Duda Nackal

Duda Nackal
Negosiasi


__ADS_3

"Di mana kamu mengenal laki-laki itu?" selidik Papanya Vira.


Aku masih diam. Aku tahu, bertindak emosional di situasi seperti ini bukanlah menyelesaikan permasalahan namun malah hanya menambah masalah saja. Biarlah aku lihat dulu bagaimana Vira berakting kali ini.


"Kami bertemu di salah satu restoran Pa. Om Agas adalah pemilik restoran, kami langsung jatuh cinta dan kami melewati batas karena cinta kami menggebu-gebu. Vira nggak mau kehilangan Om Agas, Pa. Vira mau, Om Agas menjadi suami Vira. Papa mau kan merestui hubungan kami?" lagi-lagi Vira mengarang semua cerita. Sangat jauh sekali dengan kebenarannya.


Papanya Vira kini menatapku tajam. Ia lalu mengusap wajahnya dan terlihat gurat kekecewaan terhadap putri semata wayangnya tersebut.


"Papa nggak pernah ngajarin kamu untuk seperti ini, Vira! Cinta tuh bukan berarti harus melewati batas! Selama ini Papa memberi kamu kebebasan bukan berarti kamu melakukan hal yang tidak bertanggung jawab seperti ini. Bagaimana Papa harus menaruh muka Papa? Bagaimana mungkin seorang menteri memiliki anak yang hamil diluar nikah? Apa pendapat mereka? Kamu tahu sendiri kalau Papa akan mencalonkan diri sebagai Presiden berikutnya. Apa yang kamu lakukan sekarang sudah merusak rencana Papa!"


"Maafin Vira ya, Pa. Vira beneran terbuai oleh pesona yang dimiliki oleh om Agas. Vira rela kok memiliki anak dari Om Agas. Vira sangat mencintai Om Agas, Pa. Jangan pisahkan kami berdua, Pa. Vira mohon..." akting Vira begitu natural. Terlihat sekali kalau Ia sering bersandiwara seperti ini depan Papanya


Papanya Vira kini kembali menatap ke arahku depan tajam. "Kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu bukannya membela Vira namun hanya diam saja, membuat Vira mengorbankan semuanya demi hubungan kalian? Seharusnya kamu malu dong sebagai laki-laki, kamu yang maju bukan Vira! Anak saya ini karena saking bodohnya, jatuh cinta sama kamu dan rela kehilangan semua yang Ia miliki. Dan kamu hanya diam saja? Nggak ada sedikitpun kamu membela anak saya di depan Papanya?"


Aku menghirup udara banyak-banyak dan menambah stok sabarku. Aku harus tenang menghadapi Papanya yang berkuasa ini.


"Boleh kita bicara berdua saja, Pak? Kalau tidak berdua, saya nggak akan berbicara apa-apa!" kataku dengan tegas.


Vira mengangkat wajahnya dan melihat ke arahku dengan terkejut. Ia tak menyangka kalau aku punya rencana lain. Vira pikir aku akan menuruti semua skenario yang Ia buat, hanya agar Vira tidak mengancam Tari.


"Kenapa aku nggak boleh dengar? Ini menyangkut hidup aku. Aku juga mau mendengar bagaimana keputusan tentang masa depan kita? Apakah Om Agas nggak mau tanggung jawab? Jangan begitu dong, Om Agas bilang kalau Om Agas tuh cinta sama aku tapi kenapa Om malah bertindak layaknya pengecut seperti ini?" Vira mulai menyudutkanku di depan Papanya. Membuat aku seakan-akan adalah pria yang tidak bertanggungjawab.

__ADS_1


Aku dengan tenang menjawab, "Selama Vira masih emosional seperti ini, saya nggak mau bicara apapun." aku melipat kedua tanganku di dada dan menantang balik Vira di depan Papanya.


Untunglah, Papanya adalah orang yang netral. Ia lalu menyuruh Vira untuk menunggu di luar dan membiarkan kami berdua berbicara empat mata.


"Vira nggak mau! Pokoknya Vira akan tetap disini dan mendengarkan apa yang kalian bicarakan. Vira enggak mau pergi kemana-mana!" tolak Vira.


"Ya... udah, aku juga nggak akan bicara apa-apa. Atau kita akan makan bareng aja nih? Aku mau pesan makan dulu ya!" tantangku tanpa kenal takut.


Papanya Vira semakin menaruh curiga dengan sikapku yang seperti ini. Ia juga penasaran apa yang sudah terjadi sampai aku terlihat tidak akur dengan Vira. Dari sini Ia mulai bisa menarik kesimpulan, perkataan Vira tidak sinkron dengan tindakanku.


Vira bilang kalau kami saling mencintai, namun pada kenyataannya aku tak mau membela Vira bahkan tak mau berbicara jika masih ada Vira di ruangan ini.


Vira menutup pintu dengan kencang. Terlihat sekali kemarahan dalam dirinya yang menggelegak. Dasar anak manja! Umur udah dewasa tapi kelakuan masih kayak anak-anak saja!


"Jadi, apa yang mau kamu bicarakan?" Papanya Vira langsung bertanya to the point padaku.


Bukannya menjawab, aku memutarkan video yang ada di handphone milikku. Aku putar saat adegan putrinya sedang dugem diskotik.


"Di sini pertama kali kami bertemu. Bukan di restoran seperti yang Vira katakan. Perlu Bapak tahu, aku bukan laki-laki pertama yang sudah meniduri Vira."


"Jaga perkataan kamu! Putri saya tuh anak baik-baik! Anak pintar dan selalu membanggakan kedua orang tuanya! Ia mungkin saja sedang bersenang-senang di diskotik, apa salahnya?" Belum apa-apa Papanya Vira sudah emosi. Oke, aku pun memutar video berikutnya.

__ADS_1


Kali ini rekaman CCTV yang kuputar adalah saat Vira sedang mabuk dan duduk di pangkuan laki-laki yang berusia sebaya dengannya. Vira sedang mencium laki-laki tersebut di diskotik dan terlihat amat mencintai laki-laki tersebut.


"Bapak lihat, tanggal yang tertera di sini. Ini adalah 1 bulan sebelum kami bertemu. Laki-laki ini adalah anak mahasiswa yang sebaya dengan Vira, mungkin mereka satu kampus? Entahlah! Bapak bisa mencari tahu sendiri karena itu bukan urusan saya. Kalau Bapak lihat dari gerak-geriknya, mereka itu punya hubungan. Mungkin pacarnya Vira? Saya kurang tahu."


"Apa tujuan kamu memutarkan video ini?" tanya Papanya Vira.


"Sebelumnya, saya mau minta maaf yang sebesar-besarnya sama Bapak. Dulu, saya akui memang pergaulan saya kurang bagus. Saya sering bersenang-senang di diskotik dan Vira adalah salah seorang yang ikut bersenang-senang dengan saya. Namun, saya selama ini selalu memakai pengaman dan tak pernah mau menghamili wanita yang bukan istri saya. Saya sangat sadar dengan apa yang saya lakukan. Anak dalam kandungan Vira.... bukanlah anak saya. Kalau Bapak tidak percaya, Bapak bisa tes DNA." aku lalu mencabut beberapa helai rambutku dan memberikan pada Papanya Vira. "Silahkan gunakan. Kalau perlu yang lain saya bersedia memberikannya."


Wajah Papanya Vira tambah murka. Namun kali ini kemarahannya bukan ditujukan padaku, melainkan terhadap ulah anaknya.


"Saya bisa loh membawa kamu ke jalur hukum. Bagaimanapun tindakan yang kamu lakukan sama Vira itu tidak benar!" ancam Papanya Vira. Rupanya naluri seorang ayah masih melekat dalam dirinya, Ia masih berusaha membela anaknya yang sudah mengecewakannya tersebut.


"Kami melakukannya atas dasar suka sama suka dan enggak ada keterpaksaan sama sekali." aku lalu memutarkan video saat kami pertama kali berkenalan. Kami mengobrol dan tertawa. Saat aku mengajak Vira untuk ke rumahku, Ia terlihat tak ada paksaan. Disini aku merasa menang.


"Saya sungguh menyesal sudah mengajak Vira bersenang-senang malam itu. Namun, saya kini sudah punya keluarga. Saya sudah punya istri dan akan punya anak juga. Saya sudah meninggalkan dunia kelam dalam hidup saya. Saya mau, Vira juga hidup bersama ayah dari anak dalam kandungannya dengan bahagia. Bapak bisa merestui mereka dan membiarkan mereka hidup dengan cinta yang mereka miliki."


"Kenapa kamu mengatur saya? Suka-suka saya dong mau melakukan apa? Yang pasti, saya akan menyelidiki semua yang kamu katakan dan keputusannya itu di tangan saya!" terdengar arogan dan penuh kuasa sekali.


"Silakan, Pak. Saya tahu Bapak adalah seorang menteri yang jujur dan adil dalam melaksanakan tugasnya. Saya menunggu dan berharap kejujuran dan keadilan yang Bapak miliki akan Bapak berikan juga kepada saya. Jangan sampai yang bertanggung jawab atas anak Bapak bukankah ayah sebenarnya dari anak dalam kandungan Vira. Nanti saat anak itu besar Ia akan mencari Bapaknya untuk menikahkannya. Bapak nggak mau kan ada kesalahan seperti itu?"


****

__ADS_1


__ADS_2