
"Agas!" panggil Tara saat aku sedang mengeluarkan mobil dari garasi.
Aku keluar dari mobil dan menutup pintunya. Aku memang berniat masuk ke dalam rumah kembali untuk mengambil tas laptop dan bekal yang masih ada di meja makan.
Tari sedang tiduran di kamar. Sehabis menyiapkan sarapan, Ia pamit mau tidur di kamar. Tari bilang enggak enak badan.
"Kenapa?" tanyaku sambil melihat ke belakang Tara. Tak ada mobil Damar, artinya memang Damar tak juga pulang ke rumah.
"Kamu mau berangkat kerja? Udah sarapan belum? Aku buat nasi goreng kesukaan kamu! Sarapan dulu yuk!" Tara menggamit tanganku namun aku menghempaskan tangannya pelan.
"Aku udah sarapan." tolakku. Sejujurnya, nasi goreng buatan Tara dulu memang kesukaanku. Hanya nasi goreng itu yang rasanya enak di lidahku. Sisanya aku memakan masakan Tara karena menghargai segala usahanya untuk masak.
Sekarang, semua masakan Tari terasa begitu lezat. Nasi gorengnya yang cuma asal buat saja jauh lebih lezat dari nasi goreng buatan Tara.
"Atau kamu mau aku buatin kopi? Aku punya mesin pembuat kopi dan ada kopi luwak asli yang pasti enak. Kamu mau kan?" Tara kembali membujukku.
"Tidak usah, makasih. Aku harus ke showroom." tolakku lagi.
Aku hendak masuk ke dalam rumah namun tanganku dicekalnya. "Aku ikut ya? Aku bosan di rumah terus!"
Kulepaskan lagi tangannya yang menyentuh tubuhku. "Untuk apa? Kamu pergi saja jalan-jalan dengan mobilmu! Kenapa harus ikut sama aku?"
Kulipat kedua tanganku di dada. Aku urungkan untuk masuk ke dalam rumah dan mendengar apa tujuannya menghadangku pagi-pagi?
"Hmm.... Sejujurnya aku mau melamar pekerjaan di tempat kamu. Jadi marketing atau bagian administrasi pun tak apa-apa. Aku.... butuh pekerjaan sekarang. Sebentar lagi aku akan sidang perceraian. Aku harus menghidupi diriku sendiri. Kamu mau kan membantu aku?" pinta Tara dengan sungguh-sungguh.
Aku menghela nafas dalam mendengar permintaannya. Tara mau bekerja di showroom milikku? Sebagai apa? Kenapa harus di showroom milikku?
Lalu bagaimana dengan Tari? Akankah dia setuju?
"Aku tak tahu apakah ada pekerjaan yang kosong." akhirnya aku menjawab tanpa kepastian.
Kasihan juga dia. Masalah rumah tangganya begitu pelik. KDRT dan bukti yang Ia tunjukkan padaku membuatku sedikit iba.
__ADS_1
Tara adalah wanita yang pernah mengisi hatiku. Terlepas dari kesalahannya yang mengkhianati cintaku.
Benar yang Tari katakan, aku memang tak tegaan jadi orang. Kelihatannya saja aku nackal dan acuh, padahal aku hatinya lembut. Tak tega kalau melihat orang kesusahan.
"Tolonglah, Gas! Kamu tahu kan kalau aku bisa bekerja. Mau kamu tempatkan di bagian manapun aku pasti mau!" pinta Tara dengan mata yang begitu memohon bantuanku.
Huft...
Kenapa jadi begini hidupku? Dulu, wanita ini mengkhianatiku dan membuatku hancur. Mengataiku segala macam dan kini? Ia bahkan meminta pekerjaan padaku!
Sungguh roda itu akan berputar. Tak selamanya kita berada di atas, ada kalanya saat roda itu berputar kita akan berada di bawah dan melihat ke atas penuh rasa iri.
Janganlah sombong jadi manusia, karena semua ada masanya. Dulu aku memang menderita, bekerja sampai lupa waktu dan karena itu pula rumah tanggaku hancur.
Kini semua berubah. Aku yang dulu dihina kini malah dimintai tolong.
"Nanti kalau ada akan aku kabari. Aku masuk dulu!" aku meninggalkan Tara dan masuk ke dalam rumah.
Aku melihat bekalku yang sudah tersedia diatas meja. Laptopku juga ada tak jauh dari bekal milikku. Tari sedang sakit namun masih saja menyempatkan diri untuk membuat masakan untukku.
"Om belum berangkat?" tanya Tari yang berusaha duduķ. "Maaf ya Om. Tari kesannya kayak pemalas. Bukannya beresin rumah atau temani Om sarapan dan mengantar sampai depan rumah eh malah tidur-tiduran di kamar sambil menonton TV." kata Tari yang merasa tak enak hati.
Aku tersenyum. "Enggak apa-apa. Kamu mau ke dokter enggak? Jangan dirasain sendiri sakitnya. Ke dokter biar tau kamu sakit apa dan jadi diobatin!"
Tari tersenyum. "Cuma pusing dikit aja kok, Om. Tiduran sebentar juga nanti enakkan. Kebetulan hari ini Tari enggak kursus, Tari mau istirahat nanti kalau enakkan baru deh belajar masak lagi."
Aku mengusap lembut rambutnya. Wajahnya memang sedikit agak pucat dan terlihat agak lelah. "Jangan dipaksakan! Kesehatan kamu lebih penting!"
"Iya, Om. Om kenapa belum berangkat?"
Awalnya aku mau menyembunyikan semuanya pada Tari, namun setelah aku pikir-pikir toh aku jujur atau bohong Tari akan selalu percaya apapun perkataanku. Lebih baik jujur saja daripada bohong, hanya nambah dosa saja!
"Tadi waktu aku lagi keluarin mobil, Tara datang dan meminta sesuatu sama aku."
__ADS_1
"Minta apa, Om? Minta rujuk?" tanya Tari dengan wajah kesal yang Ia sembunyikan.
"Bukan! Tara minta pekerjaan sama aku. Di showroom. Ia butuh pekerjaan karena akan segera bercerai. Tara sudah diusir keluarganya dan kini Ia butuh pekerjaan karena sedang dalam proses bercerai. Menurut kamu gimana?"
Tari lalu menunduk dan menyembunyikan pandangannya. Ia terdiam seperti sedang memikirkan jawaban apa yang akan Ia berikan padaku.
Lalu aku mendengarnya menghela nafas dalam. Sepertinya Ia sudah membuat keputusan yang berat.
"Kalau kamu enggak suka, aku akan menolaknya. Sejak awal aku juga enggak pernah menjanjikan akan memberinya pekerjan. Kamu enggak usah khawatir ya!" kataku menenangkan Tari.
Tari mengangkat wajahnya yang berubah mendung dalam sekejap. Ia lalu menggelengkan kepalanya. "Enggak, Om. Kalau Tari melarang Om, artinya Tari tidak mempercayai suami Tari sendiri."
Tari lalu menggenggam tanganku dan menatapku dengan lekat. "Kalau menurut Om, Mbak Tara bisa Om bantu ya Om bantu saja. Toh menolong orang lain pahalanya besar. Tari percaya sama Om Agas. Om Agas pasti akan menjaga kepercayaan yang Tari berikan bukan?"
Deg...
Ini yang berat.
Tari begitu mempercayaiku. Aku memiliki beban berat menjaga kepercayaan yang diberikan olehnya. Akankah aku bisa menjaga kepercayaan yang Ia berikan?
"Kenapa kamu tidak memintaku untuk menolak permintaan Tara saja? Dengan begitu hati kamu akan lebih tenang, kamu tak perlu takut jika ada Tara di sekitarku? Kalau aku khilaf gimana? Biar bagaimanapun, Tara ada wanita yang pernah kucintai dan kamu tau masih ada namanya dalam hatiku. Kenapa kamu mengambil resiko yang menyakiti hati kamu seperti ini?" tanyaku sambil menatapnya dengan lekat.
Tak kusangka Ia malah tersenyum. Ia menyentuh wajahku dengan tangannya yang hangat. "Om tuh punya banyak pesona. Mau aku merantai kaki Om sekalipun, pesona Om akan selalu memikat hati wanita lain. Saat aku menikahi Om, aku tau itu konsekuensiku. Hanya dengan memberikan Om kepercayaanlah aku bisa menjadi istri Om dengan tenang. Aku bisa berpikir positif terus meskipun banyak godaan datang dalam rumah tangga kita. Kepercayaan itu mahal. Aku meminta sama Om untuk menjaganya."
Aku tau, karena terlalu mahal makanya aku takut mengecewakan kepercayaan Tari. Ini tujuannya membebaskanku, bukan mengekangku. Agar aku tau diri dan menyadari mahalnya sebuah kepercayaan.
"Baiklah. Aku akan menjaga kepercayaan kamu. Istirahatlah di rumah. Jangan banyak bekerja. Dan masalah Tara, kamu tenang saja. Aku hanya ingin membantunya hidup mandiri saja. Tak ada niat yang lain."
Tari tersenyum. "Iya. Tari tau kok. Tari kan sudah pernah bilang kalau hati Om tuh seluas samudera."
Aku mencium keningnya lalu berangkat kerja. Dalam hatiku bertekad, akan menjaga kepercayaan yang Ia berikan.
****
__ADS_1
Aku percaya kalian akan Vote novel ini kan? yuk dukung Om Agas dengan vote, komen dan like ya... Maacih 🥰🥰😘😘