah....bukalah matamu. Aku ingin melihat senyum mu, aku ingin mendengar tawamu, aku sangat merindukan mu...."
Air mata Hazal membasahi tangan dan wajah Yafet. Tanpa di sadari Hazal, seorang perawat masuk ke kamar tersebut dan mendengar setiap perkataan Hazal.
Setelah mengungkapkan perasaan nya, Hazal tertidur di samping tangan Yafet. Tangan mereka masih saling menggenggam.
Waktu tak terasa telah berganti, jari tangan kiri Yafet bergerak sedikit. Kelopak mata pria itu sedikit demi sedikit mulai terbuka. Pandangan nya terarah ke atas, dia berusaha mengumpulkan kesadaran nya. Kemudian di lihatnya di sekeliling nya, dia berada di dalam sebuah kamar dan ada kepala seorang gadis di sampingnya yang sedang tertidur....yang sedang menggenggam erat tangan nya.
"Hazal ?" ucap Yafet setelah menyadari kehadiran Hazal.
Yafet mencoba mengingat kejadian yang baru saja dialaminya kemarin. Pria itu baru menyadari saat ini dia sedang berada di rumah sakit.
"Apakah ini mimpi atau nyata? Apakah aku masih hidup?"
Dia tidak ingin membangunkan Hazal dari tidurnya, karena gadis itu tampak sangat kelelahan. Seorang perawat memasuki ruang kamar Yafet dan meletakkan makanan di sebuah meja kecil.
Perawat itu tiba-tiba mengatakan sesuatu kepada Yafet, "Apakah dia kekasihmu? Kulihat gadis ini sangat terpukul melihat keadaan mu, dia bahkan menangis semalaman. Aku lihat dia sangat mencintai mu."
"Bagaimana suster tahu, jika dia mencintai ku?" tanya Yafet.
__ADS_1
"Aku mendengar sendiri, gadis ini mengatakan bahwa ia sangat mencintai mu." jelas perawat tersebut. Setelah tugasnya selesai, perawat tersebut keluar dari kamar Yafet.
Mendengar perkataan perawat tersebut, Yafet tersenyum sendiri. Membayangkan Hazal yang menangis demi dirinya. Tangan kirinya mengusap lembut kepala Hazal. Tiba-tiba, Hazal terbangun dari tidurnya.
"Maaf....aku membangunkan mu, tidurlah kembali." pinta Yafet yang terkejut karena Hazal mengangkat kepalanya.
Kelopak mata Hazal terbuka pelan-pelan, memperhatikan suara yang berbicara padanya, "Yafet !! Kau sudah sadar?" pekik Hazal kegirangan dan langsung memeluk tubuh Yafet. Kakak angkatnya itu membalas pelukan Hazal, dan membelai lembut rambut coklat Hazal.
"Aku senang, akhirnya aku bisa melihat mu lagi." ucap Hazal yang masih dalam pelukan Yafet. Tangan nya menyentuh wajah Yafet dengan lembut. Getaran perasaan itu kembali terasa. Tatapan dua pasang mata itu saling beradu.
"Lihatlah matamu yang bengkak ini, karena kau menangis untuk ku." ucap Yafet sambil mengusap pipi Hazal.
Seketika wajah Hazal memerah karena usapan tangan Yafet. "Maafkan aku...karena aku, kau jadi terluka seperti ini." ucap Hazal.
"Sst.....ini bukan salah mu." ujar Yafet dengan menutup mulut Hazal dengan jari telunjuknya. "Aku ingin menjelaskan semuanya padamu."
"Bisakah kau jelaskan nanti setelah kita pulang ke apartemen?" pinta Hazal yang masih mengkhawatirkan keadaan Yafet, jika pria itu bicara panjang lebar.
"Kita pulang ke apartemen? Apakah kau tidak jadi pindah dari apartemen ku?" tanya Yafet yang mengulang pernyataan Hazal.
Hazal menggelengkan kepalanya. "Aku akan tinggal bersama mu dan merawat mu."
Yafet tersenyum gembira mendengar perkataan Hazal.
*****
Hari ketiga setelah operasi, Yafet di perbolehkan pulang oleh dokter. Setelah Hazal membantu mengurus segala keperluan administrasi, mereka berdua meninggal kan Rumah Sakit tersebut.
Hazal memarkirkan mobil Yafet tepat di depan halaman apartemen nya. Mereka berdua memasuki kamar apartemen mereka, Hazal merapikan tempat tidur nya dan meminta Yafet untuk berbaring di sana.
"Aku akan tidur di luar. Tetaplah kau tidur di tempat tidur." ujar Yafet yang menolak permintaan Hazal.
"Kau baru saja di operasi, tidak baik jika kau tidur di luar. Mulai malam ini sampai kau sembuh nanti, aku akan tidur di luar." ucap Hazal.
Sepertinya tidak mungkin berdebat lagi dengan Hazal. Yafet tahu itu semua untuk kebaikan nya. Akhirnya dirinya menyetujui ucapan Hazal.
"Istirahatlah dulu. Aku akan membuatkan bubur untuk mu." Hazal menuntun Yafet untuk berbaring di ranjang nya.
Kemudian Hazal berjalan menuju ke dapur. Gadis itu membuka seluruh isi lemari es dan lemari dapur, mencari bahan-bahan yang akan di gunakan untuk memasak bubur. Ini adalah pertama kalinya dia memasak. Sejak kecil kebutuhan makanan nya selalu di siapkan oleh juru masak keluarga Aksal.
"Makanlah bubur ini selagi hangat." ucap Hazal yang meletakkan bubur buatan nya di atas meja dan membantu Yafet untuk duduk di atas tempat tidurnya.
Hazal mengambil mangkuk yang berisi bubur dan mulai menyuapi Yafet. Seketika wajah Yafet berubah.
"Ada apa? Apakah rasanya tidak enak?" tanya Hazal yang melihat reaksi Yafet.
"Cobalah..."ucap Yafet.
Hazal mencoba mencicipi bubur buatannya. Tiba-tiba....
"Ini sangat asin....oh my God. Aku terlalu banyak menambahkan garam nya. Bagaimana ini?"
Yafet tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya saat ia melihat reaksi Hazal. Bagi Hazal ini adalah percobaan memasak pertamanya. Yafet meminta nya untuk menambah kan air hangat. Kemudian Yafet melahap habis bubur buatan Hazal.
****
Menjelang malam hari, Hazal membantu Yafet untuk mengganti perban yang ada di tubuhnya. Mereka berdiri saling berhadapan satu sama lain, Hazal mulai melepas satu persatu kancing kemeja Yafet. Di lepaskan nya kemeja putih yang dikenakan kakak angkatnya itu, tampak otot-otot tangan nya berbentuk dengan sempurna. Tubuh atletis dan dada bidang nya yang di hiasi dengan bulu-bulu halus tampak telanjang di wajah Hazal. Beberapa detik Hazal memandangi tubuh pria yang bertelanjang dada di hadapannya. Dibukanya perban lama yang membalut tubuh Yafet.
Perlahan demi perlahan, perban putih tersebut terlepas dan jatuh ke lantai. Tampak bekas jahitan berbentuk garis sepanjang lima centimeter membekas di perut six pack Yafet.
"Apakah masih terasa sakit?" tanya Hazal yang masih memperhatikan bekas jahitan tersebut.
"Sudah lumayan berkurang, aku bisa melupakan rasa sakit ini ketika kau berada di sini, merawat diri ku." ujar Yafet yang membuat wajah Hazal merah merona.
Hazal mengoleskan obat antiseptik yang di berikan oleh dokter, dan mulai membalut perut Yafet dengan perban yang baru. Perlahan demi perlahan, tanpa sadar Hazal telah membungkus hampir semua tubuh Yafet.
"Nona Hazal....apakah kau akan membungkus ku seperti mumi?" tanya Yafet dengan canda tawanya.
Hazal yang baru tersadar telah salah memasang perban nya, ikut tertawa.
"Jika kau jadi mumi, maka aku yang akan membebaskan mu dari tidur mu yang panjang." ucap Hazal sambil tertawa.
__ADS_1
"Kau mulai belajar menggoda seorang pria rupanya." balas Yafet.
Hazal hanya tersenyum manis dan mengulang kembali membalut perban di tubuh Yafet. Kali ini dia membalut nya dengan benar. Kemudian di pakaikan nya sebuah kimono tidur berwarna hitam di tubuh Yafet.
Setelah Hazal selesai mengikat kain kimono itu, Yafet memeluk tubuh Hazal dan membelai rambut panjang Hazal.
"Apakah kau mau memulai hubungan yang baru dengan ku?" bisik Yafet di telinga Hazal. Hazal tak menjawabnya, dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Yafet dan tangan nya mencengkeram kain kimono pria itu.
Yafet melepaskan pelukannya. Dia mengangkat dagu Hazal sehingga pandangan mereka saling beradu. Wajah Yafet yang datar nampak di bola mata coklat Hazal.
"Apakah kau masih membenciku?" tanya Yafet.
"Jika aku membencimu, aku tidak akan bersedia merawat mu."
"Lalu kenapa kau tidak menjawab pertanyaan ku?
"Aku...."
"Di rumah sakit, aku mendengar mu berkata padaku, bahwa kau mencintai ku." Yafet mencoba memancing Hazal agar mengungkapkan isi hati nya.
"Apakah kau mendengar ucapan ku waktu itu? tanya Hazal yang terkejut.
"Tidak juga, seorang perawat memberitahuku. Tapi aku ingin mendengar nya langsung dari mu, ketika aku sudah sadar. Katakan Hazal."
Hazal terdiam beberapa saat. Sulit baginya mengatakan hal itu di saat dia harus berhadapan langsung dengan orang yang di cintai nya. Yafet memeluk pinggang Hazal dan mendekatkan nya pada tubuhnya. Tangan Hazal menyentuh dada bidang Yafet. Sepasang mata coklat nya memandang mata elang Yafet lekat-lekat.
"Yafet....aku. Aku mencintaimu." ucap Hazal dengan lembut. Tanpa banyak bicara, Yafet segera mencium bibir merah Hazal dengan lembut, perlahan Yafet memainkan lidahnya di rongga mulut Hazal. Hazal yang mulai beradaptasi dengan ciuman mendadak Yafet, membalas ciuman Yafet dan mengikuti irama ciuman pria itu. Ciuman lembut itu makin lama berubah menjadi ciuman panas yang penuh dengan gairah.
Getaran dan perasaan cinta yang sudah terbalaskan berkecamuk bercampur jadi satu di dalam hati mereka.
"Aku sangat mencintai mu, Hazal. Jadilah kekasihku." ucap Yafet yang melepaskan ciuman nya.
Hazal menganggukkan kepalanya dan berkata "Ya...aku mau Yafet."
Tangan Yafet memegang wajah Hazal dan membawa bibir merah itu mendekat kepadanya. Sekali lagi dia mencium gadis pujaannya itu dan di peluk nya erat tubuh Hazal. "Terimakasih, sayang." ucap Yafet sambil mencium puncak kepala Hazal.
"Yafet, aku ada satu permintaan untuk mu." kata Hazal tiba-tiba.
"Apa? Jika aku bisa mengabulkan nya."
"Bisakah kita merahasiakan hubungan kita dari Ayah dan Ibu?"
"Apakah itu sebabnya kau menolak diriku waktu di Turki?"
Hazal menganggukkan kepalanya, dan berkata "Ayah dan Ibu pasti akan menentang hubungan kita. Meskipun kau dan aku tidak memiliki hubungan darah, tapi semua orang tahu jika kita adalah adik kakak. Aku tidak ingin menyakiti perasaan ayah dan ibu."
"Apakah kau yakin mereka tidak akan menyetujui hubungan kita?" tanya Yafet.
"Aku hanya menebak perasaan mereka ketika Ayah menentang keputusanku untuk tinggal di New York dan Ibu juga pernah menanyakan bagaimana perasaan ku kepadamu."
"Lalu?"
"Aku mengatakan pada Ibu, jika aku hanya menganggap mu sebagai kakak ku saja. Kulihat wajah ibu nampak tenang setelah mendengar penjelasan ku."
Sulit bagi Yafet untuk menyembunyikan perasaan cinta nya pada Hazal. Tetapi akhirnya dia mencoba memahami perasaan Hazal, dan menyetujui permintaan Hazal.
"Baiklah....aku akan melakukan nya. Tapi suatu hari nanti, setelah kau menyelesaikan kuliah mu, aku akan melamarmu menjadi istri ku di depan orang tuaku." janji Yafet dengan wajah yang serius.
"Tidak Yafet. Aku hanya ingin menikah jika aku sudah berhasil menghukum pembunuh orang tua ku." tolak Hazal.
"Aku berjanji padamu. Mulai hari ini, aku akan melindungi dan menjagamu. Kita bersama-sama akan menemukan dan menghukum pembunuh itu. Setelah semua ini selesai, jadilah pengantinku." ucap Yafet sambil memegang kedua tangan Hazal.
❤️ Bersambung ❤️
Halo teman-teman readers, setelah baca tulisan novel ku ini jangan lupa
🤗Like
🤗Rate
🤗 Komentar dan
__ADS_1
🤗Vote ya
Terimakasih 🙏 ikutin kisah Hazal dan Yafet selanjutnya 🤗🤗😘