Duda Nackal

Duda Nackal
Si Pembuat Onar


__ADS_3

Agas


"Wira, kamu jangan bikin Abi mati muda dong! Jangan kabur kayak gitu! Abi nyariin kamu tau enggak? Kalau Mommy tau, bisa habis Abi diomelin!" kataku pada Wira yang masih dadah-dadah pada cewek seksi tadi.


"Ih kamu dengar Abi bicara enggak sih?" tanyaku dengan kesal. Anak ini susah sekali dialihkan dari cewek cantik.


Cepat-cepat aku membawa Wira keluar dari toko pakaian. Di luar, sudah ada Tari yang menunggu kami berdua.


"Kalian kemana aja sih? Aku cariin kok enggak ada! Bikin khawatir aja!" omel Tari.


Andai Tari tahu kalau anaknya hilang karena mencari cewek seksi, bukan omelan lagi yang aku akan dapatkan namun bisa lebih dari itu. Bisa-bisa Ia marah besar dan aku disuruh tidur di luar bersama dinginnya malam.


"Habis lihat-lihat toko baju, My. Wira bosan. Udah sampai hafal dia karakter di hiasan kue tadi. Aku ajak saja ke toko baju. Sekalian lihat-lihat kemeja. Aku mau beli kemeja buat ke showroom, ada meeting dengan clien nanti." lancar jaya aku kalau berbohong.


"Oh udah dapat belum kemejanya? Kok masih belum bawa apa-apa?" tanya Tari yang melihatku tanpa membawa barang belanjaan sama sekali.


"Belum, tadi pas lagi lihat-lihat Mommy telepon kan? Ya udah aku belum bayar. Daripada Mommy Tari nyariin kita berdua lebih baik kita keluar aja dulu." kayaknya aku salah kasih jawaban deh. Karena perkataan Tari selanjutnya membuatku seperti jatuh ke lubang jebakan yang aku buat sendiri.


"Yaudah ayo kita masuk lagi ke dalam. Abi pilih yang Abi mau beli, nanti Mommy tungguin. Gantian, tadi kan Abi udah menemani Mommy belanja di toko batik dan toko kue, sekarang Mommy yang akan nungguin Abi belanja." ajak Tari.


Mati aku....


Kalau Tari bertemu dengan cewek seksi yang tadi gimana? Pasti nih anak akan manggil-manggil deh! Hadeh... senjata makan tuan ini namanya.


"Enggak usah, My. Nanti kuenya lumer. Mommy juga pasti udah capek kan muter-muter Mall?" tolakku.


"Nggak kok, nggak capek. Kalau masalah kue bisa tahan sampai 3 jam. Jadi, kalau Abi mau belanja dulu kita masih bisa tenang saja. Ayo kita pergi sekarang nanti kita kelamaan lagi di Mall!" aku tak bisa berbuat apa-apa lagi kalau Tari sudah bicara seperti itu.


Akhirnya aku, Wira dan Tari masuk ke dalam toko pakaian. Untuk menghindari terjadinya pertemuan antara Tari dan cewek seksi tadi aku langsung menuju bagian pakaian laki-laki. Cepat-cepat aku memilih kemeja yang sesuai dengan seleraku.


Kemeja sudah aku pilih, lanjut tinggal membayar. Aku sudah setengah jalan menuju ke meja kasir saat kulihat cewek seksi tadi juga sedang mengantri untuk membayar barang belanjaannya. Bahaya ini. Anak kecil yang sedang duduk manis di stollernya bisa beraksi lagi.


"Sayang, kayaknya motif kayak begini agak kurang cocok deh di aku. Kita ganti yang lain ya? Sekalian mau beli sweater juga!" aku harus putar balik sebelum Wira melihat cewek yang tadi Ia pukul bibirnya.


"Yaudah. Terserah Abi aja. Mommy tunggu disini boleh?" tanya Tari.


Waduh... Jangan dong! Justru anak itu jangan sampai bertemu dengan cewek seksi tadi! Bahaya.

__ADS_1


"Yah... Kalau Mommy enggak mau pilihin Abi enggak jadi belanja aja deh!" terpaksa aku berpura-pura merajuk. Terserah deh dibilang sok imut aku enggak peduli.


"Kok gitu sih? Yaudah ayo aku temenin!"


Yess!


Biar cepat, aku yang mendorong stoller Wira. Tari mengikuti langkahku. Aku melirik sedikit dan cewek itu sudah selesai membayar. Baguslah.


Aku mengambil sebuah sweater dan kembali mengajak Tari ke kasir. Kali ini aman. Cewek seksi itu sudah pergi. Aku bisa membayar dengan tenang.


Keluar dari toko pun aku tenang. Wira asyik dengan mainan di stollernya. Kami pun langsung menuju parkiran mobil.


Aku membuka pintu bagasi dan memasukkan stoller Wira yang sudah kulipat. Lalu membukakan pintu untuk Tari dan Wira masuk ke dalam mobil namun...


"Permisi!"


Aku menoleh. Tari yang belum masuk ke dalam mobil pun menoleh ke arah yang sama.


Mati aku...


"Oh Om ganteng yang tadi? Kebetulan banget ketemu di sini!" cewek itu tersenyum senang melihat orang yang Ia kenal.


Aku melirik ke arah satpam cintaku yang kini sudah menyorotkan tatapan paling menyeramkan. Mati aku... Ya Allah tolong...


"Mm... Ada apa ya?" tanyaku. Aku berusaha bersikap tenang menghadapi cewek seksi itu namun...


"Tewe... Tantik!" Wira menyapa dengan sok akrab pada cewek seksi tersebut.


"Hi Adek yang menggemaskan kayak Papanya!" cewek itu menyapa balik Wira.


Aku kembali melirik ke arah Tari yang menatapku makin menyeramkan saja. Please.... Jangan salah paham dulu. Bukan aku yang centil tapi anak kamu! Anak kamu yang kabur dan mencari cewek seksi! Bukan aku....


"Ehem!" aku berdehem agar cewek itu kembali fokus padaku. Tak bisa aku membiarkannya berlama-lama di sini. "Tadi ada apa ya?" aku mengulangi pertanyaanku.


"Oh iya jadi lupa! Habis Adeknya lucu banget sih!" cewek itu kini beralih kepadaku. "Bisa tolong lihatin mobil aku enggak? Kok mati? Aku enggak ngerti mesin!"


"Bantuin aja, Bi. Sesama manusia kan harus saling membantu! Apalagi Mbak cantik ini enggak ngerti mesin! Abi harus bantuin dong!" sindir Tari.

__ADS_1


Wah... Udah mode sindir menyindir. Bahaya nih kalau didiamkan!


"Boleh saya pinjam kunci mobilnya?" cewek itu pun memberikan kuncinya padaku.


Beruntung Ia bertemu aku si pemilik showroom yang mengerti mesin. Kalau laki-laki mesum di luar sana gimana?


Aku pun memeriksa mesin mobil cewek tersebut di bawah tatapan tajam Tari yang terus menguasai. Sementara si tukang buat ulah malah turun dari gendongan Tari dan kini digendong oleh cewek seksi tersebut.


"Kakak tantik!" goda Wira.


"Ih kamu bisa aja! Muji-muji aku segala!" cewek seksi itu mencubit pipi Wira dengan gemas.


Cepat-cepat kubenarkan mesin mobilnya dan untunglah mobilnya langsung nyala. "Alhamdulillah!" kataku.


Aku mengambil Wira dari gendongan cewek seksi tersebut. "Udah ya. Nanti sering dipanasi mobilnya meski jarang digunakan." pesanku.


"Iya. Makasih banyak, Om. Untung ketemu Om ganteng di sini!" kata cewek seksi itu sambil tersenyum lebar.


"Iya. Kami duluan ya!" pamitku. Cepat-cepat kubawa keluargaku pergi dan bersiap menerima sidang dari Tari.


Aku sengaja menyetel musik agar aku lebih rileks. Tatapan mata Tari masih setajam pedang pembunuh naga dan si pembuat onar malah tertidur pulas.


"Jadi, Om ganteng ketemu cewek tadi dimana? Kok udah akrab sekali? Apa jangan-jangan waktu menghilang tadi kamu bawa Wira nyari yang bening-bening ya?"


Deg...


Tebakkan Tari tidak sepenuhnya salah.


Memang benar saat menghilang tadi kami pergi ke toko sebelah. Tapi bukan karena mencari yang bening-bening seperti yang Ia tuduhkan. Mencari anak lanangku yang centil dan sedang hunting cewek cantik.


Aduh... mesti pakai alasan apa ya?


Ini sih jujur salah, bohong lebih salah. Ya Allah Wira... Tolong Abi-mu ini....


****


Nantikan Novel Wira ya in sha Allah abis lebaran 🥳🥳🥳

__ADS_1


__ADS_2