
Malam itu mobil sport hitam itu langsung berhenti di sebuah Rumah Sakit yang terletak di pusat kota. Yafet segera mengangkat Hazal masuk ke dalam.
"Dokter...! Suster...!" teriak Yafet dengan keras. Ia tidak peduli tatapan banyak orang yang berpikir ia sedang membuat keributan.
Pria itu melihat wajah Hazal yang bersimbah darah segar saat ini. Yafet mengulangi lagi teriakannya baru kemudian beberapa tenaga medis segera menghampirinya sambil membawa sebuah brankar.
Mereka segera membawa Hazal ke ruang UGD, seorang suster meminta Yafet agar mengurus administrasi dan menunggu di luar.
"Tolong selamatkan nyawanya Dokter! Aku akan membayar berapa pun asal kau selamatkan dia!" pekik Yafet sambil mencengkeram pemilik baju putih tersebut. Otot-otot di wajahnya tampak menegang.
Yafet segera mengurus segala administrasi Hazal. Pria itu sangat panik setelah bayangan kecelakaan itu terjadi. Ia tidak bisa duduk tenang sedetikpun saat ini. Ia hendak menghubungi orang tuanya, tapi keinginan itu segera diurungkannya. Orang tuanya pasti akan khawatir begitu mendengar sesuatu telah terjadi pada Hazal.
Satu jam kemudian, tirai berwarna hijau itu terbuka. Dokter segera keluar dari ruang UGD sambil melepaskan masker yang menutupi hidung dan mulutnya.
"Bagaimana keadaan Hazal, Dokter?" Yafet segera menghampiri dokter berkacamata itu. Ia berusaha untuk tidak terlihat panik.
"Ia hanya mengalami luka di keningnya dan keretakan pada tulang kaki," jelas dokter tersebut.
"Apa aku bisa menemuinya?" Yafet menahan langkah Dokter tersebut.
"Silahkan. Tapi pasien belum sadar, akibat obat pereda rasa sakit yang baru saja diberikan." Setelah memberi penjelasan, dokter itu segera pergi meninggalkan Yafet.
Yafet menghampiri ranjang berwarna putih, pandangan matanya tertuju pada tubuh seorang wanita yang masih memakai pakaian kerjanya. Sebuah perban menempel di sudut kening Hazal dan di kaki sebelah kirinya. Pria itu menggenggam erat telapak tangan Hazal.
Kumohon jangan terjadi lagi seperti dulu. Kau harus segera sadar, Hazal. Bangunlah... buka matamu....
Tangan kirinya membelai lembut rambut Hazal yang tergerai sedangkan tangan kanannya menekan beberapa tombol pada ponselnya. Nada sambung itu berbunyi beberapa kali.
"Kapten Ismail?" tanya Yafet sambil menatap kelopak mata Hazal yang masih tertutup.
"Ya. Ada apa kau menghubungiku Yafet?" Kapten Ismail sedang berada di lokasi kecelakaan Hazal.
"Hazal baru saja mengalami kecelakaan di jalan XXX. Aku ingin tahu apa itu benar-benar kecelakaan atau ada orang yang ingin membunuhnya?" Yafet berjalan sedikit menjauhi ranjang.
Kapten Ismail tampak terkejut begitu ia mendengar perkataan Yafet. "Aku akan menyelidikinya."
"Yafet," panggil Hazal lirih. Kelopak matanya masih tertutup, hanya kedua bibir merahnya yang terbuka.
Pria itu segera menghampiri Hazal dan menggenggam telapak tangan wanita itu dengan erat.
"Aku disini," ucapnya sambil menempelkan punggung tangan Hazal ke wajahnya. Ia memejamkan matanya sebentar.
"Yafet," panggil Hazal lagi dengan suara sedikit berbisik.
"Aku disini," ucapnya dengan manik matanya yang berkaca-kaca. Ia tak tahan melihat Hazal yang terus menerus memanggil namanya.
Hazal mulai mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. Manik mata coklat itu mulai muncul sedikit demi sedikit dan bergerak memutar melihat sekelilingnya. Ia mengenali ruangan itu dari aromanya.
"Aku masih hidup?" tanya Hazal yang melihat dirinya berada di sebuah ruangan yang berwarna putih kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Yafet.
Yafet tersenyum memandang Hazal, "Ya... kau masih hidup. Kau selamat."
__ADS_1
"Kau benar-benar ada di samping ku," ucap Hazal pelan. Tangan kirinya memegang wajah Yafet.
Yafet hanya menganggukkan kepalanya dan mencium punggung tangan Hazal yang masih ia genggam. Ia merasa bahagia bisa melihat wanita itu masih hidup.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa mobilmu meledak dan kau terluka?" tanya Yafet.
Hazal menceritakan kejadian yang ia alami beberapa jam yang lalu. Dirinya bisa selamat karena beberapa detik sebelum truk itu menabrak mobilnya, ia melompat keluar dan berguling hingga ke tepi jalan. Ia merasakan keningnya membentur sesuatu yang keras seperti batu kemudian dirinya tidak sadarkan diri.
"Apa menurutmu ini murni kecelakaan atau ada yang sengaja menabrak mu?" Yafet memicingkan matanya. Instingnya mengatakan bahwa ini bukan kecelakaan.
"Entahlah. Aku tidak bisa melihat wajah pengemudi itu karena mataku terhalang oleh cahaya lampu sorotnya. Jika sopir itu mabuk, masih terlalu awal untuk memabukkan diri," tebak Hazal.
Mereka berdua tampak berpikir tentang apa yang telah terjadi tanpa mereka sadari tiga pasang sepatu melangkah masuk ke ruangan Hazal.
"Ini bukan kecelakaan biasa!" seru Kapten Ismail di dampingi oleh dua orang anggota polisi yang lain.
Setelah menerima laporan dari Yafet, Kapten Polisi itu segera memeriksa kamera CCTV di jalan XXX dan menunjukkan video itu kepada Hazal dan Yafet.
"Kami sudah berhasil menangkap sopir truk itu dan orang yang menyuruhnya. Mereka berdua mengakui perbuatannya itu atas perintah Harun Fallay," jelas Kapten Ismail.
Yafet segera bangkit berdiri dan hendak keluar, tetapi Kapten Ismail segera menahan tangannya.
"Tenangkan dirimu!" hardik Ismail.
"Apa aku bisa tenang? Meskipun Harun di penjara, Hazal belum juga aman!" pekik Yafet dengan raut wajahnya yang penuh dengan ketegangan.
"Apa yang kau lakukan akan tambah memperkeruh keadaan. Serahkan semuanya kepada polisi. Besok lusa Harun akan disidang, Hazal pasti akan membawa masalah ini ke ruang sidang," jelas Ismail sambil menatap wajah Yafet.
Hazal tampak tersenyum penuh makna. "Kau benar Ismail, daftar kejahatannya akan semakin bertambah."
Yafet hanya menghela napasnya dan menggelengkan kepalanya. Ia berjalan dan duduk di samping Hazal. "Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran kalian."
Bagi Yafet, ini bukanlah sekedar menambah daftar kejahatan Harun. Ini seperti sebuah permainan gladiator. Jika kau memenangkan permainan ini, maka kau akan hidup. Tapi jika kau kalah, maka ucapkanlah selamat tinggal pada kehidupanmu.
Kapten Ismail dan dua orang anggota polisi segera berpamitan dan meninggalkan ruangan Hazal.
"Apa aku boleh pulang?" Hazal memalingkan wajahnya ke samping dilihat nya Yafet yang sedang duduk termenung.
"Apa kau sudah merasa baikan?" Yafet berdiri dari ranjang.
Hazal menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Aku akan mencari dokter dan menanyakan kepulangan mu." Yafet segera keluar dan berjalan menuju ke ruangan dokter.
Dokter mengijinkan Hazal untuk pulang ke rumah, tetapi ia harus melakukan rawat jalan dan meminum obatnya. Tulang kaki Hazal mengalami keretakan tapi tidak terlalu serius, dokter menyarankan agar dirinya memakai bantuan kruk.
"Kurasa lebih baik aku menggendong mu menuju ke mobil," ucap Yafet yang melihat Hazal tidak terbiasa memakai tongkat kayu itu. Ia sedikit tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
"Sebaiknya jangan kau lakukan itu! Aku akan terbiasa dengan benda ini." Hazal menekan kedua kruk itu dan melangkahkan kakinya begitu seterusnya.
Yafet membuka pintu mobilnya dan meletakkan kruk Hazal di kursi belakang. Ia segera membantu Hazal untuk duduk di sampingnya. Mobil hitam itu segera berjalan menuju ke rumah.
__ADS_1
Hari sudah mulai larut ketika mereka sudah tiba di rumah. Tanpa menunggu persetujuan dari Hazal, Yafet segera menggendong Hazal ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Yafet, turunkan aku," protes Hazal. Tetapi Yafet masih saja berjalan.
Malam ini orang tua mereka sudah masuk ke dalam kamar. Yafet segera menapaki anak tangga sambil menggendong Hazal.
"Yafet...!" seru Hazal sambil memukul dada pria itu pelan.
"Diamlah! Jangan bergerak atau kita akan jatuh di tangga," ucap Yafet sambil tersenyum. Ia teringat bahwa dirinya dan Hazal pernah mengalami hal ini sebelumnya.
Yafet segera membawa Hazal masuk ke dalam kamar wanita itu dan membaringkannya di atas ranjang.
"Apa kau bisa membawa kruk ku kemari? Aku ingin ke kamar mandi," pinta Hazal.
"Aku akan mengantarmu." Yafet sudah mulai bersiap akan menggendong Hazal kembali.
Hazal menggelengkan kepala. "Please... ambilkan kruk ku di mobil. Aku tidak bisa bergantung padamu terus menerus."
Akhirnya Yafet pun turun ke bawah mengambil alat bantu tersebut.
Setelah selesai membersihkan dirinya, Hazal keluar dengan kedua kruk di tangannya. Ia melihat Yafet berdiri di balkon kamarnya. Pria itu sudah mandi dan berganti pakaian.
Yafet membalikkan badannya ketika ia mendengar suara langkah kruk itu mendekatinya.
"Tidurlah, hari sudah malam." Yafet kembali mengangkat tubuh Hazal dan membaringkannya di atas ranjang.
Dua pasang manik mata itu saling menatap dan terhenti ketika wajah Yafet berada di atas wajah Hazal.
"Yafet, terimakasih buat hari ini." Perkataan Hazal cukup lembut untuk di dengar oleh pria itu. Putra Emir itu tersenyum penuh arti.
"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, kau masih mau berjuang untuk tetap hidup." Perkataan itu mampu menyirami hati Hazal.
"Bisakah kau berjanji padaku?" tanya Yafet sambil membelai rambut Hazal.
"Apa?"
"Kembalilah menjadi Hazal yang kuat. Aku tidak ingin melihatmu lemah seperti kemarin," kata Yafet yang masih membelai rambut Hazal.
Hazal menganggukkan kepalanya dan menunjukkan jari kelingkingnya kepada Yafet.
"Apa kau ingat janji kita sewaktu kau memohon untuk menjadi orang terdekatku?"
Yafet tersenyum mengingat kenangan itu. Kenangan waktu Hazal berumur tujuh belas tahun. Ia segera mengeluarkan jari kelingkingnya juga dan mengeratkannya pada jari kelingking Hazal.
"Aku berjanji padamu bahwa aku akan menjadi wanita yang kuat," ucap Hazal yang tersenyum manis di depan Yafet. Jari kelingking mereka pun terlepas dan mereka saling tertawa di malam itu.
"Tidurlah dengan nyenyak malam ini dan malam-malam berikutnya. Mimpilah yang indah," ucap Yafet yang segera bangkit berdiri dan menyalakan sebuah lampu kecil di dekat Hazal.
"Kau juga. Good night and sweet dream," ucap Hazal sambil menarik selimutnya dan melihat punggung Yafet keluar setelah pria itu memadamkan lampu utama.
🔥 Bersambung ❤️
__ADS_1
Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏