DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Siasat Kenan


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap, ketika Kenan pergi meninggalkan rumah ayahnya. Hatinya yang sejak tadi berkecamuk sebelum menemui ayahnya, kini tambah semakin resah setelah mendapatkan jawaban dari sang ayah.


Putra Harun itu memukul-mukul setir kemudi mobilnya dengan keras. Ia berteriak di dalam mobilnya. Ia menekan pedal rem mobilnya dengan mendadak.


Tangannya merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Ia mencari nama Mehmet di layar ponselnya.


"Halo...," suara Mehmet terdengar dari balik ponselnya.


"Kau ada di mana?" suara Kenan terdengar cepat dan serius.


(Mehmet menjauhkan ponselnya dari telinganya. Ia melihat layar yang berwarna hitam itu sambil mengerutkan keningnya)


"Tempat biasa," jawab Mehmet singkat.


Panggilan ponsel itupun di putus sepihak oleh Kenan.


Kekasih Hazal itu segera memutar balik arah mobilnya, menuju tempat Mehmet berada. Dirinya mungkin bisa menyembunyikan perasaannya dari Hazal, tapi ia butuh teman bicara saat ini. Meskipun ia ingin membaginya dengan Hazal, tapi ia tidak bisa melakukannya.


Suara mobil hitam itu berderit ketika Kenan menghentikan kendaraannya di sebuah pusat latihan tinju. Tempat di mana Mehmet menghabiskan waktunya hampir setiap malam.


"Apa kau sudah menemukan jawabannya?" tanya Mehmet ketika ia mendengar suara pintu terbuka dan melihat Kenan masuk ke dalam dengan wajah yang tertekuk.


Kenan memasuki sebuah ruangan yang berukuran 3x5 meter persegi. Mehmet selalu menyewa ruangan itu untuk latihan pribadinya. Putra Fallay itu berjalan mendekati sahabatnya yang sekilas tadi bicara dengannya kemudian memusatkan perhatiannya kembali pada sebuah samsak tinju.


Laki-laki berkulit gelap itu sedang memukul samsak tinjunya yang berwarna hitam dengan kedua sarung tinjunya. Karung yang berisi pasir itu bergoyang-goyang ke segala arah setelah mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari Mehmet.


Kenan membuka seluruh pakaian atasnya, ia hanya menyisakan celana denim nya yang menutupi kedua kakinya. Tubuh kekar dan dada bidang yang putih itu terlihat polos tanpa balutan apapun.


"Berikan sarung tinjumu padaku!" seru Kenan. Mehmet segera membuka sarung tangannya dan Kenan segera memakainya.


Sorot matanya menatap tajam pada samsak yang ada di depannya. Sejak tadi ia berusaha mengendalikan emosinya, ketika ia berbicara dengan ayahnya. Bayangan wajah ayahnya dan wajah laki-laki yang ada di gudang itu tiba-tiba muncul bergantian tergambar di karung pasir itu.


Tanpa ada aba-aba, Kenan langsung memukul samsak itu dengan keras. Berulangkali. Ia meluapkan segala kekesalannya, kekecewaannya dan kemarahannya. Semuanya ia salurkan melalui sarung tinju dan karung pasir itu.


Butiran peluh bercucuran dari kepalanya hingga membasahi lantai tempat ia berpijak. Tak terhitung lagi berapa banyak pukulan yang ia layangkan. Rambut dan tubuhnya sudah mulai basah.


Mehmet hanya melihatnya dari samping, menggelengkan kepalanya dan menghembuskan napasnya dalam-dalam.


Sebenarnya apa yang sudah terjadi di rumahnya? Kenapa ia se-marah itu?


Napas Kenan terengah-engah setelah ia melampiaskan amarahnya. Ia membungkukkan badannya sambil memegang kedua lututnya.


"Apa kau sudah puas?" Suara Mehmet mengejutkan Kenan. Putra Harun itu melupakan kehadiran sahabatnya yang sejak tadi memperhatikannya.

__ADS_1


Kenan melepaskan sarung tangan tinjunya, dan mengusap peluhnya dengan lengannya. Dikenakannya kembali kemejanya.


"Belum, sampai aku menemukan siapa dalang semua ini!" seru Kenan. Ia melemparkan kedua sarung tinju itu ke arah Mehmet. Laki-laki berkulit gelap itu menangkapnya dengan kedua tangannya.


"Apa bukan ayahmu yang melakukannya?" tanya Mehmet. Ia menyimpan kembali sarung tinjunya dan mengenakan kembali pakaiannya.


Kenan merebahkan tubuhnya di atas kursi panjang yang seukuran dengan tinggi tubuhnya.


"Aku tidak tahu. Alibi ayahku ada benarnya. Ayahku tidak punya alasan untuk membunuh atau mencelakai Hazal. Mereka baru dua kali bertemu," jelas Kenan sambil mengusap wajahnya dengan kesepuluh jarinya.


Mehmet menarik kursi kayu yang ada di sudut ruangan dan meletakkannya di samping Kenan.


"Lalu, apa kau percaya dengan perkataan laki-laki itu?" Mehmet memajukan tubuhnya dan menaikkan kedua alisnya.


Kenan tampak terdiam, ia hanya menatap wajah Mehmet yang hanya terlihat deretan giginya yang putih bersih. Ia meletakkan salah satu tangganya ke belakang untuk menyangga kepalanya kemudian mengalihkan pandangannya ke kipas angin yang berputar di langit-langit.


"Setengah ketidak percayaan dan setengahnya kepercayaan. Tergantung bagaimana selanjutnya," ucap Kenan yang bangkit berdiri.


"Maaf, bukan aku tidak percaya dengan ayahmu. Tapi kurasa perkataan orang yang hampir mati itu lebih benar," ucap Mehmet yang melihat Kenan dari tempat duduknya.


Hening. Kedua orang itu terdiam dan hanyut dengan pikirannya masing-masing.


"Apa kau masih menyekap orang itu?" tanya Kenan yang memicingkan kedua matanya menatap Mehmet yang ada di bawahnya.


"Ya...!" seru Mehmet yang ikut bangkit berdiri, kini tinggi mereka sejajar. "Apa kau masih memerlukannya?"


"What's....!" pekik Mehmet dengan bahasa Inggris nya. Ia menyayangkan sikap Kenan yang ingin melepaskan buruan yang sudah berhasil ia tangkap.


"Biarkan mereka kembali kepada tuannya! Dengan begitu, kita akan mengetahui siapa sesungguhnya tuan mereka. Kau dan anak buahmu tetapi awasi gerak-gerik mereka!" seru Kenan dengan suara penekanannya.


Ini adalah sebuah taktik yang di gunakan oleh seorang pemburu, untuk mengetahui letak sarang binatang buruannya. Dengan begitu hasil buruan yang di dapatkan akan semakin banyak.


"Brilian otakmu!" seru Mehmet. Ia pikir Kenan akan menyuruhnya untuk menyiksa orang itu agar mengaku atau menyekapnya untuk beberapa lama. Tapi sahabatnya itu tidak pernah menyuruhnya untuk membunuh siapapun.


"Temani aku minum malam ini!" ajak Kenan yang sudah berjalan menuju pintu keluar. Disusul oleh Mehmet yang segera menghamburkan dirinya bersama Kenan.


Kini mereka sudah berada di dalam sebuah kafe yang terletak di sebelah timur kota Istanbul. Mereka mendaratkan tubuh mereka di atas dua buah sofa berwarna hitam yang saling berhadapan. Sebuah alunan musik menemani waktu santai mereka.


Dua botol minuman beralkohol sudah ada di atas meja berbentuk persegi. Kedua pria itu segera meneguk minuman yang mampu membuat pikiran mereka melayang.


"Bagaimana hubunganmu dengan Hazal?" tiba-tiba pikiran Mehmet terbayang putri Aksal itu. Terakhir kali ia bertemu Hazal di kantor Kenan.


"Kami sudah menjadi sepasang kekasih," jawab Kenan yang memainkan ujung jarinya di botol yang berwarna hijau itu.

__ADS_1


"Kau benar-benar menikung ku, sobat!" protes Mehmet sambil tertawa kecil. Ia memesan minuman beralkohol itu untuk kedua kalinya.


"Minumlah sampai puas, aku akan mentraktir mu. Anggap saja ini permohonan maaf ku karena aku telah mengambil gadis yang kau incar," balas Kenan yang segera meneguk minumannya sampai habis.


Perkataan Kenan membuat Mehmet tertawa renyah. "Baru kali ini selera mu sama denganku. Kau tak bisa lepas dari godaannya, kan?"


Kenan memajukan tubuhnya ke hadapan Mehmet.


"Dia tidak pernah menggodaku. Tapi dia membuatku merasa tertantang untuk menaklukkannya dan mendapatkannya. Ia seperti seekor singa betina." Suara Kenan terdengar seperti sebuah desahan, ketika ia mengucapkan kata singa betina.


Mendengar perkataan Kenan, membuat Mehmet kembali tertawa. Seorang pelayan memberikan dua botol lagi kepada mereka.


"Itu benar." Kenan kembali menyadarkan dirinya di sofa dan tersenyum membayangkan wajah cantik Hazal.


"Lantas, apa kau sudah menaklukan nya? Maksud ku apakah kau sudah berhasil menidurinya?" Mehmet memperjelas kata-kata vulgarnya.


"Apa kau tak mengenal diri ku? Aku tidak akan menidurinya, jika ia tidak menyerahkan dirinya pada ku lebih dulu. Hazal bukanlah wanita seperti itu. Dia masih suci," ujar Kenan dengan pandangan matanya yang berseri-seri. Ia mengingat kejadian sewaktu Hazal menginap di apartemennya.


Mehmet menggelengkan kepalanya sambil tertawa berulang kali. Entah dia sedang menertawakan dirinya yang tidak berhasil mendapatkan Hazal atau dia memuji keberuntungan sahabatnya itu mendapatkan seorang perawan.


Mereka pun mengambil botol minuman yang kedua, dan meneguknya sampai habis. Minuman itu memang membawa kenikmatan tetapi hanya sesaat.


Setelah puas menghabiskan waktunya di kafe, kedua laki-laki itu segera kembali masuk ke dalam mobil Kenan. Kekasih Hazal itu segera melajukan mobilnya menuju tempat latihan tinju untuk mengantar Mehmet.


"Putri Aksal itu rupanya panjang umur!" seru Mehmet sambil menepuk pundak Kenan yang ada di belakang setir kemudi. Tepat saat mobil Kenan berhenti di lampu merah.


Kedua orang itu melihat Hazal keluar dari tempat latihan tembak bersama dengan Yafet.


"Bukankah itu Yafet Aksal?" tanya Mehmet sambil menunjuk Yafet yang ada di seberang jalan.


"Wajar ia bersama kakaknya," ucap Kenan yang segera melajukan kendaraannya kembali. Tatapan matanya masih melihat Hazal dari kaca spionnya.


"Maksud ku untuk apa mereka latihan menembak? Apa mereka itu mafia?" Mehmet masih memperhatikan Hazal dan Yafet yang ada di belakangnya. Kedua anak Aksal itu terlihat sudah masuk ke dalam mobil.


Kenan hanya terdiam. Ia teringat perkataan nya pada Hazal sewaktu ia akan meninggalkan kantornya. Diambilnya ponselnya yang ia letakkan di atas dashboard mobilnya. Ia menurunkan kecepatan mobilnya.


Mata Kenan sibuk memperhatikan antara jalan raya dan layar ponselnya. Ia tampak tersenyum begitu ia melihat nama Hazal ada di daftar panggilan tidak terjawab, sebanyak lima kali. Ia kembali menaikkan kecepatan mobilnya dan meletakkan ponselnya kembali ke atas dashboard.


🔥❤️🔥❤️


Keesokkan harinya tiba-tiba Kenan keluar dari ruang kerjanya dan berdiri di depan meja Hazal.


"Ikutlah bersama ku ke Swiss!" pintanya.

__ADS_1


🔥 Bersambung ❤️


Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏


__ADS_2