Duda Nackal

Duda Nackal
Testpack


__ADS_3

Aku memarkirkan mobilku setelah sebelumnya menurunkan Tari yang sudah tak sabar ingin segera masuk ke dalam rumah. Tari bilang, kalau sudah positif maka mau dicek kapan saja akan ketahuan. Namun lebih baik lagi kalau dicek pagi hari.


Aku yang tidak mengerti mengiyakan saja. Daripada dia menjadi melow lagi seperti sebelumnya?


Aku turun dari mobil dan melihat Tara sedang memasukkan mobil ke garasi mobilnya. Aku tak langsung masuk, aku berhenti dan menunggu Tara melihat ke arahku.


"Tara!" panggilku.


Tara melihat ke arahku dan berjalan mendekat. "Ada apa?"


Aku melirik ke arah dalam rumah. Tari masih sibuk di dalam. Aman.


"Gimana? Betah bekerja jadi marketing?" tanyaku berbasa-basi.


"Ya.... Lumayanlah! Aku udah berhasil menjual satu mobil. Hari ini aku habis mendatangi calon pembeli potensial. Semoga saja laku banyak." katanya dengan mata berbinar-binar. Setidaknya sekarang dia punya semangat dan ada yang Ia kejar dalam hidup. Tidak melulu tentang percintaan dan mengajakku balikkan terus.


"Hati-hati! Kalau pembeli yang benar tidak akan mengajak ketemuan di tempat yang aneh-aneh. Takutnya kamu malah dijebak! Banyak yang mengaku mau membeli mobil tapi salesnya disuruh ke apartemennya untuk mengambil uang cash sebagai DP. Demi keamanan kamu, hati-hati!"


"Iya. Aku mengerti kok. Rekan-rekan marketing mengajari aku semuanya. Makasih perhatiannya ya, Gas!" ujarnya sambil tersenyum.


Aku sengaja berbicara di depan rumahku agar Tari bisa menguping isi percakapan kami. Aku tak mau membuatnya negatif thinking terhadapku.


"Mm... Tadi aku ketemu Damar di pesta pernikahannya Bastian."


"Bastian nikah? Kok aku enggak diundang? Ngapain juga Damar disana? Memangnya dia diundang?" tanya Tara dengan nada sebal. Mendengar aku menyebut nama Damar, calon mantan suaminya membuat Ia sebal. Terlihat sekali api kebencian dalam dirinya, padahal dulu segitu cintanya sampai tega mengkhianatiku.


"Damar saudara sepupu istrinya Bastian. Damar terlihat kusut banget tadi. Damar juga minta tolong sama aku buat bujuk kamu mencabut gugatan cerai kalian."


"Enggak perlu! Meski kamu yang bujuk sekalipun tidak akan mengubah keputusanku!" jawab Tara dengan tegas.


"Aku enggak berniat mengubah keputusan kamu. Lakukan hal yang membuat kamu bahagia. Itu bukan urusanku. Aku juga sudah bilang sama Damar, aku tak bisa mengubah keputusan kamu. Namun aku sudah berjanji untuk bicara sama kamu, maka aku menepati janjiku dengan memberitahu kamu!"


Tara diam, tak lama Ia hendak pergi. "Udah kan? Aku masuk ke dalam saja! Aku malas kalau membahas tentang Damar."


"Aku tidak akan kembali sama kamu." kataku membuat langkahnya terhenti dan berbalik badan. Ia menatapku lekat. "Aku sudah punya Tari sekarang. Aku sudah menolak kamu sebelumnya. Keluarga kamu juga begitu murka atas apa yang kamu lakukan. Apa kamu akan hidup sendiri di dunia ini dengan mengandalkan egois dalam diri kamu saja?"


"Aku enggak egois!" bantahnya.


"Damar... dulu adalah sahabatku. Sifatnya kekanakkan namun aku tahu Ia sangat mencintai kamu. Memang kadang kasar dan mudah emosian. Namun yang aku tahu, Ia tak akan berbuat seperti itu kalau tak ada yang menyulutnya!"

__ADS_1


"Maksud kamu aku menyulut emosinya gitu?" tanya Tara tak terima dengan perkataanku.


"Ya... Memang seperti itu kan kenyataannya?! Damar marah karena kamu terus memikirkan aku. Kamu terus mendekati aku makanya Damar emosi dan meluapkannya dengan kasar sama kamu. Aku tahu tidak dibenarkan berlaku kasar pada perempuan. Aku juga tahu Damar tidak setiap saat seperti itu. Aku hitung 2x selama kalian menikah. Artinya apa? Dia bukan lelaki kasar yang suka melakukan KDRT. Kamu yang memancingnya berbuat seperti itu. Kini dia menyesalinya. Ia berjanji tak akan mengulangi lagi. Apa kamu menyesali perbuatan kamu, seperti yang dia lakukan? Kamu juga punya andil loh dalam permasalahan rumah tangga kalian!" sindirku dengan pedas.


"Kenapa kamu malah memihaknya? Aku disini korban loh!" ujar Tara dengan mata yang sudah menggenang air mata.


"Kamu adalah pelaku yang bersembunyi menjadi korban. Kamu yang mendekatiku namun saat Damar tau dan emosi kamu malah bersikap kalau kamu korban. Perbaikilah kesalahan kalian berdua! Jangan semudah itu bercerai. Kalian menikah atas dasar cinta, jangan semudah itu melupakan cinta kalian yang menggebu. Lupakah kamu, apa yang sudah kamu korbankan hanya demi menyatukan cinta kalian berdua? Sekarang kalian mau berpisah? Lemah sekali!" kataku meremehkan.


"Kamu enggak ada diposisiku! Kalau kamu diposisiku, kamu akan tahu betapa menderitanya aku selama ini!"


"Oh ya? lebih menderita mana dibanding aku? Jangan terlalu merasa paling menderita sendiri! Itu juga ulah kamu. Sekarang terserah kamu dan Damar mau balik atau tidak. Itu bukan urusanku! Jadi, kalian berdua berhenti mengganggu keluargaku. Oke?"


Aku lalu berbalik badan dan masuk ke dalam rumah. Aku terkejut saat membuka pintu dan mendapati Tari sedang berdiri di belakangnya.


"Ngegetin aku aja! Ngapain kamu di belakang pintu kayak gini? Nguping? Tadi tuh ke depan aja biar bisa denger langsung!" omelku.


"Ya boleh kan aku curiga? Aku penasaran aja, apa yang mau Om Agas omongin lagi sama Mbak Tara? Kalian kan udah enggak ada urusan!"


"Lupa kalau tadi kamu yang nyuruh aku bantu Damar? Ini aku lagi lakuin. Mumpung masih inget! Sudah biarkan saja mereka berdua. Mana hasil test packnya?" aku menadahkan tanganku meminta hasil test pack miliknya.


"Mm... "


"Tari belum ngetes!"


"Loh tadi ngapain turun buru-buru?"


"Iya, tadi niatnya mau ngetest. Pas sampai kamar mandi, eh alat testnya ketinggalan di mobil. Pas banget Om lagi ngobrol sama Mbak Tara, yaudah aku sekalian nguping aja!"


Aku kembali ke garasi dan mengambilkan alat test yang Tari tinggalkan.


"Ayo aku temani, kamu test depan aku!" kataku sambil memberikan alat test padanya.


"Ih jangan ngaco deh, Om! Udah Tari test sendiri lalu kita tunggu hasilnya sama-sama. Gimana?"


"Yaudah di kamar aja! Kamu pakai kamar mandi di dalam!"


Tari pun menurut. Sambil menunggu Tari, aku melepas jas yang kukenakan lalu melemparkannya ke keranjang baju kotor.


"Udah belum?" tanyaku tak sabaran sambil mondar-mandir di depan kamar mandi. Aku begitu penasaran dengan hasilnya.

__ADS_1


"Sebentar. Susah nih buka kebayanya!" jawab Tari.


"Sini di luar aja! Biar aku bantu lepaskan!" kataku menawarkan bantuan.


"Enggak usah! Nanti malah mau yang lain lagi!" tolaknya. Memang aku mau apa? Mau membantu memang salah?


Akhirnya aku menunggu dengan sabar sampai Tari keluar dari kamar mandi. Ia sudah memakai bathrobe dan mencopot kebaya yang Ia kenakan.


"Mana hasilnya?"


"Sabar. Ayo kita lihat sama-sama."


Aku menuntun Tari ke tempat tidur.


"Siap?" tanya Tari.


Aku mengangguk. "Ayo buka!" kataku tak sabaran.


Tari pun membuka sedikit tangannya dan nampak satu garis. Lalu sambil menahan nafas saat Tari membuka seluruh tangannya aku lihat.... dua garis!


Hamil!


Tari hamil!


"Ya Allah Sayang! Kamu hamil! Kamu hamil anak aku!" aku memeluk Tari yang meneteskan air mata haru.


Aku akan punya anak...


Akhirnya...


Tanpa sadar aku menitikkan air mata bahagia. Tari menyadarinya.


"Om... Nangis?" tanya Tari seraya menghapus air mata di wajahku.


Aku mengangguk sambil tersenyum. "Aku bahagia sekali Sayang! Aku akan jadi Papa!"


Aku lalu berlutut dan mencium perut datar Tari. "Ini Papa, Sayang! Papa Agas!" kataku dengan suara bergetar. "I Love you. Aku sayang kalian berdua!"


****

__ADS_1


__ADS_2