DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Perjalanan Empat Sekawan - Dua Pejantan


__ADS_3

Sinar mentari pagi menelisik masuk melalui tirai jendela kamar hotel VIU MILAN. Kelopak matanya mengerjap-ngerjap melihat ruangan kamarnya yang sudah mulai terang. Gadis itu mulai mengumpulkan kesadarannya, melihat dirinya yang tidur tanpa busana dan di sampingnya terbaring seorang pria yang tengah memeluknya. Dipandanginya wajah Lee, pria yang bersamanya semalam. Meskipun ini bukanlah hal yang pertama baginya, tapi Carina berharap bahwa pria ini akan mencintainya dan menerima masa lalunya dengan tulus. Perlahan Carina memindahkan tangan Lee yang melingkar di perutnya, ia tidak ingin membuat pria itu terbangun. Kemudian diturunkannya kedua kakinya, tanpa alas kaki Carina menyusuri setiap lantai dingin yang ada di kamar hotelnya, memungut setiap lembar pakaiannya yang berserakan di lantai dan membawanya menuju kamar mandi.


"Untung saja Lee tidak menyobek gaun ku, sehingga aku masih bisa memakainya lagi. Lee tidak seperti pria lain, dia melakukan hal itu dengan sangat lembut," gumam Carina berkata pada dirinya sendiri sambil menatap gaun malamnya yang masih utuh.


Lee terbangun dari tidurnya, perlahan dia membuka kelopak matanya. Tangannya mencari seseorang di sampingnya, tidak ada siapa-siapa. Dia mengalihkan pandangannya ke arah bantal yang ada di samping kepalanya, ternyata benar... gadisnya itu tidak ada di sana. Bergegas Lee mengambil pakaiannya yang telah terjatuh di lantai, di pakainya lembaran kain itu untuk menutupi tubuh polosnya. Pria itupun berjalan menuju pintu kamarnya, tetapi di dengarnya suara gemericik percikan air dari dalam kamar mandi. Lee mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar hotelnya, pandangannya beralih menyusuri setiap sudut kamar itu, "Di mana Carina meletakkan tas nya?" gumam Lee pada dirinya sendiri.


Dilihatnya sebuah tas tangan kecil berwarna hitam terlempar di atas sofa, segera Lee mengambil tas tersebut, di buka dan di keluarkannya semua isinya. Peralatan kosmetik wanita... bedak, lipstik, parfum, tisu, sebuah anak kunci dan sebuah ponsel terjatuh di atas sofa. Ia menyalakan ponsel Carina, membaca setiap pesan singkat yang masuk ke ponsel tersebut. Pesan masuk dari jasa katering, dari pelanggan club' malam yang ingin memesan Carina, dari teman Carina, dan yang terakhir... pesan terbaru yang baru saja masuk yang belum di baca oleh Carina. Sebuah pesan dari ayah tirinya.


😈 Max si Pemangsa 😈


Aku akan pulang tiga hari lagi, tunggu aku di rumah !! Jangan coba-coba kabur atau aku akan mematahkan kaki indah mu itu !! Aku sangat merindukan tubuh indah mu sayang... Turuti apa mau ku ... maka kau akan hidup. Jika kau tidak menuruti ku, maka kau akan bernasib sama seperti ibumu !!!


Lee mengatupkan rahangnya dan mengepalkan tangannya, setelah dia membaca pesan singkat dari ayah tiri Carina yang dikirim semalam. "Ternyata gadis itu tidak bohong," gumam Lee. Kemudian Lee menghapus pesan tersebut dan mengirim nomor ponsel ayah tiri Carina ke ponsel miliknya, Lee membuka file-file yang ada di ponsel Carina, tapi dia tidak menemukan apa-apa lagi.


Ceklek... seseorang membuka pintu kamar mandi. Lee segera memasukkan ponsel Carina dan barang-barangnya yang lain ke dalam tas. Lee berdiri membelakangi sofa dan berjalan ke arah Carina, seolah-olah ia tidak melakukan apa-apa.


"Kau mengejutkanku Lee. Aku kira kau masih tidur," kata Carina kepada pria yang ada di depan nya. Lee hanya menatap Carina dengan wajah dingin tanpa mengucapkan selamat pagi untuk gadis itu. Carina memajukan tubuhnya, dia hendak memberikan morning kiss untuk laki-laki itu, tetapi Lee memundurkan langkahnya seakan dia tidak ingin menerima ciuman dari Carina. Gadis itu hanya menatap wajah Lee dengan seribu pertanyaan.


Kemudian Lee berjalan menuju kamar mandi, tanpa menyapa atau tersenyum kepada Carina. Seolah-olah gadis itu tidak ada di depannya. Carina memandangi pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat dan berkata dalam hatinya,


"Kenapa sikapnya jadi sedingin itu kepadaku ?"


Di dalam kamar mandi, Lee menatap wajahnya di sebuah cermin yang berbentuk persegi, tetapi bayangan wajah Carina muncul di hadapannya. Lee membasuh wajahnya dengan air. Pesan singkat ayah tiri Carina masih terngiang-ngiang di kepalanya, ingin sekali ia menghajar pria itu.


"Jika aku bertemu dengannya lagi, aku akan membuatnya menyesal bahwa ibunya telah melahirkannya sebagai seorang laki-laki !!" Lee berbicara dengan dirinya sendiri di depan cermin dan memukul dinding keramik yang ada di samping cermin.


Lee mengguyur tubuhnya sendiri dengan air dingin, emosinya sedang tidak stabil pagi ini. Pikirannya memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Lee melihat Carina yang sedang di sofa untuk mengeringkan rambutnya, gadis itu hendak berdiri dan menghampirinya. Tetapi Lee segera membalikkan badannya menjauh dari Carina.


"Aku akan menunggumu di bawah untuk sarapan, setelah itu aku akan mengantarmu pulang ke rumah mu," kata Lee yang berbicara memunggungi Carina. Kemudian laki-laki itu berjalan menuju pintu dan menghilang dari pandangan Carina.


Carina hanya menghela nafasnya melihat sikap dingin Lee. "Aku tidak boleh terlihat lemah di depannya," gumam Carina. Segera Carina merias dirinya dan memakai gaun malam yang kemarin ia kenakan, karena ia tidak membawa pakaian ganti untuk bermalam di hotel tersebut. Setelah memandangi pantulan dirinya di depan cermin, ia pun segera melangkahkan kakinya untuk turun ke bawah menemui Lee.


Lee sudah menunggunya duduk di dekat sebuah tangga yang mengular di tengah-tengah ruang restoran hotel. Lee melihat Carina yang datang menghampirinya. " Ambillah makanan yang kau suka," katanya datar kepada gadis itu. Beberapa menit kemudian, Carina sudah membawa sepiring salad sayur dan segelas susu segar.


"Apa pekerjaan ayah tiri mu?" tanya Lee kepada Carina. Sementara tangannya masih sibuk memotong selembar daging asap yang ada di piringnya.


"Aku tidak tahu. Dia pergi ke Swiss hanya untuk beberapa hari dalam sebulan. Kemudian dia akan pergi lagi di bulan berikutnya. Setiap kali aku bertanya, dia selalu membentak ku dan mengatakan untuk tidak ikut campur. Sebenarnya ayah tiri ku adalah orang Italia, bukan orang Swiss seperti yang aku katakan padamu. Maaf aku telah membohongi mu lagi," jawab Carina yang menatap manik mata hitam Lee.


"Berapa banyak kebohongan padaku? Kau telah dua kali membohongiku !!" seru Lee dengan tajam.


"Maafkan aku... Aku tidak bermaksud membohongi mu. Waktu itu aku berpikir bahwa kau hanyalah seorang seorang pria yang hanya ingin mengajakku bercinta untuk satu malam saja. Jadi... kehidupan pribadiku tidaklah penting untuk ku ceritakan padamu," ucap Carina yang memegang tangan Lee.


Sebenarnya Lee tidaklah mempermasalahkan kebohongan Carina. Dia mendekati gadis itu dengan banyak tujuan dan tipu muslihat. Membuat gadis itu jatuh cinta padanya dan menjadi seorang "pahlawan" bagi Carina. Kedengarannya sangat menarik bagi Lee. Tapi kali ini dia sedikit terbawa perasaannya untuk gadis itu.


"Kenapa kau tidak berniat melarikan diri, sewaktu ayah tiri mu itu pergi ke Swiss?"


"Aku pernah melakukannya... tetapi ayah tiri ku berhasil menemukan ku. Begitu ia menemukan ku, maka ia akan menyiksaku seperti binatang."


"Kali ini jika kau kabur bersama ku, apakah kau punya keberanian?" tantang Lee kepada Carina.

__ADS_1


Carina hanya menatap dalam manik mata Lee. "Kau yang memberikan ku kekuatan untuk aku bangkit dari keterpurukanku ini," ucap Carina.


"Apa rencana mu setelah bebas dari ayah tiri mu?" Lee bertanya sekali lagi, seakan ia sedang menginterogasi Carina.


"Entahlah... aku tidak tahu. Aku tidak punya tujuan hidup lagi, impianku hancur setelah ayah tiri ku menodai ku dan menjual ku. Apalagi yang bisa aku harapkan dari hidupku ini?" ucap Carina lirih dan matanya berkaca-kaca.


Lee menggenggam erat tangan Carina, dan mengusap genangan air yang ada di pelupuk mata gadis itu. Perasaan apa yang berkecamuk di hati Lee. Se-brengsek nya dirinya, dia tidak pernah melihat seorang ****** yang merasa putus asa seperti ini. Lee memandang wajah Carina, kurasa dia adalah gadis baik-baik, hanya saja nasib membawanya masuk ke dalam lembah terkutuk itu.


Setelah menyelesaikan sarapan mereka, Lee mengantar Carina pulang. Di perjalanan Lee masih bergumul dengan pikirannya.


"Apa yang harus aku lakukan pada Carina? Dia hanyalah gadis yang aku manfaatkan untuk mencari kebenaran, belum tentu ayah tirinya adalah pembunuh orang tua Hazal. Jika ayah tirinya tidak bersalah atas kasus kematian orang tua Hazal, maka dia bersalah telah melakukan pelecehan pada Carina. Aku akan memberinya hukuman karena dia telah menyentuh Carina dengan tangan kotornya itu !! Tetapi membawa Carina pergi dari sini... bukanlah perkara yang mudah. Bukan hanya berurusan dengan ayah tiri Carina, tapi... teman-temanku... mereka belum tentu bisa menerima kehadiran Carina. Oh shitt !!! Kenapa aku sangat pusing memikirkan ini semua !!"


Ketika mobil yang dikendarainya berhenti di persimpangan jalan karena lampu merah, terlintas sebuah ide cemerlang di dalam pikiran Lee. Laki-laki Jepang itu tersenyum penuh kemenangan. Mobil yang mereka tumpangi sudah hampir sampai di dekat rumah Carina, tetapi tiba-tiba Lee menghentikan mobilnya dan memutar kemudinya, berbalik arah menjauhi rumah Carina.


"Lee, kenapa kau putar balik? Rumah ku ada di sana. Kau akan membawaku kemana?" tanya Carina kebingungan. Lee tidak menjawab pertanyaan Carina. Pria itu malah menaikkan kecepatan mobilnya.


"Lee...!! Turunkan aku di sini, kau membuatku takut," teriak Carina.


"Diam lah...!! Aku akan membawamu ke suatu tempat," bentak Lee kepada Carina. Gadis itu hanya bisa duduk dalam diam, dia melihat tatapan yang menusuk dari kedua bola mata Lee.


Terdengar suara mobil berhenti di sebuah rumah bertingkat dua di kawasan elite di kota Milan, Italia. Rumah yang bergaya Mediterania berwarna putih dengan sebuah taman kecil di depan, tanpa pagar pembatas di halamannya. Dalam benak Carina, ia ingin bertanya rumah siapakah ini? Apakah ini rumah Lee? Tapi niat itu di urungkan nya karena melihat rahang Lee yang terkatup rapat.


"Berikan ponsel mu padaku !!" pinta Lee kepada Carina sebelum ia keluar dari mobilnya.


"Untuk apa?" tanya Carina yang mengernyitkan dahinya. Dia tidak mengerti maksud pria itu. Dengan ragu Carina memberikan ponsel miliknya kepada Lee. Kemudian laki-laki itu mengambil kartu ponsel Carina, merusak kartu itu dan membuangnya di jalan.


"Hei !! Kenapa kau buang kartu ponsel ku?" teriak Carina dengan nada tingginya.


"Aku tidak ingin kau berhubungan lagi dengan ayah tiri mu dan lelaki hidung belang lainnya !!" ucap Lee yang menatap tajam manik mata Carina. Lee keluar dari mobilnya dan membuka pintu mobil di mana Carina duduk. Menarik tangan gadis itu dan membawanya masuk ke rumah David. Di bukanya pintu utama rumah itu, tidak ada siapa-siapa. "Kemana mereka semua?" tanya Lee yang berbicara pada dirinya sendiri. Lee menggandeng tangan Carina meneruskan langkah mereka ke ruang tengah, tiba-tiba suara Yafet mengejutkannya.


"Aku ingin bicara padamu," ujar Lee yang masih tetap berdiri di tengah ruangan.


"Apa yang ingin kau bicarakan? Apa kau ingin membawa wanita ****** mu itu ke sini?" tanya Yafet yang menatap tajam iris mata Lee. Yafet sudah bisa menebak apa yang ingin Lee bicarakan karena tiba-tiba temannya itu membawa Carina pulang ke rumah.


"Jangan pernah menyebut Carina dengan sebutan ****** !!" teriak Lee yang mendorong tubuh Yafet dengan telunjuknya. Tetapi Yafet menurunkan jari telunjuk Lee dari tubuhnya.


"Jika bukan ******, apa sebutan yang pantas untuknya? Bukankah gadismu itu telah memuaskan banyak lelaki termasuk ayah tirinya, hah?" tanya Yafet yang tambah memancing emosi Lee. Menatap tajam manik mata Carina.


"Darimana kau tahu itu semua?" tanya Lee yang balas menatap tajam manik mata Yafet dan mengepalkan kedua tangannya. Yafet mengambil sebuah laptop yang ada di atas meja di ruangan tersebut, kemudian ia menyalakan sebuah perekam suara. Suara percakapan Lee dan Carina di dalam kamar hotel.


"Brengsek kau !!!" umpat Lee yang segera melayangkan pukulannya mengenai wajah Yafet. Tubuh Yafet limbung, tersungkur di meja dan membuat laptop itu jatuh ke lantai. Lee menyuruh Carina untuk menunggunya di luar. Gadis itu berjalan seperti orang linglung, dia benar-benar syok dan terkejut begitu mendengar suaranya sendiri. Pengakuannya mengenai kehidupan pribadinya, masa kelamnya. Air matanya tumpah membasahi wajahnya. Menyesali kebodohannya.


"Kenapa kau marah? Aku merekam percakapan kalian hanya untuk mencari tahu tentang ayah tirinya, tapi tak ku sangka gadismu itu malah menceritakan kehidupannya," ejek Yafet.


"Apa mau mu?" teriak Lee dengan suara keras. Ia mengambil laptop itu dan membantingnya ke lantai, berharap laptop itu tidak berfungsi lagi.


"Hancurkan saja laptop itu, karena rekaman suara desahan gadismu itu tidak berguna untukku !!" pekik Yafet.


"Semua ini karena rencana mu, jika kau tidak menyuruhku mendekati Carina, maka aku tidak akan membawanya ke rumah ini !!" teriak Lee dengan emosinya.


Yafet tertawa keras seolah-olah mengejek kebodohan temannya itu dan berkata, "Jadi kau menyalahkan ku? Bukankah kau sendiri yang tertarik untuk mendekati gadis itu? Aku hanya memberikanmu peluang, dan memanfaatkan mu karena ayah tiri gadis itu. Apa kau lupa? Kudengar semalam, kau sangat menikmatinya. Apa aku salah?"

__ADS_1


"Kau... !!" pekik Lee yang menyadari kebodohannya dan memukul wajah Yafet sekali lagi. Tubuh Yafet terhuyung, tapi kemudian laki-laki itu kembali berdiri tegak di depan Lee.


"Kau sudah memukul wajahku dua kali, oke... tak masalah. Aku akan memaafkan mu, tapi bawa pulang gadismu itu ke rumahnya, aku tidak ingin dia mengacaukan rencana kita !!" ucap Yafet penuh penekanan.


"Aku tak peduli, kau suka atau tidak !! Memangnya siapa dirimu, hah? Jika kau tidak bisa menerima Carina, maka aku akan berhenti membantumu untuk mencari pembunuh itu, dan aku akan pergi bersama Carina meninggalkan kalian !!" ancam Lee dengan amarahnya.


"Tak ku sangka kau selemah ini, kawan !! Menjadi budak cinta dari seorang ******, cih !!" ejek Yafet. Perkataan Yafet tambah menyiram minyak di kobaran api emosi Lee.


"Budak cinta katamu? Bukankah kau sendiri budak cinta Hazal? Bagaimana jika Hazal di posisi Carina. Apa kau akan meninggalkannya setelah apa yang telah kau perbuat padanya, hah?" tanya Lee dengan emosinya.


"Jangan samakan Hazal dengan ****** mu !! Aku tidak akan pernah mengijinkan Hazal menjadi ****** !!" teriak Yafet penuh amarah. Emosinya yang semula tertahan, begitu nama Hazal di sebut, dirinya langsung meradang.


"Hahahaha.... Bukankah Hazal sudah menjadi ****** mu? Sudah berapa kali dia memuaskan dirimu di ranjang?" ejek Lee.


Kali ini Yafet sudah tidak bisa menahan emosinya, dia melayangkan pukulannya membalas ejekan Lee, bukan hanya satu atau dua kali tapi berkali-kali, menendang perut dan dada Lee, dia menghajar pria Jepang itu habis-habisan, membuat Lee jatuh tersungkur, "Aku satu kali pun tidak pernah menyentuh Hazal !! Kau dengar itu, brengsek !!" umpat Yafet.


"Jangan sok suci kau...!! Dasar munafik !! Apa kau pikir aku percaya ? Sekali kau brengsek selamanya kau adalah pria brengsek !! Jangan pernah mimpi untuk menjadi malaikat. Kau dengar itu !!" teriak Lee dengan umpatannya dan balas menendang tulang kering Yafet.


"Dasar keparat kau !! Akan ku robek mulut sampah mu itu !!" umpat Yafet yang melemparkan tubuh Lee di atas sofa. Menghampiri teman Jepangnya itu dan menghajarnya kembali bagaikan samsak tinju.


Lee yang yang tak terima dengan pukulan Yafet, segera membalas pukulan temannya itu, mereka berdua terjatuh di lantai dan bergelut bagai pertarungan di arena tinju. Tanpa ada yang berani memisahkan mereka.


Tak lama kemudian, David dan Jason kembali dari lari paginya. David melihat ada mobil milik perusahaan ayahnya yang di pinjam Lee, terparkir di depan rumahnya. "Apa Lee sudah pulang?" tanyanya pada penjaga rumah.


"Iya Tuan David, tapi..."


"Tapi apa?" tanya Jason yang curiga, seperti ada sesuatu yang terjadi di dalam rumah.


"Mereka berdua sedang...." Belum sempat penjaga rumah itu menjelaskan, Jason dan David sudah berlari masuk ke dalam. Kedua laki-laki itu melihat Carina yang duduk di ruang tamu sedang menangis. Mereka berdua menatap wajah Carina dengan sinis. Terdengar suara umpatan, makian, pukulan dan barang jatuh di dalam rumah itu. "Pasti mereka sedang berkelahi karena ****** ini !!" umpat David yang di dengar oleh Carina.


"Cepat kita pisahkan mereka, sebelum mereka menghancurkan rumah ini," kata Jason yang segera masuk ke dalam.


Mereka melihat Lee dan Yafet saling berguling di lantai, saling menindih, dan saling memukul. Ruang tengah rumah itu bagaikan medan peperangan, perabot rumah terguling dan pecah berserakan di lantai.


Segera David bergegas menuju ke kamar mandi, diikuti oleh Jason. Mereka berdua keluar membawa dua ember penuh berisi air dingin dan tanpa aba-aba mereka menyiramkan air itu kepada dua pejantan yang lagi beradu fisik. Byurrr..... Kedua pejantan itu basah kuyup terkena siraman air, segera mereka saling melepaskan diri.


Apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Jason yang melihat wajah kedua temannya itu penuh dengan rona keunguan dan darah mengalir dari hidung dan mulut mereka.


"Kalian berdua seperti dua ekor kucing yang ingin merasakan malam pertamanya," ejek David.


Tetapi Lee dan Yafet hanya berdiam, tak ingin menjawab perkataan atau memberi penjelasan kepada kedua temannya itu. Nafas kedua pria itu hampir putus akibat perkelahian mereka. Mereka segera berdiri. Lee menatap tajam manik mata David dan Jason.


"Jika kalian ingin tahu, tanyakan kepada si keparat ini !!" seru Lee yang segera keluar dan mengajak Carina untuk ikut pergi bersamanya. Pikirannya seakan mengatakan percuma saja jika ia membicarakan hal yang sama dengan kedua temannya yang lain, mereka juga pasti bereaksi sama dengan Yafet. Jadi ia memilih pergi dan meninggalkan mereka semua. Jason segera mengejar Lee dan Carina, tetapi terlambat... Lee sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


❤️ Bersambung ❤️


Terimakasih sudah mampir dan baca tulisan novelku ini. Jangan lupa tinggalkan...


🤗 Like


🤗 Komentar dan

__ADS_1


🤗 Vote kalian yahh...


Makasih 🙏 ikuti kisah mereka selanjutnya ya gaes 😘


__ADS_2