
Utari
"Aku perlu masuk atau sampai sini saja?" tanya Pak Adi begitu sampai di depan security komplek.
"Cukup sampai disini saja, Pak. Terima kasih banyak Bapak mau repot-repot mengantarkan saya sampai sini." ujarku dengan tulus.
Tak terbayang kalau tadi Pak Adi tidak mengantarku, mau sampai jam berapa aku menunggu taksi kosong? Untung saja Ia mau mengantarku.
"Kalau di luar kelas, kamu bisa memanggilku Mas Adi. Jangan terlalu formal. Anggap saja kita berteman." ujar Pak Adi sambil tersenyum.
Jujur saja Pak Adi itu sangat tampan. Tadi saat waktu istirahat sebentar aku mendengar teman-teman kursusku membicarakannya.
"Ganteng banget ya Pak Adi. Masih single lagi!"
"Iya. Memang ada ya yang lebih ganteng dari Pak Adi? Model bukan tapi ganteng banget."
"Yang kerennya tuh, meski ganteng dan masih muda namun karirnya sebagai chef di salah satu restoran terkenal patut diacungi jempol. Jari-jarinya lentik sekali kalau lagi menghias kue. Kita saja yang perempuan kayaknya burik banget eh dia berkilau begitu!"
Aku menahan tawa mendengar gosip rekan kursusku. Tak tahu saja mereka kalau suamiku lebih tampan hihihi...
"Loh kok malah melamun!" ujar Pak Adi mengagetkanku.
"Ah iya! Maaf! Udah sampai ya! Makasih banyak Pak Adi."
"Mas. Jangan manggil Pak kalau di luar. Saya jadi kelihatan tua banget!" protesnya.
"Iya... terima kasih, Mas."
Aku turun dari mobilnya dan berjalan memasuki komplek. Security yang menjaga komplek tersenyum ke arahku. Mereka sudah mengenalku karena aku sering membeli sayuran di tukang sayur .
Mobil Mas Adi sudah pergi meninggalkan komplek. Aku berjalan kaki sampai depan rumah. Lumayan juga panas-panas jalan di luar dengan matahari yang bersinar begitu terik.
Saat aku berjalan, sebuah mobil membunyikan klakson di belakangku.
Tin!
__ADS_1
Aku tersentak kaget, pemiliknya membuka kaca mobil dan menertawakanku. "Ha...ha...ha... Masih jalan kaki panas-panas begini? Suaminya pelit ya enggak beliin mobil? Atau enggak punya uang buat beliin istrinya mobil?"
Aku menghentikan langkahku dan melipat kedua tanganku di dada. Kutatap Mbak Tara dengan lekat.
"Maksud Mbak apa ya bicara seperti itu? Apa yang Om Agas kasih ke aku tuh udah lebih dari harga sebuah mobil. Jangan menghina suamiku, Mbak. Dia suami yang baik buat aku!" kataku dengan tegas.
Tara lalu keluar dari mobilnya yang Ia taruh di depan rumahnya sendiri.
"Om? Manggil suami sendiri dengan sebutan Om? Enggak salah? Aku enggak menghina suami kamu kok! Kamu saja yang terlalu baper! Aku kan nanya, apa suami kamu pelit dan enggak punya uang buat beliin istrinya mobil? Menghinanya dari mana ya?" sindir Tara merasa apa yang Ia katakan dan lakukan tak sama sekali salah.
Aku tersenyum sinis. "Apa yang salah memanggil suami sendiri dengan sebutan Om? Aku menghormati suamiku yang lebih tua usianya dariku namun tak mau membuatnya merasa sangat tua. Panggilan Om cocok untuknya. Tapi kalau lagi bermesraan sih tetap panggilnya Sayang."
"Oh ya? Bodo! Aku tak mau tau tuh! Nanti lapor ya sama suami kamu kalau pulangnya diantar laki-laki lain! Mau ngikutin jejak aku ya yang menyelingkuhi Agas? Jangan mimpi! Kamu beda level sama aku!"
Aku sampai menggelengkan kepalaku mendengar kata-kata pedas Mbak Tara. "Mbak kenapa sih sama aku? Kayaknya benciii banget! Memangnya salah aku apa ya? Apa Mbak terlalu cemburu aku menikah dengan Om Agas? Cemburu pun bukan alasan sih Mbak. Aku dari pertama kenal Mbak sudah berusaha baik sebagai tetangga. Tapi kenapa aku merasa Mbak terus menyudutkanku dan berkata yang menyakitkan? Apa Mbak bahagia dengan bersikap seperti itu?"
"Oh, tentu. Aku bahagia dengan hidupku!" jawab Tara dengan bangganya.
"Enggak perlu dijawab Mbak. Karena yang menjalani dan merasakan adalah Mbak Tara sendiri. Aku tak perlu tahu karena itu bukan urusanku. Terima kasih sudah mengingatkan aku untuk lapor sama Om Agas kalau aku tadi diantar pulang oleh guru kursus aku. Aku masuk dulu Mbak, permisi!" kutinggalkan Mbak Tara dengan wajahnya yang kesal karena aku si bodoh ini berhasil membalasnya.
"Ihhh! Nyebelin banget!" gerutuku.
"Siapa yang nyebelin Non Tari?" tanya Mbak Inah yang membuatku meloncat kaget.
"Ya ampun Mbak Inah! Tari pikir Mbak Inah udah pulang loh!" aku menepuk dadaku untuk menenangkan ritmenya yang berdetak kencang karena kaget.
"Belum Non. Di luar panas banget. Mau jalan males. Toh enggak ada kerjaan di tempat lain. Lebih baik ngadem di rumahnya Pak Agas saja." jawab Mbak Inah.
"Kita buah jus aja yuk, Mbak. Pas banget siang-siang begini kalau minum jus!" ajakku.
"Wah boleh banget tuh Non." jawab Mbak Inah dengan semangat.
Kukeluarkan buah dari dalam kulkas. "Mbak, aku ganti baju dulu ya. Bisa tolong kupasi mangganya tidak?"
"Bisa dong, Non. Tenang saja!"
__ADS_1
Aku mengganti bajuku dengan baju santai dan menaruh tas berisi catatan kursus hari ini di dalam kamar. Aku kembali ke dapur dan Mbak Inah sudah selesai mengupasnya.
Kucuci buah sebelum dimasukkan dalam blender. Kutambahkan es batu dan susu kental manis lalu kunyalakan blendernya.
Aku lebih suka yang ada rasa susunya dibanding memakai juicer. Di rumah Om Agas ada semua peralatan jus.
Aku menuang jus sama rata untuk dua gelas. Ku keluarkan kue yang kubuat di tempat kursus dan kunikmati sambil minum jus.
"Ini buatan Non Tari juga? Walah enak sekali loh! Jago Non Tari buatnya!" puji Mbak Inah.
Aku tersenyum. "Masih harus banyak belajar, Mbak. Semoga saja Om Agas suka."
"Suka pasti. Pak Agas suka dengan masakan rumahan. Mungkin bosen makan di luar terus. Saya saja suka memasak untuk Pak Agas dan selalu dimakan. Pak Agas sebenarnya baik, sayang mantan istrinya terlalu menyakiti hatinya."
"Mbak Inah udah lama kerja sama Om Agas?" tanyaku. Aku jadi penasaran dan hendak mengorek keterangan dari Mbak Inah.
"Udah lama sih Non. Sekitar 5 tahun. Dulu saya kerja sama Mama dan Papanya Pak Agas. Rumahnya enggak jauh dari sini. Lalu Pak Agas nikah sama Mbak Tara. Mbak Tara enggak mau ada orang lain di rumahnya, makanya saya tetap kerja di rumah Mama Papanya Pak Agas,"
"Saat Pak Agas bercerai sama Mbak Tara, saya mengurusnya bareng sama Mamanya. Dulu Pak Agas kacau banget deh pas digugat cerai istrinya. Enggak mau makan. Frustasi berat. Sampai akhirnya Papa Mamanya menjual semua hartanya demi Pak Agas bisa bangkit."
"Menjual hartanya gimana Mbak? Baru tau aku!" aku pikir Om Agas kaya dari lahir.
"Untuk membiayai bisnisnya Pak Agas. Tapi Pak Agas pintar loh. Baru sebentar uang Papanya udah balik. Papa Mamanya Pak Agas mutusin tinggal di luar kota saja karena sudah terlanjur buka bisnis disana. Lalu Mbak Inah disuruh kerja sama Pak Agas deh sejak Papa dan Mamanya pindah, sampai sekarang."
"Kasihan ya Om Agas." gumamku pelan. Benar dugaanku, Om Agas tuh sebenarnya baik tapi karena hidup terlalu kejam baginya makanya berubah jadi nackal.
"Ya tapi itu dulu. Sekarang Pak Agas sudah nikah sama Non Tari. Tugas Non Tari adalah membahagiakan Pak Agas. Jangan disakiti lagi hatinya. Kata orang, patah hati sekali sudah buat terluka. Patah hati kedua kali bisa buat orang gila!" nasehat Mbak Inah.
"Iya Mbak. Semoga saya bisa membahagiakan Om Agas ya Mbak. Jujur saja, siapa sih saya kalau dibandingin sama Mbak Tara? Jauh! Tak ada seujung kukunya. Mbak Tara pintar, cantik dan berasal dari keluarga terpandang. Status sosialnya tinggi, beda sama saya." keluhku.
"Jangan begitu, Non. Status sosial tidak menjamin kebahagiaan seseorang. Kalau memang Ibu Tara mencintai Pak Agas, enggak bakalan main serong di belakang. Pantas saja saya enggak boleh kerja disini. Takut ketahuan rupanya!"
"Yaudah Mbak. Aku masak dulu ya. Nanti Om Agas pulang aku belum siap dan rapi-rapi."
****
__ADS_1