
Setelah mengucapkan selamat kepada Yafet dan Selina, Hazal melangkahkan sepasang kakinya keluar dari gedung catatan sipil. Melihat kepergian Hazal, Carina dan Lee dengan cepat mengikuti
putri angkat Emir itu dari belakang. Yafet hanya melihat punggung mantan kekasihnya itu menghilang secara perlahan, tertutup oleh kehadiran beberapa orang yang menghalangi pandangannya.
Hazal menghentikan langkahnya ketika
ia sudah berada di samping mobilnya, tangannya meremat gaun putih yang di
kenakannya saat ini. “Hazal…,” kata Carina dan Lee yang segera menghampirinya.
“Kau tak apa-apa kan?” tanya Lee.
“Aku baik-baik saja, kalian jangan
khawatir. Aku hanya ingin sendiri dulu,” ucap Hazal yang segera masuk ke dalam mobilnya. Lee dan
Carina hanya berdiri melihat kepergian Hazal.
“Kenapa kau tidak memberitahuku, jika kalian
akan datang?” tanya Lee yang berjalan di samping Carina, mereka berdua kembali masuk ke gedung catatan sipil itu.
“Sebenarnya Hazal tidak ingin datang, tapi
mendadak dia berubah pikiran. Semoga dia bisa menerima semua ini,” jawab Carina.
Setelah selesai acara pernikahan yang amat
sederhana ini, seluruh tamu dan keluarga pun meninggalkan gedung catatan sipil ini.
“Jangan memberi ucapan selamat kepadaku,” tolak Yafet ketika teman-temannya akan
mengulurkan tangan mereka kepadanya. Putra Emir itu segera meninggalkan teman-temannya
dan masuk ke dalam mobilnya sendiri. Selina tampak geram melihat sikap Yafet yang langsung
pergi meninggalkanya sendirian di mobil pengantin.
Melihat sikap Yafet yang langsung pergi meninggalkan gedung, orang tuanya hanya bisa mengelus dada.
"Yafet tidak akan bahagia hidup bersama dengan wanita asing itu," sesal Meral yang berdiri di belakang kursi roda suaminya.
"Ini semua untuk melindungi Hazal dan anak dalam kandungan Selina, anak itu darah daging keluarga Aksal." Emir juga mencoba menerima semua ini.
"Tapi keputusan yang kita buat ini akan membuat anak-anak kita tidak bahagia," ucap Meral sambil mendorong kursi roda suaminya.
"Nasi sudah menjadi bubur, tidak ada yang perlu di sesali lagi." Emir menepuk-nepuk punggung tangan istrinya.
Hazal menghentikan mobilnya di depan taman yang pernah ia datangi sebelumnya, setelah
pertengkarannya dengan Yafet. Ia benar-benar ingin menyendiri dan menenangkan perasaannya.
Hembusan angin musim dingin menerpa wajah dan rambut coklatnya, ketika ia keluar dari mobilnya. Ia melihat pemandangan taman dan danau buatan itu. Terasa begitu indah dan menentramkan jiwanya.
Aroma pohon pinus menembus masuk ke dalam indera penciumannya, dengan memejamkan kedua matanya, ia merasakan suasana damai di hatinya.
Aku putri Danner... aku kuat...aku sekuat ayah dan ibuku...
Berulang kali Hazal mengucapkan kalimat yang sama, seperti sebuah mantra yang memberikannya kekuatan.
Hazal berdiri cukup lama memandangi
pemandangan alam yang ada di depannya, tiba-tiba sebuah mobil warna hitam berhenti di samping mobilnya. Laki-laki muda itu melepas kacamata hitamnya, menghampiri Hazal dan berdiri di samping wanita itu.
__ADS_1
“Kenapa kau memaksakan dirimu untuk
datang?” tanya Yafet tanpa menatap wajah Hazal.
Hazal membuka kedua kelopak matanya, mengijinkan manik mata coklat itu memandang pohon-pohon pinus yang sudah tertutup oleh salju yang tebal.
“Ayah sudah menjelaskan semuanya padaku, kau
tak perlu mengkhawatirkan aku. Aku bisa menjaga diriku sendiri."
Yafet menghembuskan napasnya, kepulan asap
dingin keluar dari lubang hidungnya. Ia dan Hazal kini seperti dua orang asing yang tidak saling kenal, pernikahan Yafet membuat mereka seakan terpisah dengan sebuah jurang yang sangat dalam.
"Pulanglah... udara di luar sangat dingin. Kau tidak mengenakan mantel mu," ujar Yafet yang segera melepas mantel nya dan memasangnya ke tubuh Hazal. Ia merapikan mantel hitam yang terlihat longgar di tubuh mantan kekasihnya.
Tatapan mata mereka saling bertemu, sepasang mata elang itu masih merindukan sepasang manik mata coklat yang ada di depannya.
"Maafkan aku..., aku lebih memilih melepas mu daripada memperjuangkan cinta kita," ujar Yafet sambil memegang kedua telapak tangan Hazal.
Hazal hanya diam membisu, menatap wajah pria itu. Hembusan angin menerbangkan rambut hitam pria yang ada di hadapannya.
"Maafkan aku..., yang telah membuat luka di hatimu." Yafet meminta maaf untuk yang kedua kalinya.
Jari telunjuk Hazal menutup bibir Yafet. "Kau tak perlu minta maaf. Aku sudah rela... melepaskan mu... Aku merelakan dirimu... menjadi suami Selina."
"Aku masih tidak rela, Hazal...," jerit Yafet yang langsung menarik tubuh Hazal masuk ke dalam pelukannya.
"Kau tahu, bahwa aku masih sangat mencintaimu," ucap Yafet sambil mengusap rambut dan punggung Hazal.
"Lupakan aku... lupakan semua tentang kita," isak Hazal sambil mencengkram jas belakang Yafet.
"Hazal...."
"Yafet...."
"Aku memaafkan mu..., kita jalani saja hidup kita masing-masing," ucap Hazal dengan lembut.
"Apa rencana mu selanjutnya?" tanya Yafet.
"Aku tetap akan mencari dalang di balik rencana pembunuhan orang tuaku. Besok adalah hari persidangan Ted Baxter. Yafet berjanjilah padaku...,"
"Apa?"
"Bahwa kau akan hidup bahagia bersama dengan Selina dan anak kalian. Jadilah keluarga yang bahagia dan cintai Selina seperti kau mencintaiku," pinta Hazal sambil memegang kedua pipi Yafet.
Yafet hanya menggelengkan kepalanya, dan menggenggam kedua tangan Hazal.
"Tidak...aku tidak akan melakukan hal itu! Selina hanyalah istriku di atas kertas. Aku tidak pernah mencintainya. Begitu anak itu lahir, aku akan menceraikan Selina!"
"Bagaimana kau tega memisahkan anak itu dari ibunya? Anak itu memerlukan orang tuanya, ayah dan ibunya," ucap Hazal yang terkejut mendengar rencana Yafet.
"Anak itu tidak memerlukan ibu seperti Selina! Setelah aku bercerai, menikahlah denganku, Hazal. Jadilah ibu dari anak itu," pinta Yafet.
"Ini ide gila, Yafet! Ini benar-benar konyol! Aku tidak mau!" seru Hazal yang melepaskan tangannya dari genggaman tangan Yafet.
"Kenapa? Ini jalan keluar yang terbaik untuk kita semua. Tunggulah status dudaku sembilan bulan atau setahun lagi, aku sudah menyiapkan semuanya. Tanpa Selina sadari, aku telah membuatnya menandatangani surat perjanjian itu di meja catatan sipil," jelas Yafet.
Hazal hanya bisa menggelengkan kepalanya, "Bagaimana jika Selina tidak ingin bercerai dari mu? Ia akan melakukan segala cara untuk tetap mempertahankan mu. Stop Yafet...! Jangan buat aku berharap padamu...."
Hazal segera masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan Yafet di taman. Mobil putih itu melaju dengan kencang.
Di dalam mobil, Hazal yang masih syok mendengar rencana Yafet, tiba-tiba dikejutkan oleh suara ponselnya yang berbunyi. Segera ia menghentikan mobilnya di depan sebuah pom bensin.
__ADS_1
Ia mengambil ponselnya dari dalam tas dan melihat beberapa nomor yang tidak ia kenal tertera di layar ponselnya. Tangannya menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya.
"Halo...," sapa Hazal.
"Ini aku..., Putri Danner." Suara bariton itu terdengar di lubang suara ponsel Hazal.
"Ada apa kau menghubungiku?" tanya Hazal sambil tangannya melepas sabuk pengamannya.
"Sebelum sidang, temui aku di penjara. Aku akan memberitahumu siapa yang telah menyuruhku membunuh orang tuamu!" seru Ted Baxter yang kemudian menutup sambungan teleponnya.
Hazal segera menutup ponselnya. Ia masih tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. "Apa yang membuat dia berubah, dan menjadi berpihak padaku?" gumam Hazal.
Hazal segera melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah keluarga Aksal.
Sementara itu di dalam penjara, setelah Ted Baxter selesai menghubungi Hazal. Ia kembali masuk ke dalam sel nya. Teman barunya itu terus mengikutinya kemanapun dia pergi.
"Kenapa kau terus mengikuti aku?"
"Karena aku tidak ingin mereka membunuhmu, aku akan melindungi mu, Pak Tua!" seru tahanan muda itu.
"Pergilah! Lakukan kegiatanmu!" usir Ted Baxter.
"Tidak, Pak Tua!"
"Terserah kau! Tapi jangan ikuti aku, jika aku pergi ke toilet!" Ted Baxter akhirnya menyerah dengan sikap teman barunya itu.
Waktu makan malam di penjara telah selesai, para tahanan kembali masuk ke dalam sel masing-masing.
"Masuklah lebih dulu, aku mau ke toilet. Jangan ikuti aku!" ancam Ted Baxter kepada teman barunya.
Tahanan muda itu berjalan meninggalkan Ted di persimpangan lorong yang akan menuju ke toilet penjara. Pemuda itu masuk ke dalam selnya.
Setelah tahanan muda itu masuk ke dalam selnya, Ted Baxter segera pergi menuju toilet. Tidak seperti biasanya, setelah kegiatan makan malam selesai, biasanya toilet ini selalu ramai. Tapi kali ini, toilet ini sepi. Tidak ada seorang pun di dalam ruangan ini.
Entah Ted sudah menyadati waktu nya akan berakhir, atau memang dia tidak memperdulikan dengan perbedaan suasana ini. Pria gundul itu tetap masuk ke dalam bilik toilet dan melakukan kegiatannya.
Tak lama kemudian, lampu toilet tiba-tiba padam. Ted Baxter membuka pintu bilik nya. Ia tidak terlalu jelas melihat keadaan sekitarnya.
Seseorang tanpa suara, menusukkan sebuah pisau ke perut Ted Baxter. Pisau itu menancap sangat dalam, orang itu melepas pisaunya dan menusukkan pisau itu kembali ke perut Ted Baxter.
Tubuh pria gundul itu pun jatuh bersimbah darah. Ia tidak bisa melihat siapa yang melakukan hal ini kepadanya. Tubuh besar itu tidak bergerak. Lampu toilet itu kemudian menyala. Pembunuh itu menuliskan sesuatu di telapak tangan Ted Baxter menggunakan pisaunya. Setelah memastikan Ted Baxter sudah tidak bernyawa, pembunuh misterius itu keluar dan mengunci pintu toilet dari luar. Dengan sembunyi-sembunyi, ia membuang pisau yang berlumuran darah itu ke tempat sampah yang ada di luar.
Detik demi detik... menit demi menit berlalu. Hampir satu jam tahanan muda itu menunggu Ted Baxter di dalam ruang tahanan. Ia tidak melihat teman tuanya itu di dalam selnya. "Kenapa pak tua itu lama sekali di toilet? Apa dia sedang sakit perut?" gumamnya.
Kedua matanya berputar menghitung jumlah tahanan yang ada bersamanya. "Pemimpin tahanan dan teman-temannya juga tidak ada di sini, jangan-jangan sesuatu telah terjadi pada pak tua!"
Tahanan muda itu segera minta ijin ke sipir penjara untuk pergi ke toilet. Tetapi karena wajahnya yang gugup, membuat sipir penjara tidak mengijinkannya keluar.
"Lepaskan aku! Jika sesuatu terjadi pada Ted Baxter, kau harus bertanggung jawab!" ancam tahanan muda itu.
Petugas sipir itu kemudian melepaskan dan mengijinkan tahanan muda itu pergi ke toilet. Pemuda itu segera berlari, lampu gantung di lorong itu bergoyang-goyang.
Pintu toilet itu tertutup rapat, terkunci dari luar. "Siapa yang mengunci pintu ini?" pekik tahanan muda itu yang memukul dan menendang pintu kayu tersebut berharap pintu itu akan terbuka. Tetapi usahanya tidak berhasil. Dengan mengambil ancang-ancang, ia mendobrak pintu itu. Pintu kayu itu berhasil terbuka.
Dilihatnya tubuh Ted Baxter yang membujur kaku tidak bernyawa, darah segar mengalir dari perutnya dan tercecer di mana-mana. Ususnya hampir terburai keluar. Pemandangan yang amat mengerikan.
"Pak tua...! Pak tua...! Ted Baxter...!" teriaknya nya sambil bersimpuh di dekat raga yang sudah tidak bernyawa itu. Ia tak percaya, malam ini ia telah kehilangan teman terbaik nya selama di penjara. Wajahnya memerah menahan kesedihannya. Tahanan muda itu menyesal, kenapa ia tidak menemani Ted Baxter masuk ke dalam toilet.
Segera ia berlari keluar sambil berteriak-teriak, "Tolong....tolong....ada pembunuhan! Ada pembunuhan di toilet!"
Para petugas segera mengunci sel para tahanan dan bergegas lari menuju ke toilet. Mereka melihat mayat Ted Baxter tergelatak di sana.
Tahanan muda itu melihat pemimpin tahanan itu yang berjalan di lorong. Ia segera berlari dan mencengkeram pakaian pria kurus itu.
__ADS_1
"Pasti kau! Pasti kau yang telah membunuh Ted Baxter!" teriak tahanan muda itu dengan amarahnya dan melayangkan tinjunya ke wajah pria kurus itu.
❤️ Bersambung ❤️