
Di hari yang sama setelah Kenan dinyatakan meninggal dan setelah proses Autopsi selesai dilakukan, Emir Aksal segera membantu proses pemakaman Kenan.
Seakan langit ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh Hazal. Langit yang biru itu tampak berawan, raja siang itu sedang berduka dengan menyembunyikan dirinya di balik awan. Suasana siang yang harusnya sedikit terik, berubah menjadi mendung.
Dengan pakaian serba hitam, Hazal mengayunkan langkahnya dengan berat memasuki area pemakaman. Ia memegang pigura foto Kenan yang baru saja menjadi suaminya tidak lebih dari satu jam. Tatapan matanya kosong dan wajahnya terlihat sembab. Ia terus bergumam dalam hatinya setiap kali kedua kakinya melangkah. Mengulang setiap perkataan yang sama.
Jangan hukum aku, Kenan. Jangan hukum aku seperti ini....
Suatu penyesalan yang tidak dapat Hazal lupakan seumur hidupnya. Secara tidak langsung dirinya yang telah menyebabkan Kenan meninggal. Suaminya telah mengorbankan nyawanya untuk melindunginya.
Langkah kaki Hazal dan orang-orang yang mengiringinya terhenti di depan pusara DILARA FALLAY, ibu kandung Kenan. Hazal menguburkan jasad Kenan di samping pusara ibunya, istri Harun. Ia berlutut di depan batu nisan yang berwarna abu-abu tua itu.
Ibu mertua, meskipun aku tidak mengenalmu. Tapi aku yakin, bahwa ibu adalah wanita yang baik. Maafkan kesalahan ibu kandungku yang telah membuat ibu tidak dicintai oleh suami ibu sendiri.
Hazal meneteskan air matanya, dan memejamkan kedua kelopak matanya ketika dia mengingat surat-surat yang di tulis oleh ibunya kepada Harun.
Ibu mertua, terima kasih... karena ibu telah melahirkan seorang putra seperti Kenan. Maafkan aku... karena keinginan balas dendam ku kepada Harun, putramu itu harus meninggal. Maafkan aku, yang belum membahagiakan Kenan di akhir hidupnya.
Hazal berlutut sambil memeluk erat pigura foto Kenan, bibir dan tubuhnya bergetar. Meskipun ia hanya menangis dan tidak bersuara, tetapi semua orang tampak mengerti dengan isi hatinya saat ini. Puluhan orang ikut mengiringi kepergian almarhum Kenan.
Hazal hanya menatap masygul peti mati almarhum suaminya yang sudah masuk ke liang lahat, dan meratapi butiran pasir dan tanah yang makin lama menutupi peti mati yang memisahkan dirinya dan Kenan untuk selamanya.
Cairan bening itu mengalir deras membasahi wajahnya, bibirnya tampak bergetar hebat, hidung mancungnya memerah menahan duka nestapanya.
Acara pemakaman almarhum Kenan telah selesai, para pelayat mulai menabur bunga di atas gundukan tanah dan beranjak dari pusara Kenan. Mereka mengucapkan belasungkawa kepada Hazal, tetapi putri angkat Emir itu tidak menanggapi mereka. Pandangan matanya kosong menatap batu nisan yang sudah tertulis nama almarhum suaminya.
"Hazal, mereka ingin mengucapkan belasungkawa kepada mu," ucap Emir sambil terduduk di samping Hazal dan menyentuh pundaknya. Tetapi putri angkatnya itu tidak bergeming, bahkan menoleh kepada Emir pun tidak.
Emir hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menghembuskan napasnya. Akhirnya Emir yang membalas ucapan para pelayat tersebut.
Satu persatu para pelayat itu pulang ke rumah mereka masing-masing. Kapten Ismail berjalan menghampiri Hazal, ia ingin mengucapkan rasa belasungkawanya.
"Dia tidak akan mendengar perkataan mu, ia masih bersedih saat ini," ucap Emir yang berdiri di samping Hazal.
__ADS_1
"Aku turut berdukacita, Tuan Emir," ujar Kapten Ismail sambil mengulurkan tangannya kepada Emir Aksal.
"Ya. Terimakasih. Tapi, ada satu hal yang ingin aku tanyakan kepada mu," kata Emir sambil membalas uluran tangan sang Kapten.
Kapten Ismail hanya berdeham, mempersilahkan Emir untuk bertanya kepadanya.
"Kenapa kau dan pasukan mu tiba-tiba muncul di gedung pernikahan? Apa sebenarnya kau sudah mengetahui rencana Harun sebelumnya?" tanya Emir sambil menyipitkan kedua matanya menatap wajah Ismail.
"Aku tidak tahu rencana Harun. Semua ini adalah rencana almarhum, ia meminta ku untuk menjaga gedung pernikahan itu. Kenan hanya memberi instruksi, jika terdengar suara tembakan, maka aku dan pasukan ku harus segera masuk ke dalam," jelas Ismail sambil memasukkan kedua tangannya di dalam saku jaket hitamnya.
Emir menepuk pundak sang Kapten dan menganggukkan kepalanya. "Kapan kira-kira Harun akan di sidangkan?"
"Mungkin satu atau dua minggu lagi, pihak kepolisian masih menyempurnakan berkas dan alat bukti," jawab Kapten Ismail yang kemudian berpamitan kepada Emir.
Pembicaraan mereka itu di dengar oleh Hazal, matanya menyiratkan kebencian yang sangat dalam begitu ia mendengar nama Harun disebut. Telapak tangannya mengambil tanah yang ada di bawah lututnya, di kepalnya tanah itu dalam genggaman tangannya dengan sangat kuat, hingga tanah itu keluar dari sela-sela jari jemarinya.
Kau akan menjadi seperti ini, Harun! Aku bersumpah aku akan menghancurkan hidup mu sampai kau memohon pengampunan kepada ku!
Yafet yang sejak tadi berdiri di belakang kerumunan para pelayat, mulai melangkahkan kakinya mendekati pusara Kenan. Ia menaburkan bunga mawar di atas gundukan tanah tersebut kemudian berjalan dan berdiri di belakang Hazal.
Hari sudah menjelang sore, Meral mengajak keluarganya untuk segera pulang.
"Hazal, ayo kita pulang. Besok kau bisa datang ke sini lagi," ucap Meral sambil menyentuh pundak Hazal. Ia melihat langit sudah mulai gelap karena mendung.
Putri angkatnya itu berdiri dengan perlahan, ia masih ingin berada di pusara suaminya. Tetapi waktu tidak mengijinkannya. Dengan berat hati, Hazal berjalan meninggalkan gundukan tanah yang masih basah itu.
Selama dalam perjalanan pulang ke rumah, Hazal hanya terdiam. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Begitu juga setelah ia sampai di rumah, ia langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengunci dirinya.
"Biarkan dia dulu, dia masih sedih dan syok saat ini," kata Emir yang menjawab ekspresi wajah Meral dan Yafet yang penuh tanda tanya dengan sikap Hazal.
Di dalam kamarnya, Hazal kembali menangis di atas ranjangnya. Mengingat setiap hal yang ia lakukan bersama Kenan. Meskipun terlambat baginya untuk menyadari dan membalas cinta suaminya.
Aku baru saja menyerahkan seluruh perasaanku kepadamu, tapi kenapa kau pergi secepat itu, Kenan... Kenapa semua orang yang ingin melindungi ku berakhir dengan sangat menyedihkan? Ibuku dan kau....
__ADS_1
Kantor Polisi
Berita kematian Kenan terdengar di telinga Harun yang saat ini mendekam di penjara Kantor Polisi Pusat. Seorang pengacaranya memberikan informasi kepada nya, ketika membesuk rubah tua itu.
"Siapa yang mengurus pemakaman Kenan?" tanya Harun dengan raut wajah yang masih mengeras.
"Tuan Emir Aksal dan istri Tuan Kenan," jawab pengacara Harun yang duduk di depan pria paruh baya itu.
"Hazal?" Harun memicingkan kedua manik matanya. "Dimana dia menguburkan putra ku?"
Manik mata Harun memerah dan tangannya mulai mengepal ketika mengetahui bahwa putri musuhnya yang telah memakamkan Kenan. Ia tidak rela jasad terakhir anaknya di sentuh oleh keturunan Erkan.
"Di samping pusara istri Anda," jawab pembela Harun itu sambil menunjukkan sebuah foto yang ada di ponselnya.
Harun mengusap wajahnya dengan keras, melihat foto pusara Kenan dan batu nisannya yang telah terpasang.
"Kau satu-satunya penerus ku, Kenan. Seharusnya kau tidak jatuh cinta pada putri Erkan itu! Sekarang aku harus kehilangan dirimu!" seru Harun yang berbicara di depan foto pusara Kenan.
Ini bukan salah Ayah! Ini semua karena wanita itu! Keturunan pecundang dan wanita pengkhianat!
"Kapan aku akan di sidang?" tanya Harun sambil meletakkan ponsel pengacaranya di atas meja.
"Jadwalnya belum keluar, sepertinya pihak kepolisian sedang menyelesaikan berkas Anda. Kemungkinan besok mereka akan memulai menginterogasi Anda, Tuan," jelas sang pengacara yang berumur sekitar empat puluh tahun dengan sopan.
"Buat kasus ku menjadi pembunuhan tidak di sengaja. Katakan pada polisi dan kepada Hakim bahwa aku tidak sengaja menembak putra ku sendiri. Kau mengerti!" seru Harun sambil mencengkram kerah kemeja pengacaranya.
"Baik, Tuan Harun. Aku akan membuat hukuman Anda diperingan," ucap sang pengacara dengan ketakutan.
"Bukan diperingan, bodoh! Tapi bebaskan aku dari sini! Aku akan membayar mu sebanyak yang kau mau, asal kau bebaskan aku dari tempat terkutuk ini!" geram Harun kemudian ia melepaskan cengkeramannya dari kerah kemeja sang pengacara.
Setelah berbicara dengan pembelanya, Harun segera masuk ke dalam ruang tahanannya. Ia berada di sel yang sama yang pernah di huni oleh almarhum Ted Baxter.
🔥 Bersambung ❤️
__ADS_1
Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏