
Hari Pernikahan Kenan & Hazal
Pagi ini Hazal ada di dalam kamarnya. Dia sedang terduduk menghadap sebuah cermin berbentuk lingkaran yang hanya memantulkan wajahnya. Ditemani oleh seorang penata rias dan Alina Gurman, desainer terkenal yang merancang gaun pengantin Hazal. Kedua orang itu telah siap menyulap putri angkat Emir menjadi seorang ratu hari ini
Sebuah kuas sedang menari-nari di atas wajah Hazal yang membuatnya harus memejamkan kedua kelopak matanya. Jari tangan penata rias itu sangat terampil memberi sentuhan yang indah di wajah wanita blasteran itu. Sebuah lipstik berwarna peach membingkai garis bibirnya yang mungil dan merah.
Hazal mengatupkan kedua bibirnya untuk membuat lipstik itu melekat dengan sempurna di bibir merahnya.
"Wow!" seru Alina sambil mengangkat kedua jempolnya di depan Hazal. "Kau benar-benar cantik. Aku bahkan tidak mengenalimu."
Hazal tertawa memperlihatkan belahan dagunya mendengar perkataan Alina.
"Masih belum sempurna, tunggu aku memakai gaun rancanganmu," ucap Hazal yang segera bangkit berdiri.
Dengan sigap Alina mengambil gaun pengantin Hazal yang tergantung di pintu lemari dan meletakkannya di atas ranjang.
"Aku akan membantumu," ucap Alina sambil membuka plastik pembungkus gaun rancangannya. Alina dan penata rias itu membantu Hazal untuk mengenakan gaun pengantinnya.
"Selesai!" seru Alina dengan bersemangat dan membawa Hazal ke depan cermin besar yang menempel di pintu lemari pakaiannya.
"Bagaimana?" tanya Alina yang ingin mendengar pendapat Hazal.
Putri angkat Emir itu tampak berputar di depan cermin dan melihat gaun pengantin berwarna putih berhiaskan brokat dan manik-manik di atasnya. Dengan model lengan tali spaghetti dan potongan leher terbuka yang membentuk belahan dadanya.
"Sempurna!" seru Hazal dengan ekspresi wajah terkesima memandang Alina. "Kau selalu bisa membuatku tampak cantik, Alina."
"Aku ingat pertama kalinya kau menggunakan gaun rancangan ku, saat kau berulang tahun yang ke tujuh belas," ucap Alina yang memegang kedua bahu Hazal dari samping dan menempelkan kepalanya di samping kepala Hazal. Wajah kedua wanita itu terpantul di cermin.
Hazal tersenyum mengingat kejadian di hari ulang tahunnya, saat ia pertama kalinya bertemu dengan Yafet setelah bertahun-tahun mereka berpisah. Ketika ia berdansa dan merasakan sentuhan bibir seorang pria untuk pertama kalinya.
Alina membantu memasangkan mahkota dan slayer putih di kepala Hazal. Terakhir ia memasangkan sarung tangan berbentuk jaring di kedua telapak tangan Hazal.
"Suamimu pasti akan sangat terpesona melihat penampilanmu. Ceritakan padaku, bagaimana nanti malam pertamamu," ucap Alina sambil tertawa. Hazal hanya tersenyum simpul mendengar perkataan Alina.
Setelah kepergian Alina, Hazal segera membuka lemari pakaiannya dan mengambil pistol Emir yang ia sembunyikan di bawah tumpukan pakaiannya. Ia membuka kembali senjata apinya dan memastikan masih ada dua butir peluru di dalam pistol itu.
Aku tidak akan menggunakan senjata ini, jika tidak terpaksa. Semuanya tergantung dirimu, Kenan. Jika kau tidak berhasil, maka ucapkanlah selamat tinggal untuk ayahmu dan diriku. Tapi jika kau berhasil, kita akan hidup bersama membangun keluarga kita dengan bahagia.
Hazal memasukkan senjatanya di tempat pistol yang melingkar di paha kanannya dan menutupnya dengan gaun pengantin yang ia kenakan.
Sebuah ketukan dari luar kamar mengejutkan Hazal. Ia segera menutup pintu lemarinya dan segera membuka pintu kamarnya.
"Elif...," sapa Hazal yang melihat teman kantornya datang ke rumah.
"Wow... kau sangat cantik Hazal. Aku khusus datang ke rumahmu, untuk memberikan ucapan selamat kepadamu," ujar Elif yang langsung memeluk Hazal.
"Terimakasih, Elif. Kau benar-benar mengejutkanku," balas Hazal yang mempersilahkan temannya itu untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Hazal, aku ke sini selain ingin mengucapkan selamat juga ingin meminta tanda tanganmu," kata Elif yang menunjukkan sebuah berkas yang ada di tangannya.
"Tanda tanganku? Untuk apa?" tanya Hazal sambil memicingkan kedua matanya menatap Elif.
"Kau sudah tidak masuk kerja seminggu ini dan kemungkinan besok kau belum tentu masuk kerja. Tuan Kenan pasti tidak akan mengijinkanmu. Manager personalia kita... Omer, meminta bantuan ku untuk mengurus surat ijinmu," jelas Elif sambil mengeluarkan penanya.
"Ya... meskipun tanpa surat ijin, kau tidak akan mendapatkan masalah. Ini hanya formalitas saja," bisik Elif yang membuka berkas itu.
"Oh. Baiklah. Dimana aku harus tanda tangan?" tanya Hazal.
"Di sini," ucap Elif sambil memberikan penanya kepada Hazal dan langsung menunjukkan tempat dimana Hazal harus membubuhkan tanda tangannya.
"Di sini juga." Elif membuka lembaran kedua. Hazal segera menandatangani berkas itu.
"Kau berhasil menaklukkan hati pria gila itu," ucap Elif sambil terkekeh di depan Hazal.
Mereka mengingat masa-masa di mana sewaktu mereka bekerja di kantor Fallay dan membicarakan tentang Kenan. Pria gila dan maniak itulah sebutan Hazal untuk Kenan.
"Ada lagi?" tanya Hazal ketika ia sudah menandatangani beberapa lembar kertas.
"Terimakasih, Hazal. Kau membuat tugasku lancar kali ini." Elif segera memeluk Hazal dan mengambil berkas serta penanya dari tangan temannya. Wanita berkawat gigi itu segera keluar dari kamar Hazal.
Tanpa Hazal sadari, Mehmet sudah menunggu Elif di dalam mobil yang terparkir di depan pintu gerbang rumah keluarga Aksal.
"Bagaimana? Apa kau berhasil mendapatkan tanda tangannya?" tanya Mehmet ketika Elif naik ke dalam mobil.
Elif mempertemukan jari telunjuknya dan jempolnya membentuk lingkaran di depan Mehmet.
Pria berkulit gelap itu tersenyum penuh makna setelah melihat tanda tangan Hazal di berkas yang telah diberikan Elif kepadanya.
"Mari kita merayakan hari pernikahan Kenan dan Hazal," ucap Mehmet yang segera melajukan mobilnya bersama Elif menuju gedung pernikahan.
__ADS_1
Setelah kepergian Elif, orang tua angkat Hazal membantu menutup wajah putrinya dengan slayer putih yang menempel di kepalanya.
"Acaranya tinggal tiga puluh menit lagi. Apa kau sudah siap?" tanya Emir yang menekuk lengan kirinya di dekat pinggang, menunggu tangan Hazal mengapit lengannya.
"Ya, Ayah," jawab Hazal yang mengapit lengan Emir dan keluar dari kamarnya.
Mereka bertiga menuruni tangga dan segera berangkat menuju ke gedung pernikahan. Mobil mereka diapit oleh dua mobil anak buah Mehmet yang di tugaskan Kenan untuk melindungi Hazal.
Di Gedung Pernikahan
Matahari sudah mulai terangkat ke atas, waktu sudah menunjukkan pukul 09.30 waktu Istanbul. Kurang tiga puluh menit lagi acara pernikahan di mulai.
Kenan dan Hazal hanya mengundang orang terdekat mereka pagi ini, untuk resepsi pernikahan akan diadakan malam hari di Hotel AKSAL. Dari beberapa tamu undangan, terlihat Lee Hideaki dan Carina yang datang dari Melbourne. Hazal khusus mengundang suami istri itu untuk menghadiri pernikahannya. Selain mereka, hadir juga Jaksa Kepala Onur Artama atasan Hazal sewaktu ia masih menjadi Jaksa Muda. Beberapa awak media juga datang ingin meliput jalannya pernikahan dua anak pengusaha terkenal di Turki.
Tak lama kemudian datanglah Mehmet dan Elif di gedung pernikahan. Mehmet mengajak Elif untuk duduk bersama di barisan tengah.
Kenan sedang berdiri di depan altar menunggu kedatangan mempelai wanitanya. Ia di dampingi oleh saudara almarhumah ibunya yang sudah merawatnya selama ini. Ia tampak gugup di balik jas pengantinnya yang berwarna putih. Putra Harun itu berjalan mondar-mandir sambil memasukkan kedua tangannya di saku celananya dan sesekali melihat jam tangannya.
"Tenangkan dirimu, Kenan. Acara belum dimulai, tapi bajumu sudah basah," kata suami bibinya. Seorang pria paruh baya berumur enam puluh tahun. Kenan hanya tersenyum simpul menanggapi perkataan pamannya itu.
"Apa ayahmu akan datang? Bibi harap ayahmu tidak mengacaukan acara pernikahanmu," ucap Bibi Kenan. Suami istri itu sudah merawat dan membesarkan Kenan sejak pria itu berumur lima belas tahun. Kenan mendatangkan mereka dari Jerman, khusus untuk menjadi walinya.
"Entahlah," jawab Kenan antara yakin dan tidak yakin. Ia berusaha menenangkan dirinya dengan duduk di kursi paling depan.
Beberapa menit kemudian terdengar suara alunan musik yang menandakan acara akan dimulai. Seluruh tamu undangan bangkit berdiri dan menoleh ke arah pintu masuk.
Mereka melihat seorang mempelai wanita berbaju putih dengan wajahnya yang masih tertutup slayer berdiri di ambang pintu didampingi oleh seorang pria paruh baya yang masih terlihat tegap.
Hazal melihat Kenan yang sudah berdiri di bawah altar. Mempelai prianya itu bagaikan seorang pangeran berkuda putih yang sedang menunggu kedatangan sang tuan putri.
Lagu pernikahan mulai dikumandangkan. Emir mengantar Hazal menuju ke altar pernikahan. Mereka berjalan di atas sebuah karpet merah yang membentang di tengah ruangan. Sebuah buket bunga mawar merah tergenggam erat di tangan kiri Hazal. Mereka berjalan perlahan-lahan, menuju ke tempat Kenan berdiri. Hati Hazal semakin berdegup kencang ketika ia akan mendekati altar pernikahan.
"Kenan, aku serahkan putriku Hazal kepadamu. Jaga dia baik-baik. Cintai dan bahagiakan dia," ucap Emir kepada menantunya.
"Aku akan selalu mencintai dan membahagiakannya, Ayah," jawab Kenan sambil tersenyum menatap wajah Hazal yang masih tertutup.
Emir memeluk Kenan sambil berbisik di telinga menantunya itu, "Jangan lupakan janjimu."
"Aku akan menepati janjiku," jawab Kenan yang berbisik di telinga ayah mertuanya. Emir segera memberikan tangan Hazal kepada Kenan, tanda bahwa ia telah menyerahkan putrinya.
Setelah selesai menyerahkan Hazal kepada calon suaminya, Emir menghampiri Meral yang sudah duduk di barisan depan.
"Saudara Kenan Fallay, apakah Anda bersedia menikah dengan Hazal Aksal?" tanya seorang perwakilan dari pemerintah kota yang menatap wajah Kenan.
"Saya Kenan Fallay bersedia menikah dengan Hazal Aksal," ucap Kenan dengan lancar sambil memandang wajah Hazal yang masih tertutup.
Petugas perwakilan itu kini memalingkan wajahnya menatap Hazal.
"Saudari Hazal Aksal, apakah Anda bersedia menerima Kenan Fallay sebagai suami Anda?" tanya petugas perwakilan itu dengan lantang.
Hazal terdiam untuk beberapa saat sambil menundukkan kepalanya, kemudian ia menatap wajah Kenan. Membuat para tamu undangan dan Kenan bertanya-tanya, karena Hazal tidak langsung menjawab pertanyaan dari petugas pemerintah tersebut.
"Saya... Hazal Aksal bersedia menerima Kenan Fallay sebagai suami saya," ucap Hazal sambil menatap wajah Kenan.
Mendengar perkataan Hazal, membuat hati Kenan bahagia. Sebuah senyuman mengembang di sudut bibirnya. Kenan menyematkan cincin pernikahannya ke jari manis Hazal, begitu juga dengan Hazal yang memasukkan cincin pernikahannya ke jari manis Kenan.
Mereka berdua pun menandatangani buku nikah mereka. Perwakilan pemerintah kota Istanbul meresmikan Kenan dan Hazal sebagai pasangan suami istri yang sah di mata hukum Turki, sesuai dengan budaya dan hukum di negara itu.
Setelah mereka resmi menjadi pasangan suami istri, Kenan membuka slayer putih yang menutupi wajah Hazal.
"Kau sangat cantik, sayang," ucap Kenan yang tidak berkedip memandang wajah istrinya.
"Kau juga sangat tampan," balas Hazal yang memberikan senyuman manisnya kepada sang suami.
"Aku mencintaimu Hazal," bisik Kenan dengan lembut, tetapi manik mata abu-abu gelap itu menatap Hazal, seolah ia ingin meminta jawaban atas perkataannya.
Hazal membalas tatapan Kenan. Pria itu memeluk pinggang Hazal.
Kini Kenan adalah suamiku. Mulai hari ini aku sudah memberikan hidupku kepadanya. Apalagi yang bisa aku berikan selain cinta dan tubuhku?
"Aku juga mencintaimu, Kenan," bisik Hazal. Ia mengalungkan kedua lengannya di leher suaminya.
Hari ini Kenan benar-benar bahagia, selain Hazal telah resmi menjadi istrinya. Untuk pertama kalinya ia mendengar pernyataan cinta Hazal kepadanya.
Kenan segera menyentuh bibir merah Hazal dengan bibirnya. Menciumnya dengan penuh kelembutan. Suara tepuk tangan memenuhi ruangan itu. Mereka semua tampak tersenyum bahagia melihat kedua mempelai itu berciuman.
"Berhenti!" teriak seseorang dengan suara keras yang tiba-tiba masuk ke dalam gedung.
Suara teriakan itu sontak membuat Kenan dan Hazal menghentikan ciuman mereka. Para tamu bangkit berdiri melihat sosok laki-laki paruh baya yang baru saja masuk dan berjalan di tengah ruangan.
__ADS_1
"Harun Fallay!" seru Emir yang berdiri sambil mengepalkan kedua telapak tangannya. Wajah suami Meral itu langsung menegang.
"Ayah...," gumam Kenan yang melepaskan pelukannya dari pinggang Hazal. Ia langsung menggandeng tangan istrinya untuk turun dari altar.
Harun berjalan mendekati kedua mempelai itu dengan sorot matanya yang sangat tajam menatap wajah Hazal.
"Aku dan Hazal sudah resmi menikah! Ayah tidak bisa menggagalkan pernikahan kami!" seru Kenan yang masih menggenggam erat tangan Hazal.
"Menikah?" Harun tertawa dengan keras sambil memalingkan wajahnya.
"Aku tidak peduli dengan pernikahanmu! Hari ini aku hanya ingin mengirim wanita itu agar bertemu dengan orang tua kandungnya!" teriak Harun dengan wajah garangnya. Ia mengeluarkan pistolnya, mengarahkan ke dada Hazal dan menarik pelatuknya.
Terdengar suara tembakan dari pistol Harun.
Hazal yang belum sempat mengambil senjatanya, segera di dorong oleh Kenan ke arah samping. Membuat dirinya jatuh menimpa salah satu tamu undangan. Semuanya berlangsung sangat cepat. Para tamu tampak berhamburan keluar begitu mendengar suara tembakan.
"Kenan...!" teriak Hazal yang melihat suaminya sudah jatuh di lantai dengan darah segar mewarnai baju putihnya. Hazal segera membuang buket bunga tangannya dan menghampiri Kenan.
Bukan hanya Harun yang terkejut melihat peluru itu menembus tubuh Kenan, Emir dan Meral juga tampak syok melihat kejadian penembakan itu.
"Kenan...," kata Harun sambil berjalan terhuyung-huyung mendekati putranya itu.
"Jangan mendekat!" teriak Hazal dengan keras. Air matanya menetes melihat Kenan mengalami luka tembak untuk yang kedua kalinya.
Tetapi Harun tidak memperdulikan teriakan Hazal, ia memajukan langkahnya. Ia ingin melihat keadaan Kenan.
"Jangan dekati suamiku!" jerit Hazal yang membuat Harun memundurkan langkahnya. Hazal segera mengeluarkan pistolnya dari balik baju pengantinnya.
"Suamimu itu putraku!" Harun membalas jeritan Hazal.
"Kau sebut dia putramu? Setelah apa yang barusan kau lakukan padanya? Kau lebih rendah dari seekor binatang, Harun Fallay! Bahkan seekor singa tidak akan pernah membunuh anaknya sendiri!" teriak Hazal dengan lantang, ia segera menodongkan senjatanya ke arah Harun.
"Semua ini karena kau! Kau yang merayu putraku agar menentang Ayahnya sendiri! Kau seperti ibumu seorang perayu dan pengkhianat!" teriak Harun dengan geram sambil menunjuk wajah Hazal.
"Tutup mulutmu! Jangan pernah hina ibuku dengan mulut busuk mu itu!" teriak Hazal dengan amarahnya karena Harun telah menghina ibu kandungnya.
Harun tertawa keras, melihat bagaimana Hazal membela ibunya.
"Kau berkata semua karena aku? Semua ini karena salahmu, Harun! Seharusnya kau menyesal, kenapa kau tidak berhasil membunuhku waktu itu! Membiarkan seorang anak kecil tetap hidup adalah sebuah kesalahan terbesar dalam hidupmu!" teriak Hazal dengan manik matanya yang melotot menatap wajah Harun dengan penuh kebencian dan kemarahan.
"Menyesal?" Harun tertawa terbahak-bahak.
"Ya, aku menyesal kenapa kau tidak ikut mati bersama dengan ayah dan ibumu! Tapi aku tidak pernah menyesal telah membunuh Erkan Danner dan Ayla! Mereka semua pantas mati! Termasuk kau!" teriak Harun dengan keras. Tidak ada ekspresi penyesalan yang muncul dari wajahnya.
"Hari ini aku akan mengakhiri semuanya, Harun! Aku akan mengirim mu ke neraka sekarang juga!" teriak Hazal dengan wajah geram dan penuh kebencian. Raut wajahnya merah padam.
Ia menarik pelatuk pistolnya dan mengarahkannya ke dada Harun.
Harun tertawa mengejek melihat Hazal yang sedang menodongkan senjatanya. "Apa yang bisa dilakukan oleh putri seorang pecundang seperti Erkan Danner?"
Wajah Hazal memerah menahan amarahnya. Telinganya terasa panas mendengar Harun mengatai ayah kandungnya. Semua orang meneriaki Hazal agar jangan menembak Harun.
"Hazal, jangan lakukan itu! Kau bukan pembunuh!" seru Emir dan Meral. Wanita paruh baya itu menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya dan menggelengkan kepalanya.
"Hazal, ini bukan impianmu. Jangan samakan dirimu dengannya!" teriak Jaksa Kepala Onur. Ia memahami bagaimana perasaan Hazal saat ini.
Hazal menatap tajam wajah Harun, ia benar-benar murka hari ini. Tidak ada kata maaf bagi pembunuh orang tuanya. Jari telunjuknya akan menarik pelatuk itu.
"Hazal... jangan...," ucap Kenan dengan suara lirih sambil mengangkat salah satu tangannya seolah ingin menggapai tangan Hazal. Ia berusaha untuk mencegah Hazal melakukan kesalahan yang sama dengan ayahnya.
Hazal mendengar perkataan Kenan, tetapi manik matanya masih menatap tajam Harun. Sorot matanya mematikan hendak mencabik-cabik pembunuh orang tuanya saat ini juga.
"Akkhhhhh," teriak Hazal dengan sangat keras karena rasa kecewanya pada dirinya sendiri yang tidak bisa membunuh Harun.
Ia mengarahkan pistolnya ke atas dan menembak lampu kristal yang menggantung di langit-langit. Lampu tersebut jatuh ke lantai, serpihan pecahan kaca itu menjadi pembatas antara dirinya dan Harun.
Begitu terdengar suara tembakan Hazal, seluruh pintu dan jendela di gedung itu langsung terbuka lebar. Pasukan polisi dan Kapten Ismail segera masuk dan mengepung Harun.
"Harun Fallay, kau di tahan atas tuduhan pembunuhan! Serahkan dirimu sekarang juga!" seru Kapten Ismail sambil menodongkan senjata apinya ke arah Harun.
Wajah Harun pucat pasi melihat puluhan polisi sudah mengepung dirinya. Ia tidak bisa berkutik. Kapten Ismail segera memborgol kedua tangan Harun dan membawanya ke kantor polisi.
Hazal segera menghampiri Kenan dan menggenggam tangan suaminya, "Bertahanlah, kumohon. Jangan tinggalkan aku...."
"Tolong panggil ambulans!" jerit Hazal dengan panik kepada semua orang yang ada di dalam gedung.
🔥Bersambung ❤️
Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏
__ADS_1