Duda Nackal

Duda Nackal
Merasa Takut


__ADS_3

Tari


Abi mengambilkan segelas air hangat dan memberikannya padaku. "Minumlah! Kamu pasti sangat terkejut. Untung saja semalam kamu tidak tidur di cafe. Huft..."


Aku menerima minum yang Abi berikan lalu meminumnya. Aku melihat Abi sangat emosi. Ia mengusap wajahnya dengan kesal.


"Hari ini, jangan pergi kemanapun. Di cafe saja. Setidaknya berada disini lebih aman daripada di rumah sendirian. Aku mau membuat laporan ke polisi dan aku harus ke showroom karena ada meeting. Kamu bisa aku tinggal sebentar kan?" terlihat Abi berat sekali meninggalkanku.


Aku mengangguk. Kutaruh gelas di atas meja dan menatapnya dengan tatapan yang meyakinkan. "Aku baik-baik saja. Aku akan hati-hati dan kalau ada hal yang mencurigakan aku akan lapor polisi!"


"Aduh gimana ya? Aku tuh enggak pengen meninggalkan kamu sendirian begini. Perasaanku enggak enak! Atau aku batalkan saja meeting hari ini?"


"Jangan! Aku disini enggak sendirian. Abi tenang saja. Ada security yang berjaga dan ada karyawanku di sini. In sha Allah aku akan baik-baik saja." kataku meyakinkan Abi yang terlihat begitu cemas.


Abi mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja. Terlihat sedang berpikir keras namun menyerah karena tak menemukan solusi yang pas.


"Bagaimana kalau kamu tinggal sama Mama dan Papa untuk sementara?" usulnya setelah berpikir cukup lama.


"Lalu cafe ini?"


"Kita tutup saja! Yang penting kamu selamat!"


Aku meraih tangan Abi dan menggenggamnya. Tangannya dingin sekali. Aku pun berbicara dengan lembut pada Abi. "Ada karyawan disini yang bergantung hidup dari cafe. Kalau cafe tutup bagaimana dengan mereka? Aku tau Abi pasti bisa membayar gaji mereka untuk sementara, namun itu artinya kita akan mulai merintis cafe ini dari awal. Pelanggan akan berpikir yang tidak-tidak dan akan pergi meninggalkan cafe ini pada akhirnya. Pergi bukan menyelesaikan masalah, Bi."


"Yang penting kamu selamat, Sayang. Aku enggak peduli dengan cafe ini. Aku terlalu takut dengan keselamatan kamu dan calon bayi kita!"


Terlihat sekali betapa Abi sangat menyayangiku dan bayi dalam kandunganku. Ia terlihat takut kami berdua terluka. Bukti cinta yang tak Ia katakan namun Ia tunjukkan dengan sedemikian jelas.


Aku menghela nafas dalam. "In sha Allah kami akan baik-baik saja. Abi tenang saja!"


Abi menatap lekat ke dalam mataku. Sepertinya Abi yakin kalau aku akan baik-baik saja.


"Kalau begitu, kamu di kamar saja. Jangan keluar sama sekali! Biar karyawan kamu saja yang bekerja hari ini!" masih khawatir rupanya Abi, tak bisa semudah itu meninggalkanku.


"Aku di dapur aja kalau begitu ya? Aku mau bantu karyawanku. Aku enggak ketemu pelanggan kok. Kalau aku begini, Abi bisa tenang kan?" aku mengalah. Ikuti saja kemauan Abi daripada Abi tak tenang dan membatalkan meeting pentingnya?

__ADS_1


"Benar ya kamu enggak melayani pembeli? Aku akan mengawasi cafe dari CCTV. Kalau ada yang mencurigakan harus langsung hubungi aku!"


"Iya Abi... Iya..."


Abi pun mengumpulkan semua karyawanku dan memberikan instruksi untuk melindungiku jika ada yang hendak berbuat jahat. Abi menceritakan tentang teror bangkai tikus yang kami temukan pagi ini dan meminta semua karyawanku lebih berhati-hati lagi.


Abi pergi setelah akhirnya yakin kalau aku akan baik-baik saja. Meski kutahu Ia tak tenang namun tetap harus bekerja. Showroomnya sedang ada masalah. Tak bisa ditinggalkan begitu saja. Meeting hari ini sangat penting, jika tidak sudah Abi tinggalkan.


Aku pun sibuk di dapur. Membuat kue bolu dan cemilan untuk etalase hari ini. Sebenarnya aku bosan, tapi aku sudah berjanji tak akan melayani pembeli.


Abi datang saat sore hari dan langsung memeriksa keadaanku. Melihatku baik-baik saja Ia langsung memelukku sambil menghela nafas lega.


"Syukurlah kamu baik-baik saja! Aku enggak bisa konsen sejak tadi. Takut kamu kenapa-napa."


"Aku baik-baik saja. Abi mau makan?" tanyaku.


Abi mengangguk. Kubawakan makanan untuknya. Abi makan di dalam kamarku dengan lahap.


"Abi belum makan siang ya? Kok kayak kelaperan begitu?" tebakku.


"Jangan begitu, Bi. Kesehatan Abi yang utama. Kalau sakit maag gimana?"


"Tenang saja. Aku kuat kok. Bagaimana tadi di cafe? Enggak ada yang mencurigakan kan?"


"Alhamdulillah semua baik-baik saja. Mungkin itu hanya gertakan saja, Bi. Tidak akan melakukan hal yang lebih serius lagi!" kataku menenangkan.


"Aku enggak yakin. Dari caranya mengirim teror, bisa dipastikan orang yang punya banyak uang. Pelakunya membayar orang yang profesional. Bisa membuat security ketiduran dan menjalankan aksinya tanpa ketahuan siapapun. Pelakunya bahkan tak takut ada CCTV. Artinya apa? Dia dibayar mahal dan seseorang di belakang layar memiliki kuasa untuk melindunginya."


Abi menatapku lekat. Aku tau memang ini pasti ulah Vira. "Ya, benar yang kamu pikirin. Vira pelakunya!"


Sudah kuduga!


"Abi tau darimana?" tanyaku.


Abi lalu menunjukkan layar Hp miliknya. "Baru saja dia kirimkan."

__ADS_1


Aku membaca pesan yang dikirim Vira.


Bagaimana? Suka dengan hadiah dariku?


Vira memang pelakunya. Sudah kuduga, Ia tak akan tinggal diam. Kemarin aku sudah menggagalkan rencana jahatnya, apa Abi juga membuatnya kesal?


"Apa yang kemarin Abi bicarakan dengan Vira?" tanyaku. Aku kemarin tak mau bertanya, tapi melihat Vira begitu murka pasti Abi ada andil membuatnya tambah marah.


"Ya... Membicarakan yang harus kami bicarakan. Menanyakan usia kehamilannya, lalu mengorek berbagai keterangan tentangnya. Ternyata benar yang kamu katakan. Vira gadis pintar, tak semudah itu aku bohongi." Abi sudah menghabiskan makanannya dan menaruhnya di lantai.


"Pasti Vira sangat marah pada kita berdua. Entah apa lagi yang akan Vira lakukan. Inilah yang membuatku lebih baik menghindarinya daripada menantangnya."


Abi mengajakku pulang sehabis sholat maghrib. Abi tak membiarkanku bekerja terlalu lelah. Aku menurut dan kami pun pulang ke rumah.


Baru saja aku turun dari mobil aku kembali merasa was-was saat melihat sebuah paket berada di depan pintu. "Bi! Ada paket!"


Abi keluar dari mobil dan langsung bersikap waspada. Ia melihat paket besar ada di depan rumah. Abi membaca nama yang tertera dan siapa pengirimnya.


"Huft.... Dari Mama. Ayo kita bawa masuk ke dalam!"


"Abi yakin? Kalau bukan dari Mama gimana?" tanpa sadar aku menunjukkan ketakutanku. Paket berisi bangkai tikus tadi pagi sudah membuatku takut dan tak bisa bedakan mana yang beneran paket dan mana yang isinya teror.


Abi melihatku dengan khawatir. "Kamu sudah mulai ketakutan. Ini yang aku takutkan. Kamu mengungsi di rumah Mama dan Papa saja ya?" kembali Abi mengusulkan aku untuk mengungsi.


"Aku enggak mau, Bi. Lebih baik aku disini!"


Abi kembali mengalah. "Baiklah. Aku buka paket ini disini saja ya? Biar kamu percaya kalau ini dari Mama."


Abi lalu membukakan paket didepannya. Ternyata apa yang Abi katakan benar. Paket tersebut dikirimkan oleh Mama. Ada bermacam-macam makanan di dalamnya.


Mama memang perhatian. Tau kalau menantunya sedang hamil dan mengirimkan berbagai makanan buatan sendiri. Ada rendang yang divakum agar awet, keripik buah yang Mama buat sendiri dan beraneka macam cemilan lainnya. Abi bilang Mama suka membuat cemilan untuk mengisi waktu.


"Sekarang kamu sudah lebih tenang kan? Nanti aku titip pesan dengan security depan untuk tidak terima tamu untukku tanpa persetujuanku langsung. Tenang saja ya!"


****

__ADS_1


__ADS_2