
Tari kembali menjadi gadis periang seperti sedia kala. Menyiapkan masakan untukku dan mengulangi pelajaran kursusnya dengan banyak praktek di rumah.
Sehari, dua hari sampai akhirnya seminggu tak ada kabar dari Mama. Semangat Tari mulai mengendur. Harapan yang awalnya dimiliki kini rasanya hanya sekedar angan kosong.
Senyumnya mulai berkurang. Matanya mulai menampakkan kesedihan. Aku ikut merasakan apa yang Ia rasakan.
"Mau aku telepon Mama?" tanyaku karena tak tahan melihatnya terus-menerus bersedih seperti itu.
"Tak usah, Om. Mungkin seharusnya sejak awal Tari tak boleh terlalu berharap! Seharusnya Tari menerima saja takdir hidup Tari."
"Hush! Jangan begitu. Jangan patah semangat! Mama tak akan ingkar janji, percayalah!" kataku memberi semangat.
"Makasih Om, sudah menghibur aku." lalu Tari seperti teringat sesuatu. "Om, bukannya waktu itu teman-teman Om Agas mau main kesini?"
"Teman-teman aku? Bastian and the genk?"
"Iya. Inget enggak waktu kita di diskotek, mereka katanya mau main. Ternyata sampai sekarang belum main juga!"
"Benar juga. Aku saja sampai lupa. Oh iya, aku ingat. Waktu itu mereka batalin karena ada acara. Lalu aku kecelakaan dan mereka belum kasih tau lagi sih mau kesini kapan." jawabku.
"Weekend ini aja, Om! Nanti Tari masakkin yang enak. Mau barbeque juga boleh."
Ide yang bagus juga nih. "Boleh. Coba aku chat mereka di group."
Aku pun menghubungi teman-temanku. Mereka pun setuju dengan ajakanku. Sekalian merayakan pernikahanku, meski sudah hampir dua bulan kami menikah.
"Anak-anak setuju nih. Sabtu besok mereka kesini. Kamu mau buat apa? Nanti aku temani kamu belanja."
"Paling ayam bakar, ikan bakar lalu aneka seafood. Biar kalian barbeque disini daripada kebanyakan nongkrong di diskotek!" sindirnya.
Aku tersenyum, kuacak-acak rambutnya dengan penuh kasih. "Bisa banget nyindirnya! Hari ini aku antar kamu kursus. Nanti pulangnya aku jemput!"
__ADS_1
"Om enggak ke showroom?" tanya Tari.
"Ke showroom. Cuma sebentar lalu jemput kamu. Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat!"
"Kemana?" tanya Tari dengan mata berbinar-binar.
"Ada deh! Udah ayo siap-siap!"
"Baik, Bos!"
****
Aku mengantar Tari sampai ke tempat kursus lalu pergi sebentar ke showroom. Saat sampai di ruangan, Cici mengetuk pintu ruanganku.
"Kenapa Ci?" tanyaku sambil memeriksa dokumen dari bagian finance.
Cici menyerahkan sebuah amplop padaku. "Cici mau menyerahkan surat pengunduran diri!"
"Memangnya kamu sudah lulus kuliah?" tanyaku sambil tetap memeriksa dokumen yang sejak tadi aku periksa.
"Lalu, sudah punya pekerjaan baru?" tanyaku lagi.
Cici kembali menggelengkan kepalanya. "Belum."
Aku menutup berkas yang sedang aku periksa lalu menatapnya dengan lekat. "Lantas, kenapa kamu mau resign? Apakah kamu sudah punya banyak uang sampai kamu nggak mau bekerja lagi?"
"Bukan karena itu, Om." Cici terlihat sedang mengatur kata-kata, sampai kemudian Ia berkata lagi. "Untuk apa Cici tetap ada di sini kalau Om Agas sudah tidak membutuhkan Cici lagi?"
"Hanya karena itu? Lalu kamu mau kemana? Bagaimana dengan kuliah kamu? Udah selesai?" aku memberondong Cici dengan banyak pertanyaan sekaligus.
Cici menggelengkan kepalanya lagi. "Kayaknya Cici akan pulang ke kampung halaman Cici dan tidak akan menyelesaikan kuliah lagi."
__ADS_1
Aku mendengus sebal. Senyum mengejek pun terpasang di wajahku. "Alasan kamu berhenti kerja dan juga tidak menyelesaikan kuliah itu sungguh kekanakan sekali. Kamu cuma mementingkan emosi kamu sesaat dan kamu sudah mengecewakan banyak orang. Pernahkah kamu berpikir, kalau selama ini kedua orang tua kamu banyak menaruh harapan sama kamu? Pernahkah kamu berpikir, mereka ingin melihat kamu menjadi anak yang sangat dibanggakan? Apakah kamu sudah siap melihat wajah kecewa kedua orang tua kamu?" Cici terdiam tidak menjawab pertanyaanku sama sekali.
Aku lanjutkan saja omonganku yang memang sudah pedas seperti sambel setan ini. "Kamu seorang mahasiswa, namun kenapa pola pikir kamu justru kalah sama anak yang nggak mengenyam pendidikan sama sekali? Hanya karena kamu patah hati, kamu kecewa lalu kamu melupakan semua yang sudah kamu capai dengan susah payah! Pengecut sekali kamu jadi orang! Aku enggak kasihan sama kamu karena berkata kejam seperti ini. Aku lebih kasihan dengan kedua orang tua kamu yang sudah banyak menaruh harapan sama anaknya yang baperan. Hanya karena aku-kan, kamu melepaskan semua cita-cita kamu?"
"Hei, aku tuh enggak layak buat kamu! Hidup kamu tuh masih bisa sukses. Kamu masih bisa bertemu dengan cowok lain yang lebih baik. Kenapa harus dengan aku? Jangan bilang alasannya karena cinta?! Itu bukan cinta, itu Obsesi!"
Pedas bukan?
Cici sudah berderai air mata sekarang mendengar kata-kataku yang terdengar kejam. Percayalah, aku berkata seperti ini demi kebaikannya.
"Kamu tahu kenapa aku enggak pernah meniduri kamu?" tanyaku lagi.
Sambil terisak, Cici menjawab "Tidak." dengan suaranya yang tercekat.
"Kamu tahu kan, setiap cewek yang dekat denganku akan berakhir di tempat tidur? Hanya kamu yang tidak. Itu karena aku tahu kalau kamu itu adalah wanita baik-baik. Aku tak mau merusak kamu. Keadaan yang membuat kamu nekat melakukan hal yang sebenarnya bukan kemauan kamu sendiri. Aku, meskipun bukan lelaki baik namun aku nggak mau mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ya jujur aja kalau ditawari servis ya aku mau aja. Tapi untuk merusak kamu, aku akan menolak dengan tegas."
Cici semakin berderai air mata.
"Masa depan kamu masih panjang. Jangan korbankan kebahagiaan dan harapan kedua orang tua kamu hanya demi laki-laki br*ngsek macam aku! Aku percaya, kamu akan menemukan laki-laki baik yang akan mencintai kamu sepenuh hati."
Cici menghapus air mata yang tak kunjung berhenti mengalir dari kedua kelopak matanya.
"Teruslah bekerja sampai kamu bisa menyelesaikan kuliah kamu dengan hasil kerja keras kamu. Buat kedua orang tua kamu bangga pada putri yang mereka sayangi. Masalah diantara kita, sudah biarkan jadi masa lalu. Buka hati kamu untuk laki-laki lain. Kalau kamu melihat sekitar kamu, pasti ada laki-laki baik yang akan mencintai kamu sepenuh hati dan bertekad untuk membahagiakan kamu."
Aku berdiri dan mengambil beberapa helai tisu. Kuhapus air mata di wajahnya. "Maafin aku. Maaf karena selama ini sudah menyakiti hati kamu. Kamu gadis baik. Aku sungguh-sungguh berdoa agar kamu menemukan laki-laki yang mencintaimu dengan tulus. Aku berharap bisa melihat foto wisuda kamu bersama kedua orang tua kamu yang tersenyum penuh rasa bangga. Kamu mau kan melakukan itu?"
Cici mengangguk, air matanya malah semakin banyak saja. "Terima kasih, Om. Cici senang bisa kenal sama Om Agas. Cici juga berharap rumah tangga Om Agas dan Tari akan dilimpahi kebahagiaan."
"Aamiin." aku aminkan doa tulusnya. "Bekerjalah, bekerja sampai nanti uang akan datang sendiri padamu. Tak perlu lagi kamu mengejar uang. Aku percaya kamu akan sukses. Meski aku enggak bisa mencintai kamu, aku akan anggap kamu sebagai temanku. Kamu benar, kamu yang menemani aku saat aku kesepian. Aku sangat berterima kasih sama kamu. Karena itu, aku mau kamu sukses. Aku tak mau merusak kamu. Berjanjilah kalau kamu akan hidup dengan benar mulai sekarang. Biarlah masa lalu kita jadi kenangan. Kamu mau?"
Cici mengangguk. "Om memang baik. Maafin Cici yang selama ini selalu memaksa Om mencintai Cici. Cici akan terus bekerja dan mempersembahkan kelulusan kuliah Cici sama Om!"
__ADS_1
Aku tersenyum mendengar tekadnya. "Nah gitu dong! Semangat!"
****