
Utari
"Aku? Kenapa sama aku?" tanyaku masih dengan ekspresi lugu seakan aku tak tahu apa yang Om Agas inginkan.
Om Agas kini membelai lenganku yang polos. Dress tali satu yang kupakai rupanya berhasil membangkitkan hasrat Om Agas.
"Mau mencicipi kamu."
Om Agas semakin mendekatkan tubuhnya padaku. Hidungnya menyentuh lenganku, membuat bulu kudukku merinding dibuatnya.
Tidak. Aku harus kuat. Aku harus bertahan.
"Bukannya udah?" tanyaku sambil mundur selangkah.
Om Agas tersenyum. "Iya, mau lagi."
Om Agas mendekat dengan senyum penuh maksud dan tujuan itu. Ia mengelus lembut lenganku, mencoba membangkitkan gairahku.
"Kan aku sudah memberika mahkota aku." aku membuang pandanganku dari tubuh kekar Om Agas yang berotot dan menahan tanganku sekuat mungkin agar tidak menyentuhnya.
Om Agas tuh bagaikan patung yang dipahat sempurna oleh Sang Pemilik Kuasa. Heran, kenapa Mbak Tara meninggalkan Om Agas yang mendekati sempurna ini.
Oh iya, Mbak Tara. Aku punya misi dan aku harus membuat Om Agas menginginkanku. Itulah yang membedakan aku dengan yang lain.
"Sekarang aku mau minta jatahku sebagai suami kamu. Bolehkan?" Om Agas menurunkan tali dress aku, namun kunaikkan lagi.
Sorot matanya menampakkan kekecewaan.
"Bukannya Om sudah mendapatkan kepuasan dari wanita lain?" sindirku. "Karena itu kan kemarin Om enggak pulang?"
Om Agas yang sudah diujung hasrat masih berkata dengan suara berat dan membaik-baikki aku.
"Tapi sekarang aku mau kamu." tangan kiri Om Agas menelusuri wajahku, mengusap bibirku dengan lembut lalu turun menelusuri leherku.
Kuakui, listrik dalam tubuhku seakan menyetrum saat sentuhan lembutnya begitu membuatku menginginkan dirinya. Siapa yang kuat dengan pesona yang Om Agas miliki?
"Mm... Mau ke kasur sekarang?" Om Agas membenamkan wajahnya di leherku. Hembusan nafasnya terasa panas di kulitku yang meremang.
Gila... Aku bisa gila nih menahan setiap sentuhan dari Om Agas. Yang kuhadapi adalah mantan duda yang pengalaman menghadapi para wanita. Bukan laki-laki polos yang harus diajari dulu.
Setiap sentuhannya adalah godaan untuk jiwaku yang haus akan cinta kasih dari Om Agas. Sulit sekali menahannya.
__ADS_1
Om Agas mulai menciumi leherku dan memberikan gigitan-gigitan kecilnya. Sementara tangannya yang bebas mulai naik ke dadaku.
Enggak. Jangan sampai Ia menyentuh titik lemahku atau aku akan bertekuk lutut tanpa ampun padanya.
"Aku... Akan melayani Om." kataku dengan suara terbata menahan segala hasrat. "Asal... Om janji dahulu..."
Tangan kiri Om Agas menurunkan tali dress sebelah kiriku, membuat aset milikku terekspos.
"Janji apa?" tangan Om Agas yang mau menyentuhku aku tepis dengan lembut, tak mau membuatnya sakit hati. Biar bagaimanapun Om Agas adalah suami yang kudapatkan bukan dengan jalan yang mudah, aku juga tak mau kehilangannya.
"Berhentilah bermain di luar." Om Agas menghentikan aksinya. "Kalau Om melakukan itu, aku yang akan melayani Om."
Tak kusangka Om Agas benar-benar berhenti dalam artian berhenti yang sebenarnya. Ia menarik dirinya dariku dan menatapku tajam.
"Jadi kamu enggak mau melayaniku?" tangannya kini dilipat di dadanya. Hilang sudah suara berat namun begitu mendamba kasih sayang yang tadi terdengar. Kini tersisa suara tegas dan sorot mata seseorang yang mulai dilanda emosi.
Aku tahu apa yang aku lakukan akan membuatnya marah seperti ini. Tapi aku harus melakukannya. Semua demi kebaikan rumah tangga kami.
"Aku enggak bilang kalau aku tidak mau melayani, Om. Aku bahkan sudah menyerahkan mahkotaku hanya kepada Om," aku melingkarkan kedua lenganku di leher Om Agas. "Aku akan melayani Om, namun aku pinta satu. Jangan Om mencari kepuasan lagi di luar. Termasuk Mbak Cici."
Om Agas menatapku tajam. Mungkin Om Agas menganggap aku sudah lancang mentang-mentang sudah menjadi miliknya sekarang malah berani mengajukan persyaratan. Mana ada istri yang mengajukan persyaratan seperti yang kulakukan?
"Kalau aku enggak mau gimana?" Ia bertanya balik padaku.
"Mm... Ya kalau enggak mau... Ya jangan menyentuhku!" jawabku tanpa dipikir dulu.
Tak disangka Om Agas menjauhkan dirinya dariku. Ia melepaskan tanganku di lehernya dan berkata dengan tegas. "Baiklah. Aku tak akan menyentuh kamu!"
Om Agas lalu berbalik badan dan mengambil pakaian di lemari. Ia tak kembali ke kamar dan memilih tidur di kamar tamu.
Ya Allah... Apa yang aku lakukan salah? Apa aku tak boleh melarang suamiku jajan di luar?
Aku sudah menawarkan diri untuk memberikannya kepuasan, namun tak bisakah Ia meninggalkan kesenangannya di luar dan hanya melampiaskannya padaku saja?
Belum seminggu dan rumah tanggaku sudah ada pertengkaran. Bagaimana menghadapi hari-hari kedepannya kelak?
Rumah tangga yang dilandasi cinta saja belum tentu kuat menghadapi badai yang datang, apalagi rumah tanggaku yang dilandasi utang budi?
Aku terbangun di pagi hari, menunaikan kewajibanku lalu menyiapkan sarapan untuk Om Agas.
Aku membuatkannya susu hangat dan roti bakar. Sarapan paling cepat dan simpel. Aku biasa terbangun sebelum adzan subuh berkumandang. Kali ini aku kesiangan.
__ADS_1
Bukan karena tak bisa tidur memikirkan Om Agas, namun karena nonton drama korea. Aku melihat film-film Korea dan meniru apa yang mereka lakukan untuk merayu kekasihnya.
Pertama, bekal. Aku membuat bekal yang simpel. Yang terpenting adalah Om Agas harus terbiasa dengan masakan buatanku. Kalau kata orang, pikat lelaki dengan perutnya maka akan diberikan hatinya.
Sebelum Om Agas bangun, aku mandi dan mengganti bajuku dengan celana pendek dan kaos yang ketat karena ukuran dadaku yang agak besar.
Kedua, senyum. Aku tersenyum saat Om Agas tiba di meja makan. Menyambut dengan hangat suami yang sedang ngambek tersebut padaku.
"Aku buat susu hangat dan roti, nanti bekalnya aku buatin ayam goreng dan nugget buatanku sendiri. Om mau request apa buat makan malam?" aku bertanya makan malam untuk memastikan Om Agas pulang malam ini, jangan keluyuran di tempat lain.
"Enggak usah bawa bekal, aku beli aja di luar." jawaban yang membuat aku kecewa, namun aku tak akan menyerah.
"Lebih baik makanan dari rumah, Om. Lebih sehat dan lebih bersih. Di kantor Om ada microwave jadi bisa dihanangatkan. Nugget yang aku buat sudah ada sayuran di dalamnya. Yang pasti bergizi-" sengaja aku mengoceh untuk membuat Om Agas menyerah.
"Oke. Bawa aja!" jawabnya dengan kesal. Pasti sebal pagi-pagi sudah diceramahi panjang lebar.
Aku membawakan bekal dan mengantar Om Agas sampai depan rumah.
"Om!" panggilku.
"Apa lagi?" tanyannya dengan malas.
"Bekalnya jangan lupa!" kuberikan bekal warna biru pada Om Agas yang menerima tanpa senyum.
"Om."
"Apa lagi?"
Kuulurkan tanganku. "Salim."
Om Agas menghela nafasnya. "Iya." ujarnya seraya memberikan tangan kanannya untuk aku cium.
"Om malam ini pulang jam berapa?" aku harus pastikan suamiku pulang ke rumah. Jangan kebanyakan main di luar. "Mau Tari masakkin apa?"
"Entah jam berapa. Toh kamu juga tak bisa aku sentuh!" ketusnya.
"Kata siapa?" aku memajukan diriku dan mengecup bibir Om Agas. "Nanti malam pulang cepat ya! Aku masak yang spesial."
Om Agas diam sejenak, tak menyangka kalau aku akan bersikap agresif seperti itu.
"I-iya." jawabnya dengan gelagapan. Ia lalu masuk ke dalam mobilnya dan aku lambaikan tanganku sampai mobilnya menghilang di belokan.
__ADS_1
Aku tersenyum pada Mbak Tara yang sejak tadi jadi penonton lalu masuk ke dalam rumah.
****