
Bunyi hentakan dan dentuman musik terdengar di telinga Hazal. Begitu gadis itu menginjakkan kaki nya bersama Yafet di Paradise Club'. Club' yang sangat terkenal di New York. Tidak sembarang orang bisa masuk ke club' malam ini, jika mereka tidak mempunyai banyak uang. Gemerlap lampu di ruangan itu menyapu wajah cantiknya dan sedikit kulit tubuhnya yang terbuka.
Ini adalah pengalaman pertama nya pergi ke club' malam. Setelah ia merasakan kebebasan di negeri orang. Yafet menggenggam tangan nya memasuki pintu masuk Paradise Club'. Seluruh pandangan kaum adam itu melihat kecantikan wajah Hazal, tetapi begitu mereka mengetahui dengan siapa gadis itu datang. Mereka mengurungkan niatnya untuk mendekati Hazal, karena mereka tidak ingin berurusan dengan Yafet.
Mereka berjalan menuju ke ruang VVIP, di dalam sudah menunggu ketiga teman Yafet yang lain.
"Wow.....lihat siapa yang datang?" seru Lee kepada David dan Jason. Mereka bertiga langsung mengarahkan pandangan nya ke pintu masuk. Jason yang melihat teman nya itu menggandeng gadisnya segera berdiri dan menghampiri Yafet.
"Jadi ini gadis yang membuatmu berubah?" seru Jason yang memegang pundak Yafet, tetapi tatapan wajahnya memandang dan menatap Hazal dengan dalam.
"Siapa nama mu, sayang?" seru David menghampiri mereka.
"Apa kau bilang !! Sayang - sayang kepala mu !?!?" teriak Yafet.
"Sabar bro....aku hanya ingin tau nama gadis import ini." jawab David dengan di ikuti gelak tawa Jason.
"Sudahlah...ada hal serius yang mau aku bicarakan." ucap Yafet dengan wajah di tekuk. Empat jam yang lalu Yafet menghubungi teman-temannya itu untuk berkumpul di Club' malam ini. Mereka kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Yafet meminta Hazal duduk di dekatnya.
Yafet memperkenalkan Hazal sebagai kekasihnya kepada teman-temannya. Ledekan teman-temannya membahana di ruangan itu.
"Oh, Hazal kenapa takdir mempertemukan mu lebih dulu dengan Yafet, bukan dengan ku." ucap Lee dengan sedikit meraung-raung. Ucapan Lee yang seperti pujangga cinta itu membuat semuanya tertawa terbahak-bahak. Mata keempat pria itu seakan terus memperhatikan wajah Hazal yang tampak cantik dengan senyum tawanya.
"Kami bertemu sejak kami masih kecil." ucap Hazal dengan lembut dan melirik Yafet. Yafet membalas tatapan mata Hazal dengan merangkul pundak gadis itu.
"Aku mengajak kalian ke sini, karena aku ingin minta bantuan kalian." ucap Yafet dengan serius.
"Apa?" sahut ketiga teman nya dengan kompak.
Yafet menceritakan masalah yang di hadapi Hazal. Masalah terbunuhnya orang tua kandung nya dan mencari pembunuh itu. Yafet meminta bantuan mereka untuk mencari pembunuh itu. Ketiga teman Yafet tidak menyangka bahwa Hazal mempunyai masa lalu yang sangat kelam.
"Kau bisa mengandalkan kami, Hazal." seru Jason dan yang lain nya dengan kompak.
"Aku punya saudara yang bekerja sebagai FBI di New York. Mungkin aku bisa minta bantuan nya untuk mencari orang itu." seru David dengan wajah seriusnya.
"Baiklah...kau atur pertemuannya dengan saudaramu itu. Kalau gitu, aku dan Hazal cabut dulu." seru Yafet yang segera berdiri dan diikuti oleh Hazal.
******
"Yafet, apa kita bisa mempercayai mereka?" tanya Hazal dengan menghadap kan tubuhnya ke Yafet yang sedang memegang setir kemudi mobilnya.
"Kau bisa mempercayai mereka. Meskipun mereka agak berlebihan jika soal wanita, tapi jika tentang setia kawan, mereka bisa di andalkan." ucap Yafet dengan pandangan nya yang masih lurus ke depan.
Hazal hanya menganggukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan Hazal.
"Ini masih jam 9 malam, kau ingin pulang atau ingin ke tempat lain?" tanya Yafet.
"Aku ingin nonton bioskop sambil makan popcorn bersamamu."
"Baiklah...aku juga sudah lama tidak makan popcorn."
******
Beruntung mereka masih mendapatkan dua tiket untuk nonton bioskop malam ini. Yafet membeli sebuket popcorn dengan saus karamel dengan ukuran medium dan dua botol minuman dingin. Hazal mengambil dua butir sekaligus dan memasukkannya ke dalam mulut Yafet.
"Bukankah ini makanan favoritmu sejak kecil? Aku ingat, setiap Minggu kau selalu minta juru masak untuk membuatkan popcorn dengan saus karamel untuk mu."
"Kau mengingatnya?"
__ADS_1
"Waktu aku kecil, aku suka memperhatikan mu. Kau yang terus membenciku dan tidak mau berbagi popcorn mu dengan ku."
Mendengar perkataan Hazal, segera Yafet memeluk Hazal dari belakang. Kedua tangan nya ia lingkarkan di depan perut rata Hazal. Mencium puncak kepala kekasihnya, kemudian mengambil dua butir popcorn yang di pegang oleh Hazal, dan menyuapi gadis itu dari belakang punggungnya. "Aku sekarang akan membaginya dengan mu" ucap Yafet setengah berbisik di telinga Hazal dan mencium belakang leher Hazal. Perlakuan Yafet yang seperti itu membuat wajah Hazal merona. Kemudian mereka berdua memasuki ruang bioskop itu.
Setelah dua jam film Action Romantis itu telah selesai, mereka berdua keluar dari ruang gelap itu. Kemudian mereka berjalan menuju pintu keluar gedung bioskop tersebut.
Ketika mereka keluar dari gedung bioskop, Yafet langsung menuju ke toilet. Hazal melangkahkan kakinya menuju ke lobby dan tiba-tiba tanpa sengaja Hazal menabrak seseorang. Seorang pria dengan kepala botak, dengan janggut dan kumis hitam nya yang lebat. Dengan cepat Hazal segera meminta maaf pada pria tersebut. Tapi pria itu langsung terburu-buru meninggalkan Hazal tanpa sepatah katapun. Gadis itu tertegun melihat pria asing itu, pikirannya melayang tentang pembunuh orang tuanya.
"Tidak Hazal....ini di New York. Pembunuh itu tidak mungkin ada di sini. Pria dengan kepala botak itu ada di mana-mana. Bukan berarti dia orangnya." gumam Hazal yang berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Tanpa sengaja pria botak itu telah menjatuhkan sesuatu ke lantai ketika dia dan Hazal bertabrakan. Hazal memungut benda itu, ternyata itu adalah sebuah kartu member pusat kebugaran yang bernama Fallay Gym.
Lagi-lagi Hazal melihat nama Fallay hari ini. Dia teringat dengan sebuah buku autobiografi Harun Fallay yang ia pinjam hari ini di perpustakaan kampusnya.
"Kau tak apa? Apa itu?" tanya Yafet segera menghampiri Hazal.
"Barusan aku tak sengaja menabrak seorang pria botak, dan aku rasa kartu ini adalah miliknya."
Yafet mengambil kartu itu dari tangan Hazal, dan membacanya.
"Apa ini sebuah kebetulan atau sebuah petunjuk?"
"Entahlah....hari ini aku selalu bertemu dengan nama Fallay."
"Hazal...kau lihat alamat Fallay Gym ini. Sepertinya bukan nama jalan di New York." seru Yafet sambil menyatukan kedua alisnya. Yafet mengatakan hal itu karena dia sangat hafal sekali nama-nama jalan di kota ini.
"Berikan padaku," Hazal mengambil kartu itu dari tangan Yafet dan mengamati nama jalan dan lokasi yang tertera di kartu itu. "Ini adalah pusat kebugaran di Istanbul, Turki." ucap Hazal.
"Simpan kartu member itu baik-baik. Mungkin lain waktu, kartu itu bisa membantu kita."
Hazal menyimpan nya di dalam dompet nya. Semuanya serba kebetulan. Di negara asing, dia menemukan sebuah beberapa petunjuk yang akan membawanya kepada sesuatu yang sangat berbahaya. Tapi di negara nya sendiri, dia tidak berhasil menemukan apapun.
Yafet yang memperhatikan tingkah Hazal yang selalu memijat keningnya, berusaha mengurangi kecepatan mobilnya. Yafet menarik tangan kanan Hazal untuk mendekat padanya, dan memeluk tubuh Hazal. Agar gadis itu bersandar padanya. Hazal meletakkan kepalanya di bahu Yafet dan tertidur di bahu tegap kekasihnya.
Yafet memarkirkan mobilnya di depan halaman apartemennya, ketika di lihatnya Hazal sudah tertidur, perlahan dia menyandarkan tubuh Hazal di tempat duduk nya semula.
Setelah dirinya keluar dari mobil, di bukanya pintu samping kemudi. Di masukkan nya kedua tangan nya ke belakang leher Hazal dan dibelakang lutut gadis itu. Digendongnya tubuh Hazal yang sedang tertidur dan ditutup nya pintu mobil dengan salah satu kakinya hingga ia masuk ke dalam ruang apartemen nya. Dibaringkannya Hazal di tempat tidur dan di tariknya sebuah selimut putih sampai ke leher Hazal.
Yafet menyibakkan rambut Hazal yang menutupi wajahnya, mengusap pipi gadis itu dengan lembut, "Kau sangat cantik, Hazal." ucap Yafet sambil mencium tangan gadis pujaannya. Kemudian dia mencium kening Hazal dan mengucapkan selamat malam padanya. Yafet berjalan keluar menuju ruang depan yang sekaligus ruang tamu, dan merebahkan dirinya di atas sofa empuk yang menjadi tempat tidur nya sekarang.
*****
Pukul 2 dini hari waktu New York....
Hazal sedang berdiri menghadap sebuah cermin besar. Dia berada dalam suatu ruangan yang tidak pernah ia kunjungi sebelumnya. Hazal melihat pantulan tubuhnya sendiri di dalam cermin itu. Tiba-tiba ia mendengar suara bariton dari seorang pria, yang berkata padanya...
"Kupikir kau sudah mati, putri Danner !! Ternyata kau masih hidup."
"Siapa kau? Tunjukkan dirimu !!" seru Hazal yang berusaha mencari sosok tubuh dari suara itu.
"Aku yang selalu ada di pikiran mu, yang memberi mu rasa takut itu."
"Kau pasti pembunuh itu ?!?! Keluar kau, pengecut !! Tunjukkan dirimu padaku !! Aku akan menemukan mu dan membalas apa yang sudah kau perbuat pada orang tuaku !!" teriak Hazal penuh amarah sambil mengelilingi ruangan yang gelap dan berasap itu.
"Hahahahahaha......Seberapa cepat kau bisa menemukan ku, sayang. Atau aku yang lebih dulu menemukan mu dan mengirim mu ke alam baka untuk bertemu dengan orang tua mu." suara itu seperti ancaman buat Hazal.
Peristiwa pembunuhan itu muncul di dalam cermin besar di dalam ruangan itu, seperti roll film yang bergerak dengan cepat. Kemudian Hazal melihat wajah Ayah dan Ibu nya yang berlumuran darah. Semakin lama semakin redup dan menghilang.
__ADS_1
"Ayah.......Ibu......Tidaaakkk" teriak Hazal sangat kencang yang membangunkan nya dari mimpi buruk nya.
Mendengar teriakan Hazal, Yafet terkejut dan bangun dari tidurnya, segera ia berlari ke kamar.
Tangan nya menyalakan lampu kamar itu. Dilihatnya gadis itu sedang menekuk kedua kakinya dan menenggelamkan wajah nya di atas lutut nya. Ia mendengar suara isak tangis Hazal.
"Hazal....apa yang terjadi?" tanya Yafet yang segera memeluk Hazal. Tubuh gadis itu gemetaran.
"Dia datang....dia datang lagi di sini." ucap Hazal dengan suara bergetar.
"Dia siapa? Tidak ada siapa-siapa di sini, hanya kita berdua."
"Tidak, Yafet....dia ada di sini. Dia berbicara padaku."
Yafet melepaskan pelukan nya dari Hazal dan memegang wajah gadis itu. Kini tatapan mata mereka berada dalam satu garis lurus.
"Itu pasti mimpi...kau habis mimpi buruk sayang. Seperti yang pernah kau alami di rumah."
"Entahlah....mungkin setelah bertemu dengan pria tadi di bioskop. Pikiran ku terbawa-bawa. Sama seperti waktu itu ketika aku mendengar suara bariton itu di toilet mall."
Hazal memijat kepalanya sendiri dan mengusap wajah nya.
"Maaf, aku telah mengganggu tidurmu."
"Tak apa...tidurlah kembali. Aku akan menemanimu di sini."
Yafet duduk di atas tempat tidur dan memeluk bahu Hazal dari belakang. Di sandarkan nya kepala Hazal di dada nya yang bidang. Tubuh mereka saling berdekatan. Perasaan Hazal sudah mulai tenang saat ini. Gadis itupun memejamkan matanya dan tertidur dalam dekapan Yafet.
Yafet yang tidak tega membangunkannya, akhirnya tertidur di samping Hazal.
****
Keesokan paginya....cahaya mentari menembus tipis jendela kamar apartemen yang ada di lantai tujuh itu.
Hazal membuka perlahan kelopak matanya. Dia melihat dirinya yang tertidur dalam pelukan Yafet. Tangan Hazal meraba perut dan dada bidang Yafet.
"Apa seperti ini rasanya, tidur dalam pelukan seorang pria?
Yafet mencium puncak kepala Hazal dan memberikan nya ucapan selamat pagi.
"Kau sudah bangun?" tanya Hazal yang segera duduk di atas tempat tidur dan memandang rambut Yafet yang sedikit berantakan.
"Kemarin aku tidak tega membangunkan mu...jadi maaf, aku ketiduran di sini bersama mu." ucap Yafet yang ingin bersikap sopan pada Hazal.
Hazal hanya tersenyum manis padanya. Hazal mendekatkan wajah nya ke wajah Yafet dan berkata, "Pagi ini kau ingin sarapan apa?"
Sebelum Hazal memundurkan wajahnya, tangan Yafet telah memegang wajah gadis itu. Hazal menahan tubuh nya yang hampir oleng dengan berpegangan di bantal yang di pakai Yafet.
Yafet memandangi wajah kekasihnya dengan jarak yang sangat dekat, ia menyentuh lembut bibir merah itu. Sentuhan jari Yafet, membuat Hazal menutup matanya, dan merasakan jari Yafet sudah berjalan ke lehernya. Dimasukkan nya tangan kanan nya ke belakang leher Hazal.
Dengan lembut di ciumnya bibir merah itu, Yafet memajukan tubuh Hazal, hingga tubuh gadis itu berada tepat di atas tubuhnya. Tangan Hazal melingkar di leher Yafet, membuat Hazal lebih bebas untuk membalas setiap ciuman dari Yafet.
Sepasang kekasih ini hanyut dalam morning kiss di pagi hari ini.
❤️Bersambung❤️
Jangan lupa setelah baca novel ini, tinggal kan cap jempol kalian ya 😊 makasih 🙏
__ADS_1
Maaf Yaaa....upload nya agak lama...🙏