
Aku akan menjadi seorang Papa...
Dalam rahim Tari ada anakku...
Aku tak sabar rasanya...
Bagaimana nanti rupa anakku? Akankah secantik Tari? Atau setampan aku? Akankah selugu tari? Atau sebandel aku?
Jangan! Jangan! Sebandel aku!
Sudah cukup aku yang nackal di rumah ini. Jangan ada lagi anak buahku yang mengikuti jejak Papanya yang nakal ini!
Pokoknya, dia harus seperti Mamanya yang baik. Dia juga harus sepintar Mamanya yang cepat belajar. Dia juga harus sebaik Mamanya yang suka menolong orang lain meski sudah disakitin.
Dia enggak boleh jadi kayak aku yang nackalnya nggak ketulungan. Dia nggak boleh kayak aku yang dendamnya kesumat sampai tujuh turunan dan 8 tanjakan. Dia juga nggak boleh kayak aku, yang suka gonta-ganti pasangan. Pokoknya jangan mirip Agastya Wisesa! Mirip Utari Putri saja!
Huft.... jadi begini rasanya menjadi orang tua? Ada rasa khawatir dan cemas, padahal anakku belum lahir ke dunia ini. Mungkin perubahan dari seorang single menjadi orang tua itu membuat pola pikir kita semakin dewasa.
Aku yang selama ini seperti anak bocah yang nackal kini harus berubah. Aku tak mungkin dong terus menerus jadi lelaki nackal? Nanti anakku kalau meniru semua perbuatanku gimana? Pokoknya nggak boleh! Aku harus menjadi contoh yang baik buat anak-anakku!
Aku terus memikirkan banyak hal di kepalaku. Aku nggak bisa tidur dan aku nggak sabar menunggu datangnya esok hari.
Mengapa?
Jelas saja karena besok aku akan membawa Tari ke rumah sakit. Tari sudah tertidur pulas di sampingku. Namun, mataku terasa kering dan tak bisa terpejam sedikitpun.
Otakku seakan terus berpikir dan berpikir. Kalau aku punya anak, aku harus begini. Kalau aku punya anak, aku harus begitu.
Anakku nanti harus bisa mendapat pendidikan yang terbaik. Anakku nanti harus menjadi anak yang disiplin. Anakku nanti harus bla...bla...bla...bla...
Semua seakan aku pikirkan dalam waktu yang bersamaan. Seharusnya aku mengantuk, eh karena terlalu banyak berpikir aku menjadi segar dan malah hilang ngantukku.
Kurapatkan tubuhku dengan tubuh Tari. Ia bergerak sedikit karena kaget, cepat-cepat aku menepuk-nepuk punggungnya agar Ia kembali tertidur.
__ADS_1
Kutatap wajah polosnya. Ternyata menikahinya adalah pilihan yang benar. Papa bilang Tari akan menjadi istri yang baik.
Papa salah. Tari bukan hanya menjadi istri yang baik, Tari melengkapi semua kekuranganku dan Tari akan menjadi ibu dari anak-anakku.
Kuhirup wangi rambutnya yang harum dan menenangkan. Aku mulai tak kuasa menahan rasa kantuk dan aku pun tertidur lelap.
Aku terbangun saat adzan subuh berkumandang. Tari sudah tak ada di sampingku. Ia berada di dalam kamar mandi rupanya. Aku menunggunya sampai Ia keluar.
"Kok lama?" tanyaku.
"Ini!" Ia mengangkat test pack di tangannya. "Tari penasaran, jadi Tari test lagi Om."
"Hasilnya positif kan?" tebakku.
Ia tersenyum. "Iya, Om. Tari takut kalau semalam itu salah. Kalau pagi ini juga positif, kini Tari yakin!"
Aku mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Bukan keromantisan yang kudapat eh malah pukulan di tanganku dan omelan kemudian.
"Ih main peluk-peluk aja nih! Aku kan udah ngambil wudhu! Jadi harus wudhu lagi deh!"
Tari melepaskan pelukanku dan berbalik badan. Tersenyum sambil mencubit gemas pipiku.
"Om Sayang, itu sih maunya Om aja! Modus! Ayo kita wudhu lalu sholat!"
****
Aku menelepon anak buahku dan mengatakan kalau hari ini aku tidak datang ke showroom. Aku meminta segala urusan dipending sampai aku datang atau langsung hubungi pihak yang berwenang. Aku nggak mau acaraku hari ini terganggu oleh dering telepon karena aku mau melihat langsung anakku yang ada di dalam perut Tari.
Aku sudah daftar di salah seorang dokter kandungan yang memiliki reputasi sangat baik di RS Kesehatan Keluarga Itu Penting. Salah seorang kenalanku merekomendasikan dokter ini karena terkenal dengan sikap tegasnya dan teliti saat membacakan hasil USG.
Dokter terkenal ternyata identik dengan pasiennya yang banyak. Padahal aku sudah berangkat pagi namun masih saja dapat nomor antrian di atas nomor 20. Pasti lama ini! Dokternya saja belum datang, aku harus menunggu 20 antrian di depanku baru kami bisa masuk.
Tak lama dokternya datang. Aku memperhatikan berapa lama setiap pasien berada di dalam ruangan. Ada yang 10 menit ada yang 5 menit, dan ada juga yang 15 menit. Berapa lama lagi aku bisa masuk ke dalam?
__ADS_1
Sementara aku cemas eh Tari terlihat tenang saja. Ia duduk sambil melihat-lihat handphone miliknya. Aku pikir, Ia sedang melihat akun gosip, ternyata Ia sedang membaca ulang resep-resep yang pernah Ia tulis lalu difoto hasil catatannya tersebut. Ia pelajari saat senggang seperti ini.
Wow... lagi ke dokter saja Tari belajar. Gimana tidak semakin pintar saja anak ini?
Lalu satu persatu pasien masuk dan keluar untuk diperiksa. Aku merasa mulai mengantuk karena semalam aku kurang tidur, kini aku rasanya lelah dan ingin tertidur pulas. Kusandarkan kepalaku di pundak Tari dan benar saja aku tertidur pulas.
Aku sesekali terbangun namun masih belum juga nama Tari dipanggil. Aku pun kembali tidur lagi. Aku terbangun saat Tari berteriak. "Iya!"
Rupanya nama Tari sudah dipanggil. Aku menggandeng tangan Tari sampai masuk ke dalam ruangan dokter yang semuanya serba putih.
Setelah dokternya bertanya-tanya mengenai kapan terakhir kali Tari datang bulan dan sebagainya kami lalu diarahkan ke tempat tidur untuk USG. Aku hanya bisa duduk sambil memegang tangan Tari. Mataku tak lepas dari layar monitor yang menampakan anakku yang mungkin saja baru sebesar biji kacang.
Anakku... yah itulah anakku.
Anak yang selama ini aku inginkan namun kehadirannya tak pernah ada dalam rumah tanggaku. Anak yang selama ini sering saudara-saudaraku tanyakan bahkan sampai sering menyakiti hatiku, kini aku akan memilikinya.
Tari menghapus air mata yang tanpa sadar sudah aku teteskan. Aku begitu terharu. Allah begitu baik padaku. Aku yang nackal ini diberikan banyak sekali anugerah dan keberkahan dalam hidup.
Aku merasa diriku tuh penuh dengan dosa, namun Allah kenapa begitu baik pada makhluk pendosa sepertiku? Aku jadi malu. Untung saja, Tari membuatku tersadar akan kebesaran Allah. Kalau tidak, aku akan tetap menjadi seseorang yang kufur nikmat, seseorang yang tak pernah mengingat siapa Tuhannya apalagi berpikir untuk menjalankan kewajibannya.
Aku mendengarkan semua nasehat yang dokter berikan. Intinya, Tari nggak boleh terlalu capek. Aku yang sering membuat Tari kecapean. Kalau hasratku sedang keluar, mau dimana saja Tari selalu menurut. Padahal aku tahu Tari juga lelah, namun demi baktinya terhadap suami dia selalu memenuhi apa yang aku mau .
Kini tidak lagi, karena aku yang harus menjaga Tari dan juga calon anakku. Jangan lagi membuat mereka kecapean dan malah berakibat buruk nantinya.
Aku dan Tari memutuskan ke cafe sebelum pulang ke rumah. Rencananya cafe akan dibuka weekend ini. Tari memeriksa segala persiapan.
"Semoga cafe ini akan sukses ya, Om?!" doanya penuh harap.
"Iya, Umi."
"Umi?" tanya Tari dengan keningnya berkerut.
"Mulai sekarang jangan panggil aku Om lagi. Panggil Abi, dan aku akan manggil kamu Umi. Kamu setuju?"
__ADS_1
****