
Keesokan harinya di sebuah kamar hotel, sebuah bunyi lonceng yang berasal dari luar membangunkan Yafet yang sedang tertidur. Cuaca yang dingin dan sinar matahari yang tampak malu-malu membuat Yafet menggeliat di atas kasur.
Kedua matanya mengerjap-ngerjap untuk mengembalikan kesadarannya. Sepasang mata elangnya terbuka lebar, melihat sekeliling ruangan itu. "Dimana aku? Kamar siapa ini?" gumamnya.
Ia pun terduduk di atas ranjang berwarna putih. Tidak seorang pun di dalam kamar. Ia memeriksa pakaian dan isi sakunya, pakaiannya masih menempel di tubuhnya. Sementara untuk dompet, ponsel, jam tangan dan kunci mobilnya masih lengkap tidak ada yang hilang. Tetapi kemudian ia menyadari, jam tangan pemberian Hazal berhenti bergerak. Ia mencoba menggoyang-goyangkan jam tangan itu, tetapi jarum penunjuk itu masih tetap berhenti dan tidak bergerak dari posisinya. Dikenakannya kembali jam tangannya itu di pergelangan tangannya.
Kenapa jam tangan ini berhenti bergerak? Bukankah ini jam tangan otomatis? Tidak memakai baterai. Secepat itu jam tangan mahal ini rusak. Baru beberapa hari aku memakainya.
Yafet membuka ponselnya, ia melihat begitu banyak panggilan masuk dari Hazal. Tidak terhitung banyaknya.
*K*enapa aku tidak mendengar ponselku berdering? Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa aku bisa tidur di sini?
Ia hendak menelepon Hazal, tetapi tiba-tiba ia mengurungkan niatnya setelah dirasa, masih terlalu pagi. Segera ia menuju ke kamar mandi, membasuh wajahnya dan keluar dari kamar hotel.
Ia melihat sekelilingnya, ternyata ia baru menyadari, bahwa saat ini ia sedang berada di sebuah hotel kecil. Yafet menggaruk kepalanya dan mengusap wajahnya.
Bagaimana aku bisa berada di sini? Bukankah semalam adalah ulang tahun perusahaan, dan aku ada di hotel AKSAL. Kenapa aku bisa tidur di hotel ini?
Berjuta pertanyaan mengalir di pikiran Yafet. Dalam kebingungannya ia bertanya kepada salah seorang petugas resepsionis di hotel itu.
"Boleh aku tahu, siapa yang memesan kamar nomor 301?" tanya Yafet yang berbicara dengan petugas yang ada di depannya.
"Mohon tunggu sebentar, Tuan. Saya akan memeriksanya terlebih dahulu." Selang beberapa waktu kemudian, petugas itu melanjutkan perkataannya, "Tuan, di sistem kami kamar 301 terdaftar atas nama Yafet Aksal. Apa ada lagi yang bisa saya bantu?"
"Apa?" Yafet sangat terkejut mendengar kamar itu di pesan atas namanya. "Bisakah kau memberitahuku, kemarin malam aku datang ke hotel ini bersama dengan siapa? Maaf... maksudku siapa yang membawaku masuk ke hotel ini?" tanya Yafet yang kebingungan tentang keberadaan dirinya.
Petugas itu memperhatikan dengan seksama wajah Yafet kemudian ia berkata, "Saya ingat, Tuan. Kemarin malam ada dua orang pria yang memapah Tuan untuk masuk ke dalam kamar 301."
"Dua orang pria? Memapah ku masuk ke dalam kamar? Apa aku tidak bisa jalan sendiri?" tanya Yafet yang semakin penasaran dengan kejadian yang ia alami semalam.
"Maaf, Tuan. Waktu itu saya melihat Tuan sepertinya sedang mabuk atau sedang tertidur, saya tidak terlalu jelas," ucap petugas tersebut.
Yafet mencoba meminta rekaman CCTV yang terjadi semalam. Tetapi karena hari ini hari Minggu, manager hotel itu sedang tidak bekerja.
Setelah mendapat jawaban dari petugas hotel, segera ia pulang ke rumahnya. Di tengah jalan, ia terlihat sangat kesal ketika ia tidak menjumpai mobilnya ada di hotel kecil itu. Terpaksa ia pulang dengan menggunakan taksi.
Di dalam taksi, Yafet menelepon sekretaris nya menanyakan keberadaan mobilnya di hotel AKSAL dan tentang pemesanan kamar hotel. Sekretarisnya membenarkan bahwa mobilnya ada di hotel AKSAL, sedangkan untuk pemesanan kamar hotel, sekretarisnya tidak pernah memesan kamat hotel atas nama Yafet.
Pria itu memijat keningnya sendiri dan menyandarkan dirinya di sandaran kursi penumpang.
Sebenarnya apa yang terjadi semalam, kenapa aku meninggalkan mobilku di hotel AKSAL, dan malah tidur di hotel kecil ini?
Sebuah taksi berwarna kuning berhenti di depan kediaman keluarga Aksal. Yafet keluar dari dalam taksi tersebut, dan segera masuk ke dalam rumahnya. Waktu masih sangat pagi, ia melihat ibunya masih sibuk di dapur, segera ia menyelinap naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar Hazal. Ia melihat kekasihnya itu masih tertidur dengan memakai piyamanya dan bersembunyi di balik selimutnya.
Perlahan Yafet mendekati ranjang Hazal, dilihatnya ponsel Hazal masih tergenggam di telapak tangannya. Ia pun duduk di samping Hazal yang sedang memiringkan tubuhnya. Tangannya membelai wajah dan rambut panjang Hazal.
__ADS_1
Apakah kau menangis semalaman? Ketika dirasakan rambut dan wajah Hazal yang basah karena air mata.
Maafkan aku yang tidak mengabarimu, maafkan aku yang telah membuatmu cemas dan menangis seperti ini. Yafet mencium punggung tangan Hazal, di lihatnya telapak tangan Hazal yang sedang menggenggam sesuatu.
Yafet mengernyitkan dahinya ketika melihat telapak tangan Hazal yang tertutup dan tampak sebuah rantai emas menjulur keluar dari genggamannya. Perlahan Yafet membuka telapak tangan Hazal, di lihatnya kalung pemberiannya dan liontin hati yang sudah pecah terbelah menjadi dua. Ia mengusap wajahnya penuh penyesalan, rasa bersalahnya menyelimuti hatinya, rasa marah pada dirinya sendiri.
Hazal yang merasakan ngilu di tangannya, segera membalikkan tubuhnya. Dengan posisi telentang ia membuka matanya yang terasa berat akibat menangis semalam, ia mengucek kedua matanya yang melihat sosok Yafet di dalam kamarnya. Ternyata penglihatannya tidak salah, dilihatnya Yafet duduk di sampingnya.
Segera Hazal lupa akan kemarahan nya semalam ketika menunggu Yafet pulang. Ia segera bangun dan memeluk kekasihnya itu. Air matanya yang semalam sempat reda, kembali tumpah membasahi pundak Yafet.
"Kemana saja kau? Aku menghubungimu sampai puluhan kali tapi kenapa kau tidak menjawab teleponku? Aku hampir gila memikirkan kau tidak pulang semalam, aku takut...aku sangat takut terjadi sesuatu padamu, apalagi aku melihat kalung dan liontin ini yang tiba-tiba rusak," isak tangis Hazal di dalam pelukan Yafet.
Kemudian ia melepaskan pelukannya, memegang wajah Yafet dan membalikkan wajah kekasihnya itu ke kanan dan ke kiri. Tidak ada luka, tidak ada apa-apa di wajah Yafet.
Yafet kembali memeluk Hazal, ia mengusap rambut dan punggung Hazal sambil berkata, "Maafkan aku...maafkan aku yang telah membuatmu cemas, maafkan aku yang telah membuatmu menangis, maafkan aku..." ucap Yafet dengan lirih. Kemudian Yafet menceritakan kejadian semalam yang ia alami kepada Hazal.
Hazal juga tampak bingung dan terkejut mendengar cerita Yafet. Pikirannya mulai berpikir yang tidak-tidak. Untuk meyakinkan dirinya dan kesetiaan kekasihnya, ia mengendus pakaian Yafet, tidak ada aroma parfum wanita, dan tidak ada bekas lipstik di pakaian dan sekitar leher Yafet.
"Asal aku melihatmu pulang dan kau baik-baik saja, aku sudah sangat senang. Aku percaya padamu, sayang. Kau takkan melakukan sesuatu yang membuat hubungan kita menjadi rusak," ucap Hazal sambil menggenggam tangan Yafet.
Yafet menyentuh kepala belakang Hazal, mencium kening kekasihnya itu dan berkata, "Terimakasih sayang atas kepercayaan mu padaku, aku sangat mencintaimu, aku tidak akan melakukan sesuatu yang akan membahayakan hubungan kita. Hari ini aku akan mengajakmu keluar untuk memperbaiki kalung ini."
Hazal pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum memperlihatkan belahan dagunya yang terbelah dengan sempurna. Tak tahan mengatasi perasaan rindunya, Yafet segera mencium bibir merah Hazal dengan lembut hingga menjadi ciuman panas di pagi hari.
"Aku sangat mencintaimu sayang," ucap Yafet sambil menyentuh wajah Hazal.
Setelah selesai berciuman, Yafet segera kembali ke kamarnya. Beberapa menit kemudian, setelah membersihkan dirinya, Yafet dan Hazal turun ke lantai bawah. Mereka hendak menuju ruang makan untuk melakukan ritual sarapan pagi bersama orang tua mereka. Ketika mereka melewati ruang keluarga, tiba-tiba suara Emir mengejutkan langkah kaki mereka.
"Hazal...!!" teriak Emir yang ada di ruang keluarga.
"Ya, Ayah ad--" Belum sempat Hazal melanjutkan perkataannya, sebuah surat kabar melayang dan terjatuh tepat di bawah kakinya. Yafet memungut surat kabar itu, dan mencari tahu apa uang membuat ayahnya marah kepada Hazal. Pria itu menjentikkan jarinya di sebuah artikel yang memuat foto Hazal yang menyiram wajah Kenan Fallay dengan air. Ia menunjukkan artikel itu pada Hazal. Putri Aksal itu terkejut sambil menutup mulutnya yang terbuka lebar. Ia tidak menyangka perbuatannya semalam pada Kenan Fallay bisa tersebar luas di media.
"Apa begini, Ayah dan Ibumu mendidik mu, hah? Perbuatan mu pada Tuan Fallay benar-benar membuat malu keluarga Aksal !!" teriak Emir yang langsung keluar dari ruang keluarga dan menemui kedua anaknya yang baru saja turun dari tangga.
Hazal hanya terdiam, ia menundukkan wajahnya. Yafet yang mengerti kejadian sebenarnya, mencoba membela Hazal di depan ayahnya, "Tuan Fallay dulu yang memulai semua ini, jika dia tidak merendahkan Hazal, Hazal tidak akan menyiram wajahnya, Ayah."
Meral yang sejak tadi berada di dapur, memutuskan keluar untuk melihat keributan yang terjadi pagi ini.
"Hazal, Ayah tidak pernah melihatmu seperti ini. Bagi Ayah, kau adalah gadis yang sempurna. Ayah dan Ibu mendidik mu dengan baik dan memberimu seluruh kasih sayang kami. Tapi... baru kali ini, kau... kau mempermalukan keluarga ini. Segeralah kau minta maaf pada Tuan Kenan Fallay," ucap Emir dengan suaranya yang merendah.
Yafet terkejut mendengar ayahnya menyuruh Hazal untuk meminta maaf pada pria menyebalkan itu, tetapi Hazal menahan tangan Yafet untuk berbicara pada ayahnya.
"Maafkan aku, Ayah. Aku benar-benar tidak tahu jika perbuatan ku ini akan mempermalukan keluarga ini. Waktu itu, aku sedang marah pada pria itu. Dia benar-benar keterlaluan, dia memintaku untuk membersihkan kotoran di pakaiannya," ucap Hazal sambil menundukkan kepalanya, ia tidak berani menatap wajah ayah angkatnya.
"Apa?" teriak Meral yang membuat semua orang terkejut atas kehadirannya. Ibu angkat Hazal ini menghampiri Hazal dan memeluk putrinya.
__ADS_1
"Yang putriku lakukan itu sudah benar, ia hanya melindungi harga dirinya. Bukankah jauh lebih memalukan, jika Hazal menuruti permintaan Tuan Fallay itu? Seluruh masyarakat akan menilai betapa rendahnya martabat dan harga diri seorang putri Aksal !!" cecar Meral kepada suaminya. Emir terkejut mendengar perkataan Meral, baru kali ini istrinya itu tidak sependapat dengan dirinya. Tetapi kemudian Emir menyadari kesalahannya dan membenarkan tindakan Hazal.
Segera Emir menyelesaikan masalah pagi ini, ia meminta seluruh media di Turki agar tidak memuat berita tentang Hazal. Jika berita itu masih tersebar, maka Emir akan menuntut media itu ke pengadilan.
Di kediaman keluarga Fallay
Harun Fallay melemparkan surat kabar di depan wajah anaknya yang sedang sarapan, kemudian ia berkata sambil tertawa mengejek putranya itu, " Ternyata ini sebabnya, semalam kau pulang ke rumah dalam keadaan marah." Tawa Harun Fallay kian mengeras melihat anaknya di permalukan oleh seorang wanita muda.
Kenan mengambil surat kabar yang ada di depannya dan membaca artikel yang memuat foto Hazal menyiram wajahnya. Wajahnya merah padam, ia membuka matanya lebar-lebar, dan mengatupkan rahangnya. Kini seluruh masyarakat Turki sudah melihat betapa dirinya sudah di permalukan oleh Hazal. Dengan raut wajahnya yang mengeras, Kenan pergi meninggalkan ayahnya dan segera menghubungi media massa yang memuat berita tersebut. Sama seperti Emir Aksal, ia mengancam media itu.
Harun yang melihat betapa marahnya anaknya itu pada putri Aksal, tampak tersenyum licik dan menaikkan salah satu alisnya ketika melihat punggung anaknya menghilang dari hadapannya.
"Kenan Fallay dan Hazal Aksal, kedengarannya menarik," ucap Harun dengan tawanya yang misterius. Entah apa yang ada di pikiran pria itu.
Di sebuah toko perhiasan
Hari sudah mulai siang, Yafet mengajak Hazal untuk memperbaiki kalungnya yang sudah rusak. Pemilik toko perhiasan mengenakan kaca pembesarnya untuk memperhatikan rantai kalung dan liontin Hazal yang sudah patah menjadi dua. Pemilik toko perhiasan itu sedikit terkejut, bagaimana liontin ini terbelah menjadi dua, padahal hanya jatuh sekali di lantai.
"Tuan... Nona..., maafkan aku. Aku tidak bisa memperbaiki liontin ini. Jikalau aku bisa menyatukannya kembali, tentu hasilnya tidak akan bagus, dan akan terlihat cacat di mana-mana," kata pemilik toko perhiasan tersebut.
"Tapi Tuan, kalung dan liontin ini sangat berharga untukku, kumohon... lakukan sesuatu agar liontin ini kembali seperti dulu," mohon Hazal kepada pria tua yang ada di depannya.
Pemilik toko perhiasan itu hanya menggelengkan kepalanya, "Aku benar-benar minta maaf, Nona. Seluruh toko perhiasan manapun, tidak akan bisa memperbaiki liontin ini. Tapi aku punya saran untukmu, itupun jika kau dan kekasihmu ini tidak keberatan," ucap pria tua pemilik toko perhiasan.
Hazal menoleh kepada Yafet, meminta persetujuan dari kekasihnya itu, terlihat Yafet menganggukkan kepalanya, "Katakan saran mu, Tuan," kata Hazal.
"Aku akan melebur kembali kalung dan liontin emas ini. Membentuknya kembali dengan bentukan yang baru yang sesuai dengan keinginan kalian, tapi ini memerlukan waktu yang cukup lama atau jika kalian ingin mencari pengganti kalung tersebut, kalian bisa memilih perhiasan lain yang ada di tokoku ini," saran pemilik toko.
Ide itu dirasa cukup baik oleh Yafet dan Hazal, mereka menyetujui saran dari pemilik toko perhiasan tersebut. Yafet meminta Hazal memilih sebuah perhiasan lain sebagai pengganti kalungnya yang akan di lebur kembali.
Hazal melihat sebuah cincin cantik dengan bentuk yang sederhana, tapi terkesan mewah. Hazal memilih cincin tersebut. Tanpa menanyakan berapa harganya terlebih dahulu, Yafet segera membeli dan membayar cincin pilihan Hazal.
Di toko perhiasan itu, Yafet memasang cincin pilihan Hazal di jari manis kekasihnya itu.
❤️ Bersambung ❤️
Terimakasih sudah membaca novel ku ini. Jangan lupa setelah baca, kasih tip dong buat Author berupa...
🤗 Like
🤗 Rate bintang lima
🤗 Komentar dan
🤗 Vote kalian
__ADS_1
Terimakasih 🙏🤗