
Aku dan Tari yang sedang bobo bareng terkejut dengan kedatangan Mama dan Papa di malam hari seperti ini. Rasanya baru satu atau dua jam aku terlelap eh sudah bangun karena dikagetkan.
"Agas sakit, Ma. Ini baru aja tidur, karena kepala Agas masih pusing." kataku membela diri.
Tari turun dari tempat tidur dan menghampiri Mama dan Papa untuk salim. Mama meski agak enggan tetap memberi tangannya, Papa yang tersenyum pada Tari.
"Agas gimana, Tari? Masih bandel?" tanya Papa sambil tersenyum.
"Kadang, Pa." balas Tari sambil balas tersenyum. "Duduk dulu, Pa. Ma..."
Tari membuatkan teh hangat dan mengeluarkan kue blackforest buatannya yang tadi Ia masukkan ke kulkas untuk disediakan pada Mama dan Papa.
"Kamu gimana bisa kecelakaan sih? Mana yang sakit?" tanya Mama yang sudah duduk di samping tempat tidurku. Memeriksa putra satu-satunya dengan tatapan khawatir.
"Ya namanya kecelakaan, Ma. Alhamdulillah Agas baik-baik saja, hanya kena gegar otak ringan. Efeknya ya agak pusing aja." jawabanku membuat Papa agak terkejut dan lalu tersenyum ke arah Tari.
Papa pasti sadar kalau aku sudah ada perubahan. Sudah mengucap alhamdulillah, adalah bukti aku sedikit berubah. Kalau Papa tahu aku sudah sholat hampir lima waktu bagaimana ya?
"Kamu lagi mabuk? Makanya enggak fokus begitu?" selidik Mama.
"Enggak, Ma. Agas enggak mabuk. Agas lagi melamun aja pas kucing lewat, makanya Agas banting stir dan nabrak pohon."
"Kamu udah berapa malam disini?" Mama kalau nanya tuh detail. Harus dijawab semua.
"Ini malam ketiga."
"Hah? Sudah 3 hari kamu dirawat dan baru kasih tau Mama? Kenapa enggak ngabarin Mama sih?" Mama lalu melihat ke arah Tari yang berdiri sambil mengucek matanya karena masih ngantuk. "Kamu kenapa enggak kasih tau saya, Tari? Biar bagaimanapun Agas itu anak saya! Saya harus diberitahu apa yang terjadi dengan anak saya!" Mama malah melampiaskan emosinya pada Tari.
"Iya, Ma." Tari hanya bisa mengiyakan Mama yang menjadikannya sebagai sasaran emosi.
"Agas yang lupa, Ma. Tari kan enggak tau nomor Hp Mama. Malah Tari yang nyuruh Agas buat ngabarin Mama dan Papa. Agas tuh sebenarnya enggak mau ngabarin, takut Mama malah kelewat khawatir kayak gini. Tari yang ingetin Agas, minta Agas hubungin Mama sama Papa." aku berusaha menjelaskan kesalahpahaman diantara keduanya.
__ADS_1
"Sudah, jangan kebanyakan dibela istrimu itu! Kamu juga, ngapain sudah nikah masih aja kelayapan di luar?" kini aku juga kena semprot sama Mama.
"Habis nongkrong sama anak-anak. Sebentar doang, Ma. Tari juga udah larang Agas, tapi Agas aja yang bandel. Sekarang, Agas mau nurut sama Tari." aku tersenyum pada Tari yang sejak diomelin Mama hanya menundukkan kepalanya. "Udah ya Mama marah-marahnya. Minum dulu Ma, Pa. Itu ada kue juga. Papa dan Mama mau makan apa? Nanti Agas minta Tari belikan. Udah malam juga sih ini."
Mama pun duduk bersama Papa. Mereka meminum teh hangat buatan Tari dan mencicipi kue yang Tari bawa. "Ini kue blackforest, siapa yang ulang tahun, Gas?" tanya Papa.
"Enggak ada yang ulang tahun, Pa." jawabku.
"Beli dimana? Enak rasanya!" puji Mama membuat Tari tersenyum senang.
"Tari yang buat." jawabku.
Senyum di wajah Mama menghilang. "Dalam rangka apa buat kue? Merayakan kamu sakit gitu?" kembali Mama berkata sinis.
Tari kembali menundukkan wajahnya. Kasihan sekali istriku itu.
"Tari sekarang kursus membuat kue, Ma. Tadi dia kursus sebentar, Agas yang suruh!" harus aku bilang kalau aku yang suruh agar Tari tak kena omel Mama lagi. "Jadi, bukan karena merayakan sesuatu ya Ma. Memang materi kursusnya seperti itu!"
"Mama laper nih!" Mama mengalihkan percakapan agar tak terlalu disudutkan.
"Kamu berani ke luar sendirian Sayang?" aku melihat jam di Hp milikku. Jam 12 malam.
"Berani kok, Om. Tadi Tari lihat ada yang jualan pecel ayam dan nasi goreng di depan rumah sakit persis." jawab Tari.
Ah anak itu memang rajin, inisiatif lagi. Aku yang khawatir. Bagaimanapun dia sekarang sudah menjelma jadi gadis cantik. Takut ada yang godain atau berbuat yang tidak-tidak padanya.
"Pakai jaketku! Resleting sampai atas. Lalu kuncir rambut kamu dan pakai masker!" perintahku. "Kalau ada yang macam-macam bilang aja kamu lagi sakit menular. Biar enggak dijahatin!"
"Cuma ke depan aja harus begitu, Om?" tanya Tari sambil memakai jaket seperti yang aku suruh tadi.
"Udah nurut aja! Mama mau makan apa? Papa mau makan apa?" tanyaku.
__ADS_1
"Apa aja. Yang deket aja ya Tari. Jangan jauh-jauh sudah malam!" jawab Papa.
"Iya, Mama samain aja kayak Papa." Mama tak tega juga mau request sesuatu.
"Tari keluar dulu ya, Om. Kalau Om mau dibelikan sesuatu hubungin Hp Tari aja!" pesannya.
"Iya. Hati-hati! Ingat pesan aku tadi!" kataku dengan khawatir.
Tari pun pergi keluar. Papa dan Mama masih menikmati kue buatan Tari dengan lahap. Sepertinya mereka sangat lapar, terlalu khawatir sampai lupa makan.
"Bagaimana anak itu selama menjadi istri kamu?" tanya Mama yang rupanya sudah penasaran sejak tadi ingin bertanya, namun ragu karena ada Tari di kamarku.
"Tari maksud Mama?" tanyaku pura-pura tak tahu.
"Iyalah. Siapa lagi? Kamu kecelakaan karena melamun memikirkan dia?" tebak Mama. Naluri keibuannya memang hebat, tanpa aku katakan sudah bisa menebak. Kalau aku katakan iya, bisa tambah jutek Mama terhadap Tari. Kasihan Tari, padahal aku yang salah.
"Tari baik dan melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri. Mama cobalah untuk lebih dekat dengannya. Tari itu anak yang baik. Menantu yang pasti idaman Mama. Jangan terlalu ketus dan jutek padanya, Ma. Kasihan hidupnya sudah berat." aku malah mengomel pada Mama. "Agas kecelakaan memang sedang mikirin Tari."
"Tuh benar feeling Mama. Pasti anak itu sudah berulah deh!"
"Bukan berulah, Ma. Agas ketemu sama Tara di tempat nongkrong Agas, Tara bilang sama Agas kalau Ia akan bercerai dengan Damar. Tara ngajak Agas balikan lagi setelah bercerai. Agas melamun sepanjang jalan, bukan karena mikirin ajakan Tara. Agas mikirin Tari. Selama ini dia berusaha mengubah Agas ke jalan yang benar dan berhasil. Makanya Agas meninggalkan Tara dan berniat pulang, belum terlalu malam saat itu, biasanya Agas malah sampai pagi. Mama mulai sekarang harus lebih baik ya sama Tari. Agas saja luluh dengan kebaikannya, masa sih Mama enggak?"
"Kenapa kamu enggak mau balikan sama Tara, Gas? Bukankah kamu susah lupa sama Tara? Kalau istilah anak sekarang, kamu susah move-on? Bukankah ini yang selama ini kamu inginkan?" tanya Papa.
"Awalnya Agas pikir seperti itu, Pa. Tari yang menyadarkan Agas, mau sampai kapan Agas terus menerus mendendam seperti itu? Agas tak mau terima, Tari yang ngajarin Agas, melihat orang lain menderita membuat Agas bahagia, apa bedanya Agas sama Tara?" kataku.
"Berani sekali dia menasehati kamu seperti itu?!" Mama masih belum menyukai Tari rupanya.
"Nasehat itu bisa datang dari siapa saja, Ma. Bahkan dari orang tercela sekalipun. Selama nasehatnya benar, tak ada salahnya kan diikuti?"
"Tuh dengerin apa kata anak kamu!" omel Papa pada Mama. "Apa yang Agas katakan benar. Mulailah menerima Tari. Meskipun dia hanya anak yatim piatu, pendidikan yang Ia peroleh bahkan lebih hebat dari anak yang memiliki kedua orang tua lengkap. Buka mata kamu, lihatlah ketulusan anak itu. Papa sudah melihatnya sejak awal, makanya Papa setuju Agas menikahinya."
__ADS_1
Mama hanya terdiam mencerna setiap perkataan Papa. Semoga saja mulai sekarang Mama bisa menerima Tari.
****