Duda Nackal

Duda Nackal
Dibalik Layar Usaha Agas-1


__ADS_3

Flashback


Aku kembali ke cafe milik Tari dengan wajah kusut. Aku belum bisa mendapatkan apa-apa padahal aku menjanjikan pada Tari kalau aku akan menyelesaikan semuanya.


Aku berusaha menghubungi siapapun yang bisa kumintai tolong. Aku saja sampai terlalu fokus dengan handphoneku dan malah mengacuhkan Tari.


Lokasi kejadian aku bertemu dengan Vira adalah di diskotik. Jadi, ya aku harus nyari barang bukti di diskotik. Masalahnya adalah, membuka CCTV pada orang umum mereka nggak mau. Gimana caranya? Aku mau menyogok pakai uang saja mereka tak mau terima. Lalu pakai apa lagi? Apa jumlah uang yang kutawarkan terlalu sedikit? Matre sekali!


Aku terus berdoa dan berdoa meminta sama Allah semoga dibantu untuk menyelesaikan masalah ini. Diberi jalan keluar agar aku bisa menemukan bukti yang susah didapat ini.


Aku percaya doaku akan dikabulkan dan ternyata benar. Ternyata ada yang mengabariku kalau ada seseorang yang kenal dekat dengan pemilik diskotik tempat kami biasa nongkrong. Orang tersebut bisa membantuku.


Aku mendatangi orang yang saat ini sedang minum seorang diri. Wajahnya tampak sedih dan kehilangan semangat hidup.


Sebenarnya aku malas minta tolong dengan orang ini. Melihat mukanya saja aku enggan. Mau gimana lagi, semua demi Tari.


"Sendirian, Mar!" sapaku pada Damar yang sedang menikmati vodka dengan pandangan kosong.


"Eh lo, Gas. Iya sendirian. Lo tumben kesini? Mana anak-anak?" Damar mencari teman-teman satu gengku yang biasanya mengikutiku kemana pun aku pergi.


"Gue sendirian. Gue kesini mau nyari lo!" aku memesan orange jus pada bartender. Melihatku hanya memesan orange jus, Damar mengernyitkan keningnya keheranan.


"Nyari gue? Kenapa?" Damar melihatku dengan penuh keheranan. Selain tidak memesan minuman keras, kedatanganku yang mencarinya tiba-tiba membuat Damar makin merasa heran.


Aku meminum orange jus yang bartender berikan. Beda rasanya, biasa minum vodka dan teman-temannya kini hanya minum orange jus. Mau gimana lagi? Seorang Abi harus hidup benar mulai sekarang. Harus jadi teladan anak-anaknya kelak.


"Gue mau minta tolong. Bisa enggak lo minta sama pemilik diskotik ini untuk membuka CCTV buat gue? Ada yang mau gue cari."


"CCTV? Lo mau nyari apa?" tanya Damar yang kembali mengernyitkan keningnya. Untunglah Damar belum terlalu mabuk jadi masih bisa diajak ngobrol serius.


"Gue... Lagi ada masalah. Gue kena fitnah udah hamilin anak orang. Dia suka kesini dan gue ketemu dia di sini juga. Gue curiga kalau dia bukan hamil anak gue. Selama ini gue selalu main aman, Mar. Mana mungkin gue hamilin anak orang?" aku menceritakan segala permasalahanku pada Damar.

__ADS_1


"Huft.... Masalah lo ternyata sama beratnya dengan masalah gue. Tunggu sebentar, gue telepon Choky dulu!" Damar lalu menghubungi Choky, pemilik diskotik yang juga teman dekatnya tersebut. "Beres! Choky lagi di jalan, sebentar lagi sampai kesini. Dia mau bukain CCTV-nya buat lo."


"Yang bener Mar?" tanyaku sambil tersenyum senang. Ada harapan. Ada harapan... "Makasih ya Mar!"


Damar hanya menyunggingkan senyum kecil lalu menatap gelas miliknya yang sudah kosong dengan tatapannya yang sama kosongnya.


"Tara gimana? Masih enggak mau rujuk?" aku tak enak bila tidak bertanya masalah yang Damar alami. Dia mau membantuku, setidaknya aku mendengarkan curhatannya sebagai wujud terima kasihku.


"Ya... Begitulah. Lo tau sendiri kan Tara keras kepala? Apalagi sekarang dia udah kerja dan hubungannya dengan Mama Irna membaik sejak Mama Irna dirawat di rumah sakit."


Aku terkejut mendengar berita yang Damar sampaikan. "Mama Irna sakit? Sakit apa?"


"Tekanan darahnya tinggi, jatuh di kamar mandi. Untungnya enggak sampai kena stroke. Cuma perlu dirawat dan jangan sampai tekanan darahnya tinggi lagi. Tara udah baikkan sama Mamanya dan malah enggak butuh lagi sama gue." cerita Damar dengan sedih.


"Pantes aja rumah lo kosong terus." jadi alasan kenapa Tante Irna tak juga mengabari Tari tentang kebenaran Tari keponakannnya atau bukan bak harapan semu saja karena Tante Irna sakit toh? Ah aku udah berburuk sangka saja!


"Ya begitulah. Mungkin gue memang akan jadi duda kayak lo pada akhirnya."


"Jangan begitulah! Lo harus usaha. Pertahanin rumah tangga lo!" aneh rasanya berkata seperti ini pada laki-laki yang sudah merebut istriku sendiri. Aku malah menyemangatinya untuk mempertahankan rumah tangga yang dibangun di atas air mata dan rasa sakit hatiku.


"Ayo ikut gue ke ruang CCTV!" ajak Choky.


Aku dan Damar yang jalannya udah mulai sempoyongan mengikuti Choky. Ia mengajakku ke sebuah ruangan lalu kami pun mulai bekerja. Memperhatikan CCTV dan mencari Vira.


Damar terus membantuku. Choky sudah pergi dan meninggalkan aku dan Damar mencari sendiri. Pusing mencari satu orang diantara banyak orang.


Semalaman aku dan Damar begadang sampai akhirnya kami menemukan bukti. Damar yang semula agal mabuk sampai hilang mabuknya karena sibuk mencari apa yang aku cari. "Kita double saja buktinya. Satu lo pegang dan satu lagi biar gue yang pegang. Jangan lo simpan sendiri. Nanti kalau ada apa-apa hilang semua bukti yang lo punya!"


Saran yang Damar berikan masuk akal. Yang kuhadapi bukanlah orang sembarangan. Pasti akan menggunakan segala cara untuk menghancurkan bukti yang kumiliki.


"Baiklah. Kita double. Gue juga harus mencari cowok yang beberapa kali ke diskotik bareng sama Vira." aku teringat ada beberapa video dimana Vira dan kekasihnya sedang bermesraan. Dugaanku, laki-laki itulah yang menghamili Vira.

__ADS_1


"Enggak usah. Gue kenal siapa dia!" ujar Damar yang mabuknya sudah hilang. Semalaman begadang menonton CCTV denganku memulihkan kesadarannya. Toh dia belum benar-benar mabuk.


"Siapa?"


"Juan."


"Juan?" tanyaku. Kayaknya pernah denger deh tapi dimana ya? Apa Juan adalah cowok yang dulu naksir Tari namun Vira merebutnya? Sepertinya benar.


"Dia... Sepupu gue." ujar Damar dengan malas. "Vira... Gue pernah melihat Vira menginap di apartemen Juan. Mereka sudah lama berpacaran."


"Yang bener? Please, Mar. Bantuin gue! Suruh Juan bertanggung jawab sama Vira. Please... Itu kan anaknya dia! Kenapa gue yang harus tanggung jawab? Gue kan cuma senang-senang doang, enggak ikut nanem saham di Vira!" pintaku pada Damar dengan penuh harap.


Tak kusangka Damar malah tersenyum dan bersedia menolongku. "Iya. Gue tolongin. Sebagai wujud penyesalan gue karena sudah menghancurkan rumah tangga lo. Jangan sampai rumah tangga lo gagal lagi untuk kedua kalinya."


Damar lalu menepuk bahuku dan berniat pulang ke rumah. Lelah semalaman melihat layar CCTV.


Tak kusangka Damar ternyata mau menolongku menghadapi masalah ini. Seseorang yang tidak kusangka-sangka. Seseorang yang dulu amat kubenci karena sudah mengkhianatiku.


"Mar!" panggilku.


Langkah Damar berhenti dan berbalik menghadapku.


"Gue akan bicara lagi sama Tara dan membujuk dia menggagalkan rencana bercerai kalian. Anggap aja ini balas budi gue karena lo sudah menyelamatkan rumah tangga gue. Biar rumah tangga kita berdua sama-sama selamat dari perceraian." kataku dengan berbesar hati.


Bukan kalah. Bukan mengalah. Aku mau semua menang. Semua bahagia. Melupakan semua dendam di masa lalu. Toh karena itu pula aku jadi mengenal Tari. Bisnisku maju pesat. Aku menjadi seseorang yang hidupnya lebih baik lagi.


Semua masalah ada hikmahnya. Dulu aku merutuki masalah yang menimpaku dan menganggap Allah tak sayang padaku. Kini aku bisa tau apa tujuan Allah memberikanku masalah yang berat. Semua semata karena Allah sayang padaku.


"Makasih banyak, Gas. Maafin gue ya! Maafin banyak luka yang gue buat untuk lo!"


Aku memeluk Damar dan mengakhiri dendam dengannya. Ya, namanya juga sahabat. Meski benci, namun rasa persahabatan kami lebih kuat dari rasa benci.

__ADS_1


"Gue... Maafin lo, Mar!"


****


__ADS_2