Duda Nackal

Duda Nackal
Melampiaskan Kekesalan


__ADS_3

Tara


Huh kesal sekali aku!


Kenapa sih Agas harus menolak ajakanku?


Tak tahukah dia, aku mengajaknya tuh dengan mengorbankan harga diriku. Membuangnya sejauh mungkin hanya agar aku punya teman untuk mengobrol.


Apa yang kudapat?


Penolakan!


Kutendang bungkus air mineral gelas yang tergeletak di jalan dengan kencang. Aku tak peduli sampahnya berantakan yang penting semua kekesalanku hilang!


Apa sih salahnya sarapan pagi sama mantan? Segitu sakit hatinya apa? Apa masih belum bisa move on?


Iya sih, jelas aku lebih baik bila dibandingkan dengan istrinya yang kampungan itu! Aku lebih segalanya! Lebih cantik dan berpendidikan. Pantas saja susah move on!


Sesungguhnya....


Aku pun susah move on.


Aku duduk lemas di atas trotoar.


Hatiku lelah menghadapi semua ini.


Kemarin aku disuruh datang ke rumah mertuaku, Mamanya Damar. Ternyata disana mertuaku mengadakan acara dengan geng sosialitanya.


Aku datang untuk membantu Mama. Meski makanan sudah dipesan, namun tetap saja butuh untuk dirapihkan dan ditata agar terlihat menarik.


Satu persatu temannya mulai datang. Baju yang terbuat dari sutra, perhiasan yang menghiasi tangan dan leher serta tas yang harganya mahal seakan menjadi ciri untuk menjadi geng sosialita mereka.


Awal menikah aku diperkenalkan oleh Mama sebagai menantunya. Pujian pun mulai aku tuai. Dibilang cantik. Wajahku ditanya perawatan dimana sampai glowing seperti ini? Ah aku senang akan pujian.


Namun semenjak ada yang bertanya sudah berapa lama menikah? Apakah sudah hamil? Dan saat kujawab belum, mulai deh aku merasakan dejavu. Rasanya seperti berada di lingkungan keluarga besarku yang super julid.


Ternyata geng sosialita dengan arisan keluarga besarku tak ada bedanya. Yang mereka bahas kalau belum menikah ditanya kapan nikah, kalau sudah nikah ditanya udah punya anak, kalau belum punya anak ditanya apa sedang menunda, kalau bilang belum dikasih anugerah ditanya apa sudah periksa?


Seakan semua pertanyaan basa-basi itu tak penah ada habisnya. Apa sih yang salah kalau belum memiliki anak? Mungkin belum rejekinya! Gitu aja kok repot!


Kenapa harus menyakiti hati orang lain? Kenapa tidak mengerem perkataannya yang penuh pisau tajam yang akan menyakiti hati orang yang terlukainya?


Mama lalu menyuruhku ke dapur untuk membantu menyiapkan makanan. Dalam sekali lihat aku tahu kalau Ia juga merasa malu karena aku tak juga hamil.


Aku sudah memeriksa kandunganku. Menurut dokter, sel telurku kecil-kecil jadi agak sulit dibuahi. Harus diprogram. Aku punya uang sekarang untuk memeriksa, sayangnya Damar tak mau diperiksa.

__ADS_1


Aku sudah membujuknya, namun Damar selalu menolak. Ia malah balik menyalahkanku. Damar bilang tak perlu periksa karena sudah jelas masalahnya ada di aku.


Dokter bilang, aku masih bisa hamil asalkan mengikuti terapi yang dijalankan namun suamiku juga harus diperiksa agar diketahui dimana permasalahannya.


Aku memilih berada di dapur dan berlama-lama berada di sekitar teman-teman Mama. Aku malah lebih nyaman berada di teras belakang daripada ditanya-tanya hal yang menyakitkan.


Rupanya belum selesai sampai disitu penderitaanku. Setelah semua tamu bubar, Mama tiba-tiba berkata pedas.


"Lain kali kalau ada teman Mama, jangan sok ikutan. Kehadiran kamu cuma buat Mama malu! Kamu tak tahu kan rasanya jadi Mama?" ujarnya dengan pedas.


"Maaf, Ma. Tara tadi cuma mau membantu menghidangkan makanan saja." jawabku.


"Sekalian kamu mau show off kan depan teman-teman Mama? Mama menyuruh kamu datang untuk membantu menghias kue agar kelihatan bagus. Bukan menyuruh kamu mengantar ke tamu! Lain kali jangan lagi menampakkan wajah kamu di depan teman-teman Mama, kecuali saat kamu hamil dan sudah punya anak!"


Tajam dan menusuk hatiku sekali. Setelah semua rapi, aku pamit pulang. Mama yang masih marah tak menanggapi perkataanku dan menganggapku bagai debu yang tak terlihat.


Aku kesal, lebih kesal lagi saat melihat Tari turun dari mobil dengan dibukakan pintu oleh seorang lelaki tampan. Aku sengaja berhenti untuk mengamati.


Tari tersenyum dan berjalan kaki menuju rumah Agas. Aku merasa inilah saatnya melampiaskan kekesalanku.


Tak pernah kuduga ternyata gadis lugu yang kini berpenampilan cantik dan menarik itu mampu membalas setiap perkataanku.


Rasa kesal dalam diriku semakin bertambah saja. Bukannya hilang malah semakin kesal dan seperti ada batu besar di dadaku yang terasa begitu menghimpitku.


Sore hari, aku melihatnya sedang duduk di teras. Kesempatan untuk membalasnya. Lagi-lagi aku kalah dan malah dipermalukan di depan Agas yang ternyata sejak tadi mendengar percakapanku dengan Tari.


Hari ini adalah hari apes buatku. Semua berjalan tidak seharusnya.


Damar pulang kerja agak malam, karena moodku sedang buruk aku malas mengajaknya bicara. Aku sedang kesal.


Damar mengajakku bercinta, Ia memuaskan kebutuhan batinku seperti biasa, tidak seperti waktu itu yang kasar Ia berjanji tak akan mengulanginya lagi.


Entah mengapa kini setiap bercinta dengan Damar aku malah membayangkan wajah Agas. Aku membayangkan kalau Agas yang meniduriku sampai akhirnya aku mendapat kepuasan sendiri dari bayangan yang kuciptakan.


Damar berpikir kalau dia yang membuatku puas, namun salah. Khayalanku yang membuat aku menikmati permainannya.


Aku bangun pagi dan mendapati Damar tidur dengan pulas. Aku baru saja hendak membuat sarapan saat kulihat Tari yang melambaikan tangan pada Agas yang ingin lari pagi.


Lebay banget!


Tunggu!


Agas lari pagi? Kesempatan mengobrol berdua semakin besar nih!


Cepat-cepat kuganti bajuku dengan baju olahraga dan menyemprotkan sedikit parfum agar tak ada yang tahu kalau aku belum mandi.

__ADS_1


Sedikit lipstik kupakai agar wajahku terlihat cerah. Aku pun mulai berlari. Kucari-cari keberadaan Agas namun tak kutemukan. Aku beneran jadi lari pagi kalau begini caranya!


Sampai aku tak kuat dan hendak berhenti, kulihat Agas sedang melihat jarak yang Ia tempuh di jam tangan miliknya. Aku tahu karena waktu beli jam tangan itu, aku menemaninya.


Kudekati Agas dan menyapanya. Ternyata Ia masih menyindirku, membuatku berpikir kalau dia memang belum move on dariku.


Kenyataan itu membuatku senang dan membuatku kembali berharap. Akankah aku bisa merebut hatinya kembali?


Tak kusangka ternyata Agas menolak saat kuajak sarapan. Alasannya karena istri kampungannya sudah membuatkn sarapan. Aku kesal karena kini aku seakan tak ada artinya sama sekali di mata Agas.


Setelah Ia pergi meninggalkanku, aku pun pulang ke rumah. Aku mendapati Damar yang sedang duduk di meja makan sambil menatapku tajam.


"Darimana saja kamu?" tanyanya.


Aku mengambil segelas air putih dan meminumnya. "Habis olah raga."


"Olah raga atau mengajak suami orang sarapan bareng?" sindirnya.


Deg... Tau darimana dia? Apa Agas yang bicara langsung dengan Damar?


"Kenapa? Kaget aku bisa tahu?" Damar berdiri dan berjalan menghampiriku.


Tatapan matanya begitu menyeramkan. Aku jadi teringat saat kekerasan waktu itu. Tatapan matanya sama dengan waktu itu.


"Apa yang kamu rencanakan?" tanyanya sambil memojokkanku ke tembok.


"Eng... Enggak ada yang aku rencanakan!" jawabku sambil berjalan mundur. Ia semakin menyudutkanku.


"Oh ya? Dengar, kamu tuh dulu pernah selingkuh sama aku! Aku dapetin kamu karena hasil menikung! Aku tahu kalau kamu juga mau melakukan apa yang aku lakukan, iya kan?" tanyanya dengan nada tinggi.


"Maksud kamu apa?"


"Jangan pura-pura! Kamu mau selingkuh dengan Agas gitu, hah?" Ia lalu mencengkram wajahku dengan kasar. "Jangan pernah berpikir kamu akan bisa berselingkuh dari aku! Jangan harap! Agas bisa kamu bodohi namun tidak denganku!"


Damar lalu mendorongku sampai aku terjatuh ke lantai.


Brukk...


Gelas di tanganku pun ikut pecah


Prang...


Dan aku kini merasa aku tak lagi mengenal Damar....


****

__ADS_1


__ADS_2