
Agas
Aku menghubungi Mama dan Papa, meminta mereka datang ke Jakarta dalam rangka pembukaan cafe baru milik Tari. Sengaja berita kehamilan Tari aku sembunyikan dulu, niatnya untuk surprise.
Bukan apa-apa, Mama tuh tipikal orang tua yang jika mendapat berita penting akan sangat heboh. Jangan lupakan perihal aku kecelakaan. Mama akan langsung meminta Papa memesan tiket pesawat saat itu juga. Tak peduli meski mereka sampai ke Jakarta sudah sangat larut malam.
Aku khawatir, Mama dan Papa juga akan langsung memesan tiket pesawat dan datang seperti waktu itu. Biarkan saja dulu, nanti saat mereka disini akan aku ceritakan dan pasti memberitahu secara langsung lebih berkesan pastinya.
Rencananya, Mama dan Papa akan datang hari jumat. Pembukaan cafe dilakukan hari Sabtu. Tari sangat sibuk dengan pembukaan cafenya. Ia bolak-balik ke cafe untuk mempersiapkan segala sesuatu.
Seluruh karyawan sudah di training oleh Tari dengan sangat baik. Kulihat mereka menyukai atasan seperti Tari yang sangat sabar dan menjelaskan dengan sangat jelas.
Aku tetap mengawasi apa yang Tari lakukan. Aku nggak mau dia sampai kelelahan dan berakibat pada janin dalam kandungannya.
Ia juga menurut saat aku memintanya untuk minum vitamin dan meminum susu khusus ibu hamil. Hari ini ini tak ada drama seperti beberapa hari kemarin. Kalau sifat mellownya tidak kumat, Tari akan menjadi Tari yang menyenangkan seperti biasanya. Sabar, ceria dan ramah. Kalau sifat mellownya kumat, aduh... berat urusannya! Salah ngomong sedikit saja langsung mewek deh anak itu!
Aku membantu sebisa yang aku mampu lakukan. Karyawannya cukup sigap, Tari hanya cukup memerintah ini dan itu, mereka langsung menuruti.
Ternyata, gaya kepemimpinan yang Tari miliki malah justru lebih hebat daripada aku. Menjadi pemimpin yang dihormati itu susah, tapi menjadi pemimpin yang dihargai oleh anak buahnya itu lebih susah lagi.
Aku hendak memesan makan siang untuk Tari dan para karyawannya. Tari yang meminta dibelikan nasi Padang saja karena katanya Ia sangat lapar.
Aku menuruti semua yang Ia mau. Aku pesankan nasi Padang dengan lauk rendang dan ayam bakar. Ternyata benar, Tari menghabiskan satu bungkus nasi Padang tanpa sisa! Aku enggak menyangka karena badannya kecil namun makannya sangat banyak! Kemana perginya lemak-lemak itu?
Hari ini, Pak Adi datang berkunjung. Ia mau melihat secara langsung konsep cafe yang Tari buat sebelum melakukan peresmian pada hari sabtu nanti.
Aku duduk di sudut ruangan sambil memperhatikan Tari menjelaskan setiap detail pada Pak Adi. Kuperhatikan, Pak Adi terus menatap istriku dengan penuh rasa kagum. Iyalah, Tari itu cantik, baik lagi. Siapa sih yang nggak tergoda sama Tari?
Aku menahan rasa cemburuku karena tak mau melihat Tari sedih. Nanti kalau mellownya kumat, aku juga yang repot. Namun, aku terus menatap mereka tanpa berkedip. Tatapanku adalah tatapan seekor elang yang bisa melihat targetnya dari kejauhan.
Sore hari, aku dan Tari sudah pulang ke rumah. Tari ingin istirahat karena Ia sadar dalam tubuhnya kini ada anakku. Ia tak mau memforsir tenaganya yang berujung pada kelelahan nanti.
Seperti biasa, sebelum tidur aku memijit kakinya yang katanya terasa pegal. Tari menyukai pijatanku dan bisa langsung tertidur pulas.
Semenjak tahu kalau Tari mengandung anakku, aku belum melakukan hubungan suami istri lagi. Selain aku belum kepengen, aku juga takut nanti anakku akan kenapa-napa kalau aku gempur Mamanya terus menerus. Aku juga yang akan menyesal nantinya.
Biarlah, toh adikku bisa mengerti. Ia tak lagi rewel dan meminta dipuaskan terus. Ia sadar ada buah hatinya yang harus Ia jaga.
__ADS_1
Jumat pagi, Papa dan Mama sudah sampai di rumahku. Mama membawakan aneka makanan untuk Tari. Ia juga membuatkan sambal pecel buatannya sendiri untuk stok di rumah. Kurang lebih 2 kg yang Ia bawakan. Tari bilang akan dipakai untuk menu pecel di cafe nanti. Untuk variasi agar menu cafenya tidak membosankan.
Mama memeluk Tari dengan hangat, seakan mereka sudah lama sekali tak bertemu. Meski terlihat agak lebay, tapi aku lebih suka melihat kedekatan mereka seperti ini dibanding melihat Mama bersikap jutek pada Tari.
"Ini buat Mama!" kataku sambil menyodorkan amplop putih pada Mama.
"Apa ini? Mau kasih uang? Enggak usah, uang Mama banyak!" kata Mama dengan sombongnya.
"Bukan uang, Ma. Buka dulu dong!" Tari yang mengusulkan untuk memberi kejutan pada Mama. Karena idenya boleh juga makanya aku ikutin.
"Apa sih? Mama jadi penasaran dibuatnya?!"
"Bukan Mama saja, Papa juga penasaran! Ayo cepat dibuka dong!" sahut Papa.
"Iya... iya... Sabar atuh Pa. Kira-kira Mama mau dikasih cek berapa ya?" sindir Mama.
Aku dan Tari saling tatap dan tersenyum. Ini lebih berharga dari cek!
Mama pun membuka amplop dan terkejut saat selembar kertas jatuh. "Apa nih?" Mama memungutnya dan melihat foto hasil USG Tari.
"Itu bukannya hasil USG?" tanya Papa yang lebih cepat tanggap.
Aku dan Tari mengangguk kompak.
"Beneran Tari hamil?" tanya Mama lagi.
Aku dan Tari kembali mengangguk kompak.
"Papa mau punya cucu? Alhamdulillah!" Papa menggoyangkan tubuh Mama yang masih melamun.
"Ini beneran Mama mau punya cucu?" Aku dan Tari kembali mengangguk untuk yang kesekian kalinya. "Ya Allah... Agas enggak mandul! Alhamdulillah..."
Mandul?
Jadi Mama selama ini berpikir aku mandul? Ya Allah kejam sekali Mamaku ini! Aku normal, Ma! Inginku meneriaki Mama seperti itu tapi aku tahan.
Sabar lagi, Gas... Sabar...
__ADS_1
Mama tak tahu saja berapa juta calon arsitek, calon mentri, calon anggota DPR yang sudah aku buang dalam alat kontrasepsi? Aku normal, Ma!
"Wah surprise sekali kalian! Pantas kamu meminta Mama dan Papa datang. Biasanya juga pembukaan showroom baru kamu enggak ngundang kami berdua!" sindir Papa si pedas lidah.
"Bukan gitu, Pa. Uang buat pesawat Papa dan Mama lebih baik aku belikan nasi tumpeng saja, lumayan lebih hemat he... he... he...." godaku.
"Dasar anak pelit! Sama orang tua aja perhitungan!" tok! Kepalaku digetok dengan koran oleh Papa.
"Ish! Aku ini calon Papa tau, Pa!"
"Sudah... sudah! Nanti calon cucu Mama kaget melihat Papa dan Kakeknya berisik!" ujar Mama menghentikan pertengkaranku dan Papa.
Tari tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Kamu jangan terlalu lelah ya Tari. Ada cucu Mama tuh di perut kamu! Buka cafe boleh, namun semua anak buah kamu yang kerjain!" nasehat Mama.
"Iya, Ma. Abi udah wanti-wanti kok sama Tari." jawab Tari.
"Abi? Abi siapa tuh?" tanya Papa. Meski tak bertanya, wajah Mama yang penuh rasa ingin tahu sudah menggambarkan semuanya.
Tari menunjuk ke arahku. "Abi Agas." jawab Tari sambil tersenyum malu-malu.
"Abi?" Papa dan Mama saling tatap tak lama... "Huahahahaha... Abi? Huahahaha...."
Kedua orangtuaku kompak menertawakanku. Mama bahkan sampai menangis saking terlalu banyak tertawa.
"Emang kenapa sih dengan panggilan Abi?" cibirku.
Tari tersenyum seraya mengusap lenganku agar aku jangan marah.
"Enggak ada yang salah, Gas. Hanya Abi itu biasanya ditujukan untuk seorang Bapak yang terkesannya tuh agamis banget. Lah kamu apanya yang agamis? Sholat aja masih suka bolong-bolong, ngaji saja entah kapan dan puasa memangnya kamu sampai poll selama sebulan? Papa sih enggak yakin!" sindir Papa.
"Biarin aja! Agas akan buktikan malau Agas akan menjadi Abi yang hebat buat anak Agas!" aku mengelus perut rata Tari. "Nanti pas kamu lahir, Abi akan jadi Papa yang hebat buat kamu ya Nak!"
****
Hi semuanya!
__ADS_1
Udah mampir belum di novel aku yang judulnya Menjadi Selebgram Hot? Mampir yuk, kasih like, komen, ⭐⭐⭐⭐⭐ dan vote tentunya.