
Setelah keluar dari Kantor Polisi Pusat, Hazal pergi ke Gedung Kejaksaan. Dengan tergesa-gesa ia keluar dari mobilnya dan menapaki beberapa anak tangga hingga masuk ke dalam ruang kerjanya.
Rasa penasarannya pada isi kaleng biskuit ini membuat Hazal mengabaikan panggilan telepon Yafet. Ponsel itu berdering beberapa kali, sampai akhirnya berhenti berbunyi.
Jemari tangannya membuka tutup kaleng biskuit itu dan menuang semua isinya ke atas meja kerjanya. Sebuah amplop kecil, selembar foto Nuran dan Ali, dan selembar kertas tercecer di atas meja. Hanya tiga benda ini yang berada di dalam kaleng tersebut. Jauh dari perkiraan Hazal.
Hazal mengambil amplop kecil berwarna putih yang telah ditutup dengan perekat. Di bagian depan amplop putih tersebut, terdapat sebuah tulisan untuk Nuran dan Ali.
"Setelah pulang kerja, aku akan memberikan amplop dan foto ini pada Nuran," gumam Hazal yang segera memasukkan amplop putih itu ke dalam tasnya.
Kemudian diambilnya selembar kertas putih yang berasal dari sobekan buku tulis. Di baliknya kertas dua lembar itu, tampak sebuah sketsa burung phoenix yang sangat bagus tergambar dengan sempurna. Meskipun tanpa warna, hanya hitam putih. Tetapi bagaikan sebuah gambaran dari sebuah tangan yang sudah ahli. Burung itu seolah benar-benar hidup dan siap mencengkeram orang yang ada di depannya. Dengan ekor yang panjang dan rentangan sayap yang besar dan kuat.
Gambar yang sangat bagus, apa gambar ini untuk Ali? Tapi tidak ada nama di kertas ini....
Hazal membolak-balikkan kertas tersebut, tidak ada satu keterangan pun di dalam kertas itu selain sketsa gambar tangan Ted Baxter.
Dia pun teringat pada pesan Mert, bahwa Ted Baxter memintanya untuk memberikan kaleng biskuit ini padanya.
Jika semua barang ini untuk Nuran, kenapa dia tidak meminta Nuran untuk mengambilnya? Kenapa dia malah mencari ku?
Di lihatnya kembali bagian dalam kaleng biskuit itu, terlihat kosong. Tidak ada benda lain lagi di dalamnya. Ia kembali mengamati sketsa burung phoenix tersebut.
Ada sesuatu yang menarik perhatiannya, sesuatu yang ada di bawah kaki burung itu. Kaki burung phoenix itu mencengkeram sesuatu, tidak mirip sebuah ranting atau batang kayu.
Setahuku burung phoenix hanyalah sebuah mitologi, burung ini tidak benar-benar ada di dunia. Dia hanyalah seekor burung yang pernah aku dengar di buku-buku dongeng waktu aku kecil.
Hazal berdiri dari tempat duduknya, ia berjalan mondar-mandir di dalam ruang kerjanya. Sampai akhirnya ia berhenti di depan meja panjang yang ada di sisi kanan ruangannya.
Di atas meja panjang berwarna coklat tua itu terdapat sebuah peta negaranya. Dengan ukuran yang sangat besar. Peta itu menggantung di dinding. Segera ia mengambil sketsa burung itu yang ada di meja kerjanya. Hazal membandingkan peta negaranya dengan sesuatu yang di cengkeraman oleh burung phoenix itu.
"Kedua bentuk ini benar-benar sama! Bahkan setiap lekukannya, semuanya sama. Kaki burung ini sedang mencengkeram..., tidak... tidak... burung ini tidak seperti mencengkeram. Tetapi ia sedang memegang peta negaraku," gumam Hazal.
Manik matanya beralih dari sketsa burung phoenix ke peta negaranya, berulang kali.
Sayap burung ini besarnya melebihi gambar yang ada di bawahnya. Kenapa tidak di gambar dengan ukuran lebih kecil atau sama? A...apa burung ini bermaksud melindungi atau....
Tidak... tidak...
Hazal menggelengkan kepalanya.
Burung phoenix ini melebarkan sayapnya di atas peta negaraku. Apa maksudnya ini? Aku pasti salah, jika mengira... gambar ini untuk Ali...
Hazal terdiam sejenak, ia melipat kedua tangannya dan meletakkannya di depan tubuhnya. Berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya yang tidak terlalu besar.
__ADS_1
Di atas kursi kerjanya tergantung lambang negaranya pada sebuah dinding. Hazal tersenyum melihat lambang negara tersebut.
Lambang negaraku bukanlah burung phoenix. Pasti burung ini bukanlah arti sebenarnya, burung ini adalah lambang sesuatu. Ya... Sesuatu yang berpengaruh di negara ini.... Sesuatu itu telah mengembangkan sayapnya di negaraku....
Segera ia memasukkan gambar sketsa itu ke dalam laci meja kerjanya. Hazal membuka pintu ruangannya dan berjalan menuju ke ruang rekan kerjanya yang berjarak sekitar sepuluh langkah dari tempatnya.
"Mustafa, bisakah aku meminjam berkas milik tersangka Ted Baxter?" tanya Hazal setelah ia mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruang rekan kerjanya.
Mustafa adalah seorang jaksa penuntut umum yang akan menuntut Ted Baxter di pengadilan hari ini. Dia satu tingkat lebih tinggi di atas Hazal.
"Kenapa kau tertarik pada pembunuh itu?" tanya Mustafa sambil mencari berkas tersebut di tumpukan berkas-berkas yang ada di atas mejanya. Jaksa penuntut ini tidak mengetahui hubungan antara Hazal dan almarhum Ted Baxter.
"Ehm... aku sedang menangani kasus yang mirip seperti kasus Ted Baxter, mungkin dengan berkas itu aku bisa mempelajarinya," sahut Hazal yang sedang berdiri di depan meja laki-laki tersebut.
"Nah, ini dia....!" seru Mustafa yang segera memberikan berkas itu kepada Hazal.
"Terimakasih, Mustafa. Aku akan segera mengembalikannya padamu," ucap Hazal yang kemudian meninggalkan ruang kerja rekan kerjanya.
Di dalam ruang kerjanya, Hazal membuka berkas Ted Baxter. Matanya terbelalak melihat halaman pertama pada berkas itu. Nampak sebuah kertas kecil, yang sudah lusuh... mungkin ada yang berusaha meremat kertas itu dan ingin membuangnya. Kertas kecil itu berisi sketsa gambar burung yang mirip dengan sketsa gambar pemberian Ted Baxter. Tapi sketsa gambar yang ada di berkas itu terlihat belum selesai dengan sempurna.
"Berarti sketsa gambar burung phoenix ini adalah pesan Ted Baxter untukku. Ya... dia membuat ini untukku, bukan untuk Ali!" seru Hazal yang berbicara di depan gambar burung tersebut.
Hazal menekan beberapa tombol pada pesawat teleponnya,
"Halo...," sapa Mustafa yang menjawab panggilan telepon Hazal.
"Ya..., ada apa? Kau membuatku gugup saja...," ujar Mustafa sambil memegang gagang telepon nya.
"Darimana kau mendapatkan sketsa gambar burung ini?" tanya Hazal dengan salah satu tangannya memegang kertas kecil tersebut.
"Oh... maksudmu kertas gambar yang ada di berkas Ted Baxter?"
"Ya, kertas yang berisi gambar seekor burung."
"Kertas gambar itu sudah ada di dalam berkas itu sewaktu aku menerima berkas tersebut dari Kapten Polisi. Kupikir itu hanyalah gambaran seorang tahanan yang sedang depresi menjelang persidangannya."
Setelah mendengar penjelasan Mustafa, Hazal segera menutup teleponnya. Ia mengambil kedua kertas gambar itu dan memasukkannya ke dalam berkas Ted Baxter. Diambilnya kunci mobilnya, ia sambil berlari keluar menuju mobilnya. Dengan tergesa-gesa, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Kantor Polisi Pusat.
Hampir mendekati jam makan siang, Hazal sudah tiba di Kantor Polisi Pusat. Tapi ia harus menunggu beberapa menit, karena Kapten Ismail sedang tidak ada ruang kerjanya. Kapten muda itu sedang ada tugas di luar.
Satu jam berlalu, Hazal masih menunggu Kapten tersebut di depan ruang kerjanya. Jaksa muda itu hanya duduk termenung di atas sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu.
"Jaksa Hazal...," sapa Kapten Ismail yang melihat Hazal sedang duduk di depan ruang kerjanya.
__ADS_1
Hazal segera berdiri begitu mendengar sapaan sang kapten.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Kapten Ismail yang sudah berdiri di depan Hazal, kemudian ia membuka kunci pintu ruang kerjanya.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu, Kapten," jawab Hazal yang mengikuti langkah kaki Kapten polisi ini untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.
Kapten Ismail mempersilahkan Hazal untuk duduk. "Apa yang ingin kau tanyakan, Jaksa Hazal?" Kapten itu menarik kursi kerjanya, dan duduk menghadap Hazal.
"Jangan panggil aku Jaksa Hazal, lebih baik kau memanggil nama ku saja," pinta Hazal yang meletakkan berkas Ted di atas meja.
"Begitu juga dengan ku, panggil aku Ismail," jawab sang Kapten sambil tersenyum di depan Hazal.
"Baiklah...." Hazal membalas senyuman sang Kapten, sebuah senyuman yang manis dari seorang jaksa muda yang cantik.
"Aku ingin tahu, darimana kau mendapatkan sketsa gambar ini?" Hazal menunjukkan gambaran Ted Baxter yang belum selesai.
Kapten Ismail menceritakan dari awal, ketika Ted Baxter di interogasi untuk pertama kalinya, kemudian ia meminta kertas dan pena, dan mulai menggambar. Hingga terjadinya insiden, Ted menancapkan penanya di tangan sang Kapten.
"Mungkin ini yang membuat gambaran ini tidak selesai," ujar Hazal yang mencoba mengambil kesimpulan dari semuanya.
"Kelihatannya kau tertarik dengan gambar itu?"
Hazal hanya menganggukkan kepalanya, kemudian ia mengambil sketsa gambar burung yang lain, dan menunjukkan nya pada Kapten Ismail.
"Sebelum meninggal, Ted Baxter menggambar kembali sketsa burung ini. Ia berpesan pada temannya yang ada di penjara, untuk memberikan gambar ini padaku," jelas Hazal.
Kapten Ismail mengambil dua kertas dari tangan Hazal. Pria itu mengamati sketsa tersebut.
"Ku rasa... dia ingin bermain teka-teki denganmu," ujar sang Kapten yang meletakkan kembali dua kertas itu di atas meja.
"Ya... teka-teki yang sangat rumit."
"Apa kau berhasil memecahkannya?"
"Sayangnya belum... aku hanya menanyakan hal ini kepadamu. Aku akan kembali lagi ke kantor ku, terimakasih atas bantuan mu, Ismail," pamit Hazal sambil mengulurkan tangannya.
"Jika kau membutuhkan bantuan ku, kau bisa mncariku. Aku akan sangat senang membantumu, Hazal," balas sang Kapten sambil tersenyum dan membalas uluran tangan Hazal.
Kapten Ismail mengantar Hazal hingga ke pintu keluar Kantor Polisi. Kapten muda itu terus menatap kepergian Hazal, hingga jaksa muda itu masuk ke dalam mobil.
"Baru kali ini, kulihat Kapten mengantar seorang wanita hingga ke pintu keluar. Mungkinkah jaksa muda itu telah mengusik hatimu, Kapten?" goda salah satu anak buahnya yang melihat Kapten Ismail memandang Hazal sambil tersenyum.
"Apa yang kau katakan? Lekas kembali lah bekerja!" seru sang Kapten dengan wajahnya yang tersipu malu.
__ADS_1
❤️ Bersambung ❤️
Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian. Terimakasih 😊😀