
Pagi ini Hazal dan Yafet sudah merasakan cuaca yang panas hari ini. Mereka berdua menuju ke apartemen Jason. Dua jam yang lalu, Yafet menghubungi Jason dan menyampaikan rencana nya untuk mengambil alih bagian pencarian Hazal. Jason pun menyetujuinya dan meminta Yafet untuk berkumpul di apartemennya.
Tiga puluh menit kemudian, sepasang kekasih ini sudah berada di depan apartemen Jason. Belum sempat Yafet menekan tombol bel yang ada di depannya, mereka di kejutkan oleh kedatangan David dan Lee.
"Kalian juga datang?" tanya Yafet yang membuka kacamata hitam nya dan menampakkan wajah terkejutnya.
"Jelas kami datang, kita kan tidak terpisahkan," seru Lee dengan semangat segera menghamburkan dirinya dan memeluk Yafet.
"Lepaskan pelukan mu itu !! Kau menurunkan level ku di hadapan Hazal !!" teriak Yafet sambil matanya memelototi Lee. Hazal dan David yang melihat tingkah laku keduanya tertawa terbahak-bahak.
Beberapa detik kemudian, Jason membuka pintu apartemennya, karena dari dalam, pria Inggris itu sudah mendengar suara ribut-ribut di luar. Tanpa aba-aba masuk dari tuan rumah, mereka berempat segera melangkahkan sepasang kaki mereka dan mendaratkan tubuh mereka di atas sofa empuk yang berwarna hitam.
"Maaf Yafet, aku tidak memberitahu mu, kalau aku juga mengajak David dan Lee," kata Jason yang sedang berdiri di tengah-tengah ruangan.
"It's oke, tapi bagaimana dengan rencana kalian yang akan pergi ke Italia dan Australia?" tanya Yafet yang memandang David dan Lee secara bergantian.
"Selesaikan misi kita di Amerika, baru kemudian aku akan mengajak kalian untuk menyapu penjuru Eropa," ucap David dengan wajah seriusnya.
"Setelah itu, kita akan menuntaskan nya di Australia," seru Lee dengan jawaban santainya.
"Maksud kalian....kalian berempat akan berkeliling dunia untuk mencari pembunuh itu bersama-sama?" tanya Hazal yang terkejut dengan ucapan David dan Lee.
"Yup....otak mu sungguh cerdas, Hazal. Sayang kau tidak ikut bersama kami, karena kalau saja ada wanita, pasti akan lebih seru," sambung Jason yang melirik wajah Hazal di posisi duduknya.
"Yafet, boleh aku ikut membantu bersama kalian? Aku juga ingin mencari pembunuh itu," ucap Hazal kepada kekasihnya. Kali ini Hazal ingin mencoba peruntungan nya lagi, siapa tau Yafet tergerak hatinya untuk mengijinkan nya ikut bersama mereka.
Tapi Yafet hanya menjawab, "Apakah kau lupa perkataan ku kemarin malam, sayang?"
Pupus sudah harapan Hazal untuk ikut bepergian bersama mereka. "Baiklah, cepatlah pulang dan selalu kabari aku."
"Jason, berikan kertas bagian mu pada ku. Aku akan melihatnya dan mencatat rute perjalanan kita nanti." seru Yafet dari tempat duduknya. Segera Jason berdiri, mengambil tumpukan kertas miliknya dan memberikan nya kepada Yafet.
Sementara Yafet sedang mencatat sesuatu di notebook nya, Hazal keluar menuju mobil Yafet dan mengambil tas travel yang berisi perlengkapan Yafet selama perjalanan. Hazal masuk kembali ke apartemen Jason, dan meletakkan tas travel tersebut di dekatnya.
"Oke....mari kita memulai perjalanan kita hari ini," seru Yafet memberikan komando dan aba-aba kepada ketiga teman nya.
Mereka berlima keluar dari apartemen Jason. David sudah lebih dahulu masuk ke dalam mobilnya, diikuti oleh Lee dan Jason. Sementara Yafet masih berdiri di luar, pria itu memegang erat tangan Hazal.
__ADS_1
"Maaf aku tidak bisa mengajak mu kali ini, tapi aku janji aku akan segera menemukan pembunuh itu. Agar arwah Paman Erkan dan Bibi Ayla bisa beristirahat dengan tenang di alam sana." ucap Yafet yang memandang Hazal dengan tatapan sendunya.
"Aku tau....aku harap kau baik-baik saja di sana. Jangan membuat ku khawatir, aku ingin melihat mu pulang kembali dengan selamat," suara Hazal terdengar lirih, tangan nya mengusap lembut pipi Yafet.
Tak tahan dengan perpisahan kali ini, Yafet segera memeluk Hazal dengan erat. Dalam hatinya ia sangat berat meninggalkan Hazal seorang diri di New York. "Jaga dirimu baik-baik, jangan lupa nyalakan lampu kamar tidur jika kau bermimpi buruk. Jangan pulang larut malam dan jangan lupa untuk selalu menghubungi ku, dimana pun kau berada."
"Aku janji padamu, aku akan menunggumu. Jika kau tidak berhasil menemukan nya, aku tidak akan marah padamu. Aku hanya ingin melihat mu kembali pulang dengan selamat," kata Hazal yang menahan air matanya di dalam pelukan Yafet.
"Aku janji, sayang. Kita akan bertemu lagi, aku mencintaimu dan aku pasti akan sangat merindukanmu," ucap Yafet yang mengusap punggung Hazal dan memberi ciuman perpisahan kepada Hazal.
Bunyi klakson mobil David membuat pelukan dan ciuman sepasang kekasih itu terlepas. "Sampai kapan kalian berciuman?" tanya David kepada sepasang kekasih yang ada di depannya.
Yafet segera berjalan menuju mobil David, ia melambaikan tangannya ke arah Hazal dan gadis itu membalasnya. "Kau mengganggu saja," tukas Yafet yang duduk di samping David. Pria Amerika itu hanya tertawa melihat teman nya yang belum puas berciuman dengan kekasihnya.
"Kau bisa melanjutkan nya setelah kita kembali" ucap David datar. Mesin mobil pun menyala, dan bergerak meninggalkan apartemen Jason. Hazal memandangi kepergian mobil keluaran Eropa itu tanpa berkedip, sampai pandangan mobil itu hilang dari tatapan mata nya.
Drrt......drrt...... Bunyi pesan masuk dari ponsel Hazal. Sebuah pesan singkat dari Yafet.
"Aku mencintaimu sayang. Jangan menatapku seperti itu. Jangan lupa kau ada kelas jam 10."
"Aku juga mencintai mu. Jaga dirimu baik-baik. Aku akan segera berangkat ke kampus."
Setelah selesai membalas pesan singkat dari Yafet. Segera Hazal masuk ke mobil sport hitam milik Yafet, dan melajukan kendaraannya menuju kampusnya.
******
Keempat pemuda itu memulai perjalanan petualangan mereka untuk pertama kalinya. Meskipun tidak seperti kesepakatan mereka dengan Smith Lloyd, tetapi mereka mengerjakan nya dengan cara mereka sendiri.
Hazal mengirimkan beberapa foto orang tuanya ke ponsel Yafet, agar membantu mereka dalam pencarian tersebut.
Saat ini mereka sedang berada di depan sebuah rumah yang ada di pinggiran kota New York. Salah satu penghuni rumah itu adalah target operasi mereka.
"Kau yakin, ini adalah rumahnya?" tanya David yang memperhatikan sebuah rumah di depannya yang masih nampak sepi.
"Ya... alamatnya sama seperti data yang Smith berikan," jawab Yafet.
"Tapi rumah ini seperti tidak berpenghuni," ucap Lee spontan.
__ADS_1
Satu jam mereka menunggu di depan rumah itu tapi tidak ada satu orang pun yang keluar dari balik pintu kayu tersebut.
"Bagaimana? Apa kita lanjutkan atau tetap menunggu di sini?" tanya Yafet kepada ketiga temannya.
"Lanjut....kita tidak bisa buang-buang waktu di sini," ucap Jason dan di barengi oleh Lee dan David. Yafet memberi tanda di kertas tersebut, yang artinya misi belum berhasil di sana.
David mengemudikan mobilnya sampai ke perbatasan New York dan Pennsylvania. Di perbatasan itu, mereka menggunakan pesawat pribadi David untuk menuju ke Florida dan ke negara bagian yang lain.
Tetapi sebelum mereka naik pesawat pribadinya, David menyuruh Yafet untuk membuka laci dashboard mobilnya. Dilihat oleh Yafet sebuah kotak hitam di dalamnya, David meminta Yafet mengeluarkan kotak hitam tersebut. Yafet melalukan seperti perkataan David. Kemudian David membuka kotak hitam itu secara perlahan, nampak di dalam kotak tersebut ada empat buah senjata api dengan peluru cadangannya.
"Apa itu ? Kau membawa senjata api, David?" seru Lee yang terkejut ketika melihat senjata api di depannya.
"Ya...aku membawa ini untuk kita berjaga-jaga," ucap David dengan tatapan tajamnya.
"Apakah kau sudah gila ?!?! Kita akan mendapatkan masalah begitu ada pemeriksaan !" seru Yafet dengan wajahnya yang kebingungan.
"Ayolah, kawan...jangan seperti wanita yang ketakutan begitu melihat senjata ini," ejek David yang membalas ucapan Yafet.
"Tapi untuk apa senjata api ini ?" tanya Jason yang juga tidak habis pikir dengan tingkah laku David.
"Untuk berjaga-jaga saja. Ingat yang kita cari adalah pembunuh orang tua Hazal. Bisa saja ketika kita menemukannya, dia membunuh salah satu dari kita atau membunuh kita semua," jawab David santai sambil tangannya memasukkan beberapa butir peluru di pistolnya.
Kemudian David mengambil salah satu senjata api itu dari kotak hitam. "Ini ambillah satu untuk kalian dan jangan lupa masukkan pelurunya," ucapnya lagi sambil memindahkan kotak hitam itu di tengah.
Mereka bertiga mengambil satu persatu senjata api tersebut dan mengisinya dengan beberapa butir peluru. Kemudian di simpan nya senjata api tersebut di balik baju mereka.
"Aku harap kalian tidak lupa bagaimana cara menembak. Bukankah kita sudah pernah berlatih di kampus sebelumnya? Kita tidak punya banyak waktu, ayo cepat kita berangkat," seru David yang segera keluar dari mobil Eropanya dan berjalan menuju pesawat pribadinya. Langkah David di ikuti oleh ketiga temannya yang lain.
Pesawat pribadi David tidaklah besar, mungkin hanya bisa menampung sepuluh orang di dalam nya. Mereka merebahkan diri mereka di atas kursi pesawat yang empuk, dan mengambil beberapa makanan dan minuman dingin yang tersedia. Seorang Pilot yang ada di depan menemani penerbangan mereka.
Mereka sampai di Florida pada waktu malam hari, sengaja David tidak mendaratkan pesawat pribadinya di bandara, tapi di sebuah atap gedung pencakar langit milik keluarga nya.
"Aku bisa gila menghadapi ini semua, hampir saja aku ketakutan jika kau mendaratkan pesawat ini di bandara. Kurasa aku langsung di deportasi oleh petugas bandara, apabila mereka menemukan senjata api tersebut," ujar Lee yang memegang kepalanya dengan kedua tangan nya. Pria Jepang itu segera turun dari pesawat pribadi David.
"Aku sudah memikirkannya matang-matang, kalian tidak perlu khawatir," kata David yang masih dengan sikap santainya.
Mereka berempat turun dari gedung pencakar langit tersebut dengan menggunakan tangga dan lift. Di halaman depan, sudah ada beberapa orang yang menyambut mereka. Orang-orang tersebut adalah orang suruhan Ayah David yang di tugaskan untuk membantu keempat anak muda itu mencari seorang pembunuh di penjuru Amerika. Tidak di ragukan lagi, jika Ayah David sangat berpengaruh di beberapa negara bagian di Amerika.
__ADS_1