DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Hari Pembalasan Yafet


__ADS_3

Di hari yang sama di kota Istanbul, Turki


Pagi hari ini di dapur rumah keluarga Aksal, terjadi pembicaraan di kalangan para pelayan. Mereka sedang membicarakan majikan muda mereka.


"Apa kau yakin?" tanya Nuran yang melebarkan kelopak matanya kepada rekan sekerjanya yang bernama Emine.


"Tentu saja aku yakin! Kau dan aku sama-sama seorang ibu. Apa kau tidak curiga dari gelagatnya?" Pelayan senior itu berbicara sambil memajukan bibirnya yang sudah berkerut.


"Mungkin saja dia sedang mengandung bayi kembar. Jangan berprasangka buruk, Bibi Emine!" seru seorang pelayan muda yang berdiri di tengah kumpulan para pelayan itu.


"Bagaimana menurutmu, Nuran? Perkataanku benar, kan?" tanya Emine. Seorang wanita setengah tua yang sudah bekerja di rumah keluarga Aksal sejak Yafet dan Hazal masih kecil.


"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Tapi dia tidak seperti wanita hamil pada umumnya," kata Nuran memberikan pendapatnya.


Meral yang hendak menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya, berjalan menuju ke dapur. Ia melihat seluruh pelayannya tengah berdiri mengelilingi meja panjang sambil membicarakan sesuatu hal.


"Tidak biasanya kalian berkumpul bersama. Ada apa ini?" tanya Meral sambil tersenyum melihat para pelayannya sedang berkumpul di dapur.


Para pelayan itu segera menghentikan ocehannya begitu mendengar suara majikannya.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Meral yang mengambil mesin blendernya di dalam sebuah lemari kemudian meletakkan benda elektronik itu ke atas meja yang ada di bawa lemari gantung.


"Kenapa kalian langsung terdiam begitu aku masuk?" tanyanya kembali. Tapi tidak ada satu orang pelayan yang menjawab pertanyaannya.


Istri Emir itu membalikkan badannya menghadap para pelayannya yang sudah berbaris rapi di depannya. Wanita paruh baya itu tambah semakin bingung dengan sikap kelima pekerjanya.


"Emine, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Meral kepada pelayan seniornya. Wanita berambut setengah putih itu menyikut lengan Nuran yang berdiri di sebelahnya.


"Jika itu masalah pribadi kalian, aku tidak akan ikut campur! Tapi jika itu masalah rumah ini, segera beritahu aku!" seru Meral dengan suara tegasnya.


Kelima pelayan yang sedang berbaris itu saling memandang satu sama lain. Tidak ada yang berani memberitahukan kecurigaan mereka kepada majikannya.


"Bertha, kau yang paling baru di sini! Katakan apa yang tadi kalian bicarakan!" seru Meral sambil berdiri dengan melipat kedua tangannya di bawah dadanya.


Bertha seorang pelayan yang baru bekerja satu tahun di rumah keluarga Aksal. Umurnya paling muda diantara keempat rekannya. Ia maju satu langkah dan memegang pucuk baju seragamnya.


"A...apa Nyonya Meral a...akan memecat saya, jika sa.. saya memberitahu yang se...sebenarnya?" Bertha tampak ketakutan di depan Meral. Telapak tangannya mulai dingin. Ia menoleh ke belakang melihat teman-temannya yang sedang menundukkan kepalanya.


"Katakan saja. Jika itu bukan tindakan kriminal, aku tidak akan memecatmu," ucap Meral menatap lembut wajah Bertha. Ia berusaha meyakinkan gadis itu.


"Ka...kami tadi sedang membicarakan ke...kehamilan Nyonya Selina," jawab Bertha yang gugup ketika Meral sedang menatap wajahnya.


"Ada apa dengan kehamilan Selina?" tanya Meral yang mengernyitkan dahinya yang masih terlihat mulus.


Emine yang sejak tadi diam membisu mulai mengeluarkan suaranya, "Nyonya, apa anda tidak mencurigai kehamilan menantu anda?"


"Mencurigai bagaimana? Tentu saja dia hamil. Lihatlah perutnya yang sudah tampak membesar." Meral menarik sebuah kursi kayu yang ada di sudut ruangan dan mendudukkan dirinya di depan barisan para pelayan itu.


"Maaf Nyonya jika kami lancang. Kalau boleh kami tahu, Nyonya Selina sedang hamil berapa bulan?" tanya Nuran menanyakannya dengan hati-hati.


Meral tampak bingung menjawab pertanyaan Nuran. Ia juga tidak menanyakan hal itu kepada Selina. Istri Emir itu mulai menghitung sejak tanggal pernikahan Yafet.


"Mungkin sekitar 5 atau 6 bulan," jawab Meral.


Emine sang pelayan senior itu mendekati Meral sambil berlutut di atas lantai, ia memegang lengan majikannya, "Nyonya, kami tidak bermaksud memfitnah. Anda juga pernah hamil dan melahirkan. Apa seorang wanita hamil dengan kehamilan enam bulan mempunyai perut sebesar itu?"


Meral menatap wajah Emine yang sudah mulai berkerut di sana sini.


Selama ini aku belum pernah melihat hasil USG Selina. Aku juga tidak tahu pasti kapan dia akan melahirkan.


"Selama ini apa anda melihat tingkah laku menantu anda seperti seorang wanita hamil?" tanya Emine lagi. Nuran menarik tangan Emine agar temannya itu tidak bicara sembarangan.


"Biarkan Emine bicara, Nuran!" seru Meral. Ia mulai memikirkan perkataan Emine.


Dari sikap jalan Selina memang ia sangat lincah meskipun ia sedang hamil. Bisa jadi itu bawaan calon bayinya.


"Mungkin kalian hanya mengada-ada," ucap Meral yang segera bangkit berdiri dari kursi kayunya.


"Nyonya, coba anda perhatikan perut Nyonya Selina. Beberapa waktu sebelumnya perutnya masih rata, entah kenapa tiba-tiba perut itu seperti dipompa dengan sendirinya," ujar Emine yang masih bersikukuh dengan pemikirannya.


"Emine!" seru Meral. "Apa kau dan Selina terlibat masalah?"


"Demi Tuhan, tidak Nyonya. Saya hanya menyampaikan pendapat saya," ucap Emine yang langsung menjauh dari majikannya.


Meral segera meninggalkan dapur dengan gusar, ia mengurungkan niatnya untuk menyiapkan sarapan pagi keluarganya.


"Ada apa, sayang? Kenapa wajahmu murung?" tanya Emir yang melihat istrinya masuk ke dalam kamar.


"Tidak ada apa-apa. Hanya masalah dapur saja. Lupakan soal itu," jawab Meral yang segera duduk di atas ranjangnya.


"Baiklah, ayo kita ke ruang makan. Perutku sudah lapar," ajak Emir yang membuka pintu kamarnya.


"Kau makanlah dulu, aku akan segera menyusul," sahut Meral yang mengambil sebuah guling dan diletakkannya di atas pangkuannya.


Lima belas menit kemudian, Meral keluar dari kamarnya. Ia melangkahkan sepasang kakinya menuju ke ruang makan. Di ruangan itu sudah berkumpul suami, anak dan menantunya. Kali ini manik matanya terus menatap wajah Selina.


Meskipun tidak sepenuhnya mempercayai perkataan Emine, di dalam hatinya merasa ada sesuatu yang mengganjal. Meral memutuskan untuk mencari kebenaran dengan caranya sendiri.


"Apa Ibu sakit? Baru kali ini kulihat Ibu terlambat sarapan," kata Yafet yang membuka pembicaraannya. Ia memberikan segelas air putih untuk Ibunya.


"Tidak. Ibu tidak sakit. Makanlah," jawab Meral yang meneguk sedikit air pemberian putranya.


Selina tidak memperhatikan tatapan mata Meral yang sejak tadi menatapnya. Ia sedang asyik menikmati sarapannya. Setelah menghabiskan makanannya, ia mengambil sepiring penuh buah nanas yang ada di depannya. Dimakannya buah berwarna kuning itu dengan lahap.


Melihat hal itu Meral langsung menutup mulutnya dengan kain putih yang biasa ia gunakan untuk membersihkan mulutnya dari sisa makanan.


Apa dia tidak tahu, bahwa nanas tidak boleh dimakan oleh wanita hamil? Atau ia sengaja ingin membuat calon cucuku celaka?


Sementara itu, Emine dan Nuran memperhatikan tingkah laku Selina dari jendela ruang makan.


"Apa menurutmu aku salah?" tanya Emine yang berbisik kepada Nuran. Istri almarhum Ted Baxter itu hanya menggelengkan kepalanya, ia tidak berani memberikan pendapatnya.


Meral tidak menghentikan aktivitas Selina yang memakan habis buah nanas itu. Ia hanya menunggu apa yang sebentar lagi terjadi. Sampai acara makan pagi selesai hingga suami dan anaknya pergi ke kantor, tidak ada yang terjadi dengan Selina dan kandungannya. Ia melihat menantunya itu keluar dari ruang makan dan kembali ke kamarnya.


Meral segera mendatangi pelayannya yang ada di dapur.


"Siapa yang meletakkan buah nanas di atas meja makan?" tanya Meral kepada Nuran dan Emine. Manik matanya menatap wajah kedua pelayannya secara bergantian.

__ADS_1


"Saya, Nyonya," jawab Emine datar.


Meral mendengus kesal menatap wajah pelayan tuanya. "Bagaimana jika Selina keguguran? Bagaimana jika aku kehilangan cucuku? Apa kau akan bertanggung jawab, Emine?"


"Nyonya, aku hanya ingin membuktikan ucapan ku," jawab Emine sambil menundukkan kepalanya.


"Cukup Emine! Hentikan kecurigaanmu kepada menantuku!" seru Meral kepada pelayan seniornya.


"Maafkan saya, Nyonya," ucap Emine yang masih tidak berani menatap wajah majikannya.


Meral segera pergi meninggalkan kedua pelayan itu dengan hati kesal. Hari masih pagi, tapi banyak kejadian yang membuat kepalanya pening.


Di tengah perjalanan menuju ke ruang keluarga, Meral di kejutkan oleh pelayannya yang bernama Bertha yang baru saja turun dari lantai atas dan berlari ke dalam.


Bertha tampak membawa sesuatu seperti bantal bulat berwarna putih dengan dua buah tali kain yang melekat di pinggir bantal tersebut.


"Apa yang kau bawa itu, Bertha?" tanya Meral dengan tatapan matanya tertuju pada bantal berbentuk lingkaran yang menonjol di satu sisi.


Bertha menghela napasnya dalam-dalam, ia mulai mengatur napasnya yang tadi sempat naik turun.


"Nyonya, ini... ini aku temukan di... di ranjang Nyonya... Selina," ucap Bertha yang masih terlihat ngos-ngosan.


"Bantal?" tanya Meral yang mengambil benda itu dari tangan Bertha.


"I...ini bukan bantal, Nyonya. Ini...," ucap Bertha sambil menggelengkan kepalanya.


Bertha mengambil bantal itu kembali dari tangan Meral dan ia mengikatkan bantal itu di pinggangnya. Perut pelayan muda itu tampak membesar seketika.


Meral tampak terkejut melihat apa yang diperagakan oleh Bertha. "Maksudmu...?"


"Ambilkan obat darah tinggiku!" teriak Meral yang kepalanya sudah mulai pusing. Ia segera berpegangan pada dinding.


Nuran dan Emine segera masuk ke ruang keluarga setelah mendengar teriakan majikannya. Dengan tergesa-gesa Bertha memberikan sebotol obat dan segelas air putih kepada istri tuannya itu. Meral mengambil satu butir obat darah tingginya dari tangan Bertha, dan meminumnya.


"Apa yang kau pakai itu, Bertha?" tanya Nuran yang melihat bantal bulat itu masih menempel di perut temannya.


"Ceritakan apa yang terjadi, Bertha?" tanya Meral yang duduk di sofa ruang keluarganya.


Bertha, Nuran dan Emine mengikuti Meral dan berdiri di depan majikannya. Kemudian Bertha menceritakan tentang kejadian yang terjadi di dalam kamar Yafet beberapa menit yang lalu.


Setelah menyetrika seluruh pakaian majikannya, Bertha membawa beberapa tumpukan pakaian bersih itu ke kamar majikannya. Kali ini Bertha hendak meletakkan pakaian Yafet dan Selina.


Bertha mengetuk pintu kamar Yafet, tetapi tidak ada yang menjawab ketukannya. Akhirnya ia berinisiatif untuk membuka pintu kamar tersebut.


Dilihatnya kamar itu dalam keadaan kosong, ia hanya mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi. Bertha meletakkan tumpukan pakaian bersih itu di atas ranjang, tetapi manik matanya tertarik pada sebuah benda yang mirip dengan bantal tersebut.


Bertha mengambil bantal bulat itu dan menempelkannya di tubuhnya, ia melihat dirinya sendiri di depan cermin. Ia sungguh terkejut melihat perutnya yang tampak membesar.


Pelayan muda itu segera membawa bantal bulat itu keluar sebelum Selina selesai dengan aktivitas mandinya.


Setelah mendengar cerita Bertha, Meral segera menghela napasnya.


"Panggil Selina!" perintah Meral kepada ketiga pelayannya.


Ketiga orang pelayan itu sedang mengetuk pintu kamar Yafet. Sementara di dalam kamar, Selina yang kehilangan barang pemberian Jasmine itu tampak gusar.


Setelah menunggu lama, Emine segera membuka pintu kamar yang tidak terkunci. Ketiga orang pelayan itu melihat Selina berdiri di depan ranjangnya.


"Perutnya...!" seru ketiga orang pelayan itu secara bersamaan sambil menutup mulut mereka.


"Apa yang kalian lihat, hah? Cepat keluar dari kamarku!" teriak Selina yang mendorong ketiga pelayan itu.


Tetapi ketiga orang pelayan itu segera memegangi tangan Selina. "Nyonya Meral ingin bicara dengan anda," kata Emine.


Wajah Selina langsung terlihat pucat. Ia memberontak hendak melepaskan dirinya. Tetapi di depan kamarnya sudah berdiri beberapa penjaga rumah yang sudah siap menunggunya.


"Mau apa kalian ke kamarku?" tanya Selina dengan sengit kepada dua orang laki-laki yang ada di depannya.


Tanpa banyak bicara, kedua pria itu segera menyeret Selina ke bawah. Wanita Inggris itu berteriak memaki semua orang. Ketiga orang pelayan itu mengikuti Selina dari belakang.


"Aku bisa jalan sendiri! Jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotor kalian!" teriak Selina. Kedua penjaga itu membiarkan menantu majikannya itu menuruni tangga rumahnya sendiri.


"Aku bukan tahanan rumah ini, Ibu! Kenapa Ibu menyuruh orang-orang bodoh ini untuk menyeret ku keluar kamar?" teriak Selina ketika ia sudah sampai di ruang keluarga. Ia langsung menatap ibu mertuanya dengan tajam. Setajam lidahnya.


Betapa terkejutnya Meral ketika ia melihat perut Selina yang tampak rata. Padahal tadi pagi perut menantunya itu masih terlihat besar.


"Apa maksud dengan semua ini, Selina? Apa kau bisa menjelaskan?" tanya Meral yang membuang bantal bulat itu ke atas meja.


Selina tampak terkejut melihat barang miliknya itu sudah ada di tangan ibu mertuanya.


"Beraninya kau membohongi kami semua! Jadi selama ini kehamilanmu itu palsu? Anak itu sebenarnya tidak ada?" teriak Meral kepada Selina.


"Aku memang tidak hamil! Kau dan suamimu itu yang terlalu bodoh mempercayai perkataanku!" maki Selina dihadapan ibu mertuanya.


Sebuah tamparan melayang di pipi Selina. Selama hidupnya Meral tidak pernah melayangkan telapak tangannya kepada siapapun. Kali ini menantunya itu benar-benar menguji batas kesabarannya.


"Bukan salahku jika cucumu itu tidak ada! Salahkan putramu itu yang tidak pernah menyentuhku!" teriak Selina sambil memegang pipinya yang masih terasa panas. Ia tertawa terbahak-bahak melihat Meral yang diam mematung di hadapannya.


Wanita paruh baya itu hanya bisa mengelus dadanya, melihat kelakuan menantunya.


"Nuran, cepat kau hubungi Yafet!" perintah Meral. Ia tidak sanggup mengatasi Selina seorang diri.


Selina hendak merebut pesawat telepon itu dari tangan Nuran, tetapi kedua tangannya langsung di cengkeram oleh penjaga rumah.


"Lepaskan aku! Lepaskan aku, orang-orang bodoh!" teriak Selina sambil meronta-ronta.


"Nyonya, Tuan Yafet sedang ada rapat," kata Nuran yang masih memegang pesawat teleponnya. Meral mengambil pesawat telepon itu dari tangan pelayannya.


"Rachel, panggil Yafet dari ruang rapatnya!" seru Meral ketika ia mendengar suara sekretaris suaminya.


"Tapi, Nyonya. Tuan Yafet tidak mengijinkan siapapun untuk masuk ke dalam ruang rapat," suara Nyonya Rachel terdengar serak.


"Panggil putraku sekarang, Rachel! Aku tidak peduli ia sedang rapat dengan presiden sekalipun! Suruh dia menerima teleponku!" teriak Meral yang sudah tidak bisa menahan amarahnya.


Nyonya Rachel segera memanggil Yafet untuk keluar dari ruang rapat. Putra Emir itu segera meninggalkan ruang rapat.


"Ya, Ibu. Ada apa Ibu menghubungiku?" tanya Yafet setelah ia mengambil pesawat telepon yang ada di meja sekretaris ayahnya.

__ADS_1


"Kau cepat pulang ke rumah sekarang!" teriak Meral.


"Tapi Bu... aku sedang ada rapat di sini," ucap Yafet yang melihat jam tangannya, ini bahkan belum jam makan siang.


"Ibu tidak peduli! Cepat pulang sekarang! Segera urus istrimu!" teriak Meral dengan lantang. Istri Emir itu segera menutup pesawat teleponnya.


"Halo...Ibu...." Yafet segera menutup ponselnya begitu ibunya mengakhiri pembicaraannya.


Apa yang terjadi di rumah? Kenapa ibu semarah itu?


Yafet segera mengakhiri rapatnya kemudian ia segera keluar dari hotel AKSAL. Kakak angkat Hazal itu melajukan mobil sportnya menuju ke rumah.


Ketika Yafet sudah tiba di depan pintu gerbang rumah keluarga Aksal, ia dikejutkan dengan kedatangan pengacara keluarganya pengganti pengacara Alfred yang sudah meninggal.


"Apa yang sedang anda lakukan disini, Pengacara Kemal?" tanya Yafet kepada seorang pria berumur sekitar empat puluh tahun.


"Nyonya Meral memanggil saya. Beliau meminta saya untuk membawakan beberapa berkas," jawab Pengacara Kemal sambil berjalan mengikuti Yafet untuk masuk ke dalam rumah.


Yafet dan Pengacara Kemal sudah masuk ke dalam rumah. Mereka mendengar teriakan Selina yang memaki-maki semua orang. Kedua laki-laki itu segera mendekati sumber keributan yang ada di ruang keluarga.


"Ibu, ada apa ini? Kenapa menyuruhku pulang?" tanya Yafet yang berdiri di depan Meral.


"Wanita asing ini pembohong!" teriak Meral sambil menunjuk Selina yang duduk di atas sofa tunggal.


"Sebenarnya ia tidak hamil! Anak itu tidak ada!" teriak Meral sambil mengangkat dan melempar bantal bulat itu ke lantai.


Yafet tercengang melihat perut Selina yang rata dan bantal bulat yang di buang ibunya. Ia kemudian memungut bantal itu dari lantai. Sepasang mata elangnya menatap tajam bantal itu dan istrinya.


"Urus istrimu sekarang!" seru Meral yang segera masuk ke dalam kamarnya.


Yafet tersenyum menyeringai melihat wajah pucat Selina.


Tamat riwayatmu wanita gila!


"Kalian semua keluar! Tinggalkan aku dan wanita gila ini!" teriak Yafet kepada semua orang.


"Pengacara Kemal, berikan berkas yang ibuku minta! Anda bisa menunggu di luar," ucap Yafet. Pengacara itu segera memberikan beberapa berkas kepada Yafet.


Pintu ruang keluarga segera di tutup oleh Yafet. Kini tinggal dirinya dan Selina di dalam ruangan itu.


Yafet segera melepaskan jasnya dan melemparnya di atas sofa, tatapan matanya menatap tajam wajah istrinya. Ia menghampiri Selina, mencengkeram lengan wanita itu dan menariknya untuk segera berdiri.


"Lepaskan aku!" teriak Selina sambil meronta.


"Beraninya kau membohongi seluruh keluargaku, hah?" teriak Yafet dengan sebuah kilatan di wajahnya. Raut wajahnya mulai menegang.


"Yafet, aku mencintaimu. Teganya kau melakukan hal ini kepada ku," ucap Selina dengan sedikit memohon dan mencoba mengeluarkan air matanya.


"Jangan pernah memohon kepadaku, wanita gila! Aku sudah cukup baik menampungmu selama ini!" seru Yafet yang melempar Selina ke lantai. Wanita itu jatuh tersungkur.


Yafet menarik lagi tangan Selina dan melemparkan wanita itu kembali ke sofa. Ia melihat berkas yang diberikan oleh pengacara keluarganya. Manik matanya membulat membaca ketiga berkas itu.


"Kau ingin aku berbuat kasar kepadamu? Atau kita akhiri semua ini baik-baik?" tanya Yafet sambil melemparkan ketiga berkas itu ke atas meja. Ia mengendurkan ikatan dasinya.


Selina segera mengambil berkas-berkas itu dan membacanya. Matanya terbelalak melihat namanya dan nama Yafet sudah tertera di kertas itu.


Yafet mengambil penanya dari saku kemejanya, "Segera tandatangani surat cerai dan surat deportasi itu! Atau aku akan melemparkan mu ke penjara!"


"Kau tidak bisa melakukan hal ini kepadaku, pria brengsek!" teriak Selina dengan amarahnya. Ia hendak merobek surat-surat itu.


"Kau ingin merobek surat itu? Silahkan! Di luar ada pengacara, dalam hitungan menit dia bisa membuat kembali surat itu!" teriak Yafet dengan penuh penekanan.


"Brengsek kau Yafet! K***rat kau!" teriak Selina yang melempar surat-surat itu ke wajah Yafet.


Yafet mengambil lembaran-lembaran kertas itu dari lantai dan meletakkannya kembali di atas meja.


"Cepat kau tandatangani surat ini! Atau aku akan segera menghubungi polisi! Aku akan mengadukanmu atas tuduhan penipuan dan pencemaran nama baik!" teriak Yafet yang mengambil ponselnya dari dalam saku celananya.


Selina tampak ketakutan. Ia tidak ingin masuk penjara. Dengan statusnya yang masih warga negara asing, sangat sulit baginya untuk keluar dengan mudah dari hotel prodeo itu.


Wanita Inggris itu akhirnya menandatangani surat cerainya dan surat deportasinya. Yafet tersenyum melihat hal itu.


"Kau puas?" teriak Selina yang membuang surat-surat itu ke wajah Yafet.


"Tentu saja aku puas. Segera kau kemasi barang-barang mu dan segera angkat kaki dari rumahku!" seru Yafet sambil tersenyum puas melihat tanda tangan Selina sudah menempel berkas itu.


"Petugas imigrasi akan segera menjemputmu. Aku akan mengirim surat resmi perceraian kita ke Inggris," ucap Yafet yang mencium berkas-berkas itu dan membubuhkan tanda tangannya di kertas tersebut.


"Tapi sebelum kau pergi, bagaimana caranya kau memalsukan tes DNA dan tes kehamilan itu?" tanya Yafet yang merasa tertipu dengan perbuatan Selina.


"Uang yang berbicara. Aku tinggal meminta air seni dari seorang wanita hamil dan membayar perawat untuk membuat hasil tes DNA itu menjadi positif," jawab Selina. Baru kali ini ia berbicara jujur.


Selina segera berjalan menuju ke pintu, ia telah menyerah kalah.


"Jangan lupa. Kau tidak diijinkan untuk masuk ke Turki selama sepuluh tahun!" seru Yafet yang melihat kepergian Selina dari ruangannya. Ia tertawa menyadari kebodohannya selama berbulan-bulan. Tetapi ia cukup puas dengan kemenangannya.


Selina mendengus kesal mendengar perkataan Yafet. Ia segera naik ke kamarnya dan mengemasi barang-barangnya. Wanita itu menangis sejadi-jadinya di dalam kamar. Ia tak menyangka hari ini adalah hari terakhirnya menjadi istri Yafet.


Kembali Selina teringat perkataan Jason sebelum dirinya menikah.


Jangan coba-coba bermain api dengan Yafet dan keluarga Aksal! Satu kali saja kau berbuat kesalahan, mereka akan melemparmu keluar dari Turki untuk selama-lamanya!”


Selina mengusap air matanya, ia membawa turun kopernya. Di ruang tamu sudah menunggu petugas imigrasi yang siap menerbangkannya kembali ke Inggris.


"Aku telah mencuri dan memberikan buku harian Hazal kepada Kenan Fallay. Pria itu akan membawa pergi Hazal dari kehidupanmu," ucap Selina kepada Yafet untuk yang terakhir kalinya.


Meral dan Yafet cukup terkejut dengan perkataan wanita Inggris itu.


"Apa yang kau katakan?" Sepasang mata elang itu kembali menyala. Yafet langsung mencekik leher Selina, tetapi orang-orang di rumah itu berusaha menarik tangannya.


"Hentikan, Yafet! Kau bisa membunuhnya! Biarkan dia pergi. Kita sudah tidak punya urusan lagi dengannya. Dia sudah bukan lagi menantu keluarga Aksal!" teriak Meral yang meminta petugas imigrasi untuk segera membawa pergi Selina.


"Pengacara Kemal, segera kau urus perceraian putraku!" perintah Meral kepada pengacara keluarga Aksal.


"Baik, Nyonya Meral." Pengacara itu segera meninggalkan kediaman keluarga Aksal.


🔥 Bersambung ❤️

__ADS_1


Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏


__ADS_2