Duda Nackal

Duda Nackal
Iblis Berkedok Sahabat


__ADS_3

POV Author


Agas mengerutkan keningnya berusaha mengingat-ingat siapa wanita di depannya. Wanita itu tersenyum dan memamerkan deretan gigi putihnya yang terlihat cantik karena perawatan yang mahal.


Satu yang Agas tahu, saat wanita ini Ia lupakan satu kemungkinannya. Make-up yang dikenakan sangat tebal sampai Ia tak bisa mengenalinya.


"Om enggak kenal sama aku? Aku sedih. Bener deh. Om lupa sama semua tetesan keringat bercampur suara penuh kenikmatan milik kita semalam penuh waktu itu?" sindir Vira.


Agas berbalik badan dan mendapati Tari bersembunyi dengan wajah ketakukan. Seperti sedang melihat hantu. Padahal justru Agas yang terlalu takut menyakiti hati Tari.


Vira mengikuti arah pandangan Agas dan melihat kalau ada seorang perempuan yang bersembunyi di belakang tubuh tegap milik Agas. Ia memiringkan kepalanya berusaha untuk melihat namun terhalang tubuh Agas.


Agas kembali melihat ke arah Vira. "Jujur aja aku orangnya lupaan. Yang aku tahu pasti kita ketemunya di diskotek. Ada apa ya?"


Agas tak mau mengungkit kisah masa lalunya lagi. Apalagi kini ada Tari. Semua sudah selesai. Agas sudah tak mau lagi berkecimpung di dunia gemerlap seperti itu lagi.


"Jujur aja, aku tuh sedih dan kecewa Om lupa sama aku. Selama ini aku enggak pernah melupakan Om sama sekali. Aku selalu memikirkan Om karena itu aku mencari keberadaan Om!"


Agas menyangsikan kebenaran cerita wanita di depannya. "Katanya kamu pernah ke rumahku? Kenapa enggak ke rumahku saja?" sindir Agas.


"Memang pernah ke rumah Om. Tapi paginya Om pesankan taksi dan aku enggak hafal jalan. Aku cari Om di diskotek enggak pernah ada lagi. Mungkin sudah jodoh, aku ketemu sama Om Agas disini." wanita itu tersenyum penuh kemenangan karena sudah berhasil menemukan Agas.


"Sekarang kamu sudah ketemu aku kan? Kalau tak ada kepentingan aku mau pulang! Aku lelah seharian mengurus cafe!" kata Agas dengan dinginnya.


"Ayo Sayang kita pulang!" Agas menuntun Tari namun perkataan Vira selanjutnya membuat langkahnya terhenti.


"Aku hamil sekarang! Aku minta Om Agas bertanggung jawab!"


Tari berbalik badan dengan cepat, kini Vira bisa melihat siapa yang sejak tadi bersembunyi di belakang tubuh Agas.


Tari dan Vira sama-sama terkejut. Mereka tak menyangka kalau mereka akan dipertemukan lagi setelah sekian lama.


"Lo? Ngapain lo deket sama Om Agas?!" tanya Vira sambil menunjuk ke arah Tari.


Tari menunduk. Ia takut dan berita yang baru didengarnya sungguh membuatnya sangat terkejut. Bagai mendengar petir di siang bolong.

__ADS_1


"Kalian saling kenal?" tanya Agas yang bingung dengan keadaan di depannya. Mantan rekan kencan satu malamnya dan istrinya ternyata saling kenal. Jadi itu alasan Tari sejak tadi bersembunyi di belakang tubuhnya?


"Sudahlah itu tidak penting. Kamu hamil?!" tanya Agas lagi.


Vira mengangkat wajahnya dan menatap Agas dengan tatapan menantang. "Iya. Aku hamil. Anak Om!"


Agas menyunggingkan senyum tak percaya. "Kamu pikir aku semudah itu percaya?"


Vira tak kenal takut. Ia dengan tenang menjawab pertanyaan Agas. "Om adalah lelaki terakhir yang kutiduri! Sejak itu tak pernah ada lagi yang meniduriku. Usia kehamilanku cocok dengan terakhir kali kita bertemu. Masih kurang bukti?"


Senyum di wajah Agas menghilang. Ia menggelengkan kepalanya. Masih tak mempercayai pernyataan yang diungkapkan oleh Vira.


"Kamu pasti salah! Bisa aja kan kamu sudah hamil dengan laki-laki sebelum denganku?!" balas Agas. "Satu lagi, aku selalu memakai pengaman! Aku enggak pernah berhubungan dengan orang lain tanpa pengaman, kecuali dengan istri aku sendiri!"


Tari yang sangat terkejut saat mendengar bahwa Agas secara tak langsung mengakui perbuatannya pada Vira terlalu shock. Ia pun terduduk lemas. Kakinya tak kuat menopang.


Air mata mulai membasahi wajah Tari. Ia tak percaya, suaminya pernah meniduri Vira musuhnya selama ini. Iblis berkedok sahabat yang sudah menghancurkan hidupnya selama ini. Yang membuatnya menutup diri dari dunia luar. Yang membuatnya kehilangan senyum saat bertemu teman-temannya.


"Ya Allah... Kenapa hidup begitu kejam padaku?" batin Tari.


"Sayang?" Vira juga terkejut mendengar Agas memanggil Tari dengan panggilan yang semesra itu. "Tari... Jangan bilang cewek ini istri Om Agas?"


"Iya! Tari memang istriku! Kenapa?!" sahut Agas yang kini tangannya dihempaskan oleh Tari. Agas tetap mau membantu Tari namun Tari berkeras tak mau ditolong Agas. Ia tak mau Agas menyentuhnya.


Hati Tari terasa sakit dan merasa jijik dengan kelakuan Agas di masa lalu. Kenapa harus Vira? Kenapa harus iblis berkedok sahabat yang harus Agas hamili?


"Ayo Sayang! Aku bantu kamu!" ujar Agas yang nada suaranya dari keras terhadap Vira berubah menjadi lembut terhadap Tari.


"Wow... Sempit sekali dunia ini! Cewek sialan ini jadi istri Om? Kasihan sekali nasibnya?! Kalau Papaku nuntut Om untuk menikahiku, maka dia akan menjadi janda dalam waktu dekat dong?" senyum penuh kemenangan terpancar di wajah Vira.


"Jangan mengatai istriku! Aku tak suka ada yang menghina istriku!" ujar Agas dengan tegas. "Kalau kamu mau menuntutku silahkan! Kita buktikan saja aku yang benar menghamili kamu atau bukan?!"


Agas lalu mengangkat Tari dan mendudukkannya di kursi penumpang yang sudah Ia bukakan pintunya. Ia menutup pintu lalu bergegas ke pintu satunya lagi.


Ia melihat Vira menyunggingkan senyum di wajahnya. Senyum licik yang sudah ada sejak dulu. Senyum tak mau kalah.

__ADS_1


"Oke! Dari dulu cewek sialan ini selalu menjadi batu sandunganku! Setelah tahu Papanya anakku adalah suaminya, aku tambah tak akan tinggal diam! Om akan bertanggung jawab! Aku akan pastikan itu!"


"Dasar gadis gila!" Agas masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya meninggalkan cafe.


Di dalam mobil Tari sedang menutup wajahnya sambil menangis tersedu-sedu.


"Kamu percaya apa yang dia katakan? Enggak mungkin, Sayang! Aku selalu memakai pengaman! Tak mungkin aku melakukannya tanpa pengaman dan membuat dia hamil!" ujar Agas dengan penuh keyakinan.


Tari tak menanggapi ucapan Agas. Ia terus saja menangis dan menangis. Hatinya sangat sakit. Ia takut, sangat takut...


Sampai di rumah, Tari langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Tak menunggu Agas membukakan pintu untuknya.


Agas mengambil semua barang-barang dari bagasi dan masuk ke dalam rumah mengikuti Tari. Ia meletakkan barang-barang tersebut di dapur.


Agas lalu masuk ke dalam kamarnya dan melihat koper miliknya terbuka. Tari nampak sedang memasukkan baju miliknya ke dalam koper.


"Apa yang kamu lakukan? Kamu mau kemana?" tanya Agas.


Tari tak menggubris perkataan Agas. Ia tetap memasukkan baju miliknya ke dalam koper.


Agas pun tak tinggal diam. Ia mengambil baju yang dimasukkan Tari dan memasukkan kembali ke lemari.


Sampai akhirnya kesabaran Tari hilang dan Ia meluapkan kekesalannya.


"Aku mau pergi! AKU MAU PERGI!" Ia pun menangis sesegukan dan menjatuhkan dirinya ke lantai.


Agas mendekat dan hendak membawa Tari ke pelukannya namun Tari menolak setiap kontak fisik yang Agas lakukan.


"Kamu mau kemana? Sudah malam! Kamu memang ada tempat tujuan? Tenangkan diri kamu! Ingat, kamu sedang hamil anak kita!" Agas berusaha menenangkan Tari yang sudah terlampau emosi.


"Aku tak peduli! Aku akan tinggal di cafe mulai sekarang!" kata Tari dengan tegas.


****


Tenang semuanya... Tarik nafas dulu... Lalu vote ya 😁 Jangan lupa like, komen dan add favorit ya darling 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2