DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Babak Baru Dimulai


__ADS_3

Tujuh hari kemudian....


Genap satu minggu Hazal bekerja di Perusahaan Fallay. Selama satu pekan ini, selain berkutat dengan pekerjaannya, ia juga mencari informasi seputar Harun Fallay. Sejak ia menginjakkan kakinya di perusahaan pembunuh orang tuanya, ia belum pernah melihat atau bahkan bertemu dengan penjahat itu.


Waktu jam istirahat nya ia gunakan untuk membaur bersama dengan karyawan lain. Entah orang itu hanya pekerja rendahan atau yang sudah punya jabatan tinggi di sana. Diam-diam Hazal mulai membangun kekuatannya di perusahaan Fallay dan mencari kelemahan dari perusahaan tersebut.


Dengan sikap ramah dan penampilannya yang menarik, cukup mudah bagi Hazal untuk menarik simpati orang-orang yang ada di sana. Termasuk atasannya sendiri, sangat menyukai kinerja Hazal.


Suara ketukan pintu terdengar dari luar ruangan Kenan Fallay. Putra Harun itu tengah berdiri menghadap meja kerjanya, membelakangi pintu ruangannya. Laki-laki bermata abu-abu tua itu mendengar suara pintu terbuka, sepasang kaki melangkah dan berhenti di belakangnya.


"Buatkan surat mutasi untuk karyawan baru itu, pindahkan dia menjadi sekretaris pribadiku!" suara Kenan yang memberikan perintah kepada Omer sang Manager Personalia.


"Tapi... bukankah anda sudah mempunyai seorang sekretaris saat ini?" tanya Omer dengan hati-hati.


"Kau tinggal menukar posisi mereka saja! Apa aku harus mengajarimu untuk hal sekecil ini?" Kenan membalikkan badannya dan menatap tajam Omer. Managernya yang satu ini selalu saja membantah setiap perintahnya.


"Ta-tapi...Tuan Kenan, apakah mereka mau bertukar posisi?" kali ini Omer membuat Kenan naik pitam.


"Siapa yang menjadi Presiden Direktur di sini, hah? Aku atau mereka?" Kenan berjalan mengelilingi Omer yang sedang berdiri mematung di tengah-tengah ruangan.


"Aku beri waktu satu hari ini untuk membuat mereka bertukar posisi, jika kau tidak berhasil...karir mu di perusahaan ini sebagai taruhannya!" ancam Kenan. Laki-laki itu segera melangkahkan kakinya untuk membuka pintu ruangannya, seakan memberi isyarat agar Omer segera pergi dari hadapannya


Omer dengan cepat segera keluar dari ruangan Kenan. Laki-laki itu membetulkan letak dasinya, dan mengusap wajahnya yang pucat. Ia tidak ingin di pecat, hanya karena pekerjaan konyol yang tidak bisa ia kerjakan. Di depan ruangan Kenan, ia bertemu dengan sekretaris Kenan. Segera ia mendekati wanita muda itu.


"Apa kau mau menjadi asisten Manager Keuangan?" bisik Omer di telinga wanita itu. Aroma parfum bunga lili mengusik indera penciuman Omer.


Sekretaris Kenan itu nampak diam sambil berpikir. Dia masih ragu-ragu memberikan jawaban.


"Aku akan menaikkan gaji mu, jika kau mau pindah!" seru Kenan yang tiba-tiba membuka pintu ruangannya. Membuat Omer dan sekretaris Kenan itu terkejut dan salah tingkah.


"Oh tentu saja aku mau...!" Sekretaris Kenan itu menjawab dengan antusias. Ia mau menerima tawaran kedua laki-laki itu.


"Jangan senang dulu, bantu aku untuk membujuk karyawan baru itu agar dia mau menggantikan tempat mu!" seru Omer yang segera mengajak sekretaris Kenan itu ke lantai lima. Ruang kerja Hazal.


Kenan berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di daun pintu, ia hanya tersenyum tipis menatap kepergian dua karyawannya itu.


Hazal terkejut mendengar perkataan Omer dan sekretaris Kenan yang sudah berada di depan mejanya. Kedua orang itu memberitahu Hazal tentang rencana mutasi mereka.


"Aku tidak mau! Bukankah aku melamar menjadi asisten Manager bukan menjadi seorang sekretaris!" Manik matanya menatap tajam ke arah Omer dan sekretaris Kenan.


"Lagipula aku tidak mengerti tentang pekerjaan seorang sekretaris, di surat lamaran ku tertulis aku kuliah di jurusan keuangan!" Hazal mendengus melihat kedua orang itu.


Mereka terus menerus membujuk Hazal. Tapi sepertinya usaha mereka sia-sia, hati Hazal bagaikan sebuah baru karang. Dia tetap bersikeras tidak mau menjadi sekretaris seorang Presiden Direktur. Meskipun pekerjaan yang akan di lakukan nya tidak seberat menjadi asisten Manager.


"Hazal, segera kemasi barang-barang mu dan pergilah ke ruangan Presiden Direktur!" perintah Manager Keuangan yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat meja Hazal.


"Apa Nyonya juga memintaku untuk pindah? Bukankah anda menyukai pekerjaan ku?" tanya Hazal yang segera keluar dari mejanya dan menghampiri atasannya itu.

__ADS_1


"Ini bukan masalah pekerjaan mu, Hazal. Tapi masa depan kami di pertaruhkan. Jika kami tidak bisa membujukmu, maka Presiden Direktur akan memecat kami," jelas Manager Keuangan itu dengan tatapan mata memelas sambil membetulkan letak kacamatanya.


Hazal segera kembali ke mejanya, ia menekan angka 001, saluran telepon menuju ke ruang Presiden Direktur. Pesawat telepon di ruang Kenan berdering, sebuah panggilan dari ruang Departemen Keuangan. Kenan tidak segera mengangkat telepon tersebut, padahal pesawat telepon itu ada di depannya. Setelah berdering lima kali, laki-laki itu segera menjawab panggilan tersebut.


"Ya...." Kenan memberatkan suaranya.


"Saya Hazal Aksal. Saya menolak keputusan anda untuk memindahkan saya menjadi sekretaris anda! Saya melamar pekerjaan di sini, sesuai dengan ilmu yang saya pelajari. Anda telah salah menilai saya, karena saya tidak paham dengan pekerjaan sekretaris. Saya harap anda bisa mengubah keputusan anda, Tuan."


"Keputusan di tangan mu, jika kau menolak perintah ku. Aku akan memecat ketiga orang yang ada di depanmu hari ini juga!" Kenan segera menutup pesawat teleponnya.


"Halo...halo...!" teriak Hazal, ditutup nya kembali pesawat teleponnya dengan keras. Ia terduduk di kursinya sambil memijat kedua pelipisnya yang berdenyut-denyut.


"Di lantai berapa ruangan Presiden Direktur berada?" tanya Hazal menatap tajam Omer.


"Lantai delapan," jawab Omer. Laki-laki itu jadi bertanya-tanya kenapa Presiden Direktur nya itu begitu menginginkan karyawan baru ini menjadi sekretarisnya. Sejak awal Hazal di terima di perusahaan ini juga tidak melalui tahap seleksi, seperti yang harus di hadapi oleh karyawan yang lain.


Hazal segera keluar menuju ke ruangan Presiden Direktur. Raut wajahnya menegang, ia benar-benar marah saat ini. Omer dan yang lainnya hanya terduduk lemas di dekat meja Hazal. Kini nasib mereka di tangan Hazal.


Sementara di ruangan Presiden Direktur, setelah menutup pesawat teleponnya, Kenan segera berdiri menghadap jendela besar yang tirai nya terbuka. Putra Harun itu seakan bisa membaca pikiran Hazal.


Dalam hitungan 120 detik, kau akan membuka pintu ini, wanita bar-bar....


Kenan menuang wiski tanpa es di dalam gelas nya. Manik mata abu-abu tua itu terus memandang langit yang berawan. Tangan kirinya memegang gelas berisi wiski dan meneguk nya perlahan demi perlahan. Merasakan cairan beralkohol itu mengalir dan menyentuh kerongkongannya. Dengan tangan kanannya ia mengetuk teralis jendela yang terbuat dari besi. Ketukan jarinya sudah mulai menghitung mundur mulai angka seratus dua puluh detik hingga nol detik.


Pintu lift terbuka di lantai delapan. Tanpa banyak berpikir, Hazal segera melangkah masuk ke sebuah ruangan dengan dinding kayu dan hiasan lampu yang menempel di setiap dinding. Hazal belum pernah menginjakkan kakinya di dalam ruangan ini. Hanya ada sebuah meja kursi, rak-rak kabinet dan sebuah lemari besar. Tampak di tengah ruangan sebuah sofa melingkar berwarna merah dan di dalam sofa itu ada sebuah meja kecil berbentuk lingkaran.


Hazal melihat di dekat meja tersebut ada sebuah pintu berwarna coklat gelap, sewarna dengan warna dinding kayu di dalam ruangan ini. Dengan tergesa-gesa, Hazal segera berjalan menuju pintu tersebut.


Lima detik... empat detik... tiga detik... dua detik... satu detik... nol detik...


Pintu ruangan Presiden Direktur terbuka. Hazal sudah berdiri di batas ruangan itu. Manik matanya menangkap sosok laki-laki dengan setelan jas lengkap berwarna hitam yang berdiri menghadap jendela, membelakangi dirinya. Tinggi laki-laki itu sekitar 175 sentimeter lebih.


Apa dia Harun Fallay?


Hazal melangkahkan sepasang kakinya memasuki ruangan itu. Semakin jelas sosok laki-laki yang membelakangi dirinya.


Dia terlihat lebih muda dari Harun Fallay. Siapa dia? Apa dia Presiden Direktur itu?


Kenan meletakkan gelas minumannya di atas nakas yang ada di sampingnya. "Selamat datang di istanaku, wanita bar-bar...," sambut Kenan yang masih membelakangi Hazal.


"Kau...!" Suara Hazal tercekat di tenggorokannya. Ia mengenali suara itu dan julukan yang di berikan laki-laki itu padanya.


Kenan membalikkan badannya, "Kau terkejut?" Ia berjalan ke arah Hazal.


Hazal mengepalkan kedua telapak tangannya. Menyembunyikannya di belakang rok bawahnya yang berwarna hitam. Ia melangkah semakin mendekati Kenan. "Setelah tahu bahwa kau yang akan menjadi atasanku, dengan tegas aku menolak menjadi sekretaris mu!"


"Apa salahnya menjadi seorang sekretaris?" Kenan melangkahkan kakinya mendekati Hazal, membuat Hazal memundurkan langkahnya. Satu demi satu.

__ADS_1


"Karena itu bukan bidang ku, dengan memindahkan ku sebagai sekretaris, kau meremehkan pekerjaan ku!" tandas Hazal sambil mendongakkan kepalanya. Menatap tajam putra Harun itu.


Kini Hazal sudah terpojok di belakang pintu, Kenan sudah mengunci dirinya dengan kedua tangannya yang menempel di daun pintu. Tubuh mereka saling berdekatan dan berhadapan. Kepala Hazal setinggi bibir Kenan. Membuat Hazal dapat mencium aroma maskulin yang ada di tubuh pria itu.


"Oh... jadi kau merasa dirimu hebat, dan menjadi seorang sekretaris itu hal yang menjijikkan? Memangnya setinggi dan semahal apa harga dirimu itu, nona Aksal!" Suara Kenan benar-benar mengintimidasi. Pelan tapi penuh penekanan. Sorot matanya tajam menatap manik mata Hazal.


Hazal benar-benar geram mendengar perkataan Kenan, yang telah melecehkan harga dirinya. Seumur hidupnya, tidak ada yang berani mengatakan hal itu padanya. Ingin rasanya ia meludahi wajah Kenan dan merobek mulut sampahnya itu.


Kenan mendekatkan wajahnya ke telinga Hazal, "Aku menunggu jawabanmu, jika kau menolak... jangan salahkan aku jika hari ini aku memecat ketiga temanmu itu!" Suara Kenan bagaikan hembusan angin dingin yang menusuk tulang rusuk Hazal.


Manik mata Hazal bergerak-gerak, melihat papan nama di atas meja kerja Kenan dan sebuah patung burung phoenix yang ada di sudut meja. Rupanya burung phoenix itu adalah simbol Perusahaan Fallay. Hatinya berdegup kencang merasakan aura Kenan yang benar-benar menindih tubuhnya.


Kenan Fallay... Harun Fallay... Oh Tuhan. Aku tidak menyadari hal ini, ternyata... ternyata mereka adalah... ayah dan anak?


Manik mata coklat itu berhenti bergerak, pandangannya kini menatap tajam manik mata Kenan.


Mungkin akan lebih mudah mendekati Harun, jika aku menjadi sekretaris anaknya. Aku akan menggunakan anaknya untuk menghancurkan penjahat itu!


"Aku menyetujui permintaan mu itu, pria gila! Aku setuju menjadi sekretaris mu, asal kau jangan memecat ketiga temanku!" seru Hazal dengan suara tegas. Dasar kau maniak!


Kenan melepaskan kedua tangannya dari daun pintu dan memundurkan satu langkahnya. "Oke, aku akan tepati kata-kata ku. Aku tidak akan memecat mereka."


"Mulai kapan aku bekerja menjadi sekretaris mu?" tanya Hazal yang masih berdiri menempel daun pintu.


"Sekarang juga! Karena kau sudah membuang-buang waktu mu hari ini, maka kau harus lembur malam ini untuk mengganti waktu kerja mu yang hilang!" seru Kenan sambil berjalan mendekati meja kerjanya.


Hazal nampak terkejut. "Kau memang pria gila!"


"Jangan memanggil ku pria gila atau maniak! Aku di sini adalah bos mu! Jika kau memanggil ku pria gila lagi, aku akan...."


"Aku akan apa? Kau akan memecat ku?" Tiba-tiba Hazal memotong perkataan Kenan.


Hazal segera berjalan menghampiri Kenan dan menarik lengan pria itu untuk menghadap ke arahnya. "Kau juga jangan memanggilku wanita bar-bar!"


Kenan menatap tajam wajah Hazal. Pesona dan keberanian Hazal telah mengusik hatinya hari ini. Hanya Hazal, satu-satunya wanita yang berani menantangnya. Kebanyakan wanita selalu tunduk menghormatinya dan berusaha mencuri hatinya. Tapi tidak dengan wanita yang ada di depannya ini, sulit sekali menjinakkan putri Aksal ini.


"Baiklah... tapi lakukan apapun yang aku perintahkan kepadamu!" tandas Kenan.


"Asal itu masih dalam batas kewajaran," balas Hazal dengan tegas.


Hazal segera keluar dari ruang Kenan, dan memindahkan semua barang-barang nya ke ruang kerjanya yang baru. Ketiga temannya kembali bernapas dengan lega. Mereka masih bisa bekerja di perusahaan tersebut.


Hazal membawa sekotak kardus yang berisi barang-barang nya. Ia berjalan memasuki ruangan itu, "Semoga kau betah bekerja di sini," ucap mantan sekretaris Kenan yang juga mengemasi barang-barang nya.


Hazal hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum kecut. Mantan sekretaris Kenan itu pergi meninggalkan Hazal yang berdiri mematung di depan meja barunya. Hanya ada dirinya dan Kenan di dalam ruangan ini. Mereka hanya di pisahkan dengan sebuah pintu kayu yang membatasi gerak-gerik mereka.


❤️ Bersambung ❤️

__ADS_1


Jangan lupa berikan like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏🥰


__ADS_2