DANGEROUS LOVE

DANGEROUS LOVE
Selamat Datang Wanita Bar-bar


__ADS_3

Setelah selesai menghabiskan makan malam, seluruh keluarga Aksal kecuali Selina sedang berada di kamar Emir dan Meral. Wanita Inggris itu sedang pergi bersama Jasmine. Hazal mengajak mereka semua untuk berkumpul karena ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.


Emir dan Meral duduk di atas sofa berbahan lembut yang ada di depan tempat tidur mereka. Hazal dan Yafet mendudukkan diri mereka di tepi ranjang tempat tidur, menghadap ke arah orang tua mereka.


Hazal menceritakan dari awal ia mendapatkan petunjuk dari Ted Baxter, mencari rahasia orangtuanya di Mansion Danner hingga akhirnya ia merencanakan untuk masuk ke dalam perusahaan Fallay.


Seperti dugaan Yafet, orang tua mereka tidak menyetujui rencana Hazal. Terlalu beresiko. Bagaikan masuk ke kandang singa seorang diri.


"Apa tidak ada cara lain selain Hazal harus mendekati penjahat itu?" tanya Meral sambil memangku bantal kecil di atas pangkuannya.


"Yafet, mungkin kau bisa mencoba menjalin kerjasama dengan perusahaan Fallay. Kau bisa mendekati Harun," kata Emir dengan idenya.


"Mungkin itu lebih baik," ujar Yafet yang tidak rela jika Hazal harus turun tangan sendiri.


"Tidak...! Aku tidak setuju! Aku tidak ingin melibatkan perusahan Aksal. Bagaimana jika Harun juga melakukan kecurangan pada perusahaan Aksal? Seperti yang ia lakukan dulu pada perusahaan Danner." Hazal segera bangkit berdiri.


Hazal menghampiri dan duduk di tengah-tengah antara Emir dan Meral. Hazal memegang tangan Emir dan tangan Meral, sambil berkata kepada mereka, "Ayah... Ibu... kumohon beri aku kepercayaan dan kesempatan untuk melakukan hal ini."


"Perusahaan Fallay sudah menerimaku sebagai karyawan baru mereka. Besok pagi aku sudah mulai bekerja di perusahaan itu," jelas Hazal memberikan informasinya terkini.


Semua orang nampak terkejut mendengar berita yang di sampaikan oleh Hazal. Satu kelemahan Emir adalah ia tidak tahan mendengar Hazal memohon kepadanya. Sekeras apapun ia berusaha melindungi Hazal, jika putri angkatnya itu telah membulatkan tekadnya, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Hati nya akan tergerak mengikuti kemauan Hazal.


"Baiklah, Ayah mendukungmu." Emir menepuk punggung tangan Hazal dengan pelan.


Hazal segera memeluk ayah angkatnya itu dengan cepat. "Terimakasih, Ayah. Kau memang Ayah terbaikku sedunia," puji Hazal.


"Ayah...! Kenapa Ayah menyetujui ide gilanya itu? Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Hazal?" protes Yafet. Pria itu sedang mencari dukungan orang tuanya untuk menentang ide gila Hazal.


Emir diam tak bergeming, pria paruh baya ini memang tidak menyetujui ide Hazal. Tapi di satu sisi, ia juga tidak menentang keinginan Hazal. Putri angkatnya itu ingin mencari kebenaran.


"Ibu, bagaimana denganmu? Apa ibu mendukung ku atau mendukung Yafet?" Hazal mencoba mendapatkan suara dari ibunya.


Mata elang itu sedang memberi isyarat agar ibunya mendukung dirinya. Kedua tangan Meral menyentuh wajah Hazal, " lbu hanya ingin yang terbaik untukmu, nak. Jika jalan ini yang harus kau lalui untuk menghukum penjahat itu, ibu akan mendukungmu."


Dengan cepat Hazal memeluk erat ibu angkatnya itu. "Terimakasih ibu, dengan restu kalian... aku yakin aku bisa melewati semua ini."


"Ibu....!" pekik Yafet yang menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Menyesali perkataan ibunya. Ia kalah suara dengan Hazal. "Kenapa tidak ada yang mengerti dengan perasaan ku?"


Hazal bangkit berdiri dan menghampiri Yafet. Ia mengulurkan tangan kanannya di depan dada Yafet. "Tiga banding satu, kau kalah! Jika kau tak mengijinkan aku... aku tidak akan bicara lagi dengan mu!" ancam Hazal.


Sepasang mata elang itu bergerak-gerak, melihat telapak tangan Hazal yang ada di depannya. Rahang Yafet tertutup rapat, ia pun bangkit berdiri. Dengan berat hati Yafet membalas uluran tangan Hazal.


"Deal!" seru Hazal sambil menggenggam tangan Yafet. "Aku tidak akan membuatmu khawatir, aku berjanji akan menjaga diriku dengan baik."

__ADS_1


Di hadapan orang tuanya, Yafet segera memeluk Hazal dengan erat. "Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu!"


Hazal menganggukkan kepalanya di bahu Yafet, "Terimakasih, kau memang selalu menjadi malaikat pelindungku."


*****


Keesokan harinya....


"Selina, ibu lihat sejak kau tinggal di sini, kau belum memeriksa kandungan mu? tanya Meral kepada menantunya saat mereka sedang berada di meja makan.


"Kandunganku baik-baik saja. Tidak ada masalah," jawab Selina sambil mengambil sekerat roti kering dari keranjang yang ada di depannya.


"Apa kau tak mual atau mengidam sesuatu?" tanya Hazal yang penasaran dengan keadaan Selina yang sedang hamil muda.


Selina hanya mengangkat kedua bahunya sambil memotong roti keringnya menjadi potongan-potongan yang kecil kemudian ia makan dengan lahap.


Hazal meletakkan pisau dan garpu nya ketika ia sudah selesai menghabiskan sarapannya. Ia mengambil minumannya, dan segera bangkit berdiri.


"Ayah... Ibu... aku berangkat," pamit Hazal kepada kedua orang tua angkatnya.


"Semoga kau beruntung," ujar Emir dan Meral mencium kedua pipi Hazal.


"Tunggu, aku akan mengantarmu ke depan. Sekalian aku juga berangkat bekerja," ujar Yafet sambil berpamitan kepada ayah dan ibunya. Laki-laki itu hanya melewati Selina begitu saja.


Selina segera bangkit berdiri dan menyusul Yafet keluar rumah. Di halaman depan, Yafet dan Hazal sudah berdiri saling berhadapan di samping mobil laki-laki itu. Yafet ingin berbicara dengan Hazal. Tetapi Selina tiba-tiba datang, dan menerobos masuk di antara Yafet dan Hazal.


Yafet segera mendorong tubuh Selina, tetapi Selina telah mencengkeram pakaian kerja Yafet, membuat tubuhnya masih menempel di tubuh suaminya. Selina tidak melepaskan ciuman bibirnya dari bibir Yafet, ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatannya.


Hazal yang berdiri di belakang Selina hanya bisa menggigit bibirnya sendiri melihat kelakuan wanita itu. Dalam diam, ia melangkahkan kakinya menuju ke mobilnya dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Yafet yang sejak tadi tidak membalas ciuman Selina, segera memalingkan wajahnya. Ciuman itu terlepas. Yafet mengusap bibirnya yang basah. Wajahnya menegang menatap tajam istrinya itu.


"Apa yang kau lakukan, hah?" pekik Yafet.


"Aku hanya memberi ciuman pagi hari, saat suamiku hendak bekerja. Apa itu salah?" balas Selina.


"Jangan pernah kau lakukan itu padaku!" teriak Yafet. Laki-laki itu segera masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan Selina yang tersenyum tipis melihat kemarahan Yafet.


Hazal telah sampai di depan halaman gedung perusahaan Fallay sebelum jam masuk kantor. Ia mengayunkan langkah kakinya memasuki lobi perusahaan itu.


Seorang petugas keamanan menghentikan langkahnya. "Aku adalah karyawan baru di sini. Aku baru bekerja hari ini," jawab Hazal ketika petugas itu menanyakan kedatangannya.


Petugas keamanan itu mempersilahkan Hazal untuk masuk. Tiga langkah telah Hazal jalani, mendadak manik matanya tertuju pada sebuah hiasan dinding yang ada di atas ruang resepsionis.

__ADS_1


Hiasan dinding itu berbentuk seekor burung phoenix dengan ukuran yang cukup besar. Terbuat dari logam berwarna emas. Bentuk burung phoenix itu seperti dengan gambaran Ted Baxter.


Hazal mengambil sketsa gambar Ted Baxter dari dalam saku blazernya.


Jadi ini jawaban dari teka-teki Ted Baxter. Selamat Hazal kau berhasil memecahkan teka-teki ini....


Hanya sebuah tulisan di bawah kaki burung itu yang membedakannya. Pada hiasan dinding terdapat sebuah kata Fallay, sedangkan pada sketsa Ted Baxter tidak ada huruf apapun.


Hazal segera melangkahkan kakinya penuh dengan kewaspadaan, ia bertanya pada petugas resepsionis, dimana letak ruang manager personalia. Petugas itu segera mengantarkan Hazal ke lantai lima.


Pintu lift terbuka, Hazal segera memasuki ruangan yang ada di depan lift. Dilihatnya dari samping seorang laki-laki berumur sekitar empat puluh tahunan, dengan pakaian kerjanya lengkap berwarna biru tua.


"Permisi, apakah ini ruangan Tuan Omer?" tanya Hazal sambil mengetuk pintu kaca yang sudah ia buka.


Pria itu menoleh ke arah Hazal, "Ya, aku Omer. Manager Personalia di sini. Kau?"


"Nama ku Hazal Aksal. Kemarin anda menghubungi ku," jawab Hazal sambil mengulurkan tangannya.


"Selamat datang dan selamat bergabung di perusahaan Fallay," ujar Omer sambil membalas uluran tangan Hazal.


"Ikutlah dengan ku, aku akan menunjukkan ruanganmu." Hazal segera mengikuti langkah kaki Omer dari belakang.


Mereka memasuki sebuah lift, ruang kerja Hazal ada di lantai enam. "Ini ruang kerjamu, sebagai asisten manager keuangan." Omer memperlihatkan ruang kerja Hazal, begitu mereka telah berada di depan ruangan dengan pintu kaca bertuliskan Departemen Keuangan.


Ruang kerja dengan ukuran yang cukup besar. Selain dirinya, di dalam ruangan ini juga terdapat beberapa karyawan bagian keuangan. Di sudut ruangan, ada sebuah ruangan kecil dengan dinding yang terbuat dari kaca seluruhnya. Ruangan itu adalah ruangan khusus Manager Keuangan. Seorang wanita memakai kacamata tebal dengan rambutnya yang tertata rapi sedang duduk di dalam ruangan itu.


Omer memperkenalkan Hazal pada seluruh karyawan di sana termasuk Manager Keuangannya. Setelah sesi perkenalan selesai, Omer meninggalkan Hazal.


"Hazal, mulai hari ini kau bisa melakukan pekerjaanmu," kata wanita berkacamata tebal itu sambil memberikan dua berkas kepada Hazal.


Kedatangan Hazal di perusahaan Fallay, membuat kehebohan di antara para karyawan laki-laki di perusahaan itu. Kecantikan Hazal membuat para lelaki itu berusaha untuk mendekati Hazal. Mulai dari karyawan biasa hingga karyawan tingkat manager.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Kenan memanggil Omer untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Apa karyawan baru itu sudah masuk hari ini?" tanya Kenan yang sedang duduk santai di atas kursi kerjanya.


"Sudah, Tuan Kenan. Ia sudah mulai bekerja di ruangannya," jawab Omer yang berdiri di depan Kenan.


Kenan menyuruh Omer untuk kembali ke ruangannya. Setelah kepergian manager personalia nya, Kenan segera keluar dari ruangannya dan turun ke lantai enam dengan menggunakan lift.


Tampak Kenan Fallay memperhatikan Hazal dari luar ruang kerja Hazal. Sebuah dinding yang terbuat dari kaca membatasi jarak di antara mereka.


"Rupanya kau sudah ada di sini, wanita bar-bar!" gumam Kenan dengan senyum tipisnya memandang Hazal yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya.

__ADS_1


❤️ Bersambung ❤️


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya... Terimakasih 🙏😀


__ADS_2