
Setelah Yafet mendengar bahwa ayahnya telah sadar, ia segera turun dari kamarnya hendak ke rumah sakit. Sebelum pergi, ia menelepon Hazal untuk memberitahu kekasihnya itu bahwa ayahnya sudah sadar dan sekarang ia akan pergi ke rumah sakit untuk menemui ayahnya.
"Nanti aku akan menyusul, aku masih bertemu dengan majelis hakim," jawab Hazal dari balik ponselnya.
"Baiklah, kita akan bertemu di rumah sakit." Yafet segera menutup ponselnya dan menjalankan mobilnya.
Sekitar setengah jam perjalanan, Yafet tiba di rumah sakit tempat ayahnya di rawat. Ia segera berlari menuju ke ruang ICU, tetapi ruang ICU itu kosong, ayah dan ibunya tidak ada di sana. Kemudian dia bertanya kepada suster yang berjalan di ruang koridor. Suster memberitahu Yafet bahwa Tuan Emir sudah di pindahkan ke ruang inap kelas VIP. Yafet pun berlari menuju ke ruang inap ayahnya.
"Ayah...," sapa Yafet yang sudah masuk ke dalam kamar ayahnya. Dilihatnya ibunya yang duduk di samping ranjang. Meral juga menyapa Yafet. Emir mengangkat sedikit tangannya, memberi isyarat untuk Yafet mendekat padanya. Ibunya itu segera memberikan kursinya kepada anaknya.
"Ya-fet kau sudah datang...," ucap Emir dengan suara lirih. Selang pernapasan masih menutupi lubang hidungnya.
"Ayah...maafkan aku, maafkan aku...," ujar Yafet yang memegang lengan ayahnya.
Emir memegang wajah Yafet, mengusap puncak kepala anak lelakinya itu. Dialah satu-satunya keturunan keluarga Aksal, putra yang sangat di banggakannya.
"Ayah, yang seharusnya minta... maaf padamu. Mungkin setelah ini kau... dan Hazal akan menganggap A-ayah adalah orang yang...paling jahat."
"Apa maksud Ayah bicara seperti itu?" Perasaan Yafet menjadi tak karuan begitu mendengar perkataan ayahnya
Emir menatap putranya itu dengan tatapan yang sangat dalam, kemudian ia mencoba menghembuskan napasnya, untuk melanjutkan perkataannya.
"Kita... keluarga Aksal, seumur hidup akan... berhutang budi pada keluarga Danner. Ka...karena ginjal ayah Hazal lah, yang membuat A-ayah bisa hidup sampai saat ini, dan... dan kau bisa hadir di dunia ini. Waktu itu Ayah... Ayah sudah bersumpah a...akan membalas pengorbanan ayah Hazal de-dengan melindungi seluruh keluarganya, begitu juga dengan ayah Ha...Hazal. Jika sesuatu terjadi pa...pada keluarga Aksal, dia berjanji a...akan melindungi dan menjaga keluarga kita."
Yafet dan Meral mencoba mencerna setiap perkataan dan arah pembicaraan Emir. Kemudian Emir melanjutkan perkataannya. "Yafet...." Mata Emir terpejam untuk beberapa saat, terasa ini adalah permintaan yang sulit untuk dia ucapkan.
"Apa, Ayah?"
Emir membuka kelopak matanya, untuk beberapa saat ia menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih, kemudian ia mengarahkan manik matanya ke arah Yafet, " Menikahlah dengan Selina, lupakan kisah cintamu dengan Hazal."
Deg.....
Yafet tak menyangka, ayahnya akan membahas masalah ini lagi. Tapi kali ini dengan kondisi yang berbeda. Tidak ada pertengkaran di antara mereka.
"Aku tak bisa Ayah!" reaksi Yafet spontan dan langsung berdiri dari tempat duduknya. Ia melangkah beberapa langkah menjauhi ranjang ayahnya. Memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
"Aku sangat mencintai Hazal, Ayah. Dan hanya Hazal wanita yang ingin aku nikahi," ujar Yafet yang berbicara membelakangi ayahnya dan melipat kedua tangannya di belakang lehernya.
"Kumohon Ayah...jangan paksa aku untuk melakukan hal ini," kata Yafet sambil mengepalkan kedua tangannya menghadap ayahnya yang sedang berbaring di ranjangnya.
"Apa menurut Ayah, aku tak pantas untuk Hazal? Atau Hazal tak pantas untuk menjadi istriku?" Napas Yafet tersengal-sengal menahan rasa sesak dan amarah yang ada di dadanya.
"Yafet, ini se...semua untuk ke...kebaikan kalian berdua. Kau...kau dan Hazal tidak bisa bersama. Inilah yang...yang Ayah takutkan da-dari dulu. Kau dan Ha... Hazal saling jatuh cinta," jelas Emir sambil terbata-bata.
"Tapi kenapa Ayah? Kenapa? Ku mohon jangan lakukan ini Ayah. Hubungan kami sudah berjalan hampir delapan tahun," protes Yafet di samping ranjang Emir. Tangan kekar itu memegang sudut luar ranjang ayahnya yang terbuat dari besi. Dia berlutut di depan kaki ayahnya.
Emir memejamkan matanya, cairan bening itu mengalir dari pelupuk matanya, "Maafkan Ayah....maafkan Ayah."
"Ayah ingin kita menjaga keturunan keluarga Danner, tapi kenapa aku tidak bisa menikahi Hazal? Dengan menikahi Hazal, aku bisa menjaganya seumur hidupku!" teriak Yafet dengan pelan, ia terpaksa menahan emosinya saat ini, melihat kondisi ayahnya.
__ADS_1
"Ji...jika kalian me...menikah, ini akan me... menimbulkan skandal di... masyarakat. Dua... dua anak Aksal kakak beradik menikah. De...demi menjaga nama baik Hazal...dan... keluarga kita, maka kita...akan membuka identitas Hazal saat ini. Pi...pikirkan apa yang... akan terjadi... jika...musuh keluarga Danner... mengetahui bahwa putri Danner masih hidup? Satu-satunya saksi... saksi mata dalam pembunuhan itu ter-ternyata masih hidup," jelas Emir sambil memegangi dadanya yang masih terasa sakit.
Yafet menangis sambil menggelengkan kepalanya, sulit baginya untuk mengerti dan menerima semua ini. "Ti... tidak Ayah, aku tak bisa! Aku tidak sanggup untuk meninggalkan Hazal. Ayah bunuh saja aku, daripada aku harus kehilangan Hazal...."
"Yafet...."
"Aku akan melindungi Hazal. Aku takkan membiarkan penjahat-penjahat itu menyakiti atau membunuhnya!" pekik Yafet yang masih berlutut di depan kaki ayahnya.
"Yafet, dengan... dengan kau...menikahi Hazal, maka...berarti kau...kau yang mengantar Hazal ke meja eksekusi! Rahasia identitas...Hazal... belum saatnya untuk... di- di buka. Selama otak dari pembunuhan ini...belum...belum ter-tangkap." Emir memejamkan kedua matanya sambil mengernyitkan dahinya, menahan rasa sakit yang ada di dadanya.
Yafet meraung di tepi ranjang ayahnya, dadanya sangat sesak. "Jika aku tidak bisa menikahi Hazal, aku juga tidak akan menikah dengan Selina! Aku akan menunggu...menunggu sampai penjahat itu tertangkap!"
"Yafet...!" pekik Emir dengan kedua matanya yang melotot, napasnya tersengal-sengal. Meral yang panik melihat kondisi suaminya segera menekan tombol merah yang menempel di dinding.
"Ayah...! Ayah...!" teriak Yafet yang berdiri dan mendekati ayahnya. Ia mengguncang tubuh ayahnya.
Dokter dan beberapa suster masuk ke kamar Emir, dan meminta Meral dan Yafet untuk segera keluar dari kamar Emir. Dokter segera memeriksa kondisi Emir. Pria paruh baya itu napasnya kembali tersendat-sendat, kedua matanya melotot karena ia kesulitan bernapas.
Dokter segera memasang alat bantu pernapasan yang menutupi hidung Emir dan menaikkan kadar oksigennya. Napas Emir sedikit demi sedikit sudah mulai kembali normal. Kelopak matanya kembali menutup, tapi ia tidak tertidur.
Dokter segera menemui Meral dan Yafet di luar kamar, untuk berbicara dengan mereka, "Mohon jangan bebani pikiran Tuan Emir dengan hal yang berat."
Setelah kepergian dokter, Meral dan Yafet kembali masuk ke dalam kamar Emir. Napas Emir kembali membaik, ayah Yafet itu membuka kelopak matanya. Ia memandang Yafet dengan rasa memohon belas kasihan kepada anaknya.
"Ayah...jangan menatapku seperti itu," isak Yafet dengan wajah yang menunduk di depan ayahnya. Tatapan ayahnya membuatnya merasa sangat bersalah.
"Ibu... apa ibu juga menyuruhku untuk meninggalkan Hazal? Apa mencintai Hazal adalah sebuah kesalahan?" tanya Yafet yang memeluk Meral.
"Ini bukan kesalahan. Tapi keadaan lah yang membuat kalian tidak bisa bersatu," jelas Meral.
"Yafet, kali ini berkorban lah untuk melindungi Hazal," mohon Emir dengan lirih.
"Ayah...," raung Yafet dengan menyandarkan kepalanya di lengan Emir. Ayah Yafet itu mengusap puncak kepala Yafet.
"Sebenarnya ayah... dan... ibumu juga tidak menyukai Selina, semula kami berharap semoga hasil DNA itu negatif. Tapi... tapi kau telah membuat kesalahan, nak. Jadilah... jadilah pria sejati yang bertanggung jawab," ucap Emir dengan perkataannya yang lebih baik dari sebelumnya.
Tak ada perkataan yang keluar dari mulut Yafet, hanya sebuah tangisan tanpa suara, air matanya membasahi selimut Emir. Kedua telapak tangannya menggenggam erat kain selimut yang menutupi tubuh ayahnya. Untuk beberapa saat ia hanya ingin berada di dekapan ayahnya, ia bahkan tidak punya tenaga lagi untuk membantah perkataan ayahnya.
Yafet mengangkat kepalanya. Wajahnya yang penuh dengan air mata itu menatap ayah dan ibunya. Semuanya tidak memberikan dirinya pilihan, selain menyetujui permintaan ayahnya.
"Aku....aku akan menuruti perkataan Ayah. Aku...aku berjanji...aku berjanji akan...menikahi Selina," ucap Yafet sambil terbata-bata. Hatinya benar-benar sakit ketika mengucapkan hal itu, serasa ada salah satu bagian tubuhnya yang hilang saat ini.
Tanpa mereka sadari, Hazal yang baru saja sampai di depan kamar Emir mendengar perkataan Yafet yang terakhir. Pintu kamar itu tidak tertutup setelah dokter keluar dari kamar Emir. Mendengar perkataan Yafet, Hazal yang terkejut tak sengaja menjatuhkan tas kerjanya di lantai, sehingga menimbulkan suara yang di dengar oleh Meral.
"Hazal...!" pekik Meral yang terkejut melihat putrinya sudah berdiri di depan pintu. Hazal yang seakan tidak percaya dengan yang dilihat dan di dengarnya, menggelengkan kepalanya dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Manik mata coklatnya nampak berkaca-kaca.
Yafet segera menoleh ke arah pintu kamar. Belum sempat Yafet berdiri, Hazal sudah lari keluar sambil menangis meninggalkan kamar ayahnya.
"Hazal...!" teriak Yafet yang segera berdiri dan mengejar wanita itu. Tetapi Hazal tidak memperdulikan panggilan Yafet, ia masih saja terus berlari semakin jauh. Hatinya benar-benar sakit mendengar perkataan Yafet.
__ADS_1
Rumah Keluarga Fallay....
Sementara itu di waktu yang bersamaan, datanglah anak buah Harun yang di perintahkan untuk mengawasi Alfred. Laki-laki muda itu menemui bos nya di ruang kerjanya di rumah.
"Katakan apa yang kau dapatkan?" tanya Harun sambil terduduk di sofa dan mengisap cerutunya.
"Tuan, Pengacara Alfred saat ini telah melarikan diri dari rumahnya. Aku sudah mengintai rumahnya dalam beberapa hari, tapi ia tidak keluar dari rumahnya. Kemudian aku mendobrak rumahnya, tapi laki-laki tua itu sudah tidak ada. Dia kabur."
"Bodoh! Hanya mengawasi satu laki-laki tua saja, kau tak becus!" teriak Harun yang berdiri dan akan mengambil senjata apinya yang ada di laci mejanya. Ia mengarahkan pucuk senjata nya ke arah anak buahnya itu.
"Tunggu....tunggu Tuan, aku ada berita lain untukmu," kata laki-laki muda itu yang gemetar melihat senjata api yang ada di tangan Harun. Ia mencoba mengulur waktu kematiannya.
"Berita apa maksudmu? Tergantung berita apa yang kau bawa, jika berita itu membuatku senang maka aku tidak akan melenyapkan mu, tapi jika kau hanya membawa berita sia-sia, maka kau akan berakhir seperti temanmu," ucap Harun sambil mengelap senjata apinya.
Laki-laki muda itu tampak ragu untuk mengatakannya, apa ini berita baik atau berita buruk untuk bosnya.
"A...aku tidak tahu, apakah Tuan menyukai berita yang aku bawa... atau tidak."
"Katakan saja...," Harun masih bersikap tenang saat ini.
"Sidang....sidang Ted Baxter akan di adakan dalam....dalam beberapa hari lagi," jawab laki-laki muda itu dengan ketakutan.
"Apa?" Kedua mata Harun seakan hendak keluar dari lubangnya. Ia merasa telah dibodohi oleh Alfred, ternyata kasus itu tidak di tutup, tetapi malah sudah sampai ke pengadilan.
Harun mengarahkan senjata apinya ke anak buahnya, membuat anak buahnya gemetar ketakutan.
"Hahahaha....," suara tawa Harun yang menyeramkan. "Apa kau takut dengan ini?" ejek Harun yang mendekati anak buahnya sambil menyentuhkan ujung senjata apinya dari pelipis hingga ke leher laki-laki muda itu.
Anak buahnya itu tidak menjawab pertanyaan Harun, tubuhnya hanya gemetar menggigil ketakutan, hampir saja ia mengeluarkan air seninya di celana dalamnya.
"Jika kau ingin nyawamu selamat, temukan si brengsek Alfred! Jika dalam 3 hari kau tidak bisa menemukannya, maka kepalamu ini yang akan menjadi taruhannya!" ancam Harun yang melihat ketakutan di mata anak buahnya dan menempelkan ujung senjata apinya tepat di dahi laki-laki muda itu.
"Aku...aku akan mencarinya."
"Pergilah....ingat perkataan ku. Dalam tiga hari...," kata Harun sambil meniup ujung senjata apinya.
Laki-laki muda itu segera keluar dari ruang kerja Harun Fallay.
"Beraninya kau bermain api denganku, Alfred! Seekor anjing peliharaan ingin menggigit tuannya, hahahahhahah... Kau tidak akan pernah berhasil Alfred, jika Tuan mu adalah aku, Harun Fallay!" ucap Harun dengan geram.
Wajah ayah Kenan itu benar-benar menakutkan, saat ini ia tengah memikirkan rencana liciknya, agar ia bisa lepas tangan dari masalah ini.
"Aku harus memastikan sendiri kapan persidangan Ted Baxter akan di selenggarakan, kupikir... anjing peliharaan ku yang satu itu benar-benar setia. Sampai sekarang kau tidak membuka mulut mu. Tapi apa gunanya kesetiaan, jika kau sudah tidak berguna lagi!" ucap Harun yang mengambil satu pion warna putih dan menggulingkan salah satu pion hitam dari bidak catur yang ada di meja kerjanya.
❤️ Bersambung ❤️
Terimakasih sudah membaca novelku ini sampai di bab ini... 🙏 semoga makin hari, aku harap cerita yang aku tulis tidak membosankan ya...
Jangan lupa kasih like, rate bintang lima, komentar atau vote kalian ya setelah baca novel ku ini. Terimakasih 🤗🥰
__ADS_1