DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Titik Terang Harun


__ADS_3

Malam gelap pun tiba, Hazal sedang berendam di bathtup nya seperti biasa. Ia meletakkan kepalanya di bahu bathup berwarna putih. Di pejamkannya kedua kelopak matanya. Ia mencoba mengingat kembali kejadian kemarin malam di rumah Harun Fallay.


Malam itu di tepi kolam renang, Kenan memergoki dirinya sedang berdua bersama dengan Mert.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Kenan yang tiba-tiba sudah berdiri di depannya. Manik mata abu-abu gelap itu memicingkan penglihatannya di dalam cahaya temaram sinar lampu. Sorot matanya menatap tajam dirinya dan Mert secara bergantian.


"Sebenarnya aku bosan menunggu di ruang makan, kemudian aku berjalan-jalan di dalam rumah. Aku melihat seorang pelayan yang ada di dapur dan menanyakan kepadanya letak kolam renang. Mungkin saja di rumahmu ini ada suatu kolam dengan pemandangan luar. Kemudian pelayan itu memberikanku petunjuk jalan," jelas dirinya waktu itu.


Dirinya menghampiri Kenan dan mengalungkan tangannya di lengan kekar Kenan. Tetapi pria itu tidak bereaksi apa-apa.


Sepertinya pria itu sedang mencoba mencocokkan perkataan Hazal dan perkataan pelayan wanita yang ia temui di dapur rumahnya. Ia sempat menanyakan keberadaan Hazal kepada pelayan tersebut.


"Lalu kenapa kau juga ada di sini? Apa kalian sudah ada janji bertemu sebelumnya?" Kenan menatap tajam Mert. Seolah-olah kekasihnya itu sedang cemburu, memergoki dirinya yang sedang berselingkuh dengan pria lain.


"Tidak Tuan Kenan. Kami tidak ada janji apapun. Kami hanya kebetulan bertemu di sini. Nona Hazal menanyakan tentang kabarku setelah bekerja di sini. Tuan Kenan jangan salah paham," jelas Mert yang terlihat menyesal.


"Baiklah, kembalilah bekerja!" perintah Kenan kepada Mert. Pemuda itu segera meninggalkan Kenan dan dirinya.


Dirinya berjalan menjauhi Kenan, untuk memberi waktu pria itu agar mendinginkan kepalanya. Ia berjongkok dan memainkan air kolam dengan telapak tangannya. Terdengar bunyi percikan air yang membasahi telapak tangannya. Kemudian Kenan menghampirinya dan memapahnya untuk berdiri.


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mencurigai mu." Kenan memeluk dirinya.


"Setelah aku keluar dari toilet, aku tidak menemukanmu di ruang makan, aku mencarimu kemana-mana. Sampai akhirnya seorang pelayan di dapur mengatakan bahwa kau ada di kolam renang. Kemudian aku melihat mu bersama dengan Mert. Aku pikir kalian ...." Kenan tidak melanjutkan perkataannya, ia masih memeluk dirinya.


Hazal kembali membuka matanya setelah ia mengingat apa yang terjadi kemarin malam di rumah Harun.


Suara ponselnya tiba-tiba berdering. Ia kemudian keluar dari bak mandinya dan mengambil handuk kimononya. Segera ia membuka pintu kamar mandi dan mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas ranjang.


"Halo," jawab Hazal di depan ponselnya.


"Sepuluh menit lagi aku akan menjemputmu," ucap Yafet yang sedang mengemudikan mobilnya di suatu jalan.


"Oke. Aku siap-siap dulu." Hazal segera menutup ponselnya.


Putri angkat Emir itu segera membuka lemari bajunya dan mengambil pakaiannya. Ia hanya menggelung rambut panjangnya ke atas dan memulas make-up tipisnya. Diambilnya tas kecilnya dari dalam nakas. Kemudian ia turun ke lantai bawah setelah Yafet meneleponnya kembali.


Mobil sport hitam itu sudah menunggu Hazal di depan pintu gerbang. Kekasih Kenan itu segera masuk ke dalam mobil. Yafet segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak ada pembicaraan di dalam mobil. Sunyi dan hening. Hanya terdengar suara seruan mesin.


Yafet menghentikan mobilnya di tempat latihan menembak. Setiap malam Yafet dan Hazal selalu menghabiskan waktu mereka di tempat ini, seperti malam-malam sebelumnya.


Tanpa banyak bicara, dengan raut wajahnya yang tertekuk, Yafet memfokuskan pandangannya pada sebuah papan target berbentuk lingkaran yang bergerak dari kiri ke kanan. Papan target itu bergerak secara otomatis.


Selongsong peluru ia muntahkan semua dari lubang pistolnya. Suara memekikkan telinga membuncah di pikirannya. Kepulan asap itu keluar dari ujung pistolnya. Papan target itu di penuhi dengan titik-titik yang berlubang.


Hazal yang sejak tadi meringkuk dengan menutup kedua telinganya, kini berjalan menghampiri kakak angkatnya itu.


"Ada masalah apa? Kau tidak seperti biasanya?" Hazal berdiri di samping Yafet yang hendak menembak lagi. Ia kemudian menurunkan lengan laki-laki itu.


"Bukan pistol yang kau butuhkan saat ini. Kau perlu seorang teman untuk membagi kesedihan mu," kata Hazal yang memegang tangan Yafet.


Putra Emir itu menatap wajah Hazal dengan lembut. Kini satu-satunya senjata yang ia miliki untuk mengeluarkan Selina dari kehidupannya lenyap begitu saja. Satu-satunya jalan untuk mewujudkan cintanya bersama Hazal telah tertutup. Ia harus menukarnya dengan keselamatan Hazal. Hanya keselamatan wanita yang di depannya ini yang menjadi prioritasnya saat ini. Baginya Hazal adalah dunia dan mataharinya.


Pistol itu terlepas dari genggaman tangan Yafet, ia segera memeluk erat Hazal.


"Katakan ada apa? Jangan membuatku cemas," ucap Hazal yang terlihat bingung di dalam pelukan laki-laki itu dan mengusap puncak kepalanya.


Yafet melepaskan pelukannya dan mengajak Hazal untuk duduk di atas lantai. Ia meletakkan kedua tangannya ke belakang, menghembuskan napasnya dalam-dalam sambil memandang hasil karyanya yang ada di papan target tersebut.


"Selina telah mengetahui tentang hubungan kita."


Manik mata Hazal seakan hendak melompat dari sarangnya. "A...apa yang kau... katakan?"


Yafet menceritakan kepada Hazal perihal Selina yang tadi sore datang ke kantornya.


"Lalu apa reaksinya?" tanya Hazal yang terlihat cemas.

__ADS_1


"Selina sudah mendapatkan apa yang dia mau, dia tidak akan menyakitimu. Ya.. dia marah. Tapi dia tidak tahu identitas mu yang sebenarnya. Dia hanya mengetahui bahwa kau dan aku terlibat cinta terlarang. Cinta dua orang saudara kandung," jelas Yafet yang mendongakkan kepalanya ke atas kemudian menatap wajah Hazal kembali.


"Mungkin ini sudah takdir kita. Kau dan aku tidak bisa bersama." Manik mata coklat itu nampak berkaca-kaca.


"Tidak. Jangan katakan hal itu lagi!" seru Yafet yang mulai berdiri.


"Apa itu takdir? Apa itu nasib? Omong kosong! Aku hanya percaya apa yang aku lakukan dengan tanganku! Bukan takdir atau nasib yang menentukan masa depan kita, tapi tangan kita sendiri!" seru Yafet yang berjalan menjauhi Hazal.


Hazal segera bangkit berdiri, berjalan dan menarik tangan Yafet. "Kau tak boleh berpikiran seperti itu. Selama ini kita sudah mencoba dan berusaha. Tapi selalu saja ada rintangan. Mungkin saja kau dan Selina memang sudah berjodoh."


Wajah Yafet terlihat memerah setelah mendengar perkataan Hazal yang terakhir. Ia mengibaskan tangan Hazal dengan kasar.


"Apa yang kau katakan, hah? Apa kau tidak punya keyakinan sedikitpun tentang masa depan kita?"


"Kau selalu yakin bahwa kita akan berhasil menemukan pembunuh orang tua mu. Nyatanya memang benar. Tapi kenapa kau tidak yakin bahwa suatu hari nanti kita akan bisa bersama?" Yafet menatap tajam manik mata coklat yang terus menatapnya dengan lembut.


Cairan bening itu akhirnya meleleh membasahi wajah Hazal. Ia menggelengkan kepalanya saat melihat sepasang mata Yafet yang menusuknya dengan tajam, "Bukan itu maksudku."


"Lantas apa?" nada suara Yafet kian meninggi. Ia mencengkeram pelan lengan Hazal. "Katakan!"


"Aku tidak punya banyak waktu lagi!" teriak Hazal sambil melepaskan dirinya dari cengkeraman tangan Yafet. "Bahkan menunggu sampai anakmu lahir pun, aku tidak bisa!"


"A...apa maksudmu?" Yafet mulai merendahkan nada suaranya.


Hazal menarik tangan Yafet, membuka telapak tangan laki-laki itu, dan memberikan ponsel nya kepada kakak angkatnya itu.


"Dengarkan sendiri hasil panen Mert!"


Yafet menyalakan ponsel Hazal, ia memutar suara audio yang ada di ponsel berwarna merah tersebut.


Terdengar suara Kenan dan Harun yang berbicara di ruang keluarga.


(Suara Harun)


Jika ayah jadi kau, ayah akan mendekatinya. Wanita itu berasal dari keluarga terpandang, terhormat dan yang terpenting dia putri pemilik perusahaan Aksal!


(Suara Kenan)


(Suara Kenan)


Aku memang tertarik dan mendekati putri Aksal itu, tapi bukan untuk mengincar perusahaannya! Tapi karena aku memang sangat mencintainya!


Rekaman itu terhenti.


"Harun sudah mempunyai rencana dengan memanfaatkan Kenan untuk mendekati ku. Dengan begitu, ia bisa masuk ke perusahaan Aksal. Tapi untung saja, Kenan menolaknya," jelas Hazal yang menatap tajam tumpukan kaleng bekas cat yang ada di atas meja.


"Karena anak pembunuh itu ternyata sudah jatuh cinta padamu!" sindir Yafet yang menatap wajah Hazal dari samping.


"Bukan itu yang aku maksud. Dengarkan selanjutnya," ujar Hazal dengan tenang. "Mert memberikan nya padaku tadi pagi, ia punya kesempatan untuk keluar dari rumah itu."


Yafet memilih file yang kedua. Terdengar suara Harun sedang berbicara dengan seseorang yang tidak mereka kenal.


(Suara Harun)


Bagaimana apa kau sudah mengawasi Yafet Aksal?


(Suara orang yang tidak mereka kenal)


Beberapa hari ini aku sudah mengawasi Yafet Aksal. Ia selalu saja lolos dari bahaya apapun yang telah aku buat. Pria itu seperti kucing yang mempunyai sembilan nyawa.


(Suara Harun)


Awasi saja dia, tapi jangan menyentuhnya lagi. Setelah aku bertemu dengan putri Aksal. Aku sedikit ragu, siapa di antara kedua anak Aksal itu yang anak kandung Erkan Danner.


Hening....

__ADS_1


(Suara Harun)


Alfred hanya memberiku petunjuk salah satu anak Aksal pasti akan menghancurkanku. Tapi pengkhianat itu tidak memberiku sebuah nama! Orang suruhanmu memberiku informasi bahwa hanya satu orang yang selalu mengunjungi Mansion Danner. Orang itu adalah Yafet Aksal.


(Suara orang yang tidak mereka kenal)


Maksud Tuan, orang suruhan ku itu memberikan informasi yang salah?


(Suara Harun)


Kupikir Yafet Aksal adalah anak kandung Erkan. Tapi setelah Kenan membawa putri Aksal ke rumah ini, aku merasa ada yang salah.


(Suara orang yang tidak di kenal)


Maksud Tuan? Aku tidak mengerti.


(Suara Harun)


Bisa jadi bahwa anak Erkan Danner yang sebenarnya adalah putri Aksal! Aku melihat wanita muda itu sangat mirip dengan istri Erkan Danner. Segera kau selidiki putri Aksal itu! Cari tahu diantara anak-anak Aksal, siapa yang anak adopsi!


Rekaman itu berhenti. Yafet tertegun setelah mendengar suara percakapan Harun dan orang kepercayaannya.


"Harun sudah mencurigai ku. Suatu hari nanti cepat atau lambat, dia akan mengetahui siapa diantara kita anak kandung Erkan Danner," jelas Hazal yang membalikkan badannya menghadap Yafet.


"Jika itu yang kau cemaskan. Aku akan menemuinya dan mengaku bahwa aku adalah anak Erkan Danner. Dengan begitu ia tidak akan memburu mu," ucap Yafet sambil memegang kedua lengan Hazal.


Hazal memukul pelan kepala Yafet, "Apa yang kau katakan? Apa kau sudah gila? Setelah kau mengaku di hadapannya, maka ia akan segera membunuhmu! Bodoh!"


"Itu lebih baik, daripada melihat mu mati di tangan nya!" seru Yafet yang segera berjalan menuju pintu keluar.


"Tunggu Yafet!" Hazal berhasil mengejar dan menahan tangan pria itu.


"Jika kau memang mencintaiku, jangan pernah kau lakukan itu! Aku juga tidak ingin melihatmu mati sia-sia di tangan rubah tua itu!" seru Hazal yang membalikkan tubuh pria itu agar menghadap dirinya.


"Cintamu padaku jangan membuat dirimu lemah. Aku tahu kelemahanmu adalah diriku, dan kelemahanku adalah dirimu. Tapi jangan biarkan musuh mengetahui kelemahan kita!" Hazal mencoba mengingatkan Yafet.


"Itulah sebabnya aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, karena aku tidak tahu waktu hidupku sampai kapan. Semua nya serba cepat," jelas Hazal. Ia memegang kedua tangan Yafet.


"Bukan aku tidak peduli tentang masa depan kita, tapi saat ini aku hanya memikirkan tentang bagaimana caranya menghancurkan rubah tua itu. Kumohon mengertilah," ucap Hazal dengan suara lirihnya.


Yafet hanya tertegun mendengar penjelasan Hazal. Perkataan Hazal memang ada benarnya. Selama ini cintanya pada Hazal telah membuat dia berpikir pendek, sehingga membuat Selina dengan mudah menggertak nya dan memanfaatkan kelemahannya.


"Baiklah mulai hari ini aku tidak akan membicarakan tentang masa depan kita. Aku akan membantumu sampai semua masalah mu dan masalahku selesai," ucap Yafet sambil memeluk Hazal dan mengusap puncak kepala wanita itu. Ia merasa kali ini dirinya yang terlalu egois.


Hazal melepaskan pelukannya dari Yafet dan sebuah senyuman manis terukir di sudut bibir merahnya. "Sebelum tempat ini tutup. Ajari aku cara menembak yang benar."


Mereka pun kembali melakukan latihan menembak. Kemampuan Hazal semakin lama semakin meningkat. Ia bisa menembak dengan tangannya sendiri dan tepat sasaran. Ia tersenyum puas melihat hasil karyanya di papan target berbentuk lingkaran.


*****


Di malam yang sama di rumah keluarga Fallay...


Harun sedang berdiri sendiri menghadap jendela. Ia mengambil cerutu nya dan mengisapnya dalam-dalam. Kepulan asap pembakaran cerutu itu membumbung tinggi memenuhi ruang kerjanya.


Pikirannya masih memikirkan teka-teki siapa sebenarnya anak Erkan Danner. Dia berharap anak Erkan itu tidak pernah ada. Tapi ia teringat dengan pesan terakhir pengacara Alfred.


Ia kemudian menurunkan sebuah lukisan yang tergantung di dinding. Lukisan yang cukup besar, bergambar seekor burung phoenix. Lambang perusahaan Fallay.


Setelah lukisan itu diturunkan tampak sebuah lembaran kayu berbentuk persegi. Harun membuka lembaran kayu itu yang merupakan sebuah pintu lemari kecil.


Tidak ada satu orang pun di rumah itu yang menyadari tempat penyimpanan rahasia Harun. Ia mengambil satu kotak yang terbuat dari besi dari dalam lemari kecil tersebut.


Di letakkannya kotak besi itu di atas meja kerjanya. Ia mengambil selembar foto lama. Kemudian ia membandingkan foto lama itu dengan foto Hazal yang ia dapat dari situs perusahaannya.


Tak salah lagi... kalian benar-benar mirip.

__ADS_1


🔥 Bersambung ❤️


Jangan lupa setelah baca novel ini kasih tip yuk buat Author 😊 hanya kasih Like, Komentar, Rate bintang lima atau Vote kalian 🤗 Terimakasih 🙏


__ADS_2