Duda Nackal

Duda Nackal
Level Cinta Tertinggi


__ADS_3

Agas


Aku meninggalkan kamar Tari dan kembali membantu cafe yang hari ini tak kalah ramai dibanding hari kemarin. Tari sejak tadi tertidur pulas. Aku membiarkannya istirahat karena aku tahu semalam Ia tidak tidur sama sekali.


Aku langsung mengambil buku menu dan mulai menawari pelanggan yang baru saja datang. Tak lupa aku mempromosikan produk terbaru Tari yakni chicken katsu nori. Hasilnya lumayan, produk baru mampu menyaingi nasi tim yang sudah terkenal.


Tari memang sejenius itu. Aku tak meragukan kemampuannya dalam memasak. Setiap menu masakan yang Ia buat terlalu penuh dengan cinta. Orang yang merasakannya pun bisa mengetahui kalau masakan buatannya itu dibuat dengan sepenuh hati.


Aku menyibukkan diri dengan bekerja di cafe. Aku tak mau memikirkan masalah anak mahasiswa yang meminta pertanggungjawabanku. Bukan karena aku laki-laki tak bertanggung-jawab tapi aku tahu kalau itu bukan anakku.


Awalnya aku tak menggubris apa yang Vira katakan. Aku biasa saja. Banyak yang meminta untuk aku nikahi. Jadi, Vira bukan orang pertama yang aku hadapi. Namun, Vira adalah perempuan pertama yang mengaku kalau dirinya dihamili olehku. Selama ini tidak pernah ada karena aku yakin, aku selalu bermain aman.


Aku sudah curiga kalau Tari mengenal Vira. Sejak awal melihat Vira, Tari langsung bersembunyi di belakang tubuhku. Menyembunyikan wajahnya agar Vira tidak bisa melihat dirinya. Aneh rasanya, karena itu aku curiga.


Satu lagi kebodohanku, aku tidak meminta nomor Vira. Bagaimana aku bisa menghubunginya? Kemarin aku begitu emosi saat mendengar Ia mengaku kalau dirinya dihamili olehku. Aku tidak berpikir panjang. Coba saja aku mengetahui nomor handphonenya, aku akan menemuinya dan membuat perhitungan langsung dengan wanita yang sudah mengancam ketentraman rumah tanggaku.


Yang bisa aku lakukan adalah menunggu wanita itu datang lagi ke cafe. Ia sudah tahu alamatku, aku yakin Ia akan datang lagi mencari keberadaanku. Aku yakin itu. Karena itu, aku menitipkan pesan pada karyawan Tari jika ada yang mencariku atas nama Vira, berikan saja nomor handphoneku agar dia menghubungi balik.

__ADS_1


Cafe mendapatkan keuntungan yang lumayan besar. Semua karyawan puas karena keberhasilan menu-menu yang diciptakan oleh Tari. Tadi Tari sempat membantu sebentar, sebelum akhirnya kembali lagi ke kamar dan tak lagi keluar. Biarlah, aku lebih suka dia istirahat di kamar daripada membantu di luar.


Cafe pun ditutup setelah semua menu yang dibuat habis. Stok di freezer juga sudah mulai menipis meski tadi aku melihat chef mulai mengisi kembali stok tersebut di sela waktu senggangnya. Aku hendak berpamitan pada Tari. Aku tahu keberadaanku tidak diinginkan oleh Tari di cafe ini. Aku yakin Ia bisa menjaga diri. Aku akan membayar orang yang untuk menjaga keamanan Cafe ini. Ada security juga yang menjaga, in sha Allah aman.


Aku mengetuk pintu kamarnya dan tak lama Tari pun keluar. Wajahnya terlihat lebih segar karena cukup tidur dan beristirahat. Ia mengenakan celana pendek dan kaos yang terlihat begitu santai. Ah, belum apa-apa aku sudah merindukannya. Apalagi kalau aku pulang ke rumah sendirian tanpa kehadirannya? Aku ingin sekali memeluknya dan mencium harum tubuhnya.


"Aku pulang dulu. Di depan ada security yang menjaga kamu. Kalau ada apa-apa, kamu bisa langsung telepon aku. Ingat, jangan terlalu lelah bekerja! Aku tahu, setelah aku pulang kamu akan lanjut bekerja di dapur. Aku nggak akan ngelarang kamu. Kamu yang punya tanggung jawab atas tubuh kamu sendiri. Kalau kamu mau menjaga anak kita, aku yakin kamu akan menjaga tubuh kamu sendiri. Aku pulang dulu!" aku memajukan tubuhku dan mengecup keningnya penuh kasih.


Aku sadar, aku sangat menyayangi wanita di depanku ini. Wanita yang memiliki banyak sekali penderitaan dalam hidupnya. Bahkan di saat kami baru mulai ingin mengecap indahnya pernikahan, sudah ada cobaan lagi yang mendera.


Tari mengantarku sampai aku keluar dan pergi meninggalkan cafe. Aku titip pesan pada security di depan untuk selalu waspada terhadap siapapun yang datang ke cafe. Aku minta tolong, untuk menjaga istri dan anakku.


Aku membersihkan tubuhku terlebih dahulu sebelum akhirnya merebahkan tubuhku di atas kasur. Aku sudah menunaikan shalat isya tadi di cafe. Saat para karyawan berberes untuk menutup cafe, aku pergi ke mushola dan menunaikan kewajibanku.


Aku menatap sisi sebelah ranjang tempat tidurku yang kosong. Biasanya ada wanita yang aku peluk sepanjang malam dan kuciumi harum parfum tubuhnya yang begitu menenangkan. Tapi kini, hanya ada kekosongan. Tak ada lagi Tari yang kadang memelukku sampai aku terasa kram dan kesemutan.


Aku baru menyadari kalau selama ini aku begitu bergantung pada Tari. Setiap hal kecil yang Ia lakukan membuat hidupku semakin berwarna. Apa jadinya aku kalau waktu itu aku menolak untuk menolong dirinya? Mungkin saja Ia sudah dijual oleh bapak dirinya dan aku masih tetap berkecimpung di dunia gemerlap, dunia penuh tipu muslihat.

__ADS_1


Aku memikirkan masalahku dan bagaimana cara menanganinya. Perkataan Tari tadi mengusik pikiranku. Sudah aku duga sih kalau Vira itu anak orang kaya, tapi aku sangat yakin kalau aku tidak akan menghamili wanita seperti itu. Wanita yang sering bergonta-ganti pasangan.


Aku akan sering ke cafe mulai sekarang. Aku akan menunggu Vira menghubungiku. Aku akan mencari tahu kapan kami bertemu, berapa usia kandungannya dan segala hal tentang dirinya. Aku tahu bagaimana menyelesaikan masalah ini. Aku punya teman-teman yang bisa membantuku keluar dari jebakan wanita jahat ini.


Aku pun tertidur lelap dan terbangun di sepertiga malam. Ini seperti sudah alarm tubuhku yang ingin bersujud meminta tolong kepada Sang Pemilik Kekuasaan di dunia ini. Aku pun mengambil air wudhu dan mulai shalat tahajud. Dalam doaku aku bersimpuh dan memohon agar rumah tanggaku dan Tari dapat diselamatkan.


Aku berharap segala fitnah keji yang ditujukan padaku akan terbuka kebenarannya. Aku mendoakan Tari agar Ia selalu dilindungi oleh Allah. Sama seperti Tari yang mendoakanku juga di sepertiga malamnya.


Ternyata, level cintaku terhadap Tari sudah jauh melesat dibanding level cinta yang standar. Mencintai seseorang, dan mendoakannya di sepertiga malam adalah level cinta yang paling tinggi tingkatannya. Aku berada di posisi itu. Aku yakin, Tari adalah wanita yang paling aku cintai di dunia ini.


****


Keesokan harinya aku berangkat lebih pagi karena aku harus mengunjungi Tari terlebih dahulu di cafe. Hari masih terlalu pagi, namun aku yakin Tari sudah bangun dan bekerja di dapur. Bahkan aku yakin anak itu tidak tidur lagi semalaman mengerjakan berbagai makanan untuk stok freezer yang sudah mulai kosong.


Benar dugaanku, anak itu sedang memasak di dapur. Ia tahu aku datang dan menyambutku dengan senyuman hangatnya. Oh, itu tidak cukup. Aku memeluknya dari belakang dan tak mau melepaskan wanita yang begitu aku sayangi ini.


"Aku kangen sama kamu! Aku yakin, kamu adalah wanita yang paling aku cintai di dunia ini. Aku janji aku akan mempertahankan cinta kita dan aku akan membuktikan sama kamu kalau aku adalah laki-laki yang layak kamu percaya."

__ADS_1


Aku menghirup aroma tubuh yang amat kurindukan ini. "I love you!"


****


__ADS_2