DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Latihan Menembak


__ADS_3

Di tengah dinginnya malam, Hazal menatap kepergian mobil Kenan yang sudah menghilang di tikungan jalan. Ia mengetuk pintu gerbangnya, salah seorang penjaga rumah berjalan membukakan pintu gerbang rumahnya.


Hazal tersenyum menyapa penjaga rumah tersebut. Seorang pria setengah tua yang sudah lama bekerja di rumahnya. Ia mengayunkan langkahnya memasuki halaman depan rumahnya yang cukup luas. Di selipkannya kedua telapak tangannya di saku blazer nya. Pikirannya masih mengingat kejadian di dalam mobil, ketika ia berciuman dengan Kenan.


Semilirnya angin malam membuat beberapa helai rambut Hazal maju ke depan, ia menggunakan jari telunjuknya untuk memasukkan kembali rambut coklatnya itu ke belakang telinganya.


Di atas balkon kamar, Selina yang melihat Yafet sedang berdiri menghadap ke jalan raya segera menghampiri suaminya itu. Ketika ia sudah berada tepat di belakang punggung Yafet, dilihatnya Hazal yang baru saja pulang.


Oh pantas, kau terus memandang ke depan. Ternyata adik mu baru saja pulang. Sebenarnya kalian itu mempunyai hubungan apa? Aku tak percaya kalian adalah saudara kandung


Terbersit dari dalam pikiran gilanya, untuk mengetes kecurigaannya itu. Dengan cepat ia membalikkan wajah Yafet untuk menghadap dirinya.


Yafet cukup terkejut begitu menyadari bahwa bibir Selina telah mencium bibirnya. Tangan wanita itu mulai memeluknya dan mengusap lehernya. Ia melihat sudut mata istrinya itu melirik ke bawah, ke arah Hazal. Ia berusaha menghentikan ciuman itu, tapi Selina memeluknya dengan erat.


Sayup-sayup terdengar suara di atas balkon kamar Yafet. Hazal mengangkat kepalanya ke atas, melihat balkon tersebut. Ia terpaku melihat Selina memeluk dan mencium Yafet tepat di depan matanya. Hatinya terasa sakit dan sesak. Manik matanya mulai berkaca-kaca. Ia hanya bisa mengepalkan kedua telapak tangannya yang ada di dalam saku blazer nya.


Tampak Selina menyeringai melihat Hazal yang berdiri seperti patung.


Ada apa denganmu Hazal? Kenapa kau diam mematung? Jika kau menangis maka benar dugaan ku


Dari bawah, Hazal melihat senyum licik Selina yang menatap dirinya. Ia segera menyadari, bahwa ini hanyalah permainan wanita itu. Dirinya hanya bisa mengepalkan kedua telapak tangannya yang ada di dalam saku blazernya.


"Lepaskan ciuman mu!" teriak Yafet sambil mendorong tubuh Selina ke belakang. Beruntung wanita hamil itu tidak jatuh, tangannya memegang pagar pembatas balkon. Ia segera mengusap bibirnya dari bekas ciuman Selina. Wajahnya langsung meradang melihat kelakuan istrinya. Dilihatnya Hazal masih berdiri di bawah melihat dirinya dan Selina.


"Aku sangat merindukanmu, Yafet." Selina kembali meneruskan permainannya, ia mulai memeluk Yafet dari depan. Sudut matanya masih melihat Hazal, ia sedang menunggu reaksi adik iparnya itu.


Suatu reaksi yang membuat Selina dan bahkan Yafet sendiri terkejut. Hazal tersenyum manis ke arah mereka.


"Kakak ipar, jika kau ingin bermesraan dengan suami mu, lebih baik lakukan di kamar! Jangan lupa tutup jendela dan pintu kamarmu!" teriak Hazal dari bawah.


Teriakan Hazal sukses membuat Selina melepaskan pelukannya dari Yafet. Wajah kakak iparnya itu tersenyum kecut, melihat usahanya tidak berhasil.


Kenapa kau tidak menangis Hazal? Kau malah menceramahi ku!


Setelah puas meneriaki kakak iparnya, Hazal segera melangkah masuk ke dalam rumah. Ia mengusap air matanya yang sempat membasahi manik matanya. Ia bergegas masuk ke dalam kamarnya. Begitu juga Yafet yang meninggalkan Selina di balkon dan hendak keluar ingin menemui Hazal.


"Yafet...!" Kejar Selina sambil menarik lengan baju suaminya.


"Jangan pernah menggangguku! Sebaiknya kau jaga kelakuanmu, sebelum aku mengusirmu sebelum waktunya!" pekik Yafet sambil menangkis tangan Selina dari lengannya.


"Kau akan mengusir ku?" tanya Selina yang terkejut. Tetapi kemudian ia tertawa.


"Apa kau lupa atau sengaja pura-pura lupa? Aku sedang mengandung anakmu! Kau tidak bisa mengusirku dari sini!" balas Selina dengan wajah culasnya.


Yafet segera membuka brankas yang ada di dalam lemari pakaiannya, diambilnya sebuah berkas yang berisi tentang perjanjian pernikahan mereka. Ia melemparkan berkas itu ke wajah Selina.


"Waktumu tinggal beberapa bulan lagi. Begitu anak itu lahir, kita akan bercerai!" seru Yafet kepada Selina.


Selina segera memungut beberapa lembar kertas yang terjatuh di atas tempat tidur. Wajahnya pucat dan tangannya gemetar ketika ia membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di sana. Bahkan sudah ada tanda tangannya di surat perjanjian dan surat perceraian nya.


"Ka... Kapan aku... menandatangani surat-surat ini?" suaranya terdengar terbata-bata. Pupil matanya mulai membesar melihat tanda tangannya bertebaran di setiap halaman. Selina membolak-balikkan lembaran-lembaran kertas itu.


"Tepat saat kita menandatangi surat pernikahan," jawab Yafet dengan santai. Suaminya itu hanya menyandarkan tubuhnya di samping lemari pakaian sambil tersenyum.


Dengan berang Selina merobek berkas itu dan melemparkannya kembali ke wajah Yafet. "Kau takkan bisa menceraikan ku, Yafet Aksal!"


Kini Yafet yang tertawa terbahak-bahak, "Kenapa tidak bisa? Kertas yang kau robek itu hanya fotokopian nya saja. Aku masih menyimpan aslinya."


Selina si iblis wanita itu nampak tersenyum penuh misteri, ia tertawa terbahak-bahak dengan keras bagaikan orang gila.


Yafet mengernyitkan dahinya, kemudian memundurkan langkahnya menjauhi Selina. Kali ini ia telah dibuat bingung oleh tingkah laku istrinya itu.

__ADS_1


"Kenapa kau tertawa, hah? Jika kau benar-benar gila, dengan senang hati aku akan memasukkanmu ke rumah sakit jiwa!" seru Yafet segera keluar meninggalkan Selina yang masih terus tertawa.


Selina menghentikan tawanya ketika ia melihat pintu kamar nya sudah tertutup. Ia melemparkan semua benda-benda yang ada di dekatnya itu ke pintu kayu tersebut. Terdengar suara pecahan kaca dan suara gaduh dari dalam kamarnya. Malam ini ia benar-benar murka karena surat perjanjian itu.


Aku tidak akan pernah membiarkan mu menceraikan ku, Yafet Aksal! Terkutuk kau laki-laki brengsek!


Di dalam kamar Hazal melemparkan tasnya di atas ranjang dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Ia mulai menyalakan keran air untuk memenuhi bathup nya. Ia melepas seluruh pakaiannya dan membiarkan penutup tubuhnya itu berserakan di atas lantai kamar mandi.


Kedua kaki jenjangnya ia masukkan ke dalam bathtub berbentuk oval yang ada di sudut kamar mandinya. Ia membasahi rambut dan seluruh tubuhnya dengan cipratan air yang keluar dari shower. Mengusap wajah nya dan menyibakkan rambutnya ke belakang. Ia menangis sejadi-jadinya. Kini guyuran air itu sama dengan air matanya yang keluar membasahi wajahnya.


"Aku mencintaimu, Yafet! Aku masih sangat mencintaimu!" teriak Hazal sambil menangis di dalam kamar mandinya.


Tubuhnya gemetar karena tangisannya dan karena air dingin yang menyentuh kulit putihnya. Ia menyandarkan dirinya di dinding kamar mandi, rahangnya bergetar dan tubuhnya tiba-tiba merosot ke bawah masuk ke dalam bathup.


Setelah air di bathup oval itu terisi penuh, Hazal mulai sedikit merasa tenang. Ia menuang sabun mandi cairnya itu ke dalam air. Tampak air di bathup itu sudah mulai berbusa. Aroma bunga mawar mulai menyerebak di ruangan tersebut. Ia mulai membenamkan dirinya sendiri di kubangan air sabun.


Kejadian yang baru saja ia lihat, membayangi pikirannya.


Aku harus bisa mengubur cinta Yafet. Aku harus bisa menganggap nya sebagai kakakku. Ini untuk kebaikan semuanya.


Hazal mengangkat wajahnya ke permukaan, ia mengusap wajahnya dan rambutnya yang telah basah. Senyum dan wajah Kenan tiba-tiba terlintas di dalam pikirannya.


Apa yang sudah terjadi dengan ku? Kenapa aku tidak menolak ketika anak pembunuh itu mencium bibirku?


Hazal mengusap bibir merahnya, mengusap leher dan pipinya yang telah di sentuh oleh Kenan.


Ia pasti sama dengan ayahnya. Ia pasti juga bersandiwara seperti ku. Berusaha mendapatkan cintaku, kemudian kau akan membawaku ke hadapan ayahmu. Dengan begitu, ayahmu bisa membunuhku dengan mudah**!


Kembali ia membenamkan dirinya di dalam air. Busa sabun itu telah menutupi wajah dan tubuhnya yang polos tanpa busana.


Aku tidak akan membiarkan Kenan masuk ke dalam hatiku. Aku akan menyelesaikan semua ini. Tanpa cinta dan tanpa air mata. Cinta hanya akan membuatku lemah! Aku akan segera mengakhiri ini semua dan pergi dari sini!


Tangannya memegang tepi bak mandi berbahan keramik itu. Ia kembali naik ke permukaan untuk mengambil oksigen.


Terdengar dari luar seseorang membuka pintu kamarnya. "Siapa?" teriak Hazal dari dalam kamar mandi.


"Ini aku." Suara Yafet terdengar dari luar. Laki-laki itu setelah bertengkar dengan Selina, segera masuk ke kamar Hazal.


"Tunggulah sebentar," sahut Hazal yang segera berdiri dan melangkah keluar dari bath up nya.


Ia menyalakan shower dan membilas tubuh nya hingga bersih. Di ambilnya handuk kimononya kemudian membungkus rambutnya yang basah dengan handuk panjang. Ia membuka pintu kamar mandi.


"Ada apa?" tanya Hazal tanpa ekspresi ketika ia melihat Yafet yang sudah merebahkan dirinya di atas ranjangnya.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Aku menunggumu di mobil," ucap Yafet yang kemudian bangkit berdiri dan meninggalkan Hazal di dalam kamarnya.


Dengan setengah hati Hazal mengganti pakaiannya dengan pakaian kasualnya. Ia membiarkan wajah polosnya tanpa make-up. Segera ia mengambil tasnya dan turun ke lantai bawah dengan langkah gontai.


Suara mesin mobil terdengar dari dalam garasi. Hazal segera masuk ke dalam mobil sport hitam itu yang telah menunggunya sejak tadi. Kendaraan roda empat itu melaju dengan kencang membelah lalu lintas kota Istanbul malam ini.


"Kita akan kemana?" Hazal menatap lurus ke depan. Terlihat sebuah mobil sedan kuno yang sedang melaju berada di depannya.


"Ke sebuah tempat yang bisa meluapkan emosi kita," ucap Yafet datar. Pria itu juga melihat mobil sedan kuno yang sejak tadi menutupi jalannya.


Yafet mengambil jalur kanan, kemudian ia mengubah persneling mobilnya, dan menambah kecepatannya. Kini mobil sport hitam itu sudah menyalip mendahului mobil sedan tersebut.


Mobil sport itu memasuki halaman depan sebuah bangunan satu lantai. Di atas bangunan itu terdapat sebuah papan nama yang bertuliskan nama tempat tersebut. Yafet dan Hazal keluar dari mobil, mereka berdua masuk ke dalam.


"Tempat apa ini?" tanya Hazal ketika ia melihat banyak papan target sasaran tergantung pada sebuah besi di dalam ruangan itu. Ruangan yang kedap suara.


"Tempat latihan tembak!" seru Yafet yang menatap tajam salah satu papan target berwarna hitam.

__ADS_1


Hazal hanya berdiri mematung memperhatikan isi ruangan itu. "Untuk apa kau membawaku ke sini?"


"Agar kau bisa melindungi dirimu." Yafet melangkah mengambil dua buah pistol dan dua buah penutup telinga yang ada di sebuah lemari. Kemudian ia memberikan sepasang benda itu kepada Hazal.


"Aku tahu hatimu pasti sedih melihat Selina yang tadi mencium ku. Meskipun kau tersenyum manis, kau tidak bisa membohongiku," ujar Yafet yang berdiri di samping Hazal. Ia memasang penutup telinganya dan mulai menembak.


Suara tembakan pertama Yafet terdengar, mengejutkan Hazal yang sejak tadi hanya diam membisu mendengar perkataan laki-laki itu. Tepat sasaran. Peluru buatan itu telah melubangi sasaran yang ada di tengah.


"Luapkan isi hatimu pada papan target itu!" seru Yafet sambil bersiap menembak untuk kedua kalinya.


"Aku juga menumpahkan segala kekesalan ku yang melihatmu ada di dalam mobil dengan anak pembunuh itu!" Terdengar suara tembakan kedua dari pistol Yafet.


"Aku tak bisa menggunakan ini!" Hazal menggelengkan kepalanya. "Apa kau lupa bahwa aku masih seorang jaksa?"


"Apa jaksa tidak boleh melindungi dirinya sendiri? Bagaimana jika jaksa itu akan dibunuh oleh musuhnya? Bagaimana caranya seorang wanita melindungi dirinya dari para penjahat?" Yafet menatap tajam ke arah Hazal.


Hazal tahu arah pembicaraan laki-laki itu. Yafet segera memasangkan penutup telinga itu di telinga Hazal.


"Tegakkan tubuhmu! Luruskan pandanganmu! Pegang pistol mu dan arahkan ke papan sasaran itu!" Hazal melakukan seperti perkataan Yafet.


Yafet segera berdiri di belakang Hazal, seakan-akan ia akan memeluk wanita itu dari belakang. Kedua tangannya memegang telapak tangan Hazal yang sedang memegang pistol.


Manik mata mereka saling menatap dan beradu. Sebuah cinta, hasrat, amarah, dan kesedihan terpancar dari dua pasang mata tersebut.


Mereka bersama-sama mengarahkan pistol itu ke papan target yang ada di depan mereka. Suara tembakan itu menggema di seluruh ruangan.


Tembakan Hazal hampir mendekati sasaran. Tapi kurang tepat. Untuk pertama kalinya ia melalukan hal ini. Ia merasakan bagaimana jantungnya berdegup kencang. Bukan karena tubuh Yafet yang menempel di belakangnya, tapi karena suara tembakan yang telah ia buat.


"Lumayan, cukup bagus untuk seorang pemula. Aku akan mengajarimu," ucap Yafet yang kembali memegang telapak tangan Hazal.


Kedua anak Aksal itu melakukan kegiatan itu berulang-ulang. Hingga akhirnya Hazal bisa menembak papan target itu dengan tangannya sendiri. Meskipun masih belum tepat sasaran. Ada perasaan lega di hati Hazal, karena ia telah meluapkan segala emosinya.


Mereka menyudahi latihan malam ini. Yafet mengambil dua botol minuman dingin dari sebuah kulkas yang ada di sudut ruangan.


"Minumlah." Yafet memberikan minuman itu kepada Hazal. Mereka duduk berdampingan di sebuah kursi panjang yang terbuat dari besi.


Hazal membuka penutup botol minumannya dan meneguknya sampai habis. Begitu juga dengan Yafet. Cairan dingin itu benar-benar melepaskan dahaga mereka.


"Bagaimana perkembangan mu dengan Kenan?" tanya Yafet tiba-tiba.


"Ia telah berhasil mencium ku di mobil," jawab Hazal sambil menatap botol minuman yang ada di tangannya.


Yafet terdiam beberapa saat setelah mendengar jawaban Hazal. Kemudian ia berdiri mengambil kembali pistolnya dan menembakkan nya berulang-ulang di papan sasaran. Sorot matanya benar-benar menyala menatap tajam papan hitam berbentuk lingkaran itu.


Hazal segera berdiri dan menghampirinya. Ia memegang tangan kiri Yafet. "Hentikan!"


Yafet segera menghentikan tembakannya. Ia menatap wajah Hazal dalam-dalam. Selama ini ia berusaha menjaga wanita yang dicintainya itu. Tetapi karena permainan ini, ia harus melihat laki-laki lain menyentuh bibir wanita yang dicintainya.


"Kita hentikan saja permainan ini! Jauhi Kenan! Kita bisa memikirkan cara yang lain untuk menghancurkan Harun Fallay!" seru Yafet sambil memegang kedua lengan Hazal.


"Aku tidak bisa!" balas Hazal sambil menggelengkan kepalanya pelan. Ia melepaskan tangan Yafet yang memegang lengannya dan berjalan membelakangi laki-laki itu.


"Tapi kenapa? Apa kau sudah mulai mencintai anak pembunuh itu?" selidik Yafet yang membalikkan badannya menghadap punggung Hazal.


"Aku sudah kepalang basah memainkan permainan ini. Aku juga sudah mengirim Mert ke sarang Harun. Jika aku mundur, maka aku akan memulai lagi dari nol!" seru Hazal.


Di tengah-tengah perdebatan mereka, tiba-tiba suara ponsel Hazal berdering. Yafet mengambil tas Hazal yang ada di dekatnya, dan mengambil ponsel berwarna merah itu.


Raut wajah Yafet mengeras, begitu ia melihat satu nama Kenan yang tertera di layar ponsel Hazal.


❤️ Bersambung ❤️

__ADS_1


Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian 😊 Biar aku makin semangat menulis ceritanya 😆 Terimakasih 🙏🤗


__ADS_2