DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Akhir Hidup Pengacara Alfred


__ADS_3

🌹 Hai pembaca novel Dangerous Love.... Gimana sudah merasakan shock terapi atau kejutan dari Author kalian ini 😁 Kejutan waktu Emir Aksal di tangkap dan kemudian di bebaskan kembali 🤗Aku sengaja sedikit membelokkan ceritanya... huhuhu....


Di bab 85, aku sudah kasih info di bagian akhir. Bahwa mulai bab 84 sampai entah bab berapa tamatnya... akan banyak ke baperan. Siapikan tisu 😭 buat pembaca yang suka percintaannya Hazal dan Yafet. Tapi kalau ada yang lebih suka actionnya, aku bakalan kasih teka-teki dari setiap bab...kalian bisa menerka sendiri akhir kisah dari setiap tokohnya 😊 yang jeli...pasti tahu nanti endingnya kayak gimana 😁


Kalau yang merasa novel Dangerous Love ini mbulet atau muter-muter (bahasa Indonesianya apa ya mbulet? 🤣) it's oke ... pendapat orang boleh berbeda 😊 gak kayak novel yang full Romance atau novel action yang perang-perangan sampai berdarah-darah 🤔 karena action di novel ini gak hanya berantem aja, tapi aku mengajak kalian untuk berpikir dan bermain teka-teki (kayak Ted Baxter 😅)


Yuk...yang masih mau baca kelanjutannya ...silahkan...ingat tulisan ku di atas 👆 banyak teka-teki, dan gak akan aku buka semua di satu bab.


🌹🌹 Selamat Membaca 🌹🌹


*******


Hazal dan Yafet diam dalam keheningan, ketika mereka menunggu hasil interogasi seorang tahanan yang telah membunuh Ted Baxter. Tak lama kemudian, pintu ruang kerja itu pun terbuka.


"Ayah...!" seru Hazal yang melihat ayah angkatnya muncul, begitu pintu itu terbuka. Hazal segera memeluk Emir dengan erat.


"Bagaimana kondisi Ayah?" tanya Yafet yang menghampiri Emir dan memeluk pria paruh baya itu.


"Ayah hanya beberapa jam di tempat ini," jawab Emir dengan ringan.


Kapten Ismail segera masuk ke ruang kerjanya kembali dan berdiri di hadapan Hazal, Yafet dan Emir Aksal.


"Aku membebaskan ayahmu, Hazal. Tuan Emir terbukti tidak bersalah. Tahanan itu telah mengakui semua perbuatannya, yang menyuruhnya adalah seorang pria paruh baya dengan tinggi badan sekitar 160 sentimeter lebih, seumuran Tuan Emir dan dia memakai kaca mata," jelas Kapten Ismail.


"Tuan Emir, maaf atas kesalahpahaman ini," ujar Kapten Polisi sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah ayah Yafet.


Emir Aksal menyambut uluran tangan Kapten Ismail, "Ini memang sudah menjadi tugasmu, Kapten."


"Kapten, apa tahanan itu tidak mengetahui siapa nama orang yang menyuruhnya?" tanya Hazal yang tidak bisa menebak siapa orang tersebut.


Kapten Polisi itu hanya menggelengkan kepalanya dan mencoba mengulang cerita dari pembunuh Ted Baxter, "Tiba-tiba pria paruh baya itu datang, menjenguk nya, dan dia tidak mengenal pria itu. Pria paruh baya itu, hanya memberinya uang dengan syarat ia harus membunuh Ted Baxter pada Minggu malam, dan memintanya untuk menuliskan nama Emir Aksal pada telapak tangan Ted Baxter."


"Berarti pria paruh baya itu ingin memfitnah Ayahku!" seru Hazal.


Drrttt.... drrttt..


Sebuah pesan masuk dari ponsel Hazal. Wanita itu segera membuka ponselnya dan membaca satu pesan baru dengan nomor ponsel yang tidak ia kenal.


~ 08xx.xxxx.xxxx ~


Bagaimana kejutan yang sudah aku buat, Putri Danner? Apa kau sudah bisa menebak siapa dalang di balik pembunuhan orang tua kandungmu? Bisa jadi dia adalah ayah angkat mu sendiri.


Beberapa detik kemudian, sebuah pesan lain dari nomor yang sama, masuk ke ponsel Hazal.


~ 08xx.xxxx.xxxx ~


Jika kau ingin mendapatkan bukti kejahatan ayah angkat mu, datanglah ke alamat ini (Jln. XXX) Datanglah sendiri, jangan bawa polisi.


Hazal terkejut begitu ia telah selesai membaca dua pesan singkat yang dikirim ke ponselnya.


"Ada apa?" semua orang bertanya pada Hazal, ketika melihat wajah wanita muda ini pucat seketika.

__ADS_1


Yafet dan Kapten Ismail mengambil ponsel Hazal


Mereka membaca bersama-sama pesan yang dikirim oleh orang misterius ini.


"Ini pasti jebakan! Hazal, aku tidak mengijinkan mu menemui orang misterius ini. Mungkin saja ia sedang merencanakan sesuatu untuk mencelakai mu!" pekik Yafet.


"Apa yang di katakan Yafet benar, Hazal. Ayahmu sudah terbukti tidak bersalah. Mungkin orang itu tidak mengetahui kabar terbaru, dia mengira telah berhasil menjebloskan ayahmu ke penjara," jelas Kapten Ismail.


Hazal hanya bisa memijat keningnya. Masalahnya sudah terlalu pelik.


"Aku tahu bukan Ayah Emir dalang dari semua ini. Orang misterius itu menyapaku dengan sebutan Putri Danner, bukan Hazal Aksal. Siapa orang lain selain keluarga kita yang mengetahui identitas ku yang sebenarnya?" tanya Hazal kepada semua orang yang ada di ruangan itu.


"Alfred!" seru Emir yang mendadak mengeluarkan suaranya.


"Ya benar, pasti pengacara busuk itu yang telah memfitnah Ayah!" seru Yafet yang kembali mengingat kejadian ketika pengacara itu memeras Ayahnya.


Emir mengeluarkan ponselnya untuk menunjukkan foto Alfred kepada Kapten Polisi. "Kapten, untuk memastikan bahwa pengacaraku itu yang telah memfitanahku, bisakah Kapten menunjukkan foto laki-laki ini ke pembunuh Ted Baxter?"


Kapten Ismail menyetujui ide Emir Aksal, segera ia keluar mendatangi tahanan itu di ruang isolasi. Beberapa menit kemudian, Kapten Ismail membawa kabar baik. "Ternyata benar, Pengacara Alfred yang telah menyuruh tahanan itu untuk membunuh Ted Baxter."


"Hazal, sebaiknya kau memberi jawaban kepada pengirim pesan misterius itu. Katakan padanya, bahwa kau akan datang sendiri. Aku akan siapkan pasukan ku untuk menangkap pengacara itu di rumahnya." ujar Kapten Ismail yang menyiapkan senjata apinya di pinggangnya.


Hazal mengetik sebuah kalimat di layar ponselnya, sesuai arahan dari Kapten Ismail.


Yafet dan Emir mengikuti Kapten Ismail untuk pergi ke rumah pengacara Alfred.


Hazal yang masih berada di kantor polisi segera mengabari ibu angkatnya, bahwa ayah angkatnya telah di bebaskan. Setelah selesai menghubungi Meral, tiba-tiba ada sebuah panggilan telepon masuk lainnya.


Hazal segera menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya.


"Halo...," sapa Hazal di depan ponselnya.


"Ehm...Nona, aku mendapat nomor ponselmu dari teman ku yang bernama Ted Baxter. Dia menyuruhku menghubungimu, jika sesuatu terjadi padanya. Bisakah kau menjengukku di penjara? Ada sesuatu milik Ted yang harus aku serahkan padamu," kata tahanan muda itu yang sedang berbicara di sebuah telepon umum di penjara.


"Baiklah. Sekarang aku ada di kantor polisi. Siapa namamu?" tanya Hazal.


"Nama ku Mert," jawab tahanan muda itu sambil memperkenalkan dirinya. Ia baru saja keluar dari ruang isolasi.


"Oke Mert, sekarang aku akan ke ruang besuk untuk menjenguk mu," ucap Hazal yang segera mematikan ponselnya.


Setelah menutup ponselnya, Hazal masih memikirkan perkataan Mert.


Sesuatu milik Ted Baxter, yang harus di serahkan padaku? Apa dia ingin memberikan surat wasiatnya pada Nuran?


Tak terasa langkah kaki Hazal sudah berada di ruang besuk. Ia meminta ijin pada petugas untuk menemui seorang tahanan yang bernama Mert. Petugas itu memintanya untuk menunggu.


Sekitar lima menit kemudian, keluarlah seorang laki-laki muda dengan memakai seragam tahanan, umurnya sekitar dua puluh tahunan. Lebih muda dari Hazal. Berperawakan tinggi dan postur tubuh yang sedang. Laki-laki itu mendekati meja Hazal sambil membawa sebuah kaleng biskuit berwarna merah.


"Apa kau yang bernama Mert?" tanya Hazal yang melihat seorang pemuda menghampirinya.


"Ya, aku Mert. Kau... Nona yang aku telepon tadi?" tanya Mert ragu-ragu.

__ADS_1


Hazal mengulurkan tangan kanannya ke arah Mert, "Kenalkan nama ku Hazal Aksal. Kau bisa memanggil ku Hazal."


"Senang bertemu dengan mu, Hazal," sapa Mert yang membalas uluran tangan Hazal.


Hazal mempersilahkan Mert untuk duduk.


"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Hazal yang menatap lurus wajah Mert.


Mert meletakkan kaleng biskuit itu di atas meja dan memberikannya kepada Hazal. "Ini peninggalan Ted satu-satunya, aku harus menyerahkan kaleng biskuit ini pada orang yang nomor ponselnya ada di dalam kaleng ini."


Hazal hanya terbengong melihat kaleng biskuit berbentuk tabung itu. "Apa isinya?"


"Aku tidak tahu, aku hanya menemukan nomor ponselmu dan langsung menghubungimu," jelas Mert sambil menundukkan kepalanya.


"Aku akan membukanya nanti. Terimakasih Mert sudah memberikan kaleng ini padaku. Kurasa kau dan Ted saling berteman baik di penjara. Aku ikut berdukacita atas meninggalnya temanmu itu," ucap Hazal.


"Apa hubungan mu dengan Ted Baxter? Apa kau istrinya?" tanya Mert yang heran kenapa Ted memberikan barang miliknya kepada Hazal.


"Kami bertemu karena sebuah takdir, sekitar dua puluh tahun yang lalu. Ted Baxter adalah pembunuh orang tuaku," jelas Hazal.


Perkataan Hazal tentu saja mengejutkan Mert. Tak lama kemudian, Hazal berpamitan dan meninggalkan ruang besuk tersebut.


"Tak bisa ku percaya, seorang pembunuh mempercayakan rahasianya kepada korbannya?" gumam Mert yang kembali masuk ke dalam selnya.


Ketika Hazal menemui Mert, sesuatu telah terjadi di tempat lain.


Kapten Ismail, Yafet, Emir Aksal dan beberapa anggota polisi datang ke tempat persembunyian Alfred. Sebuah rumah kecil yang terletak di pinggiran kota Istanbul. Beberapa orang ini berjaga-jaga di sekeliling rumah.


Seorang petugas polisi yang tidak dikenali oleh Alfred menyamar sebagai pengantar makanan cepat saji. Petugas itu mengetuk pintu rumah berulang kali. Tetapi tidak ada jawaban dari dalam.


Petugas polisi itu menempelkan wajahnya di jendela yang terbuka keluar bagian bawahnya. Ada sebuah celah kecil untuk melihat kondisi yang ada di dalam rumah. Sepasang kaki yang masih mengenakan celana panjang dan terbungkus sepatu tergeletak di atas lantai.


"Apa pria itu sedang tidur? Sangat aneh jika di musim dingin dia tidur di lantai," gumam petugas polisi yang sedang menyamar.


Petugas polisi itu memberikan kode kepada Kapten Ismail dan teman-temannya untuk mendekat. Tanpa suara mereka mendekati petugas polisi tersebut, Kapten Ismail mengintai jendela yang di maksud.


Kapten Ismail mengacungkan jari nya ke atas, membentuk angka 123 untuk memberikan kode kepada pasukannya. Hitungan ke tiga, pintu rumah itu di dobrak oleh Kapten Polisi tersebut.


Pasukan polisi itu menyerbu masuk ke dalam rumah. Diikuti oleh Emir dan Yafet. Tampaklah seorang laki-laki yang tergeletak di lantai membelakangi mereka.


Kapten polisi menggulingkan tubuh laki-laki itu ke arahnya, sekarang terlihat jelas wajah laki-laki itu.


"Alfred!" pekik Emir Aksal yang terkejut melihat wajah pengacaranya.


Sebuah butir peluru melubangi dahinya. Darah segar masih mengalir keluar dari lubang dahinya yang tertembus peluru. Mata dan mulut pengacara itu terbuka lebar, sepertinya sebelum meninggal Alfred telah mengatakan sesuatu kepada orang yang membunuhnya.


Seorang petugas polisi memeriksa waktu kematiannya, tubuh Alfred belum dingin. Waktu kematiannya beberapa menit sebelum petugas polisi tiba di tempat persembunyiannya.


Siapakah yang membunuh pengacara Alfred?


❤️ Bersambung ❤️

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya... terimakasih 🙏😀


__ADS_2