
Agas
Entah apa yang merasuki diri Tari. Awal mulanya mau aku nikahi dengan dalih akan melayaniku seperti yang Cici lakukan.
Aku sudah merenggut mahkota miliknya. Kupikir aku akan bisa lagi merasakan hakku sebagai seorang suami, tapi ternyata berbeda.
Tari mulai berubah menjadi pribadi yang lain. Sepulang aku menginap untuk mengadakan party dengan teman-teman brengsekku, sikapnya berubah drastis.
Tari tak mau aku sentuh.
Namun... Ia terlihat menggoda aku.
Aku heran dibuatnya.
Buat apa berdandan untuk menggodaku namun tak mau aku sentuh?
Rambutnya dicat warna cokelat dan pakaiannya sangat seksi. Mana mungkin Duda Nackal macam aku tidak tergoda dengan pesona dan keseksian yang dimilikinya?
Tari tuh daun muda yang masih sangat ranum. Kepintarannya mempelajari segala sesuatu di Youtube dan aplikasi Tiktok patut kuacungi jempol.
Tari cerdas dan mau belajar. Mungkin hal itulah yang membuat Ia memiliki nilai tambah di diriku.
Jujur saja, penampilannya malam itu begitu menggoda hasrat lelakiku. Si ranum itu berdandan demi menyambut kepulanganku.
Aku tergoda dan ingin mencicipinya lagi. Jujur aku memang ingin mencicipinya terus namun aku merasa meski Ia istriku, aku merasa bersalah. Aku melakukannya tanpa cinta. Apa bedanya dengan para wanita yang biasanya menawariku kepuasan?
Aku pun melanggar prinsipku. Sebodo amat dengan cinta, yang penting napsu tersalurkan.
Bukannya kepuasan batin yang kudapat eh malah kekecewaan. Tari menolakku. Dosa bukan menolak suami?
Lalu aku tak bisa membantahnya saat Ia mengatakan akan melayaniku jika aku berhenti melakukan pelampiasanku dengan wanita lain.
Aku seperti tertampar. Ia yang lugu dan polos bahkan meminta aku menghentikan perbuatan dosaku. Apa tidak salah?
Aku kesal dan memutuskan tidur di kamar tamu malam itu. Napsu sudah diubun-ubun namun ditolak tuh rasanya bikin senewen. Susah tidur karena kepikiran terus dengan kemolekan dan keseksian tubuhnya.
__ADS_1
36-D itu ukuran ideal dan idaman seorang wanita di mata laki-laki sepertiku. Tari memilikinya dan tubuhnya yang proporsional mendukung itu semua.
Siapa yang jadi tidak membayangkan kemolekan itu saat tidur? Membuat aku sampai mimpi basah dibuatnya.
Seakan membayar sikap menyebalkannya semalam, pagi ini Tari membuatkanku sarapan dan juga bekal untuk kubawa kerja. Aku bilang tak usah namun Ia sudah berusaha membuatnya. Tak tega aku mengecewakannya, meski dia duluan yang mengecewakanku semalam.
Tari membawakan bekalku dan mengantarku ke depan. Ternyata kami berbarengan dengan tetangga depanku yang sedang mengantarkan suaminya berangkat kerja. Masih akur ternyata dia!
Tari bersikap manja, bahkan berani mencium bibirku agar aku mengiyakan untuk pulang cepat. Baiklah, aku akan turuti. Sekali-kali pulang cepat tak masalah.
Aku mengunjungi showroom milikku dan memeriksa laporan yang masuk. Cici mengetuk pintu ruanganku dan masuk setelah kupersilahkan.
"Om! Kemana aja sih? Kok udah lama enggak ke showroom ini?" Cici duduk di pegangan kursiku dan langsung bergelayut manja.
"Sibuk!" jawabku tanpa mengacuhkan keberadaannya.
"Cici kan kangen sama Om." Cici kini bergelayut manja padaku. Ia menciumi pipi dan leherku dengan penuh napsu.
Aku menepisnya dengan lembut, tak mau menyakiti hatinya lebih dalam lagi.
"Yaudah berarti kita ke hotel aja! Atau Om mau ke kostan Cici? Atau... Om mau ngajak Cici ke rumah Om gitu biar lebih bebas?" Cici tersenyum menggoda. Wangi parfumnya terlalu mencolok. Ini taktiknya untuk merayuku.
Mendengar kata 'rumah' aku jadi teringat dengan Tari dan permintaannya untuk aku pulang cepat malam ini.
"Enggak bisa. Aku sibuk." tolakku lagi.
"Yaudah disini aja ya! Om mau Cici service seperti biasa?" Ia meraba dadaku dengan jari lentiknya. Jari itu suka bergerak cepat mencopot kancing kemejaku kalau aku lengah, jadi aku harus meghentikannya sebelum terlambat.
"Ci, stop!" kataku sambil mencekal pergelangannya agar tidak melewati batas lagi. Bukan apa-apa, aku takut tergoda. Aku tuh laki-laki normal. Siapa sih kucing yang menolak dikasih ikan? Atau siapa sih monyet yang menolak dikasih pisang? Apalagi monyet kecil ini mau mengemut pisangku ups...
Cici cemberut. Bibirnya dimajukan dengan wajahnya yang bete. Beda sekali saat baru masuk ke dalam ruanganku tadi yang penuh dengan semangat.
"Kenapa sih Om sekarang dingin banget sama Cici?" protesnya.
Aku menghela nafas dalam. Hubungan kami semakin menjadi hubungan toxic. Semakin membuatnya menjadi lebih posesif dan menginginkan aku berbuat lebih untuknya. Padahal ini hubungan jual beli atas dasar suka sama suka saja!
__ADS_1
"Kita harus menghentikan hubungan kita yang seperti ini. Kita harus mengakhirinya!" ucapku dengan tegas.
"Mengakhirinya? Om mau putusin Cici?" tanyanya dengan nada terkejut.
"Ci, kita enggak pernah pacaran. Jadi, kita enggak putus, ya karena emang enggak pernah ada hubungan sama sekali diantara kita!" lagi-lagi aku harus berkata tegas.
"Setelah semua yang Cici lakukan sama Om, kini Om mau membuang Cici begitu saja? Om pasti mengganti Cici dengan karyawan yang lain! Katakan siapa, Om!" Cici terlihat begitu emosi mengatakannya.
"Enggak ada! Enggak ada karyawan yang menggantikan Cici!"
Cici lalu bergelayut manja di pelukanku. "Lalu kenapa Om memutuskan hubungan dengan Cici? Apa kurangnya Cici, Om? Cici mau kok melakukan yang lebih lagi dari service yang biasa Cici kasih. Om Agas yang selalu menolaknya. Bilang kalau Cici tak perlu melakukan sejauh itu. Kini Om Agas malah mau mengakhiri hubungan kita! Om tega! Om jahat sama Cici!'
Lalu Ia mulai terisak. Hancur sudah pertahananku kalau mendengar perempuan menangis. Aku tak tega menyakitinya.
"Selama Om belum menikah, Cici siap kok menjadi pelampiasan napsu Om Agas!"
Deg... Pertahananku yang tadinya hancur seakan terbangun lagi dan lebih kokoh lagi saat Cici mengatakan tentang menikah.
Aku jadi teringat perkataan Tari. Aku harus mengakhirinya dengan tegas. Jangan iba dan jangan terpengaruh dengan air mata yang Cici keluarkan.
Aku melepaskan tangannya yang memelukku dengan manja. "Kita akhiri saja sampai disini. Sekarang kamu sudah jago jualan mobilnya. Aku rasa uang gaji kamu dari komisi mobil sudah cukup untuk membiayai hidup kamu selama di Jakarta dan bisa membayar kuliah kamu sendiri tentunya!"
"Kalau Om enggak mau mentransfer Cici lagi juga enggak apa-apa kok. Cici rela!" masih saja Ia merendahkan harga dirinya sebagai seorang wanita. Kalau aku lelaki bejat, aku akan dengan senang hati menerima gratisan seperti itu. Namn aku beda!
Aku menggelengkan kepalaku. "Kita enggak bisa meneruskan hubungan seperti ini lagi. Aku mau kamu kembali jadi karyawanku dan aku tetap jadi bos kamu. Kita akhiri hubungan tidak jelas kita. Terima kasih atas segala pengorbanan yang kamu lakukan selama ini."
Cici mulai menangis sesegukan. "Cici enggak mau kita putus, Om. Cici sayang sama Om. Cici cinta sama Om. Cici mau terus berada di sisi Om. Hanya Om yang baik sama Cici. Om yang membantu Cici saat Cici kesulitan. Cici mohon Om, Cici akan memperbaiki kesalahan yang Cici buat! Kasih Cici kesempatan memperbaiki semuanya, Om!"
Kuat Gas... Kuat!
Jangan lemah karena air mata!
Kalau terus mengikatnya dengan hubungan tak jelas seperti ini, maka selamanya Cici akan terus berada disisiku!
"Maaf, Ci. Saya tak bisa. Kita akhiri semuanya sekarang! Aku pergi dulu!" aku berdiri dan meninggalkan Cici di dalam ruanganku.
__ADS_1
****