
"Gas, nanti mau makan dulu enggak sebelum ke bengkel? Aku lapar nih belum sempat sarapan!" ajak Tara.
"Enggak. Aku udah sarapan tadi di rumah." tolakku.
"Yaudah temenin aku aja makan, gimana? Kamu enggak kasihan kalau nanti maag aku kumat?" bujuk Tara.
"Minum obat aja Mbak biar enggak maag! Ngapain juga ajakkin suami orang makan bareng?" Tari mulai lagi menyindir Tara. Aku meliriknya sekilas, terlihat wajahnya mengeras menahan emosi.
"Loh memangnya kenapa? Aku ngajakkin makan bukan check in di hotel! Enggak masalah dong?!" sahut Tara.
"Ya masalah lah, Mbak. Om Agas udah jadi suami orang, jangan seenaknya ngajak makan. Nebeng mobilnya saja udah harus bersyukur. Ini malah enggak tau diri!" wow Tari makin pedas saja omongannya.
"Kalau suami orang-nya mau diajak makan, gimana? Tepuk tangan kan enggak bisa sebelah tangan saja, harus dua tangan bersamaan baru bisa terdengar bunyinya. Jangan menyalahkan yang ngajak aja dong! Yang diajak, kalau mau sama aja salahnya!" balas Tara.
"Orang yang diajak enggak mau kok! Situ aja yang terlalu agresif jadi orang!"
Tara mulai terpancing emosi, "Kamu mau kan Gas, makan sama aku?!"
Bukan pertama kali mereka seperti ini. Tari bisa melawan Tara dengan telak. Namun kali ini dia butuh bantuanku.
"Aku udah bilang, Ra. Aku udah makan! Tadi Tari masak buat sarapan. Yang Tari masak tuh enak. Mama dan Papa saja doyan sekali." aku mengusap rambut Tari dengan penuh kasih, sebagai wujud kebangganku akan usahanya.
"Om, Mama mau ajarin Tari buat sambal pecel. Mama bilang Om tuh paling suka sambal pecel homemade. Tari disuruh stok aja nanti kalau Om mau makan tinggal dicairin. Biar Om makan sayurnya banyak!" Tari bercerita seakan hanya ada kami berdua saja dalam mobil dan melupakan keberadaan Tara.
"Wah kamu mulai bersekongkol ya sama Mama! Kalian mau membuat aku makan sayur banyak, pinter sekali menantu dan mertua ini! Oke, nanti aku makan. Biar sehat!"
"Gitu dong! Baru namanya Om Imam Soleh dan Pintar!"
"Oh jadi nama panggilan aku makin panjang ya?" aku tersenyum mendengar namaku yang berganti lagi.
"Iya. Sepanjang cinta aku sama Om!"
__ADS_1
"Ih gombal! Siapa yang ngajarin? Belajar dari Youtube juga?"
"Bukan! Dari drama Korea. Disana banyak ilmu tentang percintaan. Kayak gini nih!" Tari menyilangkan ibu jari dan telunjuk hingga membentuk simbol hati.
"Apaan tuh?" tanyaku tak tahu.
"Saranghaeyo, Oppa!"
Aku tak kuat menahan tawa melihat tingkah menggemaskannya! Kucubit pipinya dengan gemas.
"Kebanyakan nonton drakor nih jadi begini!"
"Ih Om! Ini tuh simbol cinta! Om juga coba tangannya kayak gini!" Ia pun mengajariku. Sesekali aku melirik sambil tetap fokus mengemudi.
"Begini?"
"Nah iya! Kayak gitu. Om pinter ih!"
"Kalau pinter, kasih hadiah dong!" godaku.
"Please deh jangan kayak orang norak! Alay banget sih harus beradegan kayak gitu di depan orang lain! Kayak lagi sandiwara aja! Apa kalian memang biasa bersandiwara kayak gini ya?" sindir Tara. Aku sampai melupakan keberadaan Tara loh!
"Sorry, aku lupa kalau masih ada kamu, Ra. Kita berdua memang kayak gini. Ya, kadang alay dan kadang kayak orang bersandiwara. Aslinya sih kita memang apa adanya begini. Sorry ya udah buat kamu melihat pemandangan yang norak kayak gini!" jawabku dengan ketus.
"Betul tuh, Mbak! Kita berdua kalau sudah norak memang kayak gini. Norak berjamaah. Besok-besok kalau mobilnya di bengkel, Mbak naik taksi aja! Abangnya suruh diem sepanjang jalan, pasti tenang deh hidup Mbak!" Tari malah ikut menjawab. Membuat Tara makin kesal saja.
Aku berhentikan mobil di depan tempat kursus Tari. Kubukakan pintu mobil untuknya dan Ia pun salim padaku. Aku melihat Tari sampai masuk ke dalam baru masuk kembali ke dalam mobil.
Aku terkejut saat Tara sudah pindah duduk di depan. "Ngapain kamu pindah?"
"Ini memang seharusnya tempatku sejak awal. Aku biarkan anak itu menempatinya sebentar sebelum tempat ini aku ambil lagi!" jawab Tara dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
Kunyalakan mesin mobilku dan meninggalkan tempat kursus Tari. "Jangan kamu pikir segala hal yang kamu mau bisa kamu dapatkan dengan mudah. Kamu yang sudah melepaskan posisi kamu, jangan berharap kamu akan mendapatkan lagi apa yang sudah kamu lepaskan!"
"Aku tak hanya berharap, tapi aku akan berusaha. Gas, proses perceraianku tak akan memakan waktu lama. Aku punya bukti yang bisa membuat prosesnya mudah dan cepat. Setelah aku bercerai, kita bisa mulai lagi rumah tangga kita. Aku yakin kamu masih cinta sama aku. Aku juga, Gas. Aku sangat mencintai kamu!"
Mendengar perkataan Tara membuatku tertawa. "Ha...ha...ha... Cinta kamu bilang? Enggak salah? Dulu waktu selingkuh sama Damar, kamu bilang kalau kamu sangat mencintainya. Sudah lupa? Kayaknya yang gegar otak aku deh! Kenapa kamu yang bermasalah ya otaknya?"
"Dulu aku pikir, Damar adalah lelaki idamanku. Aku memiliki semua yang aku inginkan dalam diri Damar. Tampan dan anak orang kaya. Namun ternyata aku salah. Mertuaku hanya awalnya saja memamerkan aku di depan teman-temannya karena aku cantik dan berpendidikan. Lalu saat aku tak juga hamil, Ia bahkan menyamakanku layaknya pembantu. Memintaku datang ke acaranya hanya untuk menyuruhku menghidangkan makanan saja. Aku disuruh bersembunyi, makin tak ada artinya aku,"
"Lalu Damar pun mulai berubah. Ia mulai bersikap kasar padaku. Ia menyetubuhiku dengan paksa hanya agar aku hamil anaknya. Mama mertuaku terus menerus menekanku agar aku bisa hamil. Apa semua orang berpikir aku hanyalah mesin pencetak anak?" Tara berbicara sambil berderai air mata. Ia mengambil tisu dan menghapus air matanya yang semakin deras mengalir.
Aku mau berkata kalau semua ini adalah konsekuensinya! Balasan karena sudah mengkhianati kepercayaan dan cinta tulus yang selama ini kuberikan. Namun ternyata aku hanya diam.
Aku terngiang perkataan Tari, kalau Om membalas mereka apa bedanya Om sama mereka?
Aku berbeda. Aku tak mau menambah luka di hati Tara.
"Kamu tak pernah bertanya mengapa aku selingkuh?" tanya Tara tiba-tiba.
"Untuk apa? Bukankah sudah jelas karena aku lemah di ranjang? Kamu suka yang bisa memuaskan kamu bukan? Untuk apa lagi aku bertanya?" kataku dengan sinis.
Tara menggelengkan kepalanya. "Itu cuma alasan aku aja karena kamu sibuk bekerja dan terlalu lelah untuk bercinta denganku. Kalau kamu libur, aku puas kok dengan permainan kamu."
Apa maksudnya Tara berkata seperti itu padaku? Mau memujiku setelah dulu aku dihina habis-habisan?
"Kalau dengan Damar, Mamanya dan Damar yang memaksaku untuk memiliki anak secepatnya. Kamu tak pernah memaksa aku, Mama kamu juga tak memaksa meski sangat berharap. Keluarga besar ayahku yang memaksaku."
Aku pun terpancing untuk bertanya. "Lalu itu yang menjadi alasan kamu selingkuh? Untuk secepatnya punya anak meski anak dari laki-laki lain?"
Tara menggelengkan kepalanya. "Bukan itu. Karena kamu tak pernah ada untuk melindungiku dari kejamnya lidah keluargaku. Kamu selalu berlindung dibalik kata sibuk. Kamu tak tahu bagaimana penderitaanku selama ini. Yang kamu lakukan hanyalah sibuk bekerja dan bekerja. Apa kamu tau setiap mereka menyindirku, aku semakin rendah diri saja?"
Aku terdiam. Kubiarkan Tara terus berbicara.
__ADS_1
"Damar yang ada disisiku. Menghiburku dari orang yang menghinaku. Menemaniku menghadapi kesulitanku. Kamu tak ada. Lalu aku mulai menyerahkan diriku pada Damar. Aku menyalahkan semua perceraian kita sama kamu! Ya, kalau saja kamu ada di sampingku saat aku menderita. Namun ternyata tidak. Berkali-kali aku curhat, tapi kamu malah ketiduran karena lelah bekerja. Karena itulah, aku meninggalkan keluargaku saat menikah dengan Damar. Aku mau memulai hidup baru. Namun sayangnya, aku malah terjerembab di lubang yang sama."
****