
Acara barbeque kami berlangsung dengan seru. Semua sahabatku dan kekasihnya menyukai makanan buatan Tari dan yakin kalau Tari membuka usaha cafe pasti akan laku.
Sebelumnya aku menceritakan tentang rencana bisnis kami berdua. Mereka ternyata mendukung. Mereka bilang, Tari memiliki bakat dalam memasak, kalau buat cafe pasti akan laku.
Mereka bahkan berjanji akan menjadi pelanggan pertama Tari. Tari pun tersenyum senang mendengar dukungan dari sahabat-sahabatku. Aku juga ikut senang melihat Ia memiliki kepercayaan diri.
Ia memang memiliki bakat. Sayang selama ini bakat terpendamnya Ia sembunyikan karena masalah keterbatasan biaya. Kalau Ia dibesarkan dengan keluarga yang berkecukupan, sudah pasti Ia akan memiliki banyak cafe yang sukses.
Tara yang merasa keberadaannya tidak diinginkan, sudah pamit sejak tadi. Ia beralasan, merasa ngantuk karena habis minum obat pusing dan ingin segera tidur.
Aku tahu Ia berbohong. Aku sangat mengenalnya. Sejak Ia melihat kemesraanku dengan Tari, sikapnya berubah. Ia menjadi lebih murung. Maka aku tak heran kalau Ia akhirnya pamit pulang.
Aku memutuskan untuk mandi dahulu sebelum tidur. Ternyata Tari juga melakukan hal yang sama. Habis barbeque-an, rasanya seluruh tubuh terasa lengket dan bau asap. Aku nggak bisa tidur dengan tubuh kotor seperti itu. Maka sehabis kami mandi kami pun merebahkan tubuh kami di tempat tidur.
"Pegal?" tanyaku saat melihat Tari memukul-mukul kakinya.
Tari mengangguk agak malu. Biasanya, Ia selalu menyembunyikan semua yang Ia rasakan. Kali ini, aku melihat sendiri rasa sakitnya.
Wajar kalau Ia merasa kakinya pegal. Seharian Ia sibuk memasak dan juga menemani sahabat-sahabatku. Mondar-mandir tanpa kenal lelah.
"Biar aku pijitin!" kataku.
Aku pun mulai memijit kakinya yang putih mulus. Bulu kakinya pun jarang. Bersih.
Tari memang tidak perawatan, namun tubuhnya putih mulus bak pualam. Asli dari asalnya tanpa harus suntik putih atau treatment lain.
"Besok kamu kursus?" tanyaku sambil tetap memijit kakinya.
"Iya, Om. Kenapa?" tanyanya.
"Aku antar dan aku jemput! Jangan bawa motor dan jangan terima tumpangan siapapun!" kataku dengan tegas.
"Kalau Om antar jemput Tari, nanti showroom gimana? Om jadi makin jarang ke showroom loh! Enggak apa-apa gitu?" tanyanya.
"Ya habis antar kamu, aku ke showroom. Seperti biasa aja. Nanti aku jemput kamu lalu balik ke showroom lagi."
"Enggak capek di jalan, Om?"
Enggak! Daripada kamu pulang dianterin cowok itu! Inginku berkata seperti itu, namun gengsi.
"Tenang aja. Kalau capek malamnya aku minta pijitin kamu!" godaku.
Tari tertawa mendengarnya. "Selalu ya ada upahnya ha...ha...ha..."
"Iya dong! Gimana pijitan aku? Enak?"
__ADS_1
"Enak! Gratis lagi." jawab Tari sambil mengulum senyumnya.
"Ya ini sebagai bayaran karena kamu udah capek seharian menjamu sahabat-sahabatku."
"Om mau minta bayaran enggak?" godanya.
Mau. Mau banget!
Tapi aku kasihan. Ia terlihat lelah. Wajahnya kini agak tirus kalau aku perhatikan. Ia juga mudah merasa lelah. Mungkin karena sering melayani hasratku yang terus menggelora saat berdekatan dengannya.
"Enggak usah. Kamu letih banget. Tidurlah." aku mengusap rambutnya penuh kasih.
"Maunya tidur di lengan Om." pintanya dengan manja.
Kusudahi acara memijatku. Kumatikan lampu kamar dan memasang lampu tidur yang redup. "Sini!" Aku menyodorkan lenganku untuk Ia jadikan bantal.
Bak anak kucing penurut, Ia pun menaruh kepalanya di lenganku. Tangannya juga langsung melingkar di perutku. Sekejap aku merasa nyaman.
Kudengar nafasnya mulai teratur. Ia sudah tertidur rupanya. Ia tak bisa membohongi kalau tubuhnya sangat letih karena aktivitas hari ini. Aku memeluknya dan merapatkan tubuhku lalu aku pun ikut tertidur lelap.
Dalam mimpiku pun terasa indah. Aku merasa seperti sedang berlari bersama Tari sambil tertawa di sebuah taman luas yang dipenuhi dengan aneka bunga yang indah.
Tari tersenyum, aku pun juga tersenyum. Lalu, tiba-tiba aku melihat Tari memegang rambutnya dan Ia pun memotong rambut panjangnya menjadi sebahu.
"Kenapa kamu potong? Sayang bukan rambut kamu?" tanyaku dengan penuh keheranan.
"Aku nggak marah. Kamu nggak usah nangis. Kalau kamu memang menyukai rambut pendek, nggak apa-apa! Jangan nangis ya!" aku berusaha menghibur Tari agar Ia tidak menangis. Tapi, Tari malah berbalik badan dan berlari meninggalkanku.
"Tunggu!" teriakku.
Tari tidak mendengar teriakanku. Ia terus menerus berlari dan meninggalkanku yang sudah mengejarnya namun tak juga bisa kuraih.
"Tari! Tari!" aku terus meneriakkan namanya namun Ia tetap berlari pergi sambil menangis.
"Tari! Tari!" teriakku lagi.
Lalu kurasakan tubuhku seperti diguncang-guncang. Aku pun tersadar dan melihat Tari yang menggoyang-goyangkan tubuhku.
"Om! Om mimpi buruk?" Tari sudah menyalakan lampu kamar yang kini terlihat terang dan menyilaukan mataku.
Ternyata aku bermimpi sampai mengeluarkan keringat dingin. Tidak biasanya aku mimpi seperti ini.
Tari menyodorkan segelas air putih untukku minum. "Minum, Om!"
Aku menerima gelas yang Ia berikan lalu meneguknya sampai habis.
__ADS_1
"Om mimpi apa sih? Sampai keringet dingin dan teriak-teriakkan seperti itu?" Tari mengambil gelas yang sudah kosong dan menaruhnya diatas nakas. Ia memang terbiasa menyediakan air sebelum tidur.
Ia mengambil tisu dan mengelap keringat di keningku. "Baca doa makanya Om sebelum tidur!" nasehatnya. Sama seperti yang biasa Mama katakan kalau aku bermimpi buruk.
Aku menatapnya dan masih merasa mimpiku tadi begitu nyata. Bedanya adalah rambut Tari masih panjang.
"Kamu ada rencana mau potong rambut?" tanyaku.
"Potong rambut? Enggak, Om. Kenapa memangnya? Jelek ya rambut Tari? Om mau Tari potong rambut?"
"Jangan!" jawabku dengan cepat.
"Ih ngagetin aja. Mumpung bangun jam segini, kita sholat tahajud yuk Om!" ajaknya.
Aku pun menurut, tak membantahnya sama sekali. Ya, kurasa berdoa memang jalan keluar dari kegelisahanku.
Aku pun mengambil wudhu dan melaksanakan sholat tahajud. Berdoa dengan sungguh-sungguh agar mimpi burukku tak pernah terjadi.
Selepas berdoa, aku merasa lebih tenang. Kami pun kembali tidur. Aku memeluk Tari lebih erat lagi seakan takut Tari pergi saat aku tertidur.
Aku kembali terbangun saat adzan subuh. Menunaikan kewajibanku namun tidak kembali tidur lagi. Lebih baik berolahraga daripada mimpi buruk itu datang kembali.
Aku berlari mengitari taman dan tak sengaja bertemu Tara. "Hi, Gas!" sapa Tara sambil berlari mensejajariku.
"Hem!" jawabku singkat.
"Tumben lari pagi?" sindirnya.
"Biar sehat."
"Mm... Gas. Gimana lamaran pekerjaanku? Ada lowongan?"
Aku menghentikan lariku dan berjalan santai. Tak enak rasanya membicarakan masalah penting sambil berlari.
"Ada. Tapi di showroom lamaku yang kecil. Disana salah seorang marketingnya mengundurkan diri, mau?" aku sudah berdiskusi dengan Tari dan Ia memperbolehkan kalau aku mau membantu siapapun, termasuk Tara.
"Jadi... Marketing?" tanyanya agak ragu.
"Iya. Kalau kamu mau silahkan kalau tidak juga aku enggak bisa maksa. Hanya lowongan itu saja yang kosong saat ini."
Tara terlihat sedang memikirkan tawaranku. Wajar Ia ragu, sebelum menikah denganku pekerjaan Tara sudah mapan dan memiliki posisi yang lumayan bagus di perusahaan. Kini Ia harus turun pekerjaan, pasti tak mudah mengalahkan gengsinya.
"Kabari saja kalau kamu mau!" aku sudah bersiap-siap hendak lari lagi namun perkataannya membuatku mengurungkan niatku.
"Aku mau! Apa saja asal aku bisa menghidupi diriku!" jawab Tara dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
"Datangnya besok ke showroomku! Aku duluan!" kutinggalkan Tara dan berlari pulang.
****