DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Mengumpulkan Potongan Puzzle


__ADS_3

Di malam yang gelap dan dingin ini. Terlihat sebuah bangunan rumah yang besar dengan halaman depan yang luas dipenuhi oleh berbagi jenis tanaman. Ruman besar dan mewah ini berada di pusat kota di Istanbul. Bayangan bangunan rumah itu di malam hari seperti sebuah tembok benteng kerajaan jaman kerajaan Ottoman.


Bayangan seorang pria bertubuh tinggi besar dan memakai sepatu boot, sedang menapaki anak tangga di dalam rumah itu, satu demi satu anak tangga ia lewati tanpa meninggalkan suara, hingga pria itu sudah berada di lantai atas.


Pandangannya yang tajam menatap pada sebuah pintu kamar dengan tulisan nama Hazal.


Kreeeek.........


Suara pintu kamar terbuka, pria itu berjalan seperti hantu, tanpa suara dan sedikit gerakan. Ditutupnya pintu kamar itu pelan-pelan bahkan seekor kucing pun tidak akan bangun dari ranjangnya.


Di bawah cahaya rembulan yang tipis menyinari sudut kamar itu. Memberikan kilatan di kepalanya yang plontos tanpa rambut sehelai pun. Tampak seorang gadis muda sedang tertidur lelap di bawah selimut merah mudanya.


Pria itu berjalan tanpa suara mendekati gadis muda itu. Dia duduk di ranjang gadis itu. Mengamati wajah seorang gadis muda yang sedang terlelap di dekatnya. Tangan besarnya menyibakkan beberapa helai rambut di wajah gadis itu, sehingga terlihat jelas wajahnya. Sebuah wajah cantik bagaikan patung pahatan. Disentuh nya wajah cantik itu dengan jari tangannya. Perlahan demi perlahan, menyentuh setiap inci dari bagian wajah gadis itu.


"Ternyata kau masih hidup, gadis kecil. Meskipun kau sedang tidur, kau sangat cantik. Sayang kau masih sangat muda. Wajahmu hampir mirip seperti wajah ibumu. Bahkan aku masih ingat wajah ibu mu yang memohon kepadaku untuk melepaskannya"


Ujung jarinya menyentuh bibir mungil gadis itu, perlahan menggaris bingkai bibir merahnya, menyentuh dagunya yang terbelah dengan indah. Kedua bola mata hitam itu memandangi wajah Hazal dengan penuh hasrat, perlahan demi perlahan jarinya nya menyentuh leher Hazal.


Hazal merasakan ada sesuatu yang membuat wajahnya terasa geli, entah itu binatang atau sesuatu yang lain. Di dalam kamarnya yang gelap, kelopak mata nya terbuka, iris mata nya yang berwarna coklat memandang wajah seorang pria dengan alis dan bulu mata tebal berwarna hitam.


Sentuhan jari besar pria itu membangunkan Hazal, dia memegang tangan pria itu yang telah menjelajahi setiap inci wajahnya bahkan hendak menuju ke dada nya. Di singkirkan nya tangan itu dari tubuhnya.


"Siapa kau?" teriak Hazal kepada pria di depannya.


"Aku adalah orang yang kau cari selama ini, aku yang sudah mengirim kedua orang tua mu ke alam baka." suara bariton pria itu terdengar menakutkan.


"Kau........." teriak Hazal dengan keras dan membangunkan dirinya dari alam mimpinya.


*****


Hazal terbangun dari tidurnya. Tubuhnya basah kuyup karena mimpi itu. Dia memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Di topang kan nya dagu nya di atas kedua lutut kakinya.


"Di mana pria itu? Siapa dia? Apakah dia pembunuh itu? Apa itu tadi hanyalah mimpi buruk ku atau benar-benar nyata? Tapi seakan sentuhan pria itu nyata di wajahku."


Hazal berdiri dari tempat tidurnya, dia menyalakan lampu kamarnya, dilihatnya jarum jam masih berada di angka dua. Dia mencoba mengingat kejadian sebelum dia tidur.


"Kemarin malam aku sedang menelepon Yafet, dia marah karena Ozcan. Sebelum itu....di mall...di toilet.....ya....di toilet itu aku bertemu dengan pria yang hampir mirip dengan pria di mimpiku. Suara mereka benar-benar mirip bahkan sama. Atau dia tau di mana aku tinggal?"


"Tidak Hazal...pria yang di kamar ini hanya mimpi...hanya mimpi buruk ku...Mungkin karena aku terlalu memikirkan pria yang aku temui di toilet kemarin. Pria yang aku pikir adalah pembunuh itu. Tapi mungkin juga dia adalah orang nya."


"Sentuhan tangannya yang menggelitik di wajahku, ketika aku memegang tangan nya, ketika aku berbicara padanya, dan dia berbicara padaku. Semuanya nya seperti nyata. Dia seperti ada di dalam kamar ini. Tapi aku tidak bisa melihat wajahnya."


"Sial.....selalu saja seperti itu. Aku tidak bisa melihat wajahnya, oh......."


Hazal kemudian mengambil buku diary nya yang selama ini dia tulis sejak dia berumur dua belas tahun. Tangan nya menulis setiap perkataan pembunuh itu, baik itu di kejadian dalam mimpi dan kejadian dua belas tahun yang lalu. Dia mencoba menggambar setiap potongan-potongan kecil ingatan nya tentang pembunuhan orang tua nya.


Memori lama nya yang terpendam cukup lama. Tragedi pembunuhan orang tuanya di Pegunungan Alpen. Saat ini pikirannya dan tangan nya bekerja dengan sangat keras, dia memejamkan kedua matanya, dan hanya terlihat bayangan-bayangan hitam putih di masa lalu nya. Apapun bentuk nya dia mencoba memahaminya dan menggambarnya di buku diary nya. Dia mencoba mengumpulkan puzzle demi puzzle dalam pikirannya yang berserakan.


"Aaauuuwww......."


Hazal mengerang kesakitan. Dia memegangi kepalanya, pandangannya berputar seakan seluruh perabot dalam kamarnya itu berada di posisi terbalik. Perlahan dia berjalan terhuyung-huyung mengambil obat sakit kepalanya yang di berikan dokter beberapa waktu yang lalu. Di ambilnya sebuah gelas kaca yang berisi air yang ada di atas meja nya.


"Aaauuuwww.......tolong.....sakit.......tolong aku....." teriak Hazal sangat keras karena dia merasakan seperti sebuah palu yang besar memukul kepalanya."


"Prangg......... Bruaaakkkk." sebuah gelas kaca dan botol obatnya lepas dari genggaman tangan Hazal, seiring dengan jatuhnya tubuh Hazal di lantai kamarnya. Hazal tak sadarkan diri.


******


Suara kegaduhan di lantai kamar Hazal membuat kedua orang tua angkatnya yang sedang tertidur lelap di lantai bawah terkejut. Awalnya hanya Meral yang mendengar kegaduhan dan teriakan suara seseorang. Kemudian wanita paruh baya itu membangunkan suaminya.


"Sayang...apa kau mendengar sesuatu?"


"Suara apa? Mungkin seekor kucing...kembalilah tidur."


Suara jatuh nya gelas kaca dan suara jatuh nya tubuh Hazal terdengar di kamar mereka.


"Tidak sayang....seperti ada sesuatu yang terjatuh di kamar Hazal. Suara nya sangat keras." kata Meral kepada suaminya yang sedang tidur di sebelahnya.


" Apa kau yakin? Itu dari kamar Hazal?" Emir yang masih setengah tertidur, membuka kelopak matanya.


"Ya Emir....suara itu dari kamar Hazal. Kamar Hazal tepat ada di atas kamar kita. Sayang, ayo kita lihat apa yang terjadi !"

__ADS_1


Pasangan suami istri yang sudah memasuki kepala lima itu berjalan keluar kamar dan menaiki tangga rumah mereka. Tidak terdengar suara keributan dari kamar Hazal. Sunyi di malam yang menjelang subuh ini. Mereka berjalan ke kamar Hazal, perlahan membuka pintu kamar putri mereka.


"Hazal.......!!!" teriak suami istri itu bersamaan. Mereka berjalan mendekati tubuh Hazal.


"A...apa yang terjadi?" Meral menutup mulutnya melihat tubuh Hazal yang sudah terjatuh di lantai, pecahan kaca dan beberapa butir obat berserakan di mana-mana. Tangan gadis itu berlumuran darah terkena pecahan kaca.


Meral menopang kepala Hazal di pangkuannya, wanita itu menepuk pipi Hazal dengan pelan, agar Hazal tersadar. Tetapi gadis itu masih menutup kelopak matanya, Emir memeriksa denyut nadi nya, ternyata Hazal masih hidup.


Segera Emir keluar dari kamar Hazal dan mengambil pesawat telepon yang ada di lantai atas. Dia menghubungi rumah sakit untuk mengirim mobil ambulans. Di panggilnya kepala pelayan dan penjaga rumahnya untuk mengecek kamera pengawas yang ada di dalam rumah ini. Ayah angkat Hazal ini ingin mengetahui apa ada seseorang yang masuk ke dalam rumah dan hendak mencelakai Hazal.


Beberapa menit kemudian, mobil ambulans telah sampai di rumah keluarga Aksal. Tim medis membawa Hazal ke rumah sakit. Sedangkan Emir dan Meral mengikuti mereka dari belakang menaiki mobil pribadi Emir.


Di dalam mobil, Meral mencoba menghubungi Yafet. Dia melihat jam di ponsel nya, saat ini sudah pukul empat subuh. Saat ini di New York sekitar pukul delapan malam.


"Halo, ibu. Ada apa ibu menelepon ku sepagi ini?" ucap Yafet yang menjawab telepon dari ibunya.


"Hazal....dia...." suara Meral terdengar gugup.


"Hazal? Ada apa dengan Hazal, ibu?" suara Yafet terlihat khawatir. Pria itu berdiri dari ranjang tempat tidurnya.


"Hazal terjatuh di kamarnya, dia tidak sadarkan diri. Saat ini ayah dan ibu sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit."


"Apa???" suara Yafet terdengar serak begitu mengetahui apa yang sudah terjadi pada Hazal.


"Aku akan segera pulang ke Istanbul." seru Yafet kepada ibunya.


"Tidak.....kau tidak perlu pulang ke sini. Nanti ibu akan memberitahu mu tentang perkembangan kondisi Hazal. Pikirkan studi mu."


"Tidak, Bu...aku akan memesan tiket penerbangan sekarang juga." seru Yafet yang tidak sabar untuk melihat kondisi Hazal.


"Yafet....dengarkan ibu mu !!!" teriak Meral di ponsel nya. Tetapi Yafet telah memutuskan panggilan nya dan menutup ponsel nya.


"Ada apa? apa yang Yafet katakan?" tanya Emir yang dari tadi hanya mendengarkan pembicaraan istri dan anak nya. Dia sedang fokus menyetir mobil nya.


"Dia akan pulang ke Istanbul." jawab Meral.


********


Tetapi ketidak beruntungan nya terjadi lagi di malam hari ini. Yafet tidak bisa mendapatkan tiket penerbangan ke Istanbul. Seluruh maskapai penerbangan ke Istanbul telah penuh sampai dua minggu ke depan.


"Arrggh.......sial.....sial......!!" umpat Yafet


"Di saat Hazal terluka, aku tidak bisa berada di sampingnya."


*******


Di Rumah Sakit


Hazal terbaring lemah di ranjang ruang VVIP. Kedua kelopak matanya masih tertutup. Jari telunjuknya bergerak sedikit demi sedikit di dalam balutan perban. Terdengar beberapa kalimat yang terucap di bibir mungilnya.


"Jangan......kumohon jangan bunuh ibu ku."


"Kumohon......"


"Tidaaaaakkkk........ibu......bangun Bu...jangan tinggalkan aku."


Meral yang sejak tadi berada di samping Hazal, berusaha menggoyang tubuh putri angkatnya, agar gadis itu bangun dari mimpi buruknya


Hazal terbangun, air mata nya mengalir. Dia melihat ibu angkatnya ada di sampingnya dan memeluknya. Meral mengusap punggung putri kesayangan nya itu.


"Kau mimpi buruk, sayang."


"Di mana ini, ibu?"


"Kita ada di rumah sakit. Kau terjatuh di kamar mu, tangan mu penuh luka akibat pecahan gelas, kau tidak sadarkan diri."


"Di mana pria itu?"


"Pria siapa? Apa tadi ada seseorang yang masuk ke kamar mu?"


"Entahlah, ibu. Aku juga tidak yakin jika pria itu nyata atau hanya mimpi buruk."

__ADS_1


"Itu tidak nyata, sayang. Baru saja kau juga berteriak dalam tidur mu. Kau memohon pada seseorang untuk tidak membunuh ibu Ayla."


"Tapi....itu seperti nyata, ibu. Aku melihat pria itu menodongkan pistolnya ke arah ibu Ayla, pria....pria itu menembak ibu ku...." ujar Hazal yang menangis dalam pelukan ibu angkatnya.


"Tenang lah sayang...." hibur Meral yang mengusap air mata putri angkatnya itu.


Terdengar suara langkah kaki berjalan memasuki kamar Hazal di rawat. Mereka adalah dokter dan Emir Aksal.


"Rupanya kau sudah siuman, Hazal. Secara fisik tubuhmu sehat, tidak sakit apapun juga. Tapi rupanya kau mencoba membangunkan memori mu di masa lalu yang menjadi penyebab trauma itu. Apakah sebelumnya kau mencoba mengingat suatu kejadian yang lalu?" tanya dokter tersebut.


Hazal menganggukkan kepalanya dan dia memandang ke arah Ayah dan Ibu angkatnya, dengan maksud bertanya, "Apakah dia boleh mengatakan tentang kejadian itu kepada dokter?"


"Katakanlah Hazal." Emir mempersilahkan Hazal menjelaskan tentang apa yang terjadi kepada dokter.


Hazal menceritakan awal pertemuannya dengan pria itu di toilet mall, hingga sampai pria itu masuk ke dalam mimpinya, dan dia mencoba menggambar setiap apa yang dilihat di pikiran nya waktu itu. Kemudian sakit kepala nya kambuh.


"Apakah kau sudah menemukan titik terangnya?" tanya dokter tersebut yang ingin membantu kesembuhan Hazal.


Hazal menggelengkan kepalanya. Sampai saat ini semuanya serba buram.


"Aku akan memberikan obat yang baru." seru dokter kepada Hazal.


"Tidak dokter, aku tidak ingin minum obat. Aku ingin ingatanku segera pulih. Aku ingin mengingat setiap kejadian itu."


"Tapi Hazal.....kau akan mengalami sakit kepala yang lebih hebat, jika kau tetap memaksa pikiran mu untuk bekerja."


"Aku tak apa......aku akan bertahan....asalkan dokter jangan memberiku obat untuk menghilangkan memori ku. Kumohon..." Hazal mengucapkan permohonan itu sambil menangis.


"Baiklah....aku hanya akan memberimu obat penahan sakit kepala saja. Kau bisa meminumnya setiap kepala mu terasa sakit." ujar dokter tersebut. Kemudian dia menulis sebuah resep obat untuk Hazal.


Setelah memberikan resep obat tersebut, dokter itu meninggalkan ruangan Hazal.


Drrt......drrtt........drrt.......


Ponsel Meral berbunyi, ternyata Yafet yang menelepon. Putranya mengatakan bahwa ia tidak mendapatkan tiket pesawat untuk pulang ke Istanbul.


"Bu....apakah Hazal sudah siuman? Bisakah aku bicara dengan Hazal?" pinta Yafet kepada ibunya melalui ponsel.


"Yafet ingin bicara padamu." seru Meral kepada Hazal dan menyerahkan ponsel nya ke tangan Hazal. Kemudian pasangan suami istri itu keluar dari kamar Hazal hendak menebus obat di apotik rumah sakit.


"Halo" sapa Hazal.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Yafet.


"Sudah baikan. Hanya sakit kepala saja. Kau tidak perlu terlalu khawatir."


"Bagaimana kau bisa jatuh?"


"Sepertinya aku lupa mengatakan sesuatu kepadamu."


"Sesuatu apa?"


Hazal menceritakan kembali seperti apa yang sudah di katakan nya kepada dokter barusan.


"Apakah kau yakin dia orangnya?" tanya Yafet setelah Hazal menceritakan penyebab sakit kepalanya.


"Aku sangat yakin, Yafet. Pria di toilet itu pembunuh orang tua ku. Mungkin aku terlalu memikirkannya, hingga ia bisa berada dalam mimpiku." seru Hazal mencoba meyakinkan kakak angkatnya itu.


"Apakah kau takut?" Penjelasan Hazal membuat hatinya sangat khawatir akan keselamatan gadis itu. Ingin rasanya dia bisa pulang ke Istanbul, menemani dan menjaga Hazal. Memeluk gadis itu untuk menenangkan hatinya.


"Entahlah....sepertinya saat ini aku belum siap bertemu dengan penjahat itu." ucap Hazal.


"Lebih baik kau jangan keluar rumah sendirian, aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu, Hazal." pinta Yafet.


"Baiklah." ucap Hazal menyetujui permintaan kakak angkatnya.


"Istirahatlah....tidurlah. Bermimpi lah yang indah, mimpikan aku dalam tidurmu. Jangan kau mimpikan penjahat itu." goda Yafet.


"Baik lah....aku akan memimpikan mu yang sedang memakai baju dan lipstik ibu. Hahahahahhaha." Hazal membalas godaan Yafet. Mereka berdua tertawa bersama-sama.


❤️ Bersambung ❤️

__ADS_1


Terimakasih buat para readers yang sudah setia membaca novel pertama ku ini. Semoga kalian menyukai tulisan ku ini 🙏🤗🙏🤗


__ADS_2