Duda Nackal

Duda Nackal
Bukan Manusia Suci


__ADS_3

Aku bukan laki-laki manja, namun sesekali dimanja seperti ini rasanya enak juga. Tari menyuapiku dengan lembut. Menuruti setiap menu yang aku mau dalam setiap suapan.


"Pakai ayam!" ujarku.


Ia pun memakaikan ayam dalam suapanku.


"Capcay aja!" pintaku lagi.


Ia pun menurut, menambahkan brokoli dalam suapanku.


"Brokolinya dipotong kecil-kecil aja! Lalu tambahin jagung putrennya juga."


Tari terlihat menarik nafas dalam tapi tetap saja menuruti segala permintaanku.


Ia menyuapiku dengan sabar. Wanita sesabar ini kalau mengandung anakku pasti akan menjadi seorang mama yang sabar juga. Pasti akan menyayangi anaknya dengan setulus hati.


Huft... Apa yang aku pikirkan?


"Om, besok aku kursus ya!"


"Iya. Aku antar kesana. Motor kamu kayaknya hari ini datang deh. Nanti kita coba keliling komplek ya! Kamu yang boncengin aku!" ujarku seraya menunjuk gelas. "Minum!"


Dengan sabar Tari memberikan gelas air minum dan memegangi gelasku. Aku menahan senyum melihat Ia begitu nurut padaku.


"Iya. Nanti Tari boncengin!"


Sore harinya saat aku sedang asyik menonton TV sambil menaruh kepalaku di pangkuan Tari, datanglah mobil yang mengantarkan motor yang kupesan untuk Tari.


Senyum di wajah Tari begitu lebar. Ia sangat bahagia memiliki motor baru. Ia bahkan melihat dengan detail seluruh body motor. "Keren, Om!" pujinya.


"Kita coba sekarang ya! Aku mandi dulu!" aku juga jadi semangat mencoba motor baru. Ah norak sekali aku! Padahal ini hanya motor saja, bukan mobil mewah yang selalu aku lihat di showroom.


Setelah mandi dan sholat ashar berjamaah, aku pun siap jalan-jalan keliling komplek. Sebelum Tari meminta aku sudah memeluk pinggangnya dan menaruh kepalaku di bahunya. Seperti cewek yang diboncengi cowok hehehe....


"Om, jangan kenceng-kenceng pegangannya! Terus kepalanya jangan di bahu Tari. Geli! Tari jadi enggak konsen!" protes Tari.


"Biar kayak orang-orang. Seharusnya kamu pake jaket hodie terus tangan aku dimasukkan ke jaket kamu, kayak anak-anak alay itu ha...ha...ha..." makin Ia malu, semakin aku suka memprotesnya.


"Jangan macem-macem ah, Om! Nanti kita bisa jatuh nih!"


"Ha...ha...ha... Grogi dia! Yaudah, ayo Bang kita jalan! Ajak Eneng jalan-jalan ke Alpa ya Bang!" godaku lagi.

__ADS_1


"Om... Ah! Tari enggak konsen nih jadinya ha...ha...ha..."


Sejak tadi kami saling menggoda di atas motor. Belum jalan dan cuma diam di tempat sambil tertawa cekikian.


Lalu aku kembali mendengar suara ribut dari dalam rumah Tara. Aku sontak terdiam dan mendengarkan yang sudah terjadi.


"Kalau kamu memaksa terus, lama-lama aku tak tahan lagi!" ujar Tara dengan suara kencang.


Tari yang mau bicara aku suruh diam. Aku penasaran, mereka bertengkar apalagi kali ini.


"Aku minta maaf, Sayang! Aku khilaf waktu itu. Tolong maafin aku!" suara Damar terdengar begitu memohon maaf dari Tara.


Aku sedang menajamkan telingaku ketika Tari menyalakan mesin motor dan langsung tancap gas. Aku yang kaget langsung memeluk Tari. Ternyata anak itu malah mengajakku ngebut.


"Bang! Pelan-pelan, Bang! Eneng takut!" ledekku.


Dia tak berhenti. Tari memutari bunderan komplek layaknya Valentino Rossi. Mulus sekali.


"Wow! Abang kayak Valentino Rossi deh!" godaku lagi.


Ia tak menjawab. Diam dan memanyunkan bibirnya. Wajahnya tampak kesal.


Aku sadar, Ia beneran marah. Biasanya kalau aku godain Ia masih suka tertawa, ini malah diam saja sambil menekuk wajah!


"Traktir Tari makanan yang enak!" katanya tanpa senyum dan dengan wajah kesal.


"Oke Bang!" jawabku masih berusaha menggodanya.


Tari duduk di lantai atas yang terbuka. Udara sore yang sudah adem enak untuk nongkrong disana. Benar saja, Tari ingin memesan menu yang mahal, Ia sedang melihat menu termahal di buku menu.


"Bang, Eneng enggak bawa duit banyak nih! Kalau kurang gimana?" aku panik juga, di kantongku cuma ada uang seratus ribu dua lembar.


"Bodo amat!"


Wah dia ngambek beneran. "Tunggu sebentar ya! Aku tanya sama kasirnya dulu, boleh bayar pakai Qris apa enggak!"


Ia tak menjawab. Kutinggalkan saja dan pergi ke kasir, menanyakan apakah bisa bayar lewat scan barcode. Ternyata bisa, amanlah karena aku membawa Hp-ku.


"Oke. Kamu boleh pesan apapun yang kamu mau!" kataku sambil tersenyum lega.


Ternyata Tari hanya memesan segelas es kopi dan kentang goreng sebagai cemilannya. Murah itu sih! Kayaknya dia ngerjain aku aja nih!

__ADS_1


"Ada lagi yang mau dipesan? Es krim mau enggak?" biasana cewek kalau lagi ngambek lalu ditawari es krim suka mencair kayak es krim yang lama-lama mencair.


"Enggak! Nanti batuk!" jawabnya dengan jutek.


Aku lalu memesan lasagna, cake cokelat dan es kopi tentunya. Aku sengaja ingin mengerjainya lagi. Aku yakin dia akan tertarik dengan menu yang aku pesan.


"Kenapa? Marah?" tanyaku setelah pelayan yang mencatat pesanan kami pergi.


"Kalau iya kenapa? Boleh kan?" tanyanya masih dengan nada jutek.


"Boleh. Boleh kok. Tapi tiap kamu marah, kamu utang satu ciuman ya buat aku!" godaku untuk mencairkan suasana.


"Enggak mau!"


"Dosa loh!" ancamku.


"Iya deh mau!" jawabnya dengan terpaksa.


Aku menahan tawaku, kalau aku sampai tertawa maka Ia akan semakin marah dan menganggap aku tidak menghargainya.


"Yaudah, kamu marah kenapa? Karena aku menyuruh kamu diam dulu tadi?" tanyaku dengan serius.


"Enggak!"


"Jangan begitu dong! Jawab dengan jujur. Kadang perempuan tuh kalau lagi marah bilangnya enggak padahal sebenarnya iya. Laki-laki tuh makhluk paling enggak peka yang ada di dunia ini. Mana bisa tahu kalau tidak diutarakan?" kataku dengan tenang dan sabar.


Menghadapi Tari yang kalau marah tenang dan diam lebih menyeramkan dibanding menghadapi Tara yang kalau marah kadang suka teriak-teriak. Tari tuh diam tapi marah. Tak menunjukkan kemarahannya dan menyimpannya sampai akhirnya semua kemarahannya meledak, duaarrrrr...


"Ngomong dong ada apa?" tanyaku dengan lembut.


Pelayan datang membawakan pesanan kami. Kubiarkan Ia meminum es kopi agar lebih tenang dan tidak emosian lagi.


"Kenapa sih Om masih saja ingin tahu apa yang terjadi dengan rumah tangganya Mbak Tara? Aku sadar kalau Om masih mencintainya, tapi sampai kapan Om akan move on? Sampai kapan Om akan terus melihat Mbak Tara dan tak pernah melihat keberadaanku?" Tari kini mulai menangis, Ia menahan suara tangisnya agar tidak menarik perhatian yang lain.


Aku bangun dan pindah duduk di sampingnya. Kupeluk Ia agar bisa menangis di pelukanku. Aku sadar, perbuatanku malah menarik perhatian pengunjung lain, bahkan ada anak kecil yang berkata: "Mama, Om sama Tantenya pelukan!"


Aku tak peduli, bagiku kalau Tari sampai menangis artinya hatinya terlalu sedih, dan aku yang memberinya kesedihan harus bertanggung jawab.


"Maafin aku ya! Aku enggak sadar kalau apa yang aku lakuin sudah nyakitin hati kamu! Aku... memang belum bisa move on, aku akui itu. Bukan karena rasa cinta yang terlalu besar, namun karena rasa cinta dan sakit hati yang kurasakan terlalu berat. Aku sedang belajar untuk sedikit demi sedikit melupakan semua kenanganku dengan Tara."


Tari melepaskan pelukanku. Ia mengambil tisu dan mengelap air matanya. "Tapi Om masih peduli sama Mbak Tara. Buktinya setiap hal tentang Mbak Tara, Om selalu mau tahu."

__ADS_1


Aku tersenyum, "Aku mau tahu bukan karena aku peduli. Aku hanya merasa bahagia saat melihat mereka tidak bahagia dan menuai karma karena telah melukaiku. Wajar kan? Manusiawi kan? Maaf Tari, kamu mungkin menganggap aku baik bak malaikat. Ketahuilah, aku juga manusia biasa yang punya rasa dendam dan benci. Aku bukan manusia suci. Ya... Inilah kekuranganku!"


****


__ADS_2