
Agas
Waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku dikhianati oleh Tara dan tak punya semangat hidup lagi. Tapi kini, aku malah berteman akrab dengan Tara. Bahkan anak-anak kami pun bersahabat. Maklum, mereka masih bersaudara ternyata.
Tak ada yang menyangka dunia akan sesempit ini. Mencari jodoh yang ternyata ada di depan mata sendiri. Dan yang dipikir jodoh malah berakhir menjadi saudara. Itulah hidup, tak ada yang tahu bagaimana endingnya.
Melihat Tari dan Tara yang dulu bermusuhan kini malah menjadi dua sahabat yang saling bertukar pikiran rasanya masih terlalu ajaib buatku. Kadang aku masih suka tersenyum melihat keakraban mereka yang semula sangat tidak mungkin tapi ternyata menjadi mungkin.
Aku dan para sahabatku juga masih berteman akrab layaknya saudara tanpa ikatan darah. Damar yang dulu sempat terputus silaturahminya karena merebut istriku, kini sudah kembali bergabung bersamaku, Bastian, Riko dan Sony kembali.
Seperti hari ini kami berencana untuk jalan-jalan bersama ke pantai. Sebuah cottage sudah kami sewa untuk tempat bermalam. Tujuannya apa lagi selain menjalin tali silaturahmi sesama sahabat.
Hanya Sony dan Riko yang tidak membantu pasangan, seperti biasa dua jomblo akut itu bertugas untuk menjaga Wira dan Zaky. Aku sudah mengancam mereka untuk tidak mengajarkan yang aneh-aneh pada anak-anak kecil yang masih polos itu. Awas aja kalau mereka sampai menjejali anak-anak polos itu dengan pelajaran yang tidak berguna!
Tari sudah memasuki semester kedua kehamilannya. Tidak seperti kehamilan pertama yang sangat sensitif, kehamilan kedua ini nampaknya lebih tenang. Ngidamnya pun tidak aneh-aneh. Pokoknya, sangat jauh berbeda dengan saat hamil Wira dulu.
Aku dan Tari membiarkan Wira dan Zaky bermain bersama Sony dan Riko. Sepertinya, kali ini mereka tidak akan mengajari yang aneh-aneh. Aku pun mengajak Tari berjalan-jalan menikmati udara pantai di sore hari.
Kugandeng tangan istriku tercinta. Meski pernikahan kami sudah hampir 3 tahun, namun rasa cintaku pada Tari malah seperti pertama kali dulu. Selalu memupuk cinta di mana pun dan kapan pun.
"Sayang, kalau aku nikah lagi gimana?" godaku.
Tari langsung memelototiku dengan tatapan tajam. "Apaan nanya kayak gitu? Mau aku potong sampai habis?" ancam Tari dengan kejamnya.
Aku tertawa melihatnya. "Jangan dong, jangan dipotong. Itu bisa memberi kamu kenikmatan loh. Itu juga bisa memberi kehangatan dan kegembiraan. Dielus-elus aja ya jangan dipotong!" godaku.
__ADS_1
"Jawab dulu pertanyaan aku! Apaan kamu minta ijin kayak gitu? Udah ada niat ya?" rupanya masih ngambek dia.
Kupeluk tubuhnya namun langsung Ia hempaskan lagi. "Jangan peluk-peluk, percuma kamu peluk aku kalau nanti ada wanita lain yang kamu peluk selain aku!"
"Cie... Kata-katanya puitis bener?! Kayak novelis aja?!" godaku.
"Aku serius, Bi! Pokoknya aku enggak mau dimadu!"
"Yang bilang mau madu kamu siapa? Aku cuma nanya kalau aku nikah lagi gimana?"
"Itu enggak usah ditanya, pasti aku enggak setuju!" jawabnya dengan penuh emosi.
"Yaudah kalau enggak setuju." jawabku dengan santainya.
Tari menatapku heran. "Kamu ngetes aku kan?" aku menahan tawaku melihat ekspresinya. "Ih jahat! Minta tuh yang wajar, bukan minta nikah lagi!"
Lalu sebuah cubitan pedas aku dapatkan. "Aww! Sakit Sayang! Kamu ih tega! Aku kan cuma becanda!"
"Enggak lucu! Garing! Aneh!" omel Tari.
"Seharusnya kamu enggak usah marah kalau aku nanya kayak gitu. Kamu cukup tanya balik aku kayak gini: "Emangnya ada wanita yang lebih baik dari aku? Memangnya ada wanita yang kamu cintai melebihiku? Kalau ada silahkan saja!" Pasti aku akan menjawab, enggak ada. Udah. Tenang deh hidup kamu!"
Tari memanyunkan bibirnya. Sebal karena kukerjai. Kumajukan tubuhku dan mencium bibirnya yang menggemaskan.
"Aku hanya becanda. Aku enggak akan menikahi wanita lain selain kamu. Hanya kamu yang ada di dalam hati aku. Mau secantik apapun, sekaya apapun dan sehebat apapun wanita di luar sana, tetap kamu yang paling terbaik dalam hatiku. Jadi, kalau aku bertanya seperti itu kamu nggak usah marah. Kamu nggak usah kesel dan kamu nggak usah emosi. Karena, tak ada yang lebih baik daripada kamu." aku mengeluarkan gombalan maut yang sudah lama tidak dikeluarkan oleh Duda Nackal.
__ADS_1
Rupanya Tari masih saja memanyunkan bibirnya dan menekuk wajahnya dengan sebal. Rupanya kalau Ia sudah kesal seperti ini tak mudah untuk di baik-baikkin.
"Udah dong! Kita kan lagi liburan?! Sesekali aku bercanda nggak apa-apa kan? Anggap aja senam jantung. Selama ini kamu yang bikin aku senam jantung terus. Selama hamil sensitif banget. Ngidamnya aneh-aneh. Sekarang baru aku kerjain dikit aja udah ngambek. Aku minta maaf ya. Mau maafin aku enggak?" kudekatkan lagi tubuhku dan mengecup bibirnya.
"Aku enggak mau lagi loh Abi becanda kayak gini lagi! Pokoknya aku enggak mau Abi nikah lagi! Bakalan aku sunat sampai habis kalau Abi nekat nikah lagi! " ancam Tari dengan sepenuh hati.
"Iya... Abi janji enggak kayak gini lagi. Pokoknya, Abi mau kita berdua tetap saling menyayangi dan mencintai sampai ajal memisahkan kita berdua. Tugas kita sekarang adalah mendidik anak-anak kita dengan sebaik mungkin. Pola asuh kedua orang tua kita yang bagus, bisa kita ikuti. Dan yang masih kurang, bisa kita perbaiki. Kita akan terapkan ke anak-anak kita nantinya. Satu lagi...."
"Apa?"
"I love you!"
"I love you too!"
Aku memeluk Tari dengan erat dan kami berdua pun menikmati pemandangan indah saat matahari terbenam. Semoga cinta kita berdua akan tetap hangat dan mesra seperti ini selamanya. Semoga kami berdua bisa membesarkan anak-anak kami dengan sebaik mungkin. I love you Utari Putri...
...****...
...TAMAT...
...****...
Terima kasih untuk semua pembaca setiaku yang sudah menemani sampai Om Agas tamat. In sha Allah habis lebaran aku keluarin tentang Wira dan segala keajaiban sifatnya.
Untuk sekarang, yuk baca novelku MENJADI SELEBGRAM HOT. Ceritanya dijamin lain dari yang lain. Jangan lupa mampir ya.
__ADS_1
Untuk hadiah giveaway komentar, akan aku umumkan di IG milikku (@Mizzly_) segera. Siap-siap yang menang harus DM aku ya.
Sekali lagi, terima kasih semua atas dukungannya. Tetap dukung karya aku yang lain ya. Terima kasih🙏🤩😍😊