
Kehidupan kami pun kembali normal. Tari kembali membuka cafe-nya dengan perasaan tenang tanpa takut adanya ancaman lagi. Aku belum memberitahu Tari mengenai cafe pemberian dari Papanya Vira sebagai wujud ganti rugi. Niatku, aku akan kasih surprise untuknya. Yang bisa aku beritahu sekarang adalah mengenai kondisi Bapak tirinya.
Seperti biasa, cafe masih sepi. Tari tidak begitu lelah menyiapkan bahan makanan. Ia sedang duduk di dalam dan membuat rencana marketing yang telah aku susun. Tari cukup mengembangkannya saja.
"Kamu mau tahu siapa yang sudah membuat teror di cafe ini? Memang, pelakunya adalah Vira namun yang ditugaskan untuk melempar batu waktu itu adalah... Bapak tiri kamu. "
Tari begitu terkejut mendengar informasi yang aku berikan. Matanya terbelalak kaget. "Bapak? Mau apa lagi dia? Kenapa sih Bapak masih mengganggu hidupku? Mau aja lagi disuruh sama Vira! Susah kalau orang sudah gelap mata dan hanya mikirin uang saja!" Tari terlihat emosi mendengarnya dan marah-marah sendiri.
"Kamu tenang dulu. Yang penting aku udah cari tahu dan Bastian sudah melaporkannya ke kantor polisi. Aku pikir Papanya Vira akan ikut campur, ternyata tidak. Lepas tangan tak mau mengurusi masalah sepele yang akan jadi batu sandungan karir politiknya. Sekarang, Bapak tiri kamu mendekam di jeruji besi untuk membayar segala perbuatannya. Sebelum dibawa polisi, aku sempat menanyai alasannya. Kenapa Ia tega berbuat seperti itu? Jawabannya apalagi kalau bukan karena terlilit utang karena lagi-lagi kalah judi,"
"Pengaruh alkohol dan judi dalam hidupnya begitu besar, sulit untuk disembuhkan. Entah nanti dari kepolisian akan merehabilitasi atau malah dijebloskan ke penjara. Aku sih belum mencabut laporanku. Kalau kamu menginginkan aku mencabutnya, akan aku cabut. "
"Tak perlu! Aku udah lelah dengan Bapak. Selama ini aku bekerja membanting tulang demi melunasi utang-utangnya, namun bukannya sadar tapi malah nekat mau menjualku pada mucikari. Aku udah enggak peduli lagi pada hidupnya. Kebiasaan buruknya enggak akan pernah sembuh dan enggak akan pernah hilang. Sudah cukup Ia memberi penderitaan dalam hidup Ibu dan aku selama ini. Aku udah nggak peduli apa yang menimpa dirinya, toh selama ini dia nggak pernah peduli sama aku dan hanya menganggapku sebagai anaknya saat ingin menyuruhku untuk membayar segala utang yang Ia buat." Tari terlihat menyimpan segala dendam dan amarah nya selama ini rasakan. Ia Bahkan tak peduli apa yang akan menimpa Bapak tirinya.
"Baiklah kalau itu mau kamu. Aku enggak akan maksa. Aku biarkan saja laporanku berlanjut agar polisi yang mengusutnya. Oh iya, aku punya hadiah untuk kamu."
"Hadiah? Hadiah apa?"
"Hadiah ini adalah bentuk ganti rugi atas segala yang kamu alami selama ini. Kamu jangan salah paham, aku bukannya materialistis atau mau dibayar dengan uang. Tapi, aku hanya ingin kamu mendapatkan apa yang menjadi hak kamu." aku lalu mengeluarkan tiga buah sertifikat tanah dan memberikannya pada Tari
Tari terlihat kebingungan. Ia tak mengerti kenapa dirinya dihadapkan pada 3 buah sertifikat. "Ini apa? Sertifikat apa? Kenapa dikasih ke aku?"
__ADS_1
"Ini adalah Cafe baru punya kamu. "
"Cafe? Punya aku? Abi belikan lagi? Ini aja masih sepi, Bi. Kenapa masih mau membuka usaha yang sama sih? Abi enggak takut rugi? Cafe ini tuh belum balik modal dan sekarang malah hampir jarang yang mau datang ke cafe ini. Kenapa Abi malah membuka 3 buah cafe lagi?" tanya Tari dengan polosnya.
"Aku nggak beli. Aku minta."
Tari terlihat mengernyitkan keningnya. "Minta? Sama siapa?"
"Sama siapa lagi? Ya... Sama Bapak dari perempuan yang udah kamu usir dan guyur air barusan!"
Tari makin terkejut mendengarnya. "Abi memeras mereka? Kok bisa Papanya Vira sampai memberi 3 buah cafe tanpa adanya maksud dan tujuan sendiri?"
"Aku enggak mau memeras meraka, Sayang. Papanya Vira katanya mau ganti rugi ya aku cuma ngikutin ditambah sedikit ancaman. Menurutku, harga 3 buah cafe ini enggak sebanding dengan semua penderitaan yang disebabkan oleh Vira terhadap hidup kamu. Maaf, arti kata maaf mungkin tak begitu berarti di mata orang-orang seperti mereka. Namun, jika kata maaf itu kita buat berharga mahal seperti harga tiga buat cafe ini, mereka akan mikir untuk mengulanginya lagi. Maaf itu bukan cuma diucapin, tapi kata maaf itu berarti mahal dan nggak semua orang bisa memaafkan."
"Percayalah bukan seperti itu. Aku nggak menjual apapun. Papanya Vira menginginkan kita berdamai. Aku enggak bisa terima seperti itu saja. Orang-orang seperti mereka tuh harus dikasih pelajaran. Jangan semudah itu melakukan kesalahan lalu minta berdamai dan semuanya selesai. Mereka pasti akan memberikan apapun yang kita minta agar semuanya selesai. Ya udah aku minta saja beliau untuk mewujudkan impian kamu selama ini. Aku minta beliau memberikan 3 buah cafe yang letaknya di samping showroom milikku. Sebenarnya, aku mau minta 10, tapi itu kan terlalu berlebihan. Jadi aku minta tiga aja. Nanti kalau kurang aku yang belikan. Aku kan sudah berjanji akan mewujudkan cita-cita kamu yang selama ini kamu impikan. " kataku sambil tersenyum.
Tari terdiam dan memikirkan semuanya. "Kenapa cuma 3 sih? 10 memang kebanyakan, tapi 5 cukup lah! Jadi Abi enggak terlalu nombok banyak nantinya!"
Aku tertawa mendengar perkataan Tari. Anak itu malah mau lebih banyak lagi. Kami saling tatap dan tertawa bersama. Ah... Rasanya sudah lama sekali kami tidak sebahagia ini.
"Aku nggak pernah menyangka loh Bi kalau pada akhirnya cita-cita aku akan terwujud tapi dengan cara seperti ini. Mau bilang tidak ikhlas dan tidak mau, namun sayang juga... Tiga buah cafe ini pasti harganya mahal. Abi pinter banget sih punya ide minta cafe kayak gini!" Tari memujiku sambil mengelus daguku. Seperti membujuk anak kucing, iya sih aku kucing garong tapi udah jinak sekarang. Tari pawangnya he...he...he...
__ADS_1
"Siapa dulu dong, Agastya Wisesa! Mantan Duda Nackal!" kataku dengan sombongnya.
"Hush! Udah buang jauh predikat duda nackal itu lagi! Gara-gara title itu kita hampir aja berpisah!" omel Tari membuat aku tak bisa sombong lama-lama. "Tapi ide Abi ini masuk akal sih. Ini adalah salah satu cara membuat mereka belajar kalau enggak selamanya segala sesuatu itu bisa diselesaikan dengan cara sesuka hati mereka. Ada harga yang mahal yang harus mereka keluarkan. Baiklah, Tari terima. Ini sebagai langkah kita untuk memulai bisnis yang baru. Tari menerimanya juga karena nggak mau membuat Abi terus-menerus mengeluarkan uang untuk Tari. Tari mau, mulai sekarang Tari juga bisa membantu Abi. Kita sama-sama berjuang demi anak-anak kita kelak. "
"Asyik!"
"Loh kok asyik sih?"
"Iya. Asyik. Kamu bilang anak-anak kita kan? Berarti sehabis anak dalam kandungan kamu lahir, kita langsung program bikin anak lagi deh. Ah... Aku tau kamu memang udah lama enggak sering-sering aku sentuh... Kangen ya? Mau punya anak banyak ya?"
"Abi ih! Itu kan hanya padanan kata aja. Kalau masalah sentuh menyentuh sih... Tari juga kangen!" Tari malu-malu saat mengatakannya.
"Ih... Menggemaskan sekali kamu! Ayo, kita pulang sekarang! Aku mau makan kamu!"
"Ih Abi mah..."
Aku dan Tari pun bangun dan saat berbalik badan tiga orang karyawan Tari sedang tersenyum...
Bodoh Agas.... bodoh....
Mereka nguping dong dari tadi? Pantesan aja senyam-senyum.... Hadeh...
__ADS_1
****