DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Perjalanan Empat Sekawan - Negosiasi Kedua


__ADS_3

Yafet menatap tajam gelas yang ada di tangannya, mata elang itu memandang bagai pisau yang akan membelah dan menguliti mangsanya. "Kali ini apa mau mu, Lee ?" ucap Yafet dalam hatinya. Pria itu meninggalkan meja makan dan berjalan menapaki anak tangga menuju kamarnya di lantai atas tanpa memberi jawaban kepada kedua temannya.


"Dia berlalu begitu saja seperti angin," ucap David yang langsung meletakkan sendok garpu nya di atas meja. Sikap Yafet telah menghilangkan selera makannya.


"Kurasa dia perlu waktu, berani taruhan dengan ku?... Yafet akan menemui Lee," kata Jason dengan wajah sumringahnya.


"Oke... siapa takut? Ini kunci mobil ku, ambillah jika kau menang.Tapi jika kau kalah, berikan apartemen mu yang ada di New York kepadaku," tantang David.


Di rumah Carina, Lee sedang menunggu kedatangan Yafet. Dirinya sedang berjalan mondar-mandir di ruang tamu, di gosok-gosokkan nya kedua tangannya yang terasa dingin, di garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia benar-benar gugup kali ini. Carina menghampirinya dengan membawa kue kelapa yang ia buat sendiri. "Makanlah ini, mungkin kue ini bisa menghilangkan kegelisahan mu."


Lee mengambil kue kelapa itu dan memakannya. Rasa manis dari kue itu sedikit banyak memberinya kekuatan untuk menetralkan kecemasannya.


"Apa kau tak mau menghubungi Jason untuk menanyakan tentang kedatangan Yafet?" tanya Carina yang ingin mencoba membantu Lee.


"Jika dia ingin datang, maka dia pasti datang," jawab Lee yang menutupi ke gengsian nya untuk menghubungi temannya.


Hari sudah siang, Yafet tidak juga turun dari kamarnya. Pria itu sedang melakukan push up di lantai untuk memperbesar otot bisep dan menguatkan otot kakinya. Olahraga ini yang membuat pikirannya tenang saat ini. Setelah melakukan push up sekitar satu jam, ponselnya tiba-tiba berdering. Panggilan dari Hazal.


" Hai... apa kau tak merindukan ku?" tanya Hazal dengan suara merdunya.


"Aku sangat-sangat merindukanmu, sayang. Maaf aku beberapa hari ini tidak menghubungi mu," jawab Yafet yang menghentikan kegiatan push up nya dan mengambil handuk putih yang ia letakkan di punggung kursi.


"Kau ada di mana sekarang?"


"Aku ada di rumah David di Italia."


"Aku video call ya...."


"Tunggu...." Belum sempat Yafet menjawab, Hazal telah menutup ponselnya. Ia tidak ingin Hazal melihat bekas luka memar pada wajahnya.


Sekali lagi ponsel Yafet berbunyi, sebuah panggilan video dari Hazal.


"Halo..."


"Astaga sayang.... Apa yang terjadi dengan m Kenapa wajahmu seperti itu? Siapa yang memukulmu ? Aku akan ke Italia sekarang ya..."

__ADS_1


"Aku baik-baik saja. Ini hanya pertengkaran kecilku dengan Lee. Kau jangan khawatir. Fokuslah pada kuliahmu."


"Pertengkaran kecil apa? Lihatlah wajahmu sampai seperti itu, jika aku tidak ada... siapa yang akan merawat mu?"


"Aku bisa merawat diri ku sendiri. Kau tak perlu cemas."


"Kau membuat ku khawatir, sayang. Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu, kau tertembak atau tertusuk seperti dulu? Aku bisa gila memikirkan itu semua."


Yafet tertawa melihat raut wajah Hazal yang penuh kecemasan, "Thank you, honey..... Kau begitu mengkhawatirkan ku, aku akan pulang kembali dengan selamat."


"Apapun yang terjadi, pulang lah kembali bersama dengan teman-teman mu. Aku tidak ingin kehilangan salah satu dari kalian, karena aku akan merasa sangat bersalah. Hanya karena kalian ingin menolongku, aku telah membahayakan nyawa kalian," ucap Hazal dengan mata berkaca-kaca.


"Aku janji padamu, sayang. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Tunggu aku..."


"Aku akan menunggumu, aku juga sangat mencintaimu dan selalu merindukan mu."


Setelah mengakhiri pembicaraan nya dengan Hazal, hati Yafet telah mantap untuk menemui Lee. Perkataan Hazal telah memberinya semangat. Laki-laki itupun keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga, di lihatnya David dan Jason yang masih duduk di meja makan.


"Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian saling memandangi kunci mobil itu? Ayo kita berangkat !!"


"Berangkat ke mana?" tanya David dengan muka polosnya. Hatinya sudah dag dig dug akan kehilangan salah satu mobilnya.


"Yes !! Apa ku bilang, berikan kunci mobilmu," ucap Jason yang bersorak penuh kemenangan. Ia berhasil memenangkan taruhannya. David melemparkan kunci mobilnya dan mendengus kesal karena kalah taruhan dengan Jason, tetapi janji adalah janji.


"Kau saja yang menyetir," kata David dengan senyum kecutnya.


Sinar matahari sudah mulai naik ke atas, Jason melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, membelah lalu lintas kota Milan yang padat. Sekitar satu jam mereka sampai di rumah Carina. Jason memarkirkan mobilnya di depan mobil Lee. Mereka bertiga turun dari mobil dan masuk ke rumah Carina.


Ting... tong...


Bel rumah berbunyi dengan nyaringnya, pemilih rumah pun keluar. Alangkah terkejutnya Carina melihat siapa yang datang. Ternyata Yafet dan teman-temannya. Ketiga pria itu hanya menatap dingin melihat wajah Carina. Dengan kikuk gadis itu mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam rumah. Dengan cepat, Carina memanggil Lee yang sedang berada di kamarnya. Sementara ketiga tamu itu hanya berdiri melihat-lihat suasana rumah Carina.


"Akhirnya kau datang juga," sambut Lee yang sejak dari tadi menunggu kedatangan Yafet.


"Berikan apa yang kau punya, maka aku akan segera pergi dari sini," ucap Yafet datar tanpa basa basi.

__ADS_1


"Informasi ini tidak gratis," sahut Lee yang berjalan mendekat ke arah Yafet.


"Apa maksud mu? Kau ingin aku membayar mu?" tanya Yafet dengan nada tingginya.


"Aku tidak perlu uangmu !!! Bayar aku dengan kebebasan Carina," seru Lee.


"Lee !!" hardik David dan Jason bersamaan.


Yafet tidak menjawab apapun, pria itu hanya membalikkan badannya membelakangi Lee begitu mendengar permintaan laki-laki Jepang itu, kemudian ia tertawa dengan keras. Semua orang yang melihat sikap Yafet penuh dengan keheranan. Termasuk Lee dan Carina.


Yafet bertepuk tangan berkali-kali, "Kau yang menjanjikan kebebasan padanya kan? Jadi jangan libatkan aku. Jika kau tak sanggup membebaskan gadismu itu dari ayah tirinya, seharusnya kau tak perlu melindunginya."


"Cepat berikan informasi itu, atau aku akan mengirim gadismu itu kembali ke club' malam !!" gertak Yafet yang melangkah mendekati Carina. Gadis itu menyembunyikan dirinya di belakang tubuh Lee. Dia sangat ketakutan merasakan aura dingin Yafet.


Lee segera mencengkeram kaos Yafet dan berkata, "Berani kau menyentuh Carina, aku tidak akan pernah mengampuni mu !!"


Sekilas Carina melihat mobil Max berjalan pelan di depan rumah, dan terdengar mobil itu berhenti. Carina yakin itu pasti Max, ayah tiri nya... ia datang di saat situasi seperti ini. Segera Carina berteriak, "Lee...Max datang !!"


"Apa? Oh shitt !!! Kenapa dia datang secepat ini !!" teriak Lee.


"Cepatlah kalian sembunyi." Carina lari ke belakang rumah di ikuti oleh Lee dan yang lainnya. Carina membuka pintu belakang rumahnya, terlihat halaman yang tidak terlalu luas dipenuhi oleh tiga batang pohon yang tinggi. Di sekeliling halaman itu tertutup tembok-tembok yang tinggi dengan kawat berduri. Tidak ada jalan keluar selain kembali ke pintu depan.


"Sembunyilah dulu di sini," kata Carina. Gadis itu pun kembali masuk ke dalam dan menutup pintu belakang rumahnya.


"Kenapa kita harus sembunyi?" tanya David yang keheranan.


"Dia hendak membawa kabur anak ayam dari induk semangnya," ujar Yafet yang menatap Lee dengan senyum jahatnya.


❤️ Bersambung ❤️


Jangan lupa kasih...


🤗Like


🤗Komen dan

__ADS_1


🤗Vote kalian yah...


Makasih 🥰 Happy reading ya gaes 😘


__ADS_2