
Catatan Author 😊
Sampai di bab ini, adakah yang bertanya-tanya apa motif Harun membunuh keluarga Danner? Atau kalian hanya fokus pada cinta Hazal? 🤭
Jika ada, selamat untukmu 🌹 di bab ini aku akan membuka Kotak Pandora ku yang pertama. Boom!
Silahkan membaca kisah selanjutnya...
*****************
Sepasang kekasih itu masih duduk di depan tungku perapian yang hampir redup. Kenan bangkit berdiri dan menambah beberapa potong kayu bakar. Kayu itu membuat kobaran api kembali membumbung tinggi.
"Aku mandi dulu," ujar Hazal yang segera berdiri dan masuk ke dalam kamarnya.
Setelah mengecilkan api pada tungku perapian, Kenan masuk ke dalam kamarnya. Laki-laki itu membuka tas kopernya untuk mengambil peralatan mandi dan pakaian barunya.
Ketika ia membuka tas koper berwarna hitam itu, sepasang matanya tertuju pada buku harian Hazal yang ada di tumpukan atas pakaiannya. Kembali ia teringat pada perkataan Selina, tentang rahasia kekasihnya itu.
Kenan menggelengkan kepalanya, ia mengambil buku harian itu dan meletakkannya begitu saja di atas ranjang.
Seharusnya aku tidak membawa buku itu.
Putra Harun itu segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Di tengah guyuran air dingin itu, ada rasa penasaran yang mendorongnya untuk membuka buku tersebut.
Hazal tidak mungkin membohongiku. Ia tidak mungkin berbohong.
Sekali lagi Kenan berusaha menenangkan hatinya yang sedang berkecamuk.
Kenan keluar dari kamar mandi, hanya dengan membalut tubuh bagian bawahnya menggunakan selembar handuk. Ia mengambil kaosnya yang berwarna hitam dan celana panjangnya. Manik matanya kembali melihat buku harian tersebut.
Dengan ragu-ragu Kenan mengambil buku harian itu, menatap setangkai bunga mawar merah yang tergambar di sampul depan. Ia mulai membaca halaman pertama buku itu. Kisah Hazal pun dimulai.
Sementara itu di kamar Hazal, setelah selesai membersihkan dirinya, wanita itu mengambil sebuah setelan baju dan celana panjangnya yang berwarna hitam. Ia menyisir rambut coklatnya yang terlihat sedikit basah.
Hari belum terlalu larut, Hazal menyalakan laptop dan mulai mengerjakan hasil pertemuan bisnisnya tadi siang. Tetapi ada beberapa poin perjanjian itu yang tidak ia pahami, membuatnya berinisiatif untuk menanyakan langsung pada Kenan.
Dilihatnya ruang tengah itu sudah kosong, tidak ada Kenan di sana. Hazal segera mengayunkan langkahnya menuju kamar laki-laki itu. Ia mengetuk pintu kamar dengan perlahan. Tidak ada jawaban. Akhirnya ia memutuskan untuk membuka pintu kayu itu. Manik matanya mulai mencari keberadaan sosok kekasihnya tersebut.
Hazal menjatuhkan buku catatannya, ketika ia melihat Kenan sedang duduk di atas ranjang sambil membaca buku hariannya. Tak salah lagi, buku tebal bersampul putih dengan gambar setangkai bunga mawar merah. Buku harian yang ia kira hilang di dalam rumahnya ternyata ada di sini. Hazal menutup mulutnya dengan kesepuluh jarinya.
Kenan yang menyadari kehadiran Hazal segera menutup buku harian itu, ia menoleh ke arah kekasihnya yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Ba... bagaimana buku itu a...ada ber...samamu?" tanya Hazal dengan gugup.
Putra Harun itu segera berdiri kemudian menghampiri Hazal. Terlihat jelas manik mata abu-abu itu sudah mulai memerah, rahang yang tegas itu terkatup rapat. Tanpa sepatah katapun ia segera mencengkeram tangan Hazal dan menyeret wanita itu ke ruang tengah.
"Kenan, lepaskan tanganmu. Lepaskan tanganmu!" seru Hazal yang menyeret kedua kakinya sambil berusaha membuka cengkeraman tangan laki-laki itu.
Tetapi Kenan tidak memperdulikan perkataan Hazal. Ia masih terus mencengkeram pergelangan tangan yang halus itu.
"Selamat untukmu Nona Hazal, jika kau adalah artis maka aku akan memberikan piala artis terbaik itu kepadamu!" seru Kenan sambil tertawa menyeringai.
Bukan ekspresi wajah bahagia yang ada di sana. Tetapi tersirat sebuah kesedihan, kekecewaan, kemarahan dan sakit hati yang sangat dalam.
Ia melepaskan cengkeramannya, terlihat bekas jari tangannya itu tergambar di pergelangan tangan Hazal.
"Kau menginginkan buku ini?" tanya Kenan sambil menatap tajam wajah Hazal. Ia mengangkat buku harian itu di atas kepalanya.
"Berikan buku itu, Kenan," ucap Hazal sambil sedikit memohon dengan memegang tangan Kenan yang lain.
"Kau mau buku ini?" tanya Kenan sekelai lagi dengan wajahnya yang mulai memerah. "Baiklah, aku akan memberikannya padamu."
"Ambil buku itu!" teriak Kenan sambil melempar buku harian Hazal ke dalam perapian yang masih menyala. Seketika api itu membumbung tinggi ke atas.
"Tidak...!" seru Hazal yang segera berlari mendekati tungku perapian yang masih berkobar.
Lelehan air mata itu keluar dari pelupuk matanya. Tepat di depan kepalanya sendiri, api itu membakar habis lembaran demi lembaran buku yang ia tulis. Ia berlutut meratapi bukunya yang sudah menjadi abu.
Belum puas Kenan membakar buku harian Hazal, ia segera masuk ke kamarnya dan mengambil beberapa keping CD milik Hazal.
Hazal kembali terkejut ketika ia melihat beberapa keping CD yang berjudul Memori Yafet - Hazal ada di tangan Kenan.
"Kenan, kumohon berikan CD itu padaku. Kau sudah membakar buku harianku, kumohon jangan bakar CD itu," ucap Hazal yang bangkit berdiri kemudian mendorong tubuh Kenan untuk menjauh dari tungku perapian.
Mendengar permohonan Hazal, mata hati Kenan menjadi gelap karena rasa cemburu. Ia mendorong tubuh Hazal dengan kasar untuk menjauhinya.
"Kau memohon kepadaku hanya untuk menyelamatkan barang rongsokan ini?" teriak Kenan sambil memicingkan kedua manik matanya. Ia benar-benar kecewa melihat sikap Hazal.
Tanpa peduli dengan tangisan dan jeritan Hazal, Kenan melempar semua CD itu ke dalam api.
Hazal hanya bisa melihat benda berbentuk lingkaran itu telah meleleh di dalam perapian. Air matanya mengalir, seluruh wajahnya mulai memerah. Ia hanya bisa mengepalkan telapak tangannya dan mengatupkan kedua bibirnya.
Kini ia mulai menyadari bahwa Kenan telah mengetahui semua kebenarannya.
__ADS_1
"Apa yang kau tangisi? Kedua benda itu atau cintamu kepada Yafet Aksal?" tanya Kenan yang berdiri di depan Hazal. Ia menatap dingin wajah kekasihnya itu.
Tetapi putri angkat Emir itu diam membisu. Ia hanya menatap manik mata abu-abu itu yang seakan hendak mencabik-cabik jiwanya.
"Katakan dengan jujur, apa kau mencintai Yafet Aksal?" teriak Kenan sambil menatap tajam wanita yang ada di hadapannya.
"Bukankah kau sudah membaca buku harian itu? Kau pasti sudah tahu jawabannya," ucap Hazal sambil memalingkan wajah dinginnya ke arah lain. Ia membiarkan cairan bening itu membasahi wajahnya.
"Aku ingin mendengar sendiri dari mulut mu! Apakah kau mencintai Yafet Aksal?" teriak Kenan menanyakan hal yang sama sekali lagi. Laki-laki itu berjalan mengelilingi Hazal yang berdiri di tengah ruangan.
"Ya. Aku mencintainya," ucap Hazal yang langsung membuat Kenan memukul dinding warna putih yang ada di belakang Hazal, membuat dinding itu retak seketika. Tampak noda merah itu mewarnai punggung tangan Kenan.
Mendengar bunyi pukulan itu membuat Hazal memejamkan kedua kelopak matanya dan menggigit bibir bawahnya.
"Apa kau tidak pernah mencintaiku sedikit pun?" tanya Kenan yang memunggungi Hazal. Laki-laki itu mengepalkan kedua telapak tangannya di atas meja. Napasnya mulai memburu menahan amarahnya.
Hazal masih menutup kelopak matanya, air matanya mengalir tanpa bisa ia kendalikan. Ia menangis tanpa suara. Rahangnya mulai bergetar.
"Jangan tanyakan padaku pertanyaan yang tidak bisa aku jawab," ucap Hazal dengan lirih.
Mendengar jawaban Hazal, hati Kenan terasa tersayat. Ia mendongakkan kepalanya ke atas, menahan agar cairan bening itu tidak jatuh ke bawah. Ia menghembuskan napasnya.
"Ternyata selama ini aku mencintai orang yang salah. Kau hanya berpura-pura mencintaiku! Kau membuat aku seperti orang idiot!" pekik Kenan yang masih memunggungi Hazal.
Hazal hanya diam membisu menatap lemari buku, tanpa mengucapkan permintaan maaf atau menyampaikan pembelaannya.
"Kau membenciku karena aku anak Harun Fallay. Orang yang telah membunuh orang tuamu," ucap Kenan sambil tertawa tetapi ia menahan air matanya. "Betapa bodohnya diriku! Kau bodoh Kenan!"
Kenan melihat ada dua buah pistol yang tergeletak di atas meja, ia membuka pelatuk kedua senjata api itu. Hanya ada satu peluru di sana, itu artinya ada satu pistol yang kosong.
"Katakan kepadaku, apa pesan terakhirmu?" tanya Kenan sambil memainkan dua buah pistol itu di tangannya.
Hazal terkejut mendengar perkataan Kenan.
Apa maksudnya? Apa ia hendak membunuhku? Apa malam ini hidupku berakhir di sini?
Mereka berdua saling membalikkan badan mereka secara bersamaan. Hazal melihat Kenan sedang memainkan pistolnya. Sementara Kenan melihat Hazal memegang beberapa anak kunci.
"Kau ingin membunuhku?" tanya Hazal dengan raut wajahnya yang dingin.
"Apa kau takut?" tanya Kenan yang menodongkan pistolnya ke wajah Hazal.
Hazal hanya bisa berdiri mematung. Ia tidak lari meninggalkan Kenan. Ia masih terus menatap lubang pistol yang mengarah ke wajahnya.
"Katakan!" seru Kenan. Ia melihat Hazal tidak takut menghadapi kematiannya.
Apa kau benar-benar ingin mati?
"Aku ingin tahu kunci apa ini?" Hazal menunjukkan beberapa anak kunci pemberian Mert kepada Kenan. Laki-laki itu mendekati Hazal dan mengambil kunci tersebut.
"Tunjukkan lubang kuncinya padaku!" seru Hazal yang melihat Kenan sedang mengamat-amati beberapa anak kunci itu.
"Setelah aku berhasil membukanya, aku akan menyerahkan nyawaku kepadamu," ucap Hazal melanjutkan perkataannya. Manik matanya menatap dua buah pistol yang ada di tangan Kenan.
Kenan mengenali salah satu anak kunci yang berukiran membentuk kata SWISS. Ingatannya kembali ke beberapa tahun silam, ketika ayahnya memarahinya hanya karena ia mengambil dan menyembunyikan kunci itu di dalam guci.
"Ikutlah denganku!" ajak Kenan. Pria itu masih memegang erat pistolnya.
Kenan dan Hazal memasuki kamar yang ditempati oleh Hazal. Di dalam kamar itu ada sebuah lemari kayu. Tanpa meletakkan kedua pistolnya, Kenan menggeser pintu lemari itu, terlihat di dalamnya sebuah lemari kecil. Ia memasukkan kunci berukiran kata SWISS itu ke dalam lubang kuncinya dan membuka lemari kecil tersebut.
"Ini yang kau mau?" Kenan memundurkan langkahnya, memberi kesempatan Hazal untuk melihat isi lemari kecil itu. Tetapi ia menodongkan salah satu pistolnya ke kepala Hazal.
Hazal membungkukkan badannya, ia melihat beberapa amplop yang ada di dalam lemari itu. Ia mengeluarkan semua isinya dan meletakkannya di atas ranjang. Beberapa buah amplop yang terlihat sudah lusuh dan tua.
Kenapa isinya hanya amplop surat?
Ia kemudian membuka kotak besi pemberian Mert. Di dalam kotak besi itu juga terdapat beberapa amplop surat.
Ini juga sama. Kenapa tidak ada bukti kejahatan Harun di sini?
Ia membaca amplop tersebut. Semua amplop itu tertulis untuk Harun Fallay dan untuk Ayla Rosewood. Ia membuka semua amplop yang ada di atas ranjang dan mengeluarkan isinya. Ia mulai mengurutkan surat itu berdasarkan tanggalnya.
Hazal membaca surat yang pertama.
Teruntuk cintaku Ayla Rosewood,
Ayla, kumohon dengarkan aku. Maafkan aku. Aku terpaksa menikahi Dilara, karena itu keinginan ayahku. Tapi jauh di dalam hatiku, aku masih mencintaimu Ayla. Dari Harun Fallay.
Kenan mengambil surat itu dari tangan Hazal dan membacanya.
"Siapa Ayla Rosewood?" tanya Kenan setelah selesai membaca surat cinta ayahnya. Hazal juga mempunyai pertanyaan yang sama dengan Kenan.
Hazal membaca surat yang kedua.
__ADS_1
Teruntuk Harun Fallay,
Maaf Harun. Aku tidak peduli alasanmu meninggalkanku. Tapi hatiku sudah terlanjur sakit melihat pengkhianatan mu padaku. Dulu aku memang sangat mencintaimu. Tapi ternyata aku salah, ada seseorang yang tidak aku sadari yang jauh lebih menghargai perasaan ku dan peduli padaku. Minggu depan kami akan menikah. Lupakan cintamu padaku karena aku sangat mencintai pria itu. Dari Ayla Rosewood.
Hazal membaca surat yang ketiga.
Teruntuk Ayla Rosewood,
Akhirnya kita bertemu lagi sayang, setelah lima atau enam tahun kita berpisah. Aku mencarimu ke Jerman, tapi ternyata kau menetap di Turki. Ternyata kau menikah dengan seorang pecundang! Aku jauh lebih baik dari suamimu itu! Ayla, aku masih mencintaimu. Ayo kita mulai dari awal. Dari Harun Fallay.
Hazal membaca surat yang keempat.
Teruntuk Harun Fallay,
Maaf Harun. Berhentilah menggangguku dan keluargaku. Aku sudah hidup bahagia bersama dengan suami dan putri kecilku. Kisah cinta kita sudah berakhir. Mengertilah Harun. Dari Ayla Rosewood.
Hazal membaca surat yang kelima.
Teruntuk Ayla Rosewood,
Ayahku baru saja meninggal. Aku akan menceraikan Dilara. Tinggalkan suamimu! Ikutlah denganku ke Swiss, kita akan memulai hidup baru kita bersama. Aku akan menunggumu. Dari Harun Fallay.
Hazal membaca surat yang keenam.
Teruntuk Harun Fallay,
Maaf... aku tidak bisa meninggalkan keluarga ku. Suamiku sudah mengetahui hubungan masa lalu kita. Mari kita sama-sama bertemu di Swiss, kita selesaikan semuanya. Kami akan berangkat tanggal 2 Januari 2000. Aku akan mengabarimu jika aku dan keluargaku sudah tiba di Swiss.
Setelah membaca surat terakhir, Hazal bangkit berdiri. Tak sengaja tangannya menjatuhkan kotak besi pemberian Mert. Kenan memungut kotak besi itu, di dalam kotak itu ada selembar foto.
Kenan mengambil foto itu dan dilihatnya foto seorang wanita muda yang cantik.
"Jadi wanita ini yang bernama Ayla Rosewood! Wanita yang telah membutakan cinta ayahku. Dasar wanita sialan!" teriak Kenan sambil melemparkan foto itu ke ranjang.
Hazal mengambil foto itu dan melihat wajah wanita itu. Tubuhnya tiba-tiba merosot ke bawah dan terduduk di atas lantai.
Ayla Rosewood. Dia adalah....
"Aku akan mencari wanita sialan itu! Karena wanita itu, ibuku menderita sampai akhir hidupnya!" teriak Kenan yang hendak keluar dari kamar.
"Kau tidak akan bisa menemukan wanita itu," ucap Hazal dengan pandangan matanya yang kosong. Perkataannya mampu menghentikan langkah kaki Kenan.
Kenan kembali menghampiri Hazal yang masih terduduk di lantai dengan raut wajah penuh kemarahan pada wanita yang bernama Ayla Rosewood itu.
"Apakah kau mengenalnya? Apa kau tahu di mana wanita sialan itu?" bentak Kenan.
Pertanyaan dan suara bentakan Kenan mampu mengembalikan kesadaran Hazal.
"Dia bukan wanita sialan!" teriak Hazal menatap tajam manik mata Kenan.
"Ayla Rosewood itu adalah ibuku. Ibu kandungku!"
Perkataan Hazal membuat Kenan terkejut. Putra Harun itu tampak lengah dan kebingungan. Hal itu dimanfaatkan oleh Hazal. Wanita itu segera melompat dan mendorong Kenan, membuat pria itu terjatuh ke lantai. Hazal menindih tubuh laki-laki itu, ia terduduk di atas tubuh Kenan.
Dua pistol yang semula di pegang Kenan, terjatuh di lantai. Hazal segera mengambil salah satu pistol tersebut.
"Karena cinta buta ayahmu, ia tega melenyapkan seluruh keluargaku! Ayahmu mengirim seorang pembunuh bayaran untuk menghabisi keluargaku!" teriak Hazal sambil matanya melotot menatap wajah Kenan. Ia menodongkan pistolnya ke arah Kenan yang terlentang di lantai.
Kenan bangkit berdiri dan mengambil pistol yang lain. Pria itu masih terkejut dengan semua rahasia yang telah terbongkar pada malam ini.
"Jadi selama ini kau latihan menembak dengan Yafet Aksal, hanya untuk membunuhku?" tanya Kenan dengan senyum getirnya menatap wajah Hazal.
Kenan tertawa dengan keras. Hatinya sangat hancur melihat kenyataan yang sebenarnya. Wanita yang dicintainya ingin membunuh dirinya. Ia pun menodongkan senjatanya ke arah Hazal.
"Bunuh aku, jika kau mampu membunuhku! Aku adalah anak pembunuh. Bukankah itu nama yang kau berikan padaku?" teriak Kenan dengan manik matanya yang memerah.
Hazal mulai fokus membidik dada Kenan. Seperti yang ia lakukan di tempat latihan menembak. Ia melihat Kenan bagaikan sebuah patung manekin.
"Bukankah kau tadi yang pertama ingin membunuhku? Aku telah membohongimu dan aku adalah anak dari wanita yang paling kau benci! Jangan pernah mencintaiku, Kenan!" teriak Hazal yang akan menarik pelatuknya.
"Dan jangan pernah membenciku, Hazal!" teriak Kenan yang juga akan bersiap menarik pelatuknya, mengarahkan senjata itu ke dada Hazal.
Kedua sepasang kekasih yang sama-sama terluka hatinya itu saling menodongkan senjatanya. Mereka berdua harus menanggung dosa masa lalu orang tua mereka. Salah satu dari pistol itu tidak berpeluru.
Ditangan siapakah pistol yang ada pelurunya itu berada?
Apakah Kenan akan meninggal di tangan Hazal?
Atau Hazal yang akan meninggal di tangan Kenan?
🔥 Bersambung ❤️
Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏
__ADS_1