DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Malam Perpisahan


__ADS_3

Malam terakhir sebelum Hazal mengikat janji sucinya bersama dengan Kenan. Setelah selesai menjalankan ritual malam Henna untuk melepas kegadisannya, Hazal berdiri di atas balkon kamarnya.


Angin malam musim semi membuat gaun dan kerudung merah yang menutupi wajahnya melambai-lambai. Ia mengarahkan pandangannya ke awan gelap yang bertabur banyak bintang. Hazal tersenyum dan menyudutkan pandangannya kepada dua bintang besar yang bersinar malam ini.


Ayah... Ibu... besok putrimu ini akan menikah. Meskipun kalian telah tiada, aku ingin berbagi kabar ini dengan kalian. Besok bukan hanya hari pernikahanku saja, tapi hari penentuan hidup ku dan hidup Harun. Aku berharap Kenan bisa menepati janjinya.


Suara ponsel Hazal tiba-tiba berbunyi di dalam kamarnya. Ia masuk ke dalam kamar dan menutup pintu balkon kamarnya. Diambilnya benda tipis berwarna merah itu dari ranjangnya.


"Halo," ucap Hazal setelah menggeser tanda hijau pada layar ponselnya.


"Aku menunggumu di taman belakang rumah," suara Yafet terdengar dari balik ponselnya.


Hazal menurunkan ponsel itu dari daun telinganya ke atas ranjang. Ia melihat gambaran Henna bermotif bunga di punggung tangannya. Ia tidak tahu apakah di perbolehkan seorang calon pengantin wanita menemui pria lain menjelang hari pernikahannya.


Putri angkat Emir itu berjalan mondar-mandir sambil memegang ponselnya untuk beberapa menit. Hatinya ingin menemui Yafet, ia ingin menyelesaikan perasaannya kepada pria itu. Terakhir kali ia bertemu dengan kakak angkatnya itu ketika mereka berdua bertengkar dan berakhir dengan permintaan Yafet meminta dirinya meninggalkannya di kamar.


Hazal menuruni anak tangganya dan melihat ibu angkatnya sedang merapikan beberapa hantaran dari mempelai laki-laki.


"Ibu...," panggil Hazal yang berjalan mendekati Meral di ruang tengah.


"Ada apa, sayang? Kau belum mengganti pakaianmu?" tanya Meral yang menoleh sekilas ke arah Hazal.


"Ibu...." Hazal sedikit ragu mengatakan hal itu kepada Meral.


Meral menegakkan tubuhnya setelah ia selesai dengan kegiatannya. "Apa kau perlu sesuatu?"


"Ibu, apa boleh aku menemui Yafet malam ini? Aku ingin menyelesaikan masalahku dengannya sebelum aku menikah." Hazal menatap wajah ibunya yang masih tertutup oleh make-up.


Meral mengernyitkan dahinya menatap wajah putrinya. Sebagai orang yang lebih tua dan mengetahui kebudayaan dan tradisi Turki, hal itu sangat di larang. Tapi sebagai ibu, ia juga ingin melihat kedua anaknya bisa dengan iklhas melepaskan perasaan mereka masing-masing.


"Baiklah, pergilah. Temui Yafet dan selesaikan masalah kalian," ucap Meral sambil membuka kerudung merah yang menutupi wajah Hazal.


"Terimakasih, Ibu," kata Hazal sambil tersenyum manis kepada Meral. Ia segera berjalan menuju ke halaman belakang rumahnya.


Meral menatap kepergian Hazal dengan wajah sayu.


Di halaman belakang, Hazal melihat begitu banyak lilin yang menyala di sepanjang jalan. Seperti membentuk sebuah petunjuk arah. Lilin itu berada di dalam botol kaca kecil yang berbaris rapi dengan jarak antar botol sekitar tiga puluh sentimeter.


Hazal berjalan mengikuti petunjuk arah dari lilin-lilin itu sambil melihat ke segala arah, mencari sosok Yafet di sekitar tempat itu. Kemudian ia berjalan dan berhenti di samping gudang tempat dirinya dan Yafet bermain petak umpet dulu waktu mereka kecil. Hingga berakhir dirinya terkunci di dalam gudang itu.


Putri angkat Emir itu melihat sosok laki-laki berdiri memunggunginya di bawah cahaya rembulan dan cahaya lilin.


"Yafet," panggil Hazal ketika ia berjalan sambil menjinjing gaun panjangnya mendekati laki-laki itu.


"Akhirnya kau datang." Yafet membalikkan badannya menghadap ke arah Hazal.


Yafet melihat penampilan Hazal dengan gaun merahnya. Sesaat ia merasa bahwa dirinya adalah mempelai pria Hazal saat ini, tapi pikiran itu segera terbang melayang.


"Kau sangat cantik dengan gaun merahmu itu," puji Yafet. "Kenan sungguh beruntung bisa mendapatkanmu."


Wajah Hazal merona mendengar pujian Yafet. Ia memasukkan beberapa helai rambutnya ke belakang telinganya.


"Apa kau sudah...." Hazal menghentikan perkataanya. Ia menunggu reaksi Yafet, apakah rahang Yafet mengeras atau tidak.


"Mengikhlaskanmu?" sambung Yafet. Putra Emir itu tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya.


Hazal memundurkan langkahnya satu langkah, tetapi tangan Yafet memegang tangan kanannya.


"Jangan pergi, aku hanya ingin melihatmu untuk yang terakhir kalinya sebelum kau benar-benar pergi meninggalkanku." Yafet memajukan wajahnya untuk memandang wajah Hazal sedekat mungkin.

__ADS_1


Manik mata Hazal tampak berkaca-kaca. Ia juga mempunyai keinginan yang sama ingin melihat Yafet untuk terakhir kalinya.


"Maafkan aku. Aku tahu sejuta maaf ku tidak akan sanggup menyembuhkan luka yang sudah aku buat," ucap Hazal dengan lirih.


"Apa kau mencintai Kenan?" ucap Yafet pelan dengan sedikit penekanan.


Hazal memalingkan pandangannya dari wajah Yafet.


"Jawab aku... aku hanya ingin mendengarnya langsung dari mulutmu," bisik Yafet di depan wajah Hazal.


"Untuk apa? Aku tidak ingin mengiris kembali luka yang ada di hatimu. Jawabanku tidak akan mengubah keadaan," ucap Hazal sambil memegang kedua pipi Yafet dan menempelkan keningnya ke kening laki-laki itu.


Dua pasang manik mata itu tampak berkaca-kaca saling menatap.


"Setidaknya jika kau tidak mencintainya, aku masih memiliki harapan meskipun itu hanya satu persen," ucap Yafet sambil memejamkan matanya.


Jarak mata mereka hanya terpisah dua sentimeter. Hazal dapat melihat dengan jelas setetes cairan bening itu menggantung di sudut mata Yafet yang tertutup.


Hazal mengusap setetes cairan bening itu dari sudut mata Yafet. "Jalani hidupmu selanjutnya, jangan menungguku dan jangan berharap padaku."


Yafet menggenggam erat kedua tangan Hazal yang menempel di wajahnya, dan menurunkannya ke bawah.


"Aku tidak bisa!" seru Yafet sambil berbisik di gelapnya malam. Ia menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Kau bisa! Kau pasti bisa!" Hazal memegang erat telapak tangan kasar itu. Wajahnya memerah menahan kesedihannya.


"Jangan paksa aku untuk melupakanmu, please!" seru Yafet dengan nada suara dan bibirnya yang bergetar. "Aku tidak akan bisa."


Hazal hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan. Setetes air matanya mengalir membasahi wajahnya yang penuh dengan riasan.


"Ijinkan aku memelukmu untuk terakhir kalinya," pinta Yafet pelan. Ia mengalihkan pandangannya ke pantulan sinar rembulan yang jatuh di kolam renang yang ada di samping belakang Hazal.


Yafet membenamkan wajahnya di pundak Hazal sedangkan Hazal menempelkan wajahnya di bahu tegap Yafet. Tangan berhiaskan henna itu mencengkeram erat pakaian belakang Yafet, dan menahan tubuh tegap Yafet yang bergetar karena kesedihan.


"Aku akan selalu ada untukmu, Hazal. Jika kau menangis... aku akan memberikan bahuku untuk menghiburmu." Yafet mengusap wajahnya yang basah di dalam pelukan Hazal.


"Aku tidak akan meninggalkanmu, sekalipun kau menyuruhku pergi sejauh mungkin atau kau tak ingin melihatku. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu," isak Yafet sambil mengusap punggung Hazal kemudian mengusap air mata wanita yang dicintainya itu.


Bibir merah Hazal bergetar, hidung mancung itu tampak memerah, dan kelopak matanya terlihat sembab. Yafet menempelkan bibirnya di bibir merah Hazal, ia ingin mencium wanita yang dicintainya itu untuk yang terakhir kalinya sebelum wanita itu menjadi milik orang lain.


Yafet membuka mulut Hazal dengan lidahnya, kedua tangannya masuk ke belakang leher Hazal. Bibir Hazal pun terbuka, menerima sentuhan lidah dan bibir Yafet. Ciuman itu semakin dalam dan lembut, ia merasakan lidah dan bibir merah Hazal yang sudah lama tidak ia sentuh.


Sementara Hazal mengusap rambut hitam Yafet, tangannya mulai menyentuh wajah dan leher Yafet dengan lembut. Mereka saling memberi dan menerima lewat sentuhan bibir, lidah dan tangan mereka.


Api cinta itu masih bergelora di antara mereka, sebuah hasrat yang telah mereka pendam kembali muncul di antara mereka. Sekuat apapun mereka berusaha memadamkan api cinta itu, nyatanya api itu masih tetap menyala di hati mereka. Entah kapan api cinta itu akan padam.


Mereka saling melepaskan bibir mereka setelah masing-masing kehabisan napas.


"Ini sudah larut malam, masuklah ke dalam," ucap Yafet yang melepaskan pelukannya.


"Kau?" tanya Hazal yang tidak melihat Yafet akan beranjak dari tempatnya berdiri.


"Aku masih ingin melihat bintang. Masuklah, jawab Yafet.


Dengan ragu-ragu Hazal melepaskan genggaman tangannya dari tangan Yafet, perlahan-lahan. Setelah genggaman tangan itu terlepas, ia segera menjinjing gaun merahnya dan berlari masuk ke dalam rumah sambil menangis.


Yafet menatap punggung Hazal yang makin lama makin menghilang di telan gelapnya malam. Ia masih berharap Hazal membalikkan badannya, tetapi itu tidak terjadi.


Aku tahu kau masih mencintaiku. Ciumanmu masih sama seperti dulu, bahkan kau juga sangat berat melepaskan diriku.

__ADS_1


Setelah Hazal masuk ke dalam rumah, Yafet segera keluar dari rumahnya. Malam ini ia ingin menghabiskan waktunya di ruang kerjanya di hotel AKSAL. Ia tidak ingin menghadiri pernikahan Hazal.


Langkah kaki Hazal berhenti di depan ruang kerja ayahnya. Ia mengusap wajahnya dan berusaha mengatur napasnya kembali. Ia melihat sekelilingnya, sunyi sepi. Orang tua angkatnya sudah masuk ke dalam kamarnya, begitu juga dengan para pelayan. Tidak ada siapapun di sekitarnya.


Hazal berjalan mendekati brankas ayahnya. Ia menekan beberapa angka pada tombol brankas tersebut. Terdengar bunyi klik dari lemari besi itu.


Hazal membukanya dan melihat pistol ayahnya yang pernah diambil Yafet sudah kembali di tempatnya. Ia mengambil senjata api itu dan membuka isi pelurunya.


Peluru itu masih lengkap. Ada sepuluh butir. Hazal mengeluarkan semuanya, ia menyimpan delapan butir peluru di brankas tersebut. Kemudian menutup lemari besi itu kembali.


Manik mata Hazal menatap benda hitam yang ada di tangan kanannya dan dua butir peluru yang ada di telapak tangan kirinya.


"Satu peluru untuk Harun," gumam Hazal sambil memasukkan satu butir pertama ke lubang selongsongnya.


Matanya berkilat memandang satu peluru yang masih tersisa di tangannya. Kemudian ia memasukkan peluru yang kedua ke lubang pistolnya.


Dan peluru yang kedua untuk....


Hazal menghela napasnya dalam-dalam menatap lubang senjata api yang mengarah ke dirinya.


Selamat tinggal semuanya.


🔥❤️🔥❤️🔥


Malam ini di rumah Harun Fallay, rubah tua itu sedang menghembuskan asap cerutunya dari kedua lubang hidungnya. Asap itu membumbung tinggi di atas kepalanya.


Manik mata tua itu menatap langit gelap yang ada di luar. Ia sudah mempunyai sejuta rencana licik di otaknya saat ini untuk membatalkan pernikahan Kenan dan Hazal.


Harun mengambil pistol kesayangannya dari laci meja kerjanya. Mengelap benda hitam itu dengan kain lap berwarna putih. Ia mulai memasukkan satu butir peluru di selongsong senjatanya.


Sepasang mata tua itu menatap tajam lubang peluru yang ada di depannya.


Satu peluru cukup untuk mengirimmu menemui orang tuamu, Hazal Danner! Timah panas ini akan segera menembus dadamu. Kali ini aku akan mencabut nyawamu dengan tanganku sendiri!


🔥❤️🔥❤️🔥


Di malam yang sama, Kenan sedang memainkan penanya di dalam kamar apartemennya. Ia sudah menyiapkan hatinya untuk menjemput pengantin wanitanya dan membawanya ke altar.


Kenan membuka kotak kecil berwarna hitam, sepasang cincin pernikahan sudah ia siapkan untuk mengikat Hazal sebagai istrinya.


Di tengah kesunyian itu, suara ponselnya berdering. Tertera nama Mehmet di layar berbentuk persegi panjang itu.


"Persiapan selesai!" seru Mehmet dari ujung ponsel Kenan.


"Lakukan rencana berikutnya, jangan sampai gagal!" seru Kenan sambil menatap tajam cincin pernikahannya.


Mehmet segera memutuskan panggilannya. Kenan menutup kembali kotak kecil tersebut dan meletakkannya di atas meja bersama dengan penanya.


***


Hazal, Harun dan Kenan sudah memantapkan hati mereka dengan rencana mereka masing-masing untuk menghadapi hari pernikahan besok.


Rencana siapakah yang berhasil?


Selanjutnya 🔥 Dangerous Love ❤️ Boom 🔥


🔥 Bersambung ❤️


Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2